Mrs. Arrogant

Mrs. Arrogant
Bab 26 Pernikahan Ibra Dan Virlie


__ADS_3

Satu Minggu pun berlalu....


Hari ini adalah hari di mana acara pernikahan antara Virlie dan Ibra. Sore ini Virlie dan Ibra akan melaksanakan ijab kabul di kediaman keluarga Halbert.


Tidak ada tamu yang diundang, hanya keluarga inti saja dan sahabat dekat yang hadir di acara pernikahan Virlie dan Ibra itu.


Daddy Dion dan Mommy Valerie bukan tanpa alasan menikahkan Virlie dan Ibra secara tertutup dan sembunyi-sembunyi karena kalau dirayakan secara terbuka, semua orang akan tahu siapa anak Dion Halbert dan itu jangan sampai terjadi.


Saat ini Virlie dan Ibra sudah duduk di hadapan penghulu dan Daddy Dion, Ibra menjabat tangan Daddy Dion dan mengucapkan ijab kabul dengan jelas dan lancar.


"Alhamdulillah, sah."


Semua orang mengucapkan Hamdallah karena acara ijab kabul berjalan dengan lancar, saat ini Virlie dan Ibra sudah resmi menjadi pasangan suami istri.


"Selamat ya Vir, akhirnya kamu menikah juga. Do'akan aku supaya aku bisa menyusul kamu," seru Lisa.


Saat ini Lisa dan Virlie sedang berada di kamar Virlie.


"Gila, memangnya kamu mau menikah juga? padahal aku belum mau menikah tapi Mommy dan Daddy memaksaku seperti ini," kesal Virlie.


"Justru aku ingin menikah muda Vir, biar punya anaknya gak jauh-jauh amat sama aku nantinya."


"Aku masih ingin mengejar karirku Lis, aku masih belum bisa hidup terkekang dan diatur seperti ini."


"Tapi asyik kali Vir, kalau nikah muda itu kamu mau pergi sama Ibra kapan pun juga gak bakalan ada yang melarangnya."


"Asyik kalau kita saling mencintai, tapi kan aku sama Ibra kasusnya berbeda, aku sama sekali gak ada rasa sama dia," sahut Virlie.


"Sekarang mungkin gak ada rasa Vir, tapi lama-kelamaan pasti cinta itu akan datang dengan sendirinya, apalagi kalau setiap hari selalu bersama pasti lama-lama cinta itu akan tumbuh."


Tok..tok..tok..


"Maaf, boleh aku masuk."


"Astaga Ibra, ngapain minta maaf segala, ini kan sekarang jadi kamar kamu juga. Kalau begitu aku keluar dulu ya, takut mengganggu kalian," seru Lisa.


Lisa pun bangkit dari duduknya dan menghampiri Ibra kemudian membisikan sesuatu di telinga Ibra.

__ADS_1


"Selamat berjuang Ibra, semangat kukuhkan hati Virlie," bisik Lisa.


"Siap."


Lisa pun akhirnya keluar dari kamar Virlie, Virlie langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sementara itu, Ibra duduk di sofa dan menyimpan tas ranselnya.


"Aku akan membuat kamu jatuh cinta kepadaku Virlie, dan aku akan pastikan satu tahun ke depan kita tidak akan bercerai," batin Ibra dengan senyumannya.


Tanpa terasa Ibra pun justru malah tertidur di sofa itu dengan masih menggunakan kemeja putihnya, sedangkan Virlie baru saja keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkapnya.


Virlie melihat Ibra sudah tertidur dengan posisi terduduk.


"Astaga, tuh orang memang gampang tidur di mana pun dan dalam posisi apa pun. Baguslah, jadi aku tidak perlu susah-susah berbagi tempat tidur dengannya," batin Virlie.


Hari ini sungguh sangat melelahkan dan itu membuat Virlie capek. Virlie pun merebahkan tubuhnya dan tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Virlie pun masuk ke alam mimpinya.


Ibra mulai menggerakkan tubuhnya karena merasa pegal dan lehernya sakit.


"Astaga, ternyata dari tadi aku tertidur seperti ini, pantas saja leherku sakit," gumam Ibra.


Ibra melihat jam, dan ternyata masih pukul 01.00 subuh. Ibra pun bangkit dari duduknya, dan memperhatikan setiap sudut kamar itu.


Ibra pun mulai menghampiri ranjang Virlie, di lihatnya Virlie tertidur dengan sangat lelap. Virlie memang terbiasa memakai celana hotpant dan kaos oblong tanpa bra membuat pu*ing gunung kembar Virlie terlihat.


"Astagfirullah."


Ibra mengusap wajahnya kemudian segera menutup tubuh Virlie dengan selimutnya. Ibra pun mengganti bajunya dengan kaos dan celana boxer.


Dia mengambil bantal kemudian tidur di sofa, karena Ibra tidak tahu Virlie menyimpan selimutnya di mana, akhirnya Ibra mengeluarkan sarungnya dari dalam tasnya.


Ibra pun kembali merebahkan tubuhnya, pandangan Ibra tertuju kepada Virlie yang saat ini terlelap tidur itu.


"Apa aku bisa ya, merebut hati Virlie?" batin Ibra.


Perlahan mata Ibra mulai sayu, dan tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Ibra pun kembali terlelap.


***

__ADS_1


Keesokan harinya...


Virlie mulai menggerakkan tubuhnya, lalu dia mengambil ponselnya untuk melihat jam dan ternyata masih setengah 5 subuh.


Sayup-sayup Virlie mendengar suara orang sedang mengaji, Virlie pun bangun dan terduduk di atas tempat tidurnya. Virlie melihat, ternyata suara merdu itu milik Ibra. Untuk sesaat Virlie memperhatikan Ibra yang saat ini memakai baju koko, sarung, dan juga kopiah.


Ibra pun selesai mengaji dan dilihatnya Virlie sedang memperhatikannya, lalu Ibra berdiri dan menghampiri Virlie.


"Ayo ambil air wudhu, kita shalat subuh berjama'ah," seru Ibra.


Virlie menggeliat dengan merentangkan kedua tangannya, membuat lagi-lagi kedua gunung kembar Virlie tercetak jelas membuat Ibra terus-terusan mengusap wajahnya sembari mengucap istighfar.


"Kamu kenapa?" tanya Virlie dengan mengerutkan keningnya.


"Tidak apa-apa, buruan ambil air wudhu, aku tunggu," seru Ibra dengan memalingkan wajahnya.


"Aku masih ngantuk," sahut Virlie dengan menguap.


"Buruan, jangan banyak membantah dalam segala hal mungkin kamu yang akan memerintah ku, tapi kalau urusan akhirat biar aku yang memerintah mu."


Dengan wajah cemberut, akhirnya Virlie pun nurut juga dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Ibra tampak mengusap selangkangannya yang terasa sudah mulai mengeras.


"Gabriel, tolong jangan bereaksi ya soalnya kita tidak mungkin akan mendapatkannya, kamu harus sabar, tabah, dan kuat karena selama satu tahun ini kita akan hidup tersiksa," batin Ibra dengan mengelus-ngelus juniornya yang dia beri nama Gabriel itu.


Tidak lama kemudian, Virlie pun keluar dari dalam kamar mandi dan segera mengambil mukenanya. Virlie berdiri di belakang Ibra dan mereka pun mulai melaksanakan shalat subuh pertama mereka sebagai sepasang suami istri.


Beberapa saat kemudian, mereka pun selesai shalat subuh dan Ibra mengulurkan tangannya supaya Virlie menciumnya.


"Apaan?" ketus Virlie.


"Cium tanganku, kalau habis shalat itu harus cium tangan suamimu."


Virlie menepis tangan Ibra dan bangkit dari duduknya.


"Jangan ngelunjak, aku menikah denganmu hanya karena keterpaksaan jadi jangan mengharapkan yang lain-lain," seru Virlie.


Virlie pun mengambil handuk dan juga baju ganti, kemudian masuk ke dalam kamar mandi lagi. Ibra hanya mampu menghembuskan napas kasarnya.

__ADS_1


"Butuh waktu untuk merubah seorang Virlie," gumam Ibra.


Ibra mulai melepaskan baju Kokonya dan mengganti dengan kaos dan celana jeans karena hari ini mereka akan pergi ke kampus.


__ADS_2