
Ibra sampai di rumah Virlie dan segera masuk ke dalam rumah, tapi rumah terlihat sepi.
"Bi, Mommy sama Daddy mana?"
"Nyonya sedang pergi ke salon, sedangkan Tuan seperti biasa masih di kantor."
"Terus Vero?"
"Den Vero masih sekolah, paling sebentar lagi pulang. Ada apa Mas, kok Mas Ibra kelihatan khawatir seperti itu?" tanya ART.
"Tidak apa-apa, apa Bibi lihat Virlie sudah pulang?"
"Belum, kan biasanya pulang sama Mas Ibra."
"Ah sial."
Ibra pun segera berlari keluar lagi, dan berniat ingin mencari Virlie ke butiknya. Mobil Vero pun sampai, dan Ibra tampak mengerutkan keningnya saat melihat mobil yang tidak di kenal masuk juga ke halaman rumah Dion.
"Kak Ibra!"
Vero langsung berlari memeluk Ibra.
"Siapa kalian?" tanya Ibra.
"Kami pengawal Tuan Muda Vero."
"Pengawal?"
Ibra tampak bingung dengan semua ini, sebenarnya siapa keluarga Virlie, kenapa Vero pun sampai dikawal 3 orang seperti itu.
"Vero, sekarang kamu masuk dan ganti baju ya. Soalnya Kak Ibra masih ada keperluan."
"Oke Kak."
Vero pun segera masuk ke dalam rumah dan Ibra menghampiri ketiga pengawal Vero.
"Ada apa ini sebenarnya? kenapa kalian harus mengawal Vero?" tanya Ibra.
"Maaf Tuan, kami tidak bisa menjawabnya karena kami takut salah bicara. Nanti Tuan tanya saja kepada Bos Dion karena bukan Tuan muda Vero saja yang dikawal, Nona Virlie pun mendapatkan pengawalan yang sama. Kami berbaur dengan yang lainnya, sehingga tidak akan ada yang tahu kalau Tuan muda Vero dan Nona Virlie dikawal karena mereka menolak untuk dikawal."
"Apa Daddy Dion banyak musuhnya?" tanya Ibra penasaran.
"Setahu kami memang seperti itu, karena Bos Dion banyak menangkap penjahat jadi mungkin masih banyak orang-orang yang dendam kepada Bos Dion."
Ibra semakin tidak mengerti, sebenarnya apa pekerjaan mertuanya itu. Setahu dia, Daddy Dion selalu berangkat ke kantor tapi dia tidak pernah memakai jas seperti orang pada kebanyakan.
Tiba-tiba ponsel Ibra berbunyi, dan tertera nama Mommy Valerie di sana.
📞"Halo Mommy!"
📞"......................"
📞"Apa?"
📞"....................."
__ADS_1
📞"Baik Mommy."
Ibra pun menutup sambungan teleponnya, Mommy Valerie menyuruh Ibra untuk tetap diam di rumah menjaga Vero karena takut terjadi kenapa-napa dengan Vero.
Ketiga pengawal itu berdiri di depan gerbang rumah Dion, berjaga-jaga takut ada orang yang mencurigakan.
Ibra melangkahkan kakinya menuju kamar Vero, dia benar-benar penasaran dengan pekerjaan mertuanya itu dan berharap Vero mau memberitahukannya.
"Vero."
"Kak Ibra, ada apa Kak?"
"Kakak mau tanya sama kamu, sebenarnya apa pekerjaan Daddy kamu?"
Vero tampak terdiam sebentar. "Tapi Vero gak boleh mengatakannya kepada siapa pun."
"Vero, kamu tidak percaya sama Kak Ibra? Kak Ibra tidak akan mengatakannya kepada siapa pun."
"Kak Ibra harus janji jangan sampai orang lain tahu, karena kata Daddy dan Mommy, kalau sampai identitas Daddy terbongkar, nyawa kami semua akan terancam."
"Kak Ibra janji."
"Daddy itu seorang detektif, bahkan Mommy dan Om Julian adalah anak buah Daddy dulunya. Daddy sering menangkap penjahat dan Daddy takut kalau identitasnya terungkap, nyawa Vero dan Kak Virlie jadi terancam."
Ibra tampak membelalakkan matanya, dia tidak menyangka kalau mertuanya adalah orang-orang hebat.
Sementara itu, Dion terus saja mengikuti tanda bahaya dari ponsel milik Virlie tapi tiba-tiba saja alarmnya berhenti di pinggir jalan.
Daddy Dion menghentikan mobilnya di pinggir jalan, begitu pun dengan mobil Julian yang ikut berhenti juga.
"Ada apa Bos?" tanya Julian.
"Kok bisa?" tanya Mommy Valerie panik.
"Bisa jadi ponsel Virlie hancur."
"Ya Allah, bagaimana ini. Aku khawatir dengan keadaan Virlie."
"Kamu tenang dulu sayang, sebaiknya sekarang kita pulang dan menunggu kabar selanjutnya. Aku yakin, orang itu akan menghubungi kita," seru Daddy Dion.
Akhirnya ketiganya pun memutuskan untuk pulang, sementara itu Ibra terus saja menghubungi ponsel Virlie tapi sayang nomornya tidak aktif.
"Virlie ke mana?" batin Ibra khawatir.
Tidak lama kemudian, mobil Daddy Dion dan Julian sampai di rumah Daddy Dion.
"Mommy, Daddy, bagaimana dengan Virlie?" tanya Ibra.
"Kita belum menemukannya," sahut Daddy Dion.
"Maafkan Ibra, Dad, tadi Ibra tidak mengikuti Virlie jadi akhirnya Virlie menghilang seperti ini."
"Kamu tidak usah menyalahkan diri kamu sendiri, Ibra. Memangnya tadi kejadiannya bagaimana?" tanya Mommy Valerie.
"Ibra juga kurang tahu Mom, tapi tadi di saat mengikuti mata kuliah, Virlie mendapatkan sebuah pesan dan setelah itu Virlie izin untuk pulang bahkan Virlie tidak bilang apa-apa dulu sama Ibra."
__ADS_1
"Apa tadi Kevin masuk kuliah?" tanya Julian.
Ibra tampak berpikir, hingga tidak lama kemudian Ibra pun membelalakkan matanya. "Kevin tidak masuk kuliah, Om."
"Sudah jelas Bos, ini perbuatan keluarganya Ferdinan yang ingin balas dendam kepada kita," seru Julian.
"Kurang ajar, bagaimana kita bisa menemukan Virlie? aku takut mereka nekad dan melukai Virlie," seru Daddy Dion frustasi.
Semuanya tampak bingung, hingga akhirnya seorang pengawal Virlie menghubungi Daddy Dion.
Pengawal Virlie mengatakan kalau dia mendapatkan sesuatu dan sekarang sudah mengirimkannya ke laptop Daddy Dion. Dengan cepat Daddy Dion mengambil laptopnya dan memeriksa sesuatu yang dikirim oleh pengawal Virlie itu.
Ternyata itu rekaman yang dia dapat dari cctv kampus dan cctv jalanan.
"Ini jalan menuju pabrik tua, aku yakin Virlie di bawa ke sana," seru Daddy Dion.
"Kita bertindak sekarang, jangan sampai kita terlambat dan Virlie kenapa-napa," seru Julian.
Daddy Dion dan Mommy Valerie segera menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya, mereka memakai earphone masing-masing dan tidak lupa membawa senjata yang mereka selipkan dipinggang masing-masing.
Keduanya segera turun ke bawah, Daddy Dion melempar earphone ke arah Julian dan Julian menangkapnya dengan sigap.
"Pakai itu."
"Daddy, Ibra ingin ikut," seru Ibra.
Daddy Dion saling pandang satu sama lain, hingga akhirnya Daddy Dion pun melempar earphone kepada Ibra.
"Pakai itu."
"Baik Daddy."
"Vero bagaimana?" seru Mommy Valerie.
"Aku sudah menghubungi Vanessa dan juga Lisa, dan mereka dalam perjalanan menuju ke sini," sahut Julian.
"Bagus, sekarang kita berangkat. Ibra, kamu satu mobil dengan Julian."
"Baik Daddy."
Keempatnya pun langsung meluncur menuju tempat yang dituju.
***
Sementara itu, Virlie sudah sangat lemas karena Kevin dan Angela sudah menyiksanya sedangkan Charlie Chandiago duduk di kursi dengan senyumannya memperhatikan anak dan keponakannya menyiksa Virlie.
"Kamu adalah perempuan pertama yang berani menolak ku, dulu aku memang terobsesi kepadamu dan ingin memilikimu tapi semenjak kamu berkali-kali menjatuhkan harga diriku, aku menjadi benci apalagi setelah mendengar kalau Daddy dan Kakek mu yang sudah membunuh Om ku bahkan istri dan anaknya pun ikut mati karena bunuh diri," bentak Kevin.
Virlie menatap tajam ke arah Kevin, dia sudah tidak sanggup berkata-kata lagi bibirnya berdarah dan sudah sangat sakit.
"Kita lihat saja, bagaimana reaksi Daddy dan Kakek mu saat melihatmu dalam keadaan sudah menjadi mayat," seru Angela.
"Daddyku akan menemukanku sebelum aku jadi mayat, jadi kalian jangan macam-macam atau Daddy akan membunuh kalian satu persatu-satu," seru Virlie dengan senyumannya.
Charlie Chandiago tersulut emosi saat mendengar ucapan Virlie, dia pun bangkit dari duduknya dan tanpa aba-aba langsung menendang Virlie sampai Virlie jatuh tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Kurang ajar, berani sekali kamu mengatakan hal seperti itu. Dulu boleh saja mereka kalah, tapi kali ini kami tidak akan kalah dan kami yang akan membunuh kalian semua!" teriak Charlie.
Kevin dan Angela menyunggingkan senyumannya, mereka suka melihat Virlie menderita seperti itu.