Mrs. Arrogant

Mrs. Arrogant
Bab 42 Saling Merindukan


__ADS_3

Satu Minggu pun berlalu, Virlie sudah sembuh entah kenapa ada sesuatu yang hilang dari dalam kehidupan Virlie. Virlie merasa ada perasaan rindu tapi kenapa rasa rindu itu datang di saat orang itu sudah tidak ada.


"Pagi Mom, Dad!" sapa Virlie.


"Pagi sayang."


Virlie mencium pipi Mommy dan Daddynya...


"Pagi adik Kakak tersayang!" seru Virlie dengan mengacak-ngacak rambut Vero.


Vero diam saja, tidak seperti biasanya yang akan protes kalau Virlie mengacak-ngacak rambutnya.


"Tumben kamu diam saja? biasanya juga suka ngambek kalau rambut kamu Kakak acak-acak," seru Virlie.


"Vero benci sama Kakak."


"Lah, kok gitu? benci kenapa?" tanya Virlie.


"Kakak sangat menyebalkan, kenapa Kakak mengusir Kak Ibra? Vero kan, jadi gak ada teman," sentak Vero dengan mata yang berkaca-kaca.


Virlie kaget dengan ucapan adiknya, begitu pun dengan Mommy dan Daddynya yang memilih untuk diam.


"Kak Virlie jahat, Vero benci sama Kak Virlie."


Vero bangkit dari duduknya dan mengambil tasnya, lalu berangkat ke sekolah. Virlie pun hanya bisa terdiam, selera makan Virlie pun kembali hilang.


"Mom, Dad, Virlie berangkat dulu."


Virlie pun duduk di kursi yang ada di teras, lalu Elsa datang dan memakaikan sepatu kemudian mengikatkan tali sepatunya.


Elsa tampak mengerutkan keningnya, merasa bingung karena Virlie tidak teriak-teriak seperti biasanya. Virlie pun masuk ke dalam mobilnya, kali ini Virlie membawa mobilnya sendiri tanpa sopir.


Selama dalam perjalanan, Virlie tampak melamun. Biasanya Ibra akan mengoceh selama perjalanan membuat Virlie kesal, tapi sekarang tidak akan ada Ibra yang bawel lagi.


Hingga tanpa terasa, mobil Virlie pun sampai di parkiran kampus dan bersamaan dengan Ibra yang baru sampai juga dengan menggunakan motor maticnya.


Sesaat Virlie dan Ibra saling menatap satu sama lain, hingga Ibra pun segera melepas helmnya dan pergi begitu saja tanpa menyapa Virlie.


"Sombong sekali dia," lirih Virlie.


Virlie pun mulai melangkahkan kakinya dengan gontai.


"Hai Vir."

__ADS_1


"Hai."


"Lemas banget, kenapa?" tanya Lisa.


"Tidak apa-apa."


"Aku tidak menyangka kalau pada akhirnya kamu dan Ibra bercerai, padahal kalian adalah pasangan paling serasi menurutku."


"Mungkin ini satu-satunya jalan terbaik untukku dan Ibra, kasihan Ibra karena aku tidak bisa melakukan hal selayaknya seorang istri. Mudah-mudahan Ibra mendapatkan wanita yang bisa membahagiakan dia," seru Virlie dengan senyum yang dipaksakan.


Lisa menatap wajah Virlie dengan seksama, dia tahu kalau Virlie sebenarnya sudah punya perasaan kepada Ibra tapi ego Virlie terlalu tinggi.


"Ya sudah, kalau begitu aku masuk kelas dulu ya."


"Oke."


Virlie pun masuk ke dalam kelas, lagi-lagi Virlie dan Ibra saling tatap hingga Ibra pun memalingkan wajahnya dan berpura-pura mengobrol dengan temannya.


"Ya ampun Virlie, syukurlah kamu sudah sehat kembali, aku gak nyangka kalau Kevin bisa melakukan hal sejahat itu sama kamu," seru Amara.


"Pokoknya mulai sekarang kita bukan fans Kevin lagi," sambung Fatma.


Virlie hanya tersenyum dan melangkahkan kakinya untuk duduk di kursinya. Seperti biasa, Virlie pun memakai earphonenya dan membaca-baca buku sembari menunggu Dosen datang.


"Aku sangat merindukanmu Virlie," batin Ibra.


2 jam kemudian....


Mata kuliah pun selesai, Virlie pun segera membereskan barang-barangnya tapi di saat Virlie berdiri, salah satu teman laki-lakinya berlari dan menabrak Virlie sehingga buku-buku Virlie pun terjatuh dan berserakan di lantai.


"Astaga, kenapa dengan dia itu," kesal Virlie.


Virlie memunguti buku-bukunya yang berserakan itu, hingga di saat Virlie hendak mengambil buku yang terakhir, bersamaan dengan Ibra yang ingin mengambil buku itu juga.


Otomatis, tangan mereka pun saling bersentuhan dan kedua pasang mata itu kembali bertemu.


"Jangan sampai ceroboh, kamu harus mulai mandiri dan jangan manja karena sekarang tidak ada aku yang selalu ada di sampingmu," seru Ibra dingin.


Ibra pun berdiri dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Virlie, sedangkan Virlie terlihat sudah berkaca-kaca bahkan saat ini airmatanya sudah menetes tapi Virlie dengan cepat menghapusnya.


Ibra melihat itu, tapi Ibra pun memilih untuk melanjutkan langkahnya. Ibra tidak mau sampai terbawa suasana lagi.


***

__ADS_1


1 tahun kemudian....


Tidak terasa, waktu berjalan dengan sangat cepat dan sekarang adalah hari dimana Virlie dan Ibra wisuda.


Ada perasaan senang dan juga sedih di hati Virlie, senang karena bisa lulus dengan nilai terbaik, sedih karena Virlie akan segera terbang ke Perancis untuk mengejar cita-citanya menjadi seorang designer hebat dan terkenal.


Virlie tampak celingukan, dia sedang mencari keberadaan Ibra tapi Virlie sama sekali tidak melihat Ibra. Selama satu tahun ini, Virlie dan Ibra benar-benar menjalani hidup mereka masing-masing.


"Sayang, ayo kita pulang. Om Julian, Tante Vanessa, dan Lisa sudah menunggu di restoran untuk merayakan kelulusan kamu," seru Mommy Valerie.


"Ah, iya Mom."


Virlie pun segera mengikuti Mommy dan Daddynya, walaupun matanya terus saja mencari keberadaan Ibra. Virlie pun masuk ke dalam mobil Daddy Dion, selama dalam perjalanan Virlie tampak melamun.


"Si Ibra ke mana? kok gak kelihatan sih, padahal aku ingin pamitan sama dia karena besok aku harus segera berangkat ke Perancis," batin Virlie.


Ibra tampak menyunggingkan senyumannya, walaupun senyuman itu sangat terpaksa. Sudah satu tahun berlalu, tapi Ibra sama sekali tidak bisa melupakan Virlie walaupun cuma satu menit saja.


"Ya Allah, kenapa susah sekali untuk melupakan Virlie. Aku tidak yakin bisa melupakan Virlie dan menjalin hubungan dengan wanita lain," batin Ibra dengan menghembuskan napasnya secara kasar.


Ayah Agus mengusap punggung anaknya itu. "Kamu yang sabar, kalau Virlie memang dijodohkan untukmu, Ayah yakin kalian akan kembali bersama."


"Iya Yah."


Selama makan siang bersama, Virlie terlihat tidak begitu bahagia. Entah apa yang Virlie rasakan saat ini, Virlie begitu sangat sulit melupakan mantan suaminya itu.


"Apakah aku kena karma ya, kalau saat ini aku mulai merasakan perasaan yang berbeda kepada Ibra," batin Virlie.


Malam pun tiba....


Virlie malam ini sedang membereskan pakaiannya, karena besok pagi-pagi sekali Virlie akan berangkat menuju Perancis dan Virlie tidak tahu sampai kapan dia akan tinggal di sana.


"Sayang, apa Mommy boleh masuk."


"Masuk saja Mom."


Mommy Valerie pun masuk dan duduk di samping Virlie.


"Kamu sudah yakin, mau pergi ke Perancis?"


"Ini sudah cita-cita Virlie, Mom. Jadi, Virlie sangat yakin," sahut Virlie.


"Ya sudah, terserah kamu saja yang penting kamu jaga diri kamu baik-baik di sana kalau ada waktu luang, pulanglah ke sini."

__ADS_1


"Iya Mom, insya Allah."


__ADS_2