Mrs. Arrogant

Mrs. Arrogant
Bab 29 Ibra Mulai Possesif


__ADS_3

Virlie mengerutkan keningnya, dia mulai menggerakkan tubuhnya tapi dia masih merasa nyaman dengan posisinya sekarang.


Virlie meraba-raba seperti ada yang aneh dengan guling yang dia peluk, perlahan Virlie pun membuka matanya dan betapa terkejutnya Virlie saat melihat ternyata Ibra yang dia peluk.


"Huawaaaaaaa....."


Bruuuggg....


Virlie mendorong tubuh Ibra sampai Ibra terjatuh dari tempat tidurnya itu.


"Wadaw....ampun dah, badanku bakalan sakit-sakit ini," keluh Ibra.


"Ngapain kamu tidur di samping aku? aku kan jadi peluk kamu, kamu cari-cari kesempatan kan sama aku?" kesal Virlie.


Dengan memegang pan*atnya, Ibra pun bangkit dan menyentuh kening Virlie membuat Virlie menepis tangan Ibra.


"Apaan sih?"


"Kamu sakit ya? tadi malam kamu sendiri yang mengizinkan aku tidur di samping kamu, terus aku itu sudah mengikuti keinginan kamu untuk tidak macam-macam, tangan aku diam gak menyentuh kamu, hanya si Gabriel aja yang terus berontak," sahut Ibra.


"Hah Gabriel? siapa dia?" tanya Virlie bingung.


"Dia bestie aku, dia selalu mengikuti ke mana pun aku pergi tapi kadang-kadang jalan pemikiran dia gak sejalan sama aku," sahut Ibra santai.


Virlie langsung celingukan mencari keberadaan si Gabriel.


"Kamu kurang ajar sekali membawa orang lain tidur bersama di sini," kesal Virlie.


Virlie turun dari atas tempat tidur dan mencari keberadaan si Gabriel, bahkan Virlie sampai memeriksa kolong ranjang.


"Kamu cari siapa?" tanya Ibra bingung.


"Katanya kamu punya bestie si Gabriel yang selalu kamu bawa, mana sekarang orangnya."


Ibra tampak menahan tawanya. "Bestie aku itu bukan orang."


Seketika Virlie terdiam dan segera merapatkan tubuhnya kepada Ibra.


"Kalau bukan orang lalu apa? jangan-jangan kamu anak indihome lagi," seru Virlie dengan polosnya.


Pletaak...


Ibra menyentil kening Virlie membuat Virlie meringis. "Indigo sayangku bukan indihome."

__ADS_1


"Apaan sih, sayang-sayang," ketus Virlie.


Virlie hendak melangkahkan kakinya tapi Ibra menarik tangan Virlie sehingga Virlie pun memeluk Ibra.


"Lepaskan Ibra."


"Kamu ingin tahu, siapa Gabriel?" tanya Ibra.


"Sudah lepaskan, berani sekali kamu peluk-peluk aku segala," kesal Virlie dengan terus berontak.


"Diam Virlie, kalau kamu terus-terusan bergerak nanti si Gabriel bangun."


Seketika Virlie terdiam, dia masih belum mengerti dengan arah pembicaraan Ibra.


"Gabriel itu bukan orang atau pun hantu."


"Lalu apa?" tanya Virlie.


Ibra melihat ke arah selangkangannya dan Virlie pun dengan polosnya justru ikut melihat ke arah pandang Ibra.


Seketika Virlie membelalakkan matanya, melihat seonggok gundukan yang menonjol sangat besar dan sepertinya terasa sangat sesak.


Wajah Virlie berubah memerah, dan dengan cepat Virlie langsung mendorong Ibra dan menjauh dari Ibra. Virlie dengan cepat mengambil handuk dan baju ganti dia yang kemarin dia pakai.


"Tidak tahu dan tidak mau tahu," kesal Virlie.


Virlie pun segera keluar dari dalam kamar Ibra, sedangkan Ibra terkekeh melihat tingkah Virlie.


Ibra terduduk di ujung ranjang dan kembali mengusap selangkangannya.


"Kamu benar-benar hebat Gabriel, bisa sabar dan kuat. Aku tidak salah memberimu nama Gabriel, gagah, berurat, imut, dan tidak rewel," seru Ibra dengan senyumannya.


Virlie sudah selesai mandi dan berganti baju juga tapi karena Virlie tidak betah menggunakan baju bekas kemarin, Virlie pun menyuruh Ibra untuk mampir dulu ke butik karena di sana ada baju ganti yang selalu Virlie simpan.


Ibra menunggu di bawah dengan mengobrol ria dengan Sinta, tidak lama kemudian Virlie pun keluar dengan sudah mengganti pakaiannya.


"Nona, ada pesanan gaun pengantin dari salah satu putri pengusaha dan dia ingin selesai lusa karena Minggu depan acara pernikahannya," seru Sinta.


"Apa? cepat banget, memangnya dia pikir buat gaun itu gampang apa," kesal Virlie.


"Maka dari itu dia ingin bertemu dengan Nona langsung karena kemarin saya tidak berani menyetujuinya waktunya terlalu mepet," sahut Sinta.


"Ya sudah, nanti sore hubungi dia untuk datang ke sini biar aku yang bicara dengannya."

__ADS_1


"Baik Nona."


Virlie dan Ibra pun akhirnya pergi menuju kampus, tidak membutuhkan waktu lama mobil Virlie pun sampai di kampus.


"Hai Vir!" sapa Kevin.


Virlie tidak memperdulikan Kevin, dia terus saja melangkahkan kakinya tapi Kevin justru mengikuti Virlie dari belakang dan itu membuat Ibra kesal.


"Vir, aku minta maaf atas kelakuanku waktu itu, aku sudah sangat menyesal jadi sekarang mau kan, kamu memaafkan aku?" seru Kevin.


Virlie terus saja berjalan, tidak memperdulikan Kevin hingga Kevin pun menahan lengan Virlie membuat Ibra memanas karena istrinya dipegang oleh Kevin.


"Lepaskan Kevin!"


"Aku tidak akan melepaskan mu sebelum kamu mau memaafkan ku," seru Kevin.


Ibra dengan langkah terburu-buru menghampiri Kevin dan melepaskan tangan Kevin dengan paksa.


"Apa sudah jadi kebiasaan kamu selalu memaksa perempuan!" sentak Ibra.


Kevin mendorong Ibra dan mencengkram baju Ibra. "Kenapa Lo selalu ikut campur urusan gue, setiap gue mendekati Virlie, Lo selalu datang mengganggu, apa Lo menyukai Virlie?" bentak Kevin.


Ibra melepaskan cengkraman Kevin dan balik mencengkram baju Kevin.


"Aku suka atau tidak sama Virlie, itu bukan urusanmu tapi aku sudah diberikan amanat oleh kedua orangtua Virlie untuk menjaga Virlie jadi jangan macam-macam dengannya karena aku tidak akan membiarkan kamu mencelakai dan melecehkan Virlie lagi," geram Ibra.


Ibra menghempaskan tubuh Kevin, lalu menggenggam tangan Virlie dan membawanya pergi. Virlie tidak bisa berkata apa-apa lagi, bahkan selama melangkahkan kaki, Virlie hanya melihat tangannya yang digenggam oleh Ibra.


"Brengsek lo Ibra, berani sekali lo menantang gue, lihat saja gue bakalan membuat Lo menyesal karena sudah berurusan dengan Kevin Patterson," geram Kevin.


Sesampainya di kelas, Ibra pun melepaskan genggaman tangan Virlie.


"Pokoknya kamu jangan sampai tergoda oleh bujuk rayu si Kevin, dia itu playboy walaupun dia terlihat tulus dengan meminta maaf kepadamu tapi itu hanya tipuan saja, aku yakin dia bakalan mengulangi perbuatannya lagi karena dia tidak akan berhenti mendekatimu sampai dia bisa memilikimu," geram Ibra dengan dada yang terlihat naik turun saking emosinya.


Virlie tampak menahan senyumannya, bagi dia Ibra terlihat sangat lucu kalau sedang marah-marah seperti itu.


"Jangan tersenyum, orang sedang marah-marah kamu malah tersenyum, memangnya kamu pikir aku sedang bercanda!" sentak Ibra.


"Apaan sih, aku juga tahu kali gak usah berlebihan seperti itu," sahut Virlie.


"Tahu-tahu, buktinya waktu itu aku sudah memperingatimu tapi kamu malah terjebak juga kan?"


Virlie menutup mulut Ibra dengan tangannya. "Sudah duduk sana, jangan nyerocos terus kaya Nenek-nenek saja bawel," seru Virlie.

__ADS_1


Ibra pun menurut dan duduk di kursinya, sedangkan Virlie tampak menyunggingkan senyumannya.


__ADS_2