
Sesampainya di kampus, Ibra dan Virlie keluar dari dalam mobil. Ibra segera melangkahkan kakinya meninggalkan Virlie, kali ini Ibra yang meninggalkan Virlie biasanya Virlie yang selalu meninggalkan Ibra.
"Idih, dia ngambek," ledek Virlie.
Di saat Virlie hendak melangkahkan kakinya, Lisa pun datang dan langsung merangkul pundak Virlie.
"Bagaimana kabar pengantin baru, apa sudah ada tanda-tanda aku bakalan punya keponakan," goda Lisa.
"Ishh..ishh..ishh...apaan sih, keponakan dari mana? aku sama Ibra aja tidurnya pisah, mana bisa punya anak," sahut Virlie cuek.
"Sayang sekali loh Vir, cowok tampan kaya Ibra dianggurin," seru Lisa.
"Hai, aku itu memang belum mau menikah Mommy sama Daddy aja yang pengen cepat-cepat nikahin aku padahal aku ingin mengejar impian aku dulu jadi designer terkenal," sahut Virlie.
"Cinta akan datang dengan seiringnya waktu Vir."
"Enggak deh Lis, aku masih ingin mengejar impianku dulu. Lagipula, aku sudah membuat perjanjian sama Ibra kalau pernikahan kita hanya sampai wisuda saja, setelah itu kita hidup masing-masing saja."
"Yakin Vir, kamu wisuda tahu depan. Satu tahun loh Vir, semuanya pun bisa berubah dengan seiring berjalannya waktu. Bisa jadi kan, sebelum satu tahun kamu malah balik jatuh cinta sama Ibra."
Virlie hanya terdiam, hingga akhirnya mereka pun sampai di depan kelas Virlie.
"Lis, aku masuk dulu ya."
"Oke, bye."
Virlie mulai memasuki kelas dan Ibra terlihat cuek kepada Virlie. Virlie tidak ambil pusing, dia tidak memperdulikan Ibra hingga waktu mata kuliah pun selesai, Ibra pun segera membereskan alat tulisnya dan pergi begitu saja meninggalkan Virlie.
"Vir, mau pulang bareng denganku," seru Kevin.
"Kamu sudah tahu kan, kalau aku bawa mobil? jadi kamu juga pasti tahu apa jawabannya," ketus Virlie.
"Oh oke."
Virlie langsung pergi meninggalkan Kevin, sedangkan Kevin terlihat mengepalkan tangannya.
"Tunggu saja Virlie, aku akan membuat perhitungan denganmu," batin Kevin.
Kevin yang awalnya terobsesi ingin memiliki Virlie justru sekarang berbalik membenci Virlie karena Virlie adalah perempuan pertama yang sudah membuatnya malu dan tidak mempunyai harga diri.
Virlie melangkahkan kakinya menuju parkiran, dan Ibra sudah berada di dalam mobil masih dengan diamnya tidak mau bicara kepada Virlie dan Virlie pun tidak memperdulikannya.
Tiba-tiba ponsel Virlie berbunyi dan tertera nama Sinta di sana.
📞"Halo Mba, ada apa?" tanya Virlie.
📞"............"
📞"Apa? baiklah aku akan segera ke sana."
Ibra yang awalnya ingin ngambek dan mogok bicara sampai Virlie membujuknya, ternyata justru malah balik khawatir.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Ibra.
"Buruan kita harus segera ke butik, ada orang yang sudah menghancurkan butikku."
"Apa?"
Ibra pun dengan cepat mulai melajukan mobilnya menuju butik Virlie, selama dalam perjalanan Virlie terlihat sangat cemas dan khawatir.
"Buruan Bra, jalannya cepetan."
Ibra pun menambah kecepatan mobilnya, hingga beberapa saat kemudian mereka pun sampai di butik dan betapa terkejutnya Virlie dan Ibra saat melihat keadaan butik yang acak-acakan.
Virlie pun segera berlari masuk ke dalam butiknya, disusul oleh Ibra.
"Ini ada apa, Mba?" tanya Virlie.
"Tadi ada sekelompok orang pakai baju hitam-hitam datang ke sini Nona, dan mereka tanpa basa-basi langsung menghancurkan semuanya bahkan gaun-gaun pun mereka rusak dan disobek."
"Astaga."
Virlie tampak lemas, gaun-gaun buatan Virlie semuanya rusak dan sobek bahkan ada beberapa gaun pesanan yang beberapa hari lagi siap untuk dikirim kepada pemesan.
"Siapa yang sudah melakukan semua ini? bagaimana ini, bahkan gaun pesanan pun sudah hancur," seru Virlie lemas.
"Mba, terus kenapa Mba tidak lapor polisi?" seru Ibra.
"Kami semua di sekap Bra, tidak bisa lapor polisi," sahut Sinta.
"Brengsek, siapa yang sudah melakukan semua ini," geram Ibra.
Semua orang melihat Virlie, dan Virlie pun bangkit dari duduknya.
"Ibra, buruan kita harus ke suatu tempat."
Ibra pun segera masuk ke dalam mobilnya menyusul Virlie.
"Kita mau ke mana?" tanya Ibra.
"Ke sebuah rumah produksi di daerah xxx."
Ibra pun segera melajukannya ke tempat yang disebutkan oleh Virlie, Ibra tidak tahu mau apa Virlie ke sana. Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di sebuah rumah produksi. Virlie dengan emosinya langsung masuk ke dalam disusul oleh Ibra.
"Apa aku bisa bertemu dengan Angela Karenina," seru Virlie ke bagian resepsionis.
"Maaf Mba, apa Mba sudah membuat janji?"
"Sudah."
"Baiklah, sebentar saya hubungi dulu soalnya Angela saat ini sedang ada pemotretan, mohon Mba sama Masnya menunggu sebentar."
Virlie dan Ibra pun menunggu di kursi yang disediakan, wajah Virlie tampak memerah menahan emosi. Virlie sudah tahu kalau yang melakukan semua ini pasti Angela, Angela adalah seorang model papan atas.
__ADS_1
Butuh 15 menit untuk menunggu, hingga tidak lama kemudian Angela pun datang bersama asistennya. Virlie yang memang sudah tersulut emosi langsung berdiri dan menghampiri Angela.
Plaaaakkk....
Tanpa basa-basi Virlie langsung menampar Angela...
"Apa-apaan kamu, dasar wanita gila!" bentak Angela.
"Mba ini kenapa? datang-datang langsung menampar Angela, kalau Mba iri kepada Angela bilang, jangan main tampar seperti ini!" sentak Asisten Angela.
Virlie mendorong Asisten Angela dan menjambak Angela dengan emosinya.
"Berani sekali kamu menghancurkan butik ku, kelakuan mu sungguh menjijikan. Hanya gara-gara aku tidak bisa membuatkan gaun untukmu, kamu melakukan semua ini!" bentak Virlie.
Tiba-tiba wartawan datang dan memotret Virlie dan Angela, sedangkan para kru segera datang untuk memisahkan Virlie dan Angela.
"Kurang ajar sekali kamu datang-datang langsung menganiayaku seperti ini, dan kamu juga sudah memfitnahku, kamu tidak tahu siapa aku dan orangtuaku? aku yakin, Papaku tidak akan tinggal diam melihat anak kesayangannya diperlakukan seperti ini olehmu!" sentak Angela.
"Aku tidak takut."
Virlie hendak menyerang Angela kembali tapi Ibra menahannya.
"Sudah Virlie."
"Bawa wanita gila itu pergi atau aku menyuruh bodyguardku untuk melempar dia!" teriak Angela.
"Ayo Vir, kita pergi."
"Awas kamu, urusan kita belum selesai," ancam Virlie.
Ibra pun memaksa Virlie untuk pergi dan memasukan Virlie ke dalam mobil, napas Virlie masih ngos-ngosan menahan emosi. Ibra mulai melajukan mobilnya...
"Kita kembali ke butik saja," seru Virlie.
Sementara itu....
Tok...tok...tok...
"Masuk."
"Bos, coba lihat tv ada Virlie di sana," seru Julian ngos-ngosan.
"Apa?"
Dion pun segera menyalakan tv dan ternyata benar saja, berita Virlie sedang menjadi perbincangan hangat.
"Anak siapa dia?" tanya Dion dingin.
"Charlie Chandiago," sahut Julian.
"Kenapa Virlie seperti itu?"
__ADS_1
"Aku juga belum tahu, tapi sepertinya wanita itu sudah membuat gara-gara kepada Virlie karena aku tahu, Virlie tidak mungkin sembarangan menyerang orang kalau orang itu tidak membuat gara-gara duluan."
Dion diam saja, dia pun segera menghubungi Virlie untuk meminta penjelasan dari anaknya itu.