
Selama mengikuti bimbingan dari Dosen, Ibra tak henti-hentinya menggoda Virlie. Entah kenapa kelakuan Ibra menjadi konyol dan mulai berani kepada Virlie membuat Virlie harus menahan kekesalannya kepada Ibra.
Hingga waktu pun berjalan dengan cepat, dan mata kuliah pun selesai. Setelah Dosen keluar, Virlie langsung berdiri dan menatap tajam ke arah Ibra yang justru saat ini malah cengengesan.
Satu persatu Mahasiswa mulai meninggalkan kelas.
"Sekarang kamu sudah mulai berani ya, sama aku?" kesal Virlie.
Ibra pun bangkit dari duduknya dan berdiri di hadapan Virlie seolah-olah menantang Virlie.
"Kenapa gak berani? sekarang kamu sudah menjadi istri aku kok, ngapain aku takut sama kamu," sahut Ibra dengan senyumannya.
Virlie semakin kesal, dia kembali memajukan tubuhnya mendekat ke arah Ibra dengan membusungkan dadanya membuat Ibra memundurkan langkahnya.
"Ja-jangan mendekat," seru Ibra gugup.
"Kenapa? bukanya barusan kamu menantang aku? kenapa sekarang malah mundur? kamu takut?"
"Bu-bukanya takut, tapi aku gak kuat kalau harus dekat-dekat denganmu."
Virlie semakin mendekati Ibra, dan Ibra kembali memundurkan tubuhnya. Virlie tampak menyunggingkan senyumannya, tapi kali ini bukanya terpesona, Ibra malah merasa takut.
Virlie terus mendekati Ibra, begitu pun Ibra yang terus memundurkan langkahnya. Hingga Ibra pun terduduk di kursi dan Virlie membungkukkan tubuhnya ke arah Ibra, Ibra semakin was-was.
Huuuuhhhhh....
Virlie meniup wajah Ibra, dan bruuuukkkk....
Ibra terjungkal ke belakang dan jatuh ke lantai saking kagetnya, seketika tawa Virlie pecah bahkan Virlie sampai memegang perutnya.
"Syukuri."
Awalnya Ibra merasa sangat kesal, tapi tiba-tiba dia pun menyunggingkan senyumannya saat melihat tawa Virlie yang lepas itu. Satu kemajuan karena Ibra sudah berhasil membuat Virlie tertawa.
"Oii...kamu kenapa, Vir?" tanya Lisa.
"Gak apa-apa, yuk kita pulang."
"Ibra, kamu gak apa-apa?" seru Lisa.
"Gak apa-apa Lis, nyantai saja."
Ibra pun bangkit dan mengikuti langkah Virlie dan Lisa.
"Vir, aku duluan ya, soalnya aku mau ke rumah sakit dulu nyusul Mama."
"Oke, salam buat Tante Vanessa."
"Sip."
Lisa pun masuk ke dalam mobilnya, dan segera melajukan mobilnya meninggalkan Virlie.
"Vir, Ayah dan Mama menyuruh kita datang ke rumah, apa kamu mau?"
"Boleh."
Ibra tampak tersenyum, kemudian dengan senyumannya Ibra pun mulai melajukan mobilnya menuju rumah kedua orangtuanya.
Tidak membutuhkan waktu lama, mobil Ibra pun sampai di rumahnya. Mendengar suara mobil, Asya langsung berlari keluar...
"Abang....!"
"Halo adik Abang yang cantik."
Ibra langsung menggendong Asya, sedangkan Virlie hanya terdiam tidak tahu harus berbuat apa-apa.
Asya pun memberontak turun dari gendongan Ibra, kemudian menghampiri Virlie dan menggenggam tangan Virlie membuat Virlie tersentak.
"Kakak cantik, ayo masuk," ajak Asya.
Virlie tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Asya menarik tangan Virlie, dan membawanya masuk.
"Mama, Ayah, ada Kak Virlie!" teriak Asya.
Mama dan Ayah Ibra pun segera berlari menghampiri.
"Ya Allah, Nona Virlie. Silakan duduk," seru Ayah Agus.
__ADS_1
"Jangan panggil Nona, Virlie saja," sahut Virlie.
"Kalian mau menginap kan, di sini?" seru Mama Hasna.
Virlie dan Ibra saling pandang satu sama lain, Virlie ingin menolak tapi dia tidak tahu harus berkata apa.
"Kakak cantik tidur di sini ya, sama Asya," seru Asya.
Semuanya melihat ke arah Virlie membuat Virlie gugup.
"Asya, jangan begitu Kak Virlie mana mungkin mau tidur di rumah sederhana seperti ini, nanti badan Kak Virlie sakit-sakit," seru Mama Hasna.
Virlie mengusap pipi Asya dengan senyumannya. "Oke, Kak Virlie nginap di sini," sahut Virlie.
"Yeayyyy....nanti Kak Virlie tidur sama Asya ya."
"Oke."
Asya memeluk Virlie saking bahagianya membuat Ibra dan kedua orangtuanya tersenyum.
"Bra, ajak istrimu ke kamar," seru Ayah Agus.
"Iya, Mama mau masak dulu untuk makan malam," sambung Mama Hasna.
"Ayo!" ajak Ibra.
Virlie pun mengikuti langkah Ibra dan masuk ke dalam kamar Ibra.
"Ayo masuk, maaf kamarnya kecil."
Virlie tampak memperhatikan setiap sudut kamar Ibra yang sangat rapi untuk seorang laki-laki.
"Kamu serius mau menginap di sini? jangan dipaksakan, kalau gak mau kita pulang saja nanti biar aku yang bilang sama Mama dan Ayah," seru Ibra.
"Tidak usah, aku mau kok menginap di sini."
"Serius?"
"Memangnya ucapanku tidak terlihat serius ya," kesal Virlie.
"Bukan begitu, soalnya kan kasur aku kecil mana gak empuk lagi takutnya badan kamu sakit-sakit."
"Kasur kamu tipis banget, memangnya kamu gak sakit tidur di sini?"
"Enggak, soalnya aku sudah biasa."
Virlie mulai merebahkan setengah tubuhnya dengan kaki yang tergantung.
"Tapi lumayanlah, masih bisa dipakai untuk tidur," seru Virlie.
"Aku mau mandi dulu, kalau kamu mau mandi juga nanti bilang saja sama aku."
"Oke."
Ibra pun segera mengambil handuk dan baju ganti, lalu meninggalkan Virlie sendirian di kamarnya. Virlie mengirim pesan kepada Mommynya kalau malam ini dia akan menginap di rumah Ibra, tentu saja Mommy Valerie mengizinkannya dengan senang hati.
Beberapa saat kemudian, Ibra sudah selesai mandi dan kembali masuk ke dalam kamarnya.
"Vir, bukanya kamu mau man----"
Ucapannya terhenti karena Ibra melihat Virlie sudah terlelap, Ibra tersenyum dan geleng-geleng kepala.
Ibra pun menghampiri Virlie dan mengangkat kaki Virlie untuk naik ke atas tempat tidur, setelah itu, Ibra pun menutupi tubuh Virlie dengan selimut. Ibra memperhatikan wajah cantik Virlie dari dekat, perlahan Ibra menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah Virlie.
"Aku sangat beruntung bisa mempunyai istri secantik kamu, aku akan berusaha meluluhkan hati kamu bagaimana pun caranya," batin Ibra.
***
Malam pun tiba...
"Vir, bangun Vir, sudah waktunya makan malam," seru Ibra dengan menggoyangkan tubuh Virlie.
Virlie mulai menggerakkan tubuhnya dan perlahan membuka matanya.
"Apaan sih, gangguin aja," kesal Virlie.
"Waktunya makan malam, nanti kamu kelaparan kalau gak makan. Setelah selesai makan, kamu lanjut tidur lagi."
__ADS_1
Virlie pun dengan terpaksa bangun dan terduduk di atas tempat tidur dengan matanya yang masih terlihat sayu.
Pluukkk....
Ibra melempar satu stel baju training miliknya tepat ke wajah Virlie membuat Virlie terkejut.
"Kamu!" sentak Virlie.
"Cepat, mandi sana."
"Kamu menyuruhku pakai baju kamu?" seru Virlie dengan melihat baju yang Ibra berikan kepadanya.
"Ya terus kamu mau pakai baju apa? apa kamu mau telanjang? tapi jangan salahkan aku jika nanti aku macam-macam sama kamu," seru Ibra dengan menaik turunkan alisnya.
Pluukkk...
Virlie melempar bantal ke arah Ibra. "Enak saja."
Virlie pun segera keluar dan masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Ibra, Asya, dan kedua orangtuanya sudah menunggu di meja makan.
Ceklek....
Semua orang melihat ke arah pintu kamar mandi, Virlie keluar dengan menundukkan kepalanya. Seketika tawa Ibra pecah saat melihat Virlie memakai baju training miliknya yang tampak kebesaran.
"Buahahaha....kamu lucu sekali, kaya badut," seru Ibra dengan tawanya.
Sedangkan Asya dan kedua orangtuanya hanya bisa menahan tawanya karena melihat wajah Virlie yang sudah memerah.
"Ibra, jangan dikatawain lihat tuh Nak Virlie wajahnya sudah merah seperti itu," bisik Mama Hasna.
Seketika Ibra berganti tertawa dan menghampiri Virlie.
"Ayo duduk, kita makan."
"Kamu bahagia banget ngelihat aku seperti ini, jangan-jangan kamu sengaja ya memberikan aku baju seperti ini supaya jadi bahan lelucon kamu," kesal Virlie dengan suara yang pelan.
Ibra pun menarik tangan Virlie untuk duduk dan makan, awalnya Virlie tampak mengerutkan keningnya karena tidak ada makanan kesukaannya tapi setelah dicoba, ternyata Virlie sampai nambah dua kali saking enaknya.
Setelah selesai makan malam, Virlie dan Ibra pun masuk ke dalam kamar.
"Kamu tidur di bawah," seru Virlie.
"Dingin Vir."
"Bodo amat, siapa suruh punya kasur kecil."
Akhirnya dengan pasrah, Ibra pun menggelar tikar dan tidur di lantai dengan berselimutkan sarung. Virlie yang sudah merebahkan tubuhnya, kembali bangun dan melihat Ibra.
Ada perasaan kasihan juga kepada Ibra, akhirnya Virlie pun memilih untuk mengajak Ibra tidur di kasur bersamanya.
"Sudah sini, tidur di kasur saja tapi kamu jangan macam-macam," seru Virlie.
Ibra menyunggingkan senyumannya di balik sarungnya itu, dengan cepat Ibra pun naik ke atas tempat tidur.
"Awas kalau kamu macam-macam dengan mencari kesempatan dalam kesempitan," ancam Virlie.
"Siap Bos, aku akan diam tidak akan menyentuh apa pun," sahut Ibra.
Virlie pun akhirnya merebahkan tubuhnya membelakangi Ibra dan tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Virlie sudah terlelap. Sedangkan Ibra, dia sama sekali tidak bisa tidur jangankan menyentuh Virlie, baru berdekatan saja seperti itu si Gabriel sudah bereaksi.
"Astaga, kenapa denganku ini? apa karena si Gabriel tahu kalau status aku sudah menjadi suami, makanya dia berontak terus. Padahal dulu, dia anteng-anteng saja gak pernah berontak," batin Ibra.
Ibra tidur dengan posisi terlentang, di saat Ibra sedang melamun meratapi nasibnya, tiba-tiba Virlie berubah posisi menghadap ke arahnya dan memeluk Ibra membuat Ibra membeku seketika.
"Ya Allah, godaan apa lagi ini," batin Ibra.
Ibra sama sekali tidak bisa bergerak, hingga tangan Virlie mulai tidak bisa diam. Virlie menggerak-gerakan tangannya seolah-olah mengusap dada Ibra membuat Ibra semakin panas dingin dibuatnya.
"Please, hentikan, aku takut khilaf," batin Ibra.
Ibra membelalakkan matanya saat tangan Virlie menuju si Gabriel, dan dengan sigap Ibra menahan tangan Virlie supaya tidak menyentuh si Gabriel.
Perlahan Ibra mengangkat tangan Virlie dan membalikan tubuh Virlie supaya membelakanginya, kemudian Ibra pun memiringkan tubuhnya membelakangi Virlie juga.
Ibra mengusap si Gabriel dengan pelan. "Kamu jangan bangunkan si Gabriel Vir, bisa bahaya," batin Ibra.
Malam ini Ibra sungguh sangat tersiksa, dia berjanji tidak akan mengajak Virlie untuk menginap lagi di rumahnya.
__ADS_1
"Sabar ya Gabriel, nanti ada saatnya kamu menemukan kebahagiaanmu," batin Ibra.
Perlahan mata Ibra mulai sayu, dan dalam hitungan detik Ibra pun mulai masuk ke alam mimpinya.