
Virlie keluar dari kamar mandi dengan memakai dress selutut tanpa lengan dan dipadu padankan dengan kardigan senada dengan warna dressnya membuat Ibra kembali melongo.
"Ya Allah, kenapa istriku begitu sangat cantik, sayang sekali punya istri secantik itu tapi hanya bisa melihatnya tanpa bisa menyentuhnya," batin Ibra.
"Apa lihat-lihat?" ketus Virlie.
"Memangnya aku tidak boleh melihat istriku? dalam perjanjian tidak ada larangan kalau aku tidak boleh melihatmu, hanya larangan menyentuhmu saja, iya kan?"
Virlie memilih mengabaikan Ibra dan berlanjut memoles wajahnya dengan riasan tipis. Setelah selesai, Virlie pun langsung keluar dari dalam kamarnya dan disusul oleh Ibra yang mengikutinya dari belakang.
Keduanya menuruni anak tangga, Mommy Valerie tampak sumringah melihat anak dan menantunya itu.
"Ya ampun, pengantin baru wajahnya segar banget," goda Mommy Valerie.
Virlie lagi-lagi mengabaikan godaan Mommynya itu, dia pun duduk dan Ibra juga ikut duduk di samping Virlie.
"Sayang, kamu ambilin dong makan buat Ibra sekarang kan, kamu sudah menjadi istri Ibra," seru Mommy Valerie.
"Apaan sih Mom, dia punya tangan kok jadi ambil saja sendiri," sahut Virlie dengan santainya.
"Tapi sayang...."
"Tidak apa-apa Bu, Ibra bisa ngambil sendiri," seru Ibra.
"Hai, kok kamu masih memanggilku dengan sebutan Ibu sih? panggil Mommy juga dong sama seperti Virlie."
"Ah iya Mommy, maaf."
Ibra pun mengambil nasi goreng dan mulai melahapnya.
"Kak Ibra, jangan lupa buat dedek bayi untuk Vero ya, soalnya Vero ingin punya dedek bayi juga," celetuk Vero.
Seketika Virlie dan Ibra tersedak bersamaan, membuat Mommy Virlie tersenyum. Mommy Valerie mengambilkan minum untuk Virlie, sedangkan Vero mengambilkan minum untuk Ibra.
"Cie..cie..sekarang Kak Virlie dan Kak Ibra sudah bisa tersedak bersamaan, itu artinya kalian berjodoh," ledek Vero.
Virlie menoyor kepala Vero dengan gemasnya. "Bocah tahu dari mana soal membuat dedek bayi? memangnya cara membuat dedek bayi kaya gimana?" seru Virlie.
"Kalau cara buatnya Vero tidak tahu, tapi kan kata Daddy kalau orang dewasa sudah menikah, itu tandanya mereka akan bisa membuat dedek bayi," sahut Vero dengan polosnya.
"Apa?" sahut Virlie dan Mommy Valerie bersamaan.
Kemudian kedua wanita cantik beda generasi itu menatap tajam ke arah Daddy Dion membuat Daddy Dion yang sedang minum menghentikannya karena tatapan istri dan anaknya begitu sangat menyeramkan.
__ADS_1
"Apa? kenapa kalian menatap Daddy seperti itu?"
Mommy Valerie menjewer telinga Daddy Dion dengan gemasnya membuat Daddy Dion meringis kesakitan.
"AW, sakit sayang," rengek Daddy Dion.
"Berani sekali mengajarkan Vero bicara yang tidak-tidak."
"Bicara yang tidak-tidak bagaimana? Daddy hanya bicara yang sebenarnya kok."
"Tapi kalau bicara hal sensitif gak usah diceritakan kepada Vero, dia masih kecil Daddy," geram Mommy Valerie.
"Oke-oke, aku minta maaf."
Mommy Valerie pun langsung melepaskan jeweraannya, sedangkan Ibra tampak menahan senyumannya melihat keluarga Virlie.
Setelah selesai sarapan, seperti biasa Virlie akan duduk di teras rumah dan menunggu Elsa datang untuk membawakan sepatunya.
"Elsaaaaaaaaa.....cepat!" teriak Virlie dengan mengotak-ngatik ponselnya.
Tidak lama kemudian, Ibra pun datang dan langsung berjongkok di hadapan Virlie membuat Virlie tersentak kaget.
"Apa-apaan kamu?"
"Tidak usah, biar Elsa saja."
Ibra pun memakaikan sepatu untuk Virlie kemudian mengikatkan tali sepatunya juga, Virlie sangat kaget dengan perlakuan Ibra karena pada dasarnya rasanya kurang pas kalau suami melayani istri.
"Sudah selesai."
Virlie tampak terdiam...
"Ayo masuk, nanti telat loh ke kampus," seru Ibra.
Lagi-lagi Virlie tersentak dan langsung masuk ke dalam mobilnya, seperti biasa selama dalam perjalanan Ibra akan berceloteh berbagai hal kepada Virlie yang dingin dan cuek itu.
"Vir, kamu tahu gak kalau senyum itu ibadah? aku lihat kamu itu tidak pernah senyum, coba deh kamu itu lebih murah senyum sedikit saja, biar hatimu sedikit bahagia dan otakmu pun gak butek-butek amat," seru Ibra.
"Apa kamu bilang? kamu bilang otakku butek?" bentak Virlie.
Virlie langsung menjambak rambut Ibra membuat Ibra langsung menginjak remnya karena takut terjadi sesuatu.
"Aw, sakit Virlie, ampun."
__ADS_1
"Kamu ya, kalau ngomong sembarangan. Senyuman aku memang mahal, terus memangnya kenapa kalau aku jarang senyum? masalah buatmu?" kesal Virlie.
Virlie pun dengan kesalnya menghempaskan kepala Ibra, membuat Ibra memegang kepalanya.
"Astaga, tenaga kamu kuat banget sih Vir, aku kan cuma bercanda."
"Bercandamu gak lucu. Cepetan jalan, jangan banyak ngoceh."
Tanpa banyak bicara apa pun, Ibra pun kembali menginjak gasnya dan mulai melajukan mobilnya menuju kampus.
Sesampainya di kampus, Virlie langsung turun dan meninggalkan Ibra yang sedang memasang wajah cemberutnya.
"Nasib-nasib, punya istri galak amat sih," gerutu Ibra.
Sesampainya di kelas, seperti biasa Virlie langsung duduk dan tiba-tiba Amara datang dengan membawa kotak makanan.
"Vir, ini ada kue buatan Mama aku, katanya ini buat kamu. Enak loh Vir, kita tidak bisa memberimu apa-apa hanya ini yang bisa aku kasih untukmu," seru Amara.
Ibra langsung merebut kotak kue itu, kemudian dia membukanya dan mengendus kue itu membuat Amara kesal.
"Ih, apaan sih kamu, Ibra," kesal Amara.
"Kamu ngasih ini gak ada niat jahat, kan? kue ini gak kamu kasih racun atau sebagainya?" seru Ibra dengan tatapan menyelidik.
"Astaga Ibra, aku gak sejahat itu kali. Mana mungkin aku memberi racun kepada orang yang sudah menolongku, lagipula mana berani aku macam-macam, bisa-bisa aku dihempaskan oleh Tuan Dion bagai debu," geram Amara.
Ibra masih menatap tajam ke arah Amara, lalu Ibra mengambil satu kue dan memakannya.
"Bagaimana, enak kan?" seru Amara.
"Enak."
Di saat Ibra ingin mengambil kue lagi, dengan gemasnya Virlie memukul kepala Ibra dengan buku.
"Alasan saja mau memeriksa kue itu, padahal kamu mau kan?" kesal Virlie.
Ibra nyengir dengan mengusap kepalanya. "Setelah kejadian kemarin, kita harus hati-hati Vir, takutnya ada orang yang berniat jahat lagi sama kamu," seru Ibra dengan mendelikan matanya ke arah Kevin membuat Kevin mengeraskan rahangnya.
Virlie merebut kotak berisi kue itu, dan memasukannya ke dalam tasnya.
"Nanti aku makan."
"Baik, terima kasih ya Vir, sudah mau menerima kue sederhana buatan Mamaku pasti Mama aku bakalan senang," seru Amara.
__ADS_1
Virlie kembali duduk, begitu pun dengan Ibra. Tangan Ibra mulai tidak bisa diam, dia memainkan rambut Virlie yang panjang itu. Virlie membalikan tubuhnya ke belakang dan menatap tajam ke arah Ibra, tapi Ibra dengan tengilnya malah cengengesan membuat Virlie semakin kesal.