Mrs. Arrogant

Mrs. Arrogant
Bab 49 Si Gabriel Bertemu Dengan Bestienya


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Virlie pun keluar dari dalam kamar mandi dengan memakai handuk kimononya. Dia berjalan di hadapan Ibra dengan santainya dan itu membuat Ibra menelan salivanya dengan susah payah.


"Sayang, bisa tidak kamu jangan menggodaku," rengek Ibra.


"Idih, siapa juga yang menggodaku."


"Asalkan kamu tahu ya, kamu pakai baju tertutup saja si Gabriel sudah berontak apalagi kamu cuma pakai handuk seperti itu, si Gabriel langsung ngamuk ini."


"Apaan sih, ya sudah sana jangan lihat."


"Kalau gak lihat sayang, pemandangan seindah itu tidak dimanfaatkan."


Virlie melempar handuk ke wajah Ibra saking gemasnya karena Ibra ternyata semakin mesum saja. Saat ini Virlie hanya memakai pakaian santai saja, celana pendek dan baju kaos lalu duduk di depan cermin untuk sedikit memoles wajahnya.


Ibra menghampiri Virlie dan memeluk Virlie dari belakang, lalu menciumi tengkuk leher Virlie membuat bulu kuduk Virlie meremang.


Virlie mendorong wajah Ibra. "Sudah minggir sana, jangan nempel terus."


"Ckckck....menyebalkan sekali, kenapa di saat kamu sudah memberikan lampu hijau harus lampu merah lagi sih. Dulu masih mending aku bisa menahannya karena aku hanya bisa melihatmu saja, sekarang aku merasa sangat tersiksa, sudah bisa menyentuhmu tapi tidak bisa berbuat apa-apa," keluh Ibra dengan wajah yang cemberut.


Virlie terkekeh mendengar keluhan Ibra. "Makanya, jangan dekat-dekat terus nanti kamu makin tersiksa, kasihan si Gabriel," seru Virlie dengan kekehannya.


Virlie pun bangkit dari duduknya, tapi Ibra masih saja nemplok kepada Virlie membuat Virlie susah berjalan.


"Ibra, lepaskan."


"Tidak."


"Astaga, aku lapar belum sarapan."


Wajah Ibra tampak cemberut, Virlie keluar dari kamarnya dan Ibra mengikuti Virlie dari belakang. Mommy, Daddy, Vero, dan Asya sudah menunggu di meja makan.


"Selamat pagi semuanya!" sapa Virlie.


"Pagi Kak Virlie."


"Kamu kenapa Bra, cemberut seperti itu? bukanya seharusnya kamu senang ya, sudah mendapatkan apa yang kamu mau," goda Daddy Dion.


"Boro-boro Daddy, lampu merah," ketus Ibra.


Virlie mencubit paha Ibra dengan sangat kerasnya membuat Ibra meringis kesakitan, dan seketika tawa Daddy Dion pecah.


"Kamu harus lebih bersabar lagi, Ibra," seru Daddy Dion dengan tawanya.


Sedangkan Vero dan Asya asyik melahap nasi gorengnya, mereka tidak mengerti dengan apa yang orang dewasa bicarakan.


"Mommy, sebenarnya ada apa? kok rumah rame banget?" tanya Virlie.


"Sebenarnya ada sebuah departemen store gitu yang memesan baju dari perusahaan Mommy tapi mereka ingin memesan baju COUPLE buat sekeluarga gitu, kamu tahu kan bagaimana sifat Mommy? Mommy itu paling tidak suka menghambur-hamburkan uang apalagi membayar mahal untuk seorang model, maka dari itu Mommy memutuskan yang jadi modelnya itu kamu, Ibra, Vero, dan juga Asya."


"Oh..."


"Kamu mau kan, sayang jadi modelnya?" seru Mommy Valerie.


"Boleh."


***


Sore pun tiba...


Akhirnya pemotretan pun dimulai, Ibra, Virlie, Vero dan Asya mulai bergaya. Mereka diibaratkan satu keluarga yang bahagia dengan dua anak dan memakai baju COUPLE.


Ibra yang memang tidak bisa diam kalau dekat-dekat dengan Virlie, membuat proses pemotretan selalu saja harus diulang.


"Ibra!"

__ADS_1


Daddy Dion mengepalkan tangannya kepada Ibra, karena Ibra tidak pernah serius membuat Daddy Dion kesal juga dengan kelakuan menantunya itu.


"Kamu itu kenapa sih? bisa serius gak sih? dari tadi harus ulang-ulang terus," bisik Virlie dengan kesalnya.


"Aku gak bisa serius kalau dekat kamu."


"Ibra, kalau kamu gak serius juga, Mommy mau sewa model cowok saja buat menggantikan kamu," ancam Mommy Valerie.


"Hah, tidak, Ibra gak bakalan ngizinin cowok mana pun menyentuh istriku. Oke, sekarang aku akan serius."


Akhirnya setelah ancaman dari Mommy mertuanya, Ibra pun menjalani pemotretan dengan serius dan hasilnya sangat bagus dan memuaskan.


Pemotretan pun selesai, dan waktu sudah menunjukan pukul 20.00 malam.


"Mommy, Daddy, boleh tidak mulai malam ini Ibra bawa Virlie ke rumah Ibra," seru Ibra.


"Bolehlah, Virlie kan, istri kamu," sahut Daddy Dion.


Virlie menatap Ibra tak percaya. "Ke rumah kedua orangtua kamu, maksudnya?" tanya Virlie.


Ibra hanya tersenyum tidak menjawab pertanyaan Virlie. Akhirnya tanpa penolakan, Virlie segera mengambil tasnya. Virlie tidak bawa baju ganti karena Ibra melarangnya, katanya Ibra sudah menyiapkannya di rumah.


Selama dalam perjalanan, Ibra tidak pernah melepaskan tangan Virlie saking bahagianya.


"Bra, sepertinya ini bukan jalan ke rumah kedua orangtuamu deh."


"Ya memang bukan."


"Terus, ini mau ke mana?"


"Sudah jangan bawel, diam saja nanti juga kamu tahu."


Tidak membutuhkan waktu lama, mobil Ibra pun sampai di kawasan komplek perumahan elit dan Ibra menghentikan mobilnya di d pan sebuah rumah berlantai dua yang lumayan besar.


Ibra dengan cepat keluar dari dalam mobilnya dan membuka gerbang rumahnya itu, setelah itu Ibra kembali masuk ke dalam mobilnya dan memasukan mobilnya ke dalam rumah itu.


"Ayo masuk!" ajak Ibra dengan menggenggam tangan Virlie.


Virlie masih bingung dengan rumah itu, sampai di dalam rumah pun dia masih celingukan.


"Ini rumah siapa?"


"Ini rumah kita."


"Hah, maksudnya?"


Ibra membalikan tubuh Virlie supaya menghadap kepadanya dan mengusap kepala Virlie.


"Sebenarnya, Mommy itu bekerja sama denganku jadi perusahaan itu milik kita berdua dan selama 3 tahun ini, aku bekerja keras dan akhirnya bisa membeli rumah dan juga mobil. Aku ingin kita hidup bahagia di rumah kita sendiri."


Mata Virlie sudah mulai berkaca-kaca, hingga akhirnya Virlie pun memeluk Ibra.


"Maafkan aku Ibra, dulu aku banyak menyakitimu bahkan aku terlalu egois dan arogan kepada kamu."


"Sudahlah, itu kan masa lalu yang penting sekarang kita bisa bersama-sama."


***


1 Minggu pun berlalu...


Waktu sudah menunjukan jam makan siang, Ibra cepat-cepat keluar dari kantor dan akan menjemput Virlie di butiknya untuk makan siang bersama.


"Mommy, Ibra gak akan kembali ke kantor ya."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Sudah satu Minggu ini, waktunya Ibra melepas keperjakaan Ibra."


"Astaga, ya sudah buatkan Mommy cucu yang banyak."


"Siap Mommy."


Hari ini Ibra benar-benar sangat bahagia, hal yang sudah dia tunggu-tunggu selama 3 tahun lebih akhirnya akan terlaksana juga.


"Gabriel, sebentar lagi kamu akan bertemu dengan bestiemu," gumam Ibra.


Baru membayangkannya saja, si Gabriel sudah mulai menggeliat apa lagi nanti kalau ketemu Bestienya.


Ibra pun menghentikan mobilnya di depan butik Virlie.


"Sayang, ayo kita makan siang bersama."


"Aku masih banyak kerjaan, sayang."


Ibra mengambil tas Virlie kemudian menarik tangan Virlie untuk pergi dari butik.


"Ibra, aku masih banyak kerjaan," keluh Virlie.


Ibra memaksa Virlie untuk masuk ke dalam mobilnya dan membawa Virlie ke sebuah restoran untuk makan siang terlebih dahulu.


"Kamu makan yang banyak ya, sayang."


Virlie mengerutkan keningnya dengan tingkah suaminya yang dirasanya sangat aneh siang ini.


"Kok aku rasa, sikap kamu aneh siang ini? ada apa sebenarnya?" tanya Virlie bingung.


"Datang bulannya sudah selesai, kan?"


Deg....


Wajah Virlie memerah, ternyata suaminya bersemangat karena hal itu. Virlie tampak gugup, dia masih sangat tabu dengan hal seperti itu.


"Ah, i-iya."


"Makanya sekarang kamu harus makan yang banyak biar banyak tenaga karena aku tidak akan pernah melepaskannya."


"Ka-mu apaan sih?" sahut Virlie malu.


Setelah selesai makan siang, Ibra pun membawa Virlie untuk pulang ke rumah. Dan tidak membutuhkan waktu lama, mereka pun sampai di rumah. Ibra turun dari dalam mobil dan langsung mengangkat tubuh istri cantiknya itu.


"Ibra, turunin aku bisa jalan sendiri."


"Gak apa-apa, biar kamu gak capek."


Ibra benar-benar semangat siang ini, mereka masuk ke dalam kamar mereka dan Ibra segera menguncinya.


"Sebent-----"


Ucapan Virlie terhenti karena Ibra langsung menyambar bibir tipis milik istrinya itu, Ibra sudah tidak tahan lagi ingin memperkenalkan Gabriel kepada bestienya.


Ibra tidak melepaskan pungutannya, sedangkan tangannya sibuk membuka dress Virlie dan juga jasnya.


Virlie sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, kali ini dia pasrah saja karena memang ini sudah menjadi kewajibannya yang seharusnya dia berikan 3 tahun yang lalu.


Ibra sudah benar-benar dikuasai hawa na*sunya sendiri, dia tidak mau melewatkan tubuh indah sang istri walaupun cuma sejengkal. Siang itu menjadi saksi, penyatuan keduanya bahkan Ibra tidak mau lepas dari Virlie. Fisik Ibra benar-benar kuat, dia tidak merasa kelelahan sama sekali.


"Sayang, bisakah kita istirahat dulu sebentar? aku sangat lelah sekali," lirih Virlie.


"Bentar sayang, lagi tanggung."


Hingga akhirnya setelah beberapa menit kemudian, lahar Ibra pun menyembur untuk yang kesekian kalinya. Ibra melepaskan diri dan tidur disamping Virlie dengan napas keduanya yang ngos-ngosan.

__ADS_1


"Kamu capek, sayang?" tanya Ibra.


Virlie mendelikan matanya ke arah Ibra membuat Ibra terkekeh, Ibra pun menarik tubuh Virlie ke dalam dekapannya dan saking kelelahannya, Virlie pun langsung terlelap dan Ibra menyunggingkan senyumannya lalu menciumi pucuk kepala Virlie.


__ADS_2