
Malam pun tiba...
Virlie tampak bahagia, akhirnya setelah 3 tahun hidup di Negara orang, bisa kembali lagi dan tidur di kamar kesayangannya itu.
"Akhirnya aku bisa tidur di kamar aku lagi," gumam Virlie.
Virlie tampak terdiam dan melamun, tiba-tiba bayangan dulu Ibra masih berada di kamar itu melintas di benaknya.
Virlie tersenyum sendiri, dia ingat dengan tingkah konyol Ibra yang begitu sangat menyebalkan. Walaupun Ibra sangat menyebalkan, tapi dia begitu perhatian kepada Virlie.
"Sekarang dia ada di mana? apa dia sudah sukses?" batin Virlie.
Virlie tersentak, dia pun memukul kepalanya pelan.
"Bodoh, ngapain aku ingat sama Ibra, kali aja sekarang dia sudah punya kekasih atau mungkin sudah menikah lagi," batin Virlie.
Virlie pun mulai memiringkan tubuhnya dan melihat ke arah sofa yang dulu biasa Ibra tempati untuk dia tidur. Perlahan mata Virlie pun mulai sayu, dan tidak membutuhkan waktu lama akhirnya Virlie pun terlelap dan menuju alam mimpinya.
Sementara itu, Ibra pun menatap langit-langit kamarnya. Ibra di sana tinggal hanya sendirian tidak ada teman atau pun ART karena Ibra belum terbiasa memakai ART.
"Virlie, Virlie, rasanya aku ingin sekali memelukmu dan membawamu ke atas tempat tidur," batin Ibra.
Ibra tersentak dan memukul kepalanya. "Ya Allah, bukanya terakhir kali Virlie marah kepadaku gara-gara tragedi di atas tempat tidur, ya? otakku benar-benar tidak beres, kenapa setiap aku ingat Virlie bawanya mesum terus ya. Gabriel-gabriel, kamu masih harus bersabar Bro, jangan berontak terus oke," batin Ibra.
***
Keesokan harinya...
"Pagi semuanya!" sapa Virlie.
"Pagi sayang."
"Pagi Kakak ku yang cantik."
"Hah, tumben sebut Kakak cantik, biasanya juga sebut Kakak bawel dan berisik," ledek Virlie.
"Sekarang kan, Kakak gak berisik lagi."
Kedua orangtua mereka pun tersenyum...
"Memang, putri Daddy saat ini begitu sangat dewasa tidak teriak-teriak lagi kata Tarzan," seru Daddy Dion.
"Iya dong Dad, setiap manusia itu pasti akan berubah begitu pun dengan Virlie. Hidup sendirian di Negara orang tanpa yang menemani membuat Virlie mau tidak mau harus melakukannya sendirian dan dari sana Virlie mulai tahu bagaimana rasanya hidup tanpa ada yang membantu tapi lama-kelamaan Virlie jadi terbiasa dan tidak banyak ngeluh lagi."
"Syukurlah, Mommy bangga melihat kerja keras kamu, sayang."
"Kamu pagi ini mau ke mana, Sayang?" tanya Mommy Valerie.
__ADS_1
"Virlie mau ke butik dulu sebentar, nanti waktunya makan siang, Virlie ke perusahaan Mommy."
"Oke kalau begitu, Mommy tunggu."
"Daddy hari ini ada urusan di kantor, jadi Daddy gak bisa makan siang bareng sama kalian, gak apa-apa kan?"
"Gak apa-apa Dad, Daddy selesaikan saja urusan Daddy," sahut Virlie.
"Hari ini Vero libur kan? Vero mau minta izin main ke rumah Asya ya, Mom."
"Boleh sayang, tapi pulangnya jangan kesorean."
"Siap Mommy."
Virlie hanya bisa tersenyum, dia tidak berkata apa-apa lagi bahkan Virlie tidak berani hanya sekedar menanyakan keberadaan Ibra.
Selesai sarapan, Virlie pun segera mengambil tas dan kunci mobilnya. Elsa segera berlari sembari membawa sepatu Virlie tapi Virlie menolaknya.
"Elsa, aku sudah pakai sepatu. Oh iya, mulai sekarang kamu tidak usah menyiapkan apa pun lagi karena aku bisa melakukannya sendiri."
"Ba-baik Nona."
Elsa sangat tidak percaya dengan apa yang dia lihat dan dia dengar, Virlie memang sudah sangat berubah bahkan nada bicaranya pun sangat lembut tidak seperti dulu yang selalu teriak-teriak.
Mommy Valerie dan Daddy Dion yang melihat itu tampak menyunggingkan senyumannya.
"Iya Dad."
Virlie pun segera masuk ke dalam mobilnya dan langsung melajukan mobilnya menuju butik miliknya. Selama di Perancis, Virlie selalu meminta Daddynya untuk memperbesar butiknya dan alhasil, sekarang butik Virlie lumayan besar dan menjadi dua lantai.
Virlie menghentikan mobilnya karena lampu merah, Virlie tidak sadar kalau di sampingnya itu adalah mobil Ibra. Kaca mobil Ibra adalah kaca mobil satu arah, jadi Ibra bisa melihat jelas ke luar sedangkan dari luar, tidak bisa melihat ke dalam.
Ibra terus saja memperhatikan Virlie dari dalam mobilnya.
"Ya Allah, kamu cantik banget Virlie," batin Ibra.
Tidak lama kemudian, lampu pun sudah berubah menjadi hijau dan Virlie pun segera menancapkan gasnya. Ibra yang awalnya akan pergi ke kantor, justru malah tertarik untuk mengikuti Virlie.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Virlie sampai di depan butiknya dan Ibra menghentikan mobilnya di sebrang butik.
Virlie memperhatikan butiknya yang saat ini sudah besar dan maju, kemudian Virlie mengembangkan senyumannya dan senyuman Virlie lagi-lagi membuat jantung Ibra berdebar-debar tak karuan.
"Cantik, sangat cantik," batin Ibra.
Virlie pun masuk ke dalam butiknya dan Ibra memutuskan untuk pergi dari sana dan menuju kantor.
Sesampainya di kantor, Astrid sudah menunggunya di depan pintu.
__ADS_1
"Selamat pagi, Pak Ibra!"
"Pagi."
Ibra pun langsung melangkahkan kakinya menuju ruangannya dan diikuti oleh Astrid.
"Hari ini tidak ada jadwal apa pun, soalnya Nyonya Valerie yang sudah menghandle semuanya."
"Hah, kok Mommy menghandle semuanya?"
"Saya tidak tahu, Pak."
"Ya sudah, kamu lanjutkan bekerja saja, aku mau ke ruangan Mommy dulu."
"Baik Pak."
Ibra pun segera melangkahkan kakinya menuju ruangan Mommy Valerie.
Tok..tok..tok..
"Masuk!"
"Mommy, kenapa Mommy menghandle semua kerjaan Ibra?" tanya Ibra sembari duduk di hadapan Mommy Valerie.
"Selama ini kamu sudah bekerja keras, besok hari Sabtu waktunya libur jadi untuk hari ini kamu istirahat saja bersantai-santai ria."
"Ya Allah Mommy."
"Sudah, jangan banyak membantah."
Ibra tampak terdiam, sebenarnya dia ingin sekali menanyakan kabar mengenai Virlie tapi dia sedikit ragu. Mommy Valerie melirik Ibra dengan senyumannya.
"Virlie baik-baik saja, bahkan saat ini Virlie sudah banyak berubah. Dia sudah tidak teriak-teriak lagi, sifatnya sudah semakin dewasa, dan satu lagi, Virlie sudah bisa mengikat tali sepatunya sendiri," seru Mommy Valerie seakan tahu apa yang ingin Ibra tanyakan.
"Syukurlah kalau begitu, Ibra sangat senang mendengarnya."
"Nanti siang, kita makan siang bersama."
"Oke Mommy."
Mommy Valerie tidak memberitahukan kalau akan makan siang dengan Virlie, biar Ibra dan Virlie bertemu.
Waktu pun berjalan dengan cepat, waktunya makan siang pun tiba. Virlie dengan cepat mengambil tas dan juga kunci mobilnya, lalu segera pergi ke restoran yang sudah dijanjikan oleh Mommynya.
"Mommy!" teriak Virlie dengan melambaikan tangannya.
Deg...
__ADS_1
Ibra yang posisinya membelakangi Virlie, merasa kaget dengan kedatangan Virlie. Ibra menatap Mommy Valerie namun Mommy Valerie hanya menyunggingkan senyumannya sembari mengedipkan sebelah matanya, sungguh Ibra merasa kesal kepada Mommy mertuanya itu padahal Ibra sama sekali belum siap untuk bertemu dengan Virlie.