Mrs. Arrogant

Mrs. Arrogant
Bab 32 Kenalan Dulu Yuk, Sama Gabriel!


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Virlie langsung masuk dan naik ke lantai atas menuju kamarnya, tentu saja Ibra akan mengikutinya.


"Kak Ibra, temani Vero belajar dong," seru Vero.


"Sayang, Kak Vero capek mau istirahat belajarnya sama Mommy saja ya," seru Mommy Valerie.


"Tapi Mom, Vero ingin belajar sama Kak Ibra," rengek Vero.


Ibra yang awalnya akan naik ke atas menyusul Virlie, terpaksa kembali turun dan menghampiri Vero.


"Ya sudah, Kak Ibra akan temenin Vero untuk belajar," sahut Ibra.


"Ibra, kamu kan pasti capek lebih baik kamu istirahat sana jangan hiraukan Vero," seru Mommy Valerie.


"Tidak apa-apa Mommy, Ibra tidak capek kok."


Ibra pun mulai mengajari Vero dan belajar bersama, sedangkan Mommy Valerie tampak menyunggingkan senyumannya melihat keakraban Ibra dan Vero.


"Ibra, Mommy mau tanya, apa Virlie suka bersikap seenaknya kepada kamu?"


"Ah tidak Mommy, biasa saja."


"Maafkan Mommy dan Daddy ya, yang sudah memaksa kalian untuk menikah, kalian kan jadi terpaksa melakukannya," sesal Mommy Valerie.


"Tidak apa-apa Mommy, Ibra tidak merasa terpaksa kok."


"Apa kamu mencintai Virlie?"


Ibra terdiam sejenak, hingga tidak lama kemudian dia pun menganggukkan kepalanya membuat Mommy Valerie tersenyum.


"Berusahalah dan bersabarlah, rebut hati Virlie buat dia mencintaimu juga. Mommy yakin, lama-kelamaan Virlie akan luluh juga."


"Iya Mom, Ibra akan terus berusaha untuk membuat Virlie jatuh cinta kepada Ibra."


Mommy Valerie tersenyum dan mengusap punggung Ibra, setelah selesai mengajari Vero, Ibra pun naik ke atas dan masuk ke dalam kamar Virlie.


Ternyata Virlie sudah tertidur, Ibra membenarkan posisi Virlie dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Ibra pun segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Tidak membutuhkan waktu lama, Ibra pun selesai dan keluar kamar mandi dengan sudah berganti pakaian. Ibra pun tidur di atas sofa, dan saking kelelahannya Ibra pun langsung terlelap.


***


Keesokan harinya....


Seperti biasa, Ibra bangun subuh dan sekarang dia sedang berada di dalam kamar mandi. Ibra baru saja selesai mandi dan melilitkan handuknya di pinggang.


Ceklek....


Ibra terkejut karena dia lupa mengunci pintu kamar mandi, Virlie masuk ke dalam kamar mandi dengan mata yang masih setengah tertutup.


Dia menggantung handuk, kemudian melepaskan bajunya membuat Ibra membelalakkan matanya. Ibra terdiam bahkan dia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.

__ADS_1


Ibra tampak susah payah menelan salivanya, tubuh Virlie benar-benar putih dan mulus tanpa cacat sedikit pun. Virlie masih belum sadar kalau Ibra ada di dalam kamar mandi sedang memperhatikannya tanpa berkedip.


"Gabriel santai bro, jangan berontak terus," batin Ibra.


Di saat Virlie membalikan tubuhnya, terpampang sudah dua gunung indah milik Virlie menjulang berdiri tegap, bahkan ukurannya itu lumayan besar dan menggemaskan. Virlie mulai membuka matanya, tatapannya langsung beradu dengan mata milik Ibra.


Virlie terdiam mematung untuk beberapa detik.


"Aaaaaaaaaaaaa......"


Virlie berteriak sekeras mungkin dengan menyilangkan kedua tangannya di dada berusaha menutupi keindahan miliknya.


"Kenapa kamu ada di sini?" teriak Virlie.


"Aku yang duluan di sini, kamunya saja yang masuk tanpa permisi," sahut Ibra gugup.


Virlie mendorong tubuh Ibra untuk keluar dari dalam kamar mandi, Ibra susah sekali hingga dengan terpaksa Virlie menendang pan*at Ibra sehingga Ibra pun keluar dari kamar mandi.


Bruaakkk....


Virlie menutup pintu kamar mandi dengan sangat kerasnya dan segera menguncinya dia mengacak-ngacak rambutnya frustasi.


"Astaga, kenapa jadi seperti ini," gumam Virlie.


Virlie terduduk di lantai kamar mandi dengan frustasi, sementara itu Ibra juga merasa bingung karena si Gabriel kali ini ngambek tidak mau tidur.


"Gabriel, please jangan ngambek bobo lagi ya, jangan tegang kaya gini," gumam Ibra.


Ibra sudah memakai baju tapi dia belum bisa memakai celana karena si Gabriel masih ngambek gak mau tidur.


Ibra terus saja mondar-mandir di kamar Virlie, bahkan dia mencoba push up dan jingkrak-jingkrak supaya si Gabriel tidak ngambek lagi dan bisa tenang.


Tidak terasa setengah jam kemudian, Ibra dengan susah payah menidurkan si Gabriel sampai-sampai wajahnya penuh dengan keringat.


"Akhirnya kamu tidur juga, kamu yang sabar ya bro jangan keseringan bangun," gumam Ibra dengan mengusap si Gabriel.


Ibra pun dengan cepat memakai celananya dan menunggu Virlie, tapi Virlie sama sekali belum keluar dari kamar mandi.


Tok...tok..tok..


"Vir, kamu tidak tidur kan? kenapa mandinya lama sekali!" teriak Ibra.


Virlie kembali mengacak-ngacak rambutnya, dia benar-benar sangat malu bertemu dengan Ibra.


"Apa yang harus aku lakukan," batin Virlie.


"Vir, buruan keluar ini sudah siang loh!" teriak Ibra kembali.


"Kamu sarapan duluan saja, nanti aku nyusul," sahut Virlie.


"Ya sudah, aku ke bawah duluan nanti kamu nyusul ya."

__ADS_1


Ibra pun segera keluar dari kamar meninggalkan Virlie, setelah dirasa aman, Virlie pun membuka pintu kamar mandi. Virlie mengeluarkan kepalanya dan celingukan mencari keberadaan Ibra.


"Aman, akhirnya dia pergi juga," batin Virlie.


Virlie pun segera keluar dan dengan cepat memakai pakaiannya, lalu turun ke bawah dengan menundukkan kepalanya.


"Sayang, kamu ngapain saja sih di kamar? kami sudah sangat lapar ini," seru Daddy Dion.


"Maaf Daddy," sahut Virlie dengan menundukkan kepalanya.


Semuanya tampak mengerutkan keningnya melihat sikap Virlie pagi ini sungguh sangat berbeda.


"Kakak kenapa? tumben pagi ini Kakak jadi pendiam? tidak teriak-teriak kaya Tarzan," seru Vero.


Virlie tidak menjawab, dia hanya menundukkan kepalanya dan langsung mengambil roti.


Vero menarik Hoodie Ibra. "Kak Ibra ngapain Kak Virlie? kok dia berubah seperti itu?" bisik Vero.


"Kak Ibra gak ngapa-ngapain Kak Virlie kok, mungkin Kak Virlie lagi habis obatnya jadi pendiam seperti itu, nanti Kak Ibra beli obat biar Kak Virlie kembali teriak-teriak," sahut Ibra dengan berbisik juga.


"Sudah Kak Ibra jangan belikan obat lagi, biar rumah ini aman dan tenang," seru Vero.


Vero dan Ibra bertos ria, bibir Virlie sudah sangat pegal ingin sekali berteriak memarahi Vero dan Ibra tapi untuk saat ini rasa malu Virlie lebih besar dibandingkan rasa marahnya.


Setelah sarapan, Virlie dan Ibra pun berangkat ke kampus. Selama perjalanan, tidak ada pembicaraan di antara mereka. Virlie memalingkan wajahnya ke luar jendela mobil.


"Kamu kenapa diam saja?" tanya Ibra.


"Tidak apa-apa," ketus Virlie.


"Sudah, jangan merasa malu kita kan sudah halal, seharusnya kita pun sudah melakukan----"


Ucapan Ibra terhenti karena Virlie menatapnya dengan tajam.


"Melakukan apa?" geram Virlie.


"Ya melakukan anu."


"Anu apa?"


"Kenalan dulu yuk, sama Gabriel biar kamu kenal dan tidak malu lagi, jadi kan nanti tidak kaget kalau bertemu," seru Ibra dengan cengengesan.


Virlie membelalakkan matanya, dia pun dengan gemas mencubit paha Ibra dengan kerasnya membuat Ibra mengaduh kesakitan.


"Ampun Vir!"


"Sekali lagi kamu ngomongin itu lagi, aku gak mau melanjutkan pernikahan ini," ancam Virlie.


Seketika Ibra menghentikan mobilnya, membuat Virlie terkejut.


"Kamu apa-apaan sih, bagaimana kalau kita celaka!" sentak Virlie.

__ADS_1


"Kamu jangan ngomong seperti itu Vir, itu gak boleh. Pernikahan bukan hal yang main-main, aku gak suka kamu ngomong seperti itu lagi," geram Ibra.


Virlie langsung terdiam, baru kali ini dia melihat Ibra marah. Tanpa menunggu lagi, Ibra pun kembali melajukan mobilnya dengan raut wajah yang tidak bersahabat membuat Virlie merasa sangat bersalah.


__ADS_2