
happy reading, ini cerita pertamaku dan sumpa sangat amatiran
......
Telat.....
Sudah bukan menjadi hal yang baru bagi mereka.
"Ngapain lu ngayal diatas? Cepetan anjir" ucap salah satu dari mereka, Dinda, tepatnya Adinda soviana gadis yang terkenal dengan kenakalannya dari jurusan IPS 1.
"Rok gue nyangkut bangke" Aprilly diningsya, menrenggut kesal saat roknya menajadi penganggu aksinya panjat pagarnya
"Cepetan woy" salah satu dari sekian murid yang terlambat, namun nekad memanjat pagar.
"Tas lo lempar Ly, biar lo ga- ah ***" Dinda medecih kearah April yang masih sibuk melepas roknya yang tersangkut di pagar dan dengan tanpa dosanya melempar tas hitamnya pada Dinda
"Pak danang woy, kabur kabur" Ucap Dava, April yang telah selesai dengan urusan roknya, melompat dengan enteng dan berlari berpencar dengan teman temannya.
April berlari kearah kelasnya di IPA 4, tiba tiba menghentikan langkahnya dan sukses membuat temannya membentur punggung wanita itu.
"Eh upil Kuda, kalo ngerem ngomong dong" Dava williams, cowok berdarah bule itu, mengusap dadanya yang terbentur dikepala April, sedangkan gadis itu sudah siap dengan sumpah serapahnya menatap tajam kearah dava
"Kok lo nyalain gue kambing? Elu larinya gak liat-liat, pala gue benjol ni ah kampret lu" sinis April
"Lagian ngapain sih lu ngerem mendadak, kek bajay yang liat tikus lewat, udah ayok kekelas" Dava menarik tangan April dengan tidak santai membuat sang empu meringis kesal
"Eh manusia setengah ikan paus setengah ubur-ubur, lepasin gue, tas gue sama dinda, gue mau belajar pake apa? Lu mau jidatlu gue jadiin cakaran?" April menarik keras tangan Dave dan sukses membuat lakilaki itu berhenti
"tidak semudah itu ferguso, noh lihat tante tante udah menuju kelas, lo mau dapat libas?" Dave melirik sinis kearah April sambil menunjuk wanita setengah baya yang berjalan kearah kelasnya, panggilan tante-tante adalah nama yang diberika Dave khusus untuk ibu guru sejarahnya yang over bicara itu
"Lah trus gue masuk kelas gimana dong Dev?" tanya April malas
"Buka pintu, lu masuk kemudian tutup pintu, gitu aja nanya, bocah" Dave melangkah cepat menuju kelasnya dengan acuh
"Eh bagong, gitu juga gue tahu mpret" April berlari menyamakan langkahnya dengan Dave, sedetik kemudia guru sejarah dengan julukan tante tante itu masuk kedalam kelas, namun tak berhasil menyudahi pertengkaran kedua manusia ini di koridor
"terus ngapain lu nanya?"
"Anjing gu-"
"Uluuuh ulluhh mulutnya manis banget sih minta dicipok"
"Najis"
"Ih sini tuh neng abang cipok biar ta-"
PLAAKK
"Addaaawww!!"
April memukul lengan lumayan kekar Dave, merasa gemas ingin mengarungi mahluk astral ini, kemudia dibuang di jalan dan di lindas truk 10roda yang ngangkut pasir, sadis kan?
"Kok abang di geplak sih neng, kan niatnya baik mau nyipok"
"Dave-" April menatap datar pria yang ada didepannya yang sibuk mengusap lenganya dan mengerjap lucu kearah April
"Sekali lagi lu ngomong, gue ceburin lu kelubang buaya"
-
"Astagogenaga bambang ngapain lu nyungsep disitu" Dave mengelus dadanya dan memaki benda hitam yang tiba tiba melayang didepannya
Dinda melempar tas hitam di tengah keempat temannya yang duduk melingkari meja kantin dengan kesal, dan sukses mengagetkan penghuni meja tersebut
"Nape lu, muka lu kusut kek baju yang belum di setrika seabat?" Tanya April sembari memainkan ponselnya
"Napa lu yang?" tanya Dave menimbruk dan mebuat dinda mencebik kesal kearah Dave
"Yang, yang palalu peang" Ogi menyosor kepala Dava dan di balas pukulan di tangannya
"Gue Alpa masa? Telat semenit doang, tau gini ngapain gue susah susah manjat pagar njir" Dinda berucap kesal dan menjatuhkan tubuhnya di kursi dekat April, detik selanjutnya menarik jus jeruk milik Dava dan menyerumputnya hingga setengah
"Lah yang, jus jeruk gue?" Dava menatap iba jus jeruknya yang tinggal setengah
"mulut lo doang yang sayang, jus jeruk lo aja diminum udah kek besok mau mati lu. Basi" Dava memincingkan matanya kearah Ogi
"kalian gak pesan makanan?" tanya Dinda
"Nungguin elu, lagian kemana aje sih lama bae" Ogi menatap dinda yang asik dengan jus jeruk milik Dava
"Tas April ketinggalan jadi gue balik ngambil"
"Oh--" "AHHA!!" Dava mengkat kepalanya yang sedari tadi menempel di meja menatap jus jerusnya di serumput Dinda,
Dengan senyum penuh arti Dava menatap Dinda, membuat keempat temannya menatap dengan penuh tanya. Bahkan Askaf yang sedari tadi sibuk dengan bukunya beralih melihat Dava.
"Itu jus udah gue minum tadi. Artinya-" Dava menggantungkan ucapannya
"Artinya?" April mengulang ucapan Dava
"Artinya Dinda ciuman secara gak lansung sama gue" jawab Dava dengan mata berbinar
"kelamaan jomblo, ***"
"Mati ajelu, taik"
"Sharap"
Ogi, April dan Dinda meninggalkan kantin, tidak habis fikir dengan otak setengah Dava
Askaf dan Dava saling melempar pandang saat ketiga temannya hilang dari pandangan mereka
"Apa lu liat liat? Suka?" Tanya Dava
"Najis!!" Askaf menutup bukunya dan meninggalkan Dava seorang diri
"Lah malah pergi bazeng, belom bayar monyet monyet pada" Dava mengendus kesal dengan temannya, sungguh sial nasibnya, jus jeruk yang baru isap sekali di ambil Adinda dan dia harus membayar tagihan minuman yang ditinggalkan sahabatnya. Poor Dava
-
"Lo April?"
April menyergit bingung dengan pria yang tiba tiba berdiri dan menghalangi langkahnya
"iya, ada urusan apa?" tanya April
__ADS_1
"Gabriel?" Askaf menepuk pundak pria tadi dan membuatnya berbalik tersenyum pada Askaf
"Hei" balasnya singkat
"Ngapain?"tanya Ogi, sedangkan April mengendus jengkel pertanyaannya diabaikan,
Dinda mengangkat alisnya heran pada Askaf yang menyapa Gabriel duluan, Askaf termasuk the mos wanted dikampus ini, pria tampan yang terkenal memiliki otak cerdas itu membuat para siswa siswi kagum sekaligus iri, keahlian dalam bidang olahraga, musik, seni, dan Fisika tidak diragukan lagi, di umurnya yang 16tahun dia mampu menguasai 4bahasa, namun satu sisi Askaf pria yang dingin dan tak tersentuh, maka akan menjadi sangat langka mendapatkan pria itu menyapa temannya duluan.
"gue cari April, ada urusan" Askaf menyerit tak suka dengan ucapan Gabriel
"Urusan apa?" tanya April bingung, menyuarakan isi hati Askaf, setahunya dia tidak pernah kenal apalagi berurusan dengan pria yang namanya Gabriel, dia hanya tahu bahwa pria itu adalah ketua OSIS di sekolahnya, itupun informasi dari Dava si cerewet yang selalu berbicara hal yang tidak penting, dan kedua temannya termasuk anggota OSIS, Dava dan Askaf
"Njir, sialan lu ninggalin gue" Dava mencebik sampai di koridor tempat temannya berada, dengan wajah kesal karena insedent dikantin.
Dava menatap tajam satu persatu temannya yang memandangnya berjamaah, kedatangannya yang tiba tiba protes membuat suasananya teralihkan, April terkekeh melihat Dava yang ngos ngosan dan mengatur nafasnya
"Abis maraton lu Dav?"tanya Ogi
"Maraton neneklu koprol" Dava mendelik sinis kearah Ogi
"Eh ada pak ketos, ngapain pak? Nyari gue yah?" Dinda mendorong kepala Dava dari belakang, membuat pria itu terdorong kedepan, Dava
"Apasih yang, main nyosor nyosor aja, kalo mau jangan sekarang, masih rame, ntar aja dirumah ber-Wadaw" April menyetil kening Dava dengan keras, ia merasa berang dengan temannya yang setengah salmon ini
"Elu pade, suka banget sih bully gue" Dava menyahut dramatis dengan tampang yang memelas, membuat Gabriel menatapnya geli.
"Muka lo yang mendukung buat dibully" Dava kembali mendecih kearah Askaf
"Ikut gue, gue pinjam April sebentar"
"He eeh eeh, apaan ni narik narik" Gabriel menarik tangan April menjauh dari teman temannya yang menurutnya tidak waras itu tanpa menunggu persetujuan, membuat Askaf berang namun tetap tenang.
"He'eh onta kutub lu pikir April pulpen yang seenaknya lu pinjam, itu anak orang, emak sama bapaknya yang bikin. Susah dikeluarinya bege!"
"Diem lu, Bule Nyasar" Ucap Ogi dan Dinda bersamaan, demi neptunus, mimpi apa mereka punya sahabat seajaib Dava, Merasa geli Askaf berjalan meninggalkan manusia manusia ajaib itu, kemudian diikuti Ogi dengan tampang tidak percayanya
"Eh yang, itu sih bapak OSIS mau bawa si April kemane?" tanya Dava
"Mana gue tahu, tadi bilangnya ada urusan gitu" jawab Dinda enteng dan berjalan mengikuti Askaf dan Ogi yang duluan melangkah meninggalkan Dava
"Lah yang? Kok gue ditinggal lagi sih"
-
"Lepasin, gue bisa jalan sendiri, eh banci sakit" Gabriel melepaskan genggaman pada tangan April tepat ditaman belakang kelas Gabriel, pemberontakan April begitu kuat sampai sampai Gabriel berfikir jika gadis didepannya ini adalah lakilaki
Gabriel merongoh tasnya dan mengeluarkan map, kemudian memberikannya pada April, yang meringis memegangi tangannya yang memerah
"Apa nih?" ketus April
Tak ada jawaban dari Gabriel membuat April mengendus kesal, kemudia meraih Map dari tangan Gabriel, tanpa kata Gabriel berbalik meninggalkan April yang menatapnya sengit sebelum membaca isi map tersebut
April mengerjapkan matanya cepat, syok melihat isi surat yang ada ditangannya
"***, apa-apan" fikirnya, selanjutnya gadis itu mengejar Gabriel yang tampak berjalan santai menuju kelasnya.
April menarik tangan Gabriel dan memutar pria itu agar berhadapan dengannya, Pria itu menatap datar gadis yang menatapnya penuh amarah.
"Maksud lo apa? Hah!" April memekik dan mencuri perhatian siswa siswi yang mendengarnya. Sedangkan Gabriel meringis merasakan telinganya berdengung akibat teriakan gadis pendek dihadapannya
"jelasin apa? Gue rasa semuanya sudah jelas tertulis, lo bisa bahasa indonesia kan?" Gabriel mengangkat sebelah alisnya
"Maksud lo apa? Kerja sama bokap gue buat jagain gue? Lo pikir gue anak kecil?"
Gabriel mengangkat bahunya acuh kemudian berbalik meninggalkan April, namun bukan April namanya jika gadis itu tidak melakukan kericucahan
"Eh Es Balok gue belum selesai ngomong" April kembali mengejar Gabriel dan berdiri didepan pria itu seraya merentangkan tangannya, memaksa Gabriel berhenti.
"Lo budek atau bisu sih? Gue nanya? Kenapa lo kerja sama bokab gue njir?"
Ogi dan Dava mendekat mendatangi kedua mahluk yang menyebabkan kebisingan tersebut.
"ada apa nih? Lo teriak teriak kayak penjual ikan keliling Ly, gue yang di ujung sono aja denger" ucap Dava sambil menunjuk ujung koridor yang dihiraukan ketiganya
"menurut lo kerja buat apa?" tanya Gabriel
Dava mendecih dengan kesal "berasa gue jadi penjual kacang" April mengangguk bodoh membetulkan gerutuan Dava, bisa bisanya dia masih mempedulikan mahluk astral ini saat sedang kesal, daya tari Dava memang beda
"Nyari duit" jawab Ogi sekenanya
Bersamaan dengan itu bell tanda masuk pelajaran selanjutnya berbunyi, Gabriel melihat kearah Ogi lalu menatap datar April
"Temen lo tahu" jawab Gabriel kemudian melanjutkan langkahnya menuju kelas. April membulatkan mulutnya tidak percaya, kemudian memutar badannya menatap punggung Gabriel yang kian jauh
"Serah lo, Es balok" pekik April dan membuat Ogi menggosok telingannya dengan keras karena pekikan gadis pendek disampingnya
"Eh kurcaci janda kembang, kira kira dong kalo teriak, budek gue njir" protes Ogi
"Tau deh, lu tiap hari ngemil toa yah ly? Eh lagian lo ada urusan apa sih sama si pak ketos?" tanya Dava penasaran
Bukannya menjawab April memincingkan mata pada kedua temannya yang menatapnya bingung, dan kemudian melangkah meninggalkan keduanya
"Lah malah kabur, yaudah gue tanyain ke Gabriel aja, kyaknya dia udah dikelas" Dava mengangguki ucapan Ogi, karena memang Ogi sekelas dengan Gabriel di Sastra 1
"Lah mereka doyan banget sih ninggalin gue sendiri, woy janda kembang suka ngemil toa, tungguin gue"
-
Askaf bersandar di motornya menunggu keempat temannya, sudah menjadi tradisi kelimanya, nongkrong bareng saat jam sekolah selesai, Askaf menutup bukunya saat merasakan tepukan di pundaknya
"Kaf, yang lain mana?" Askaf berbalik melihat April yang ada diaampingnya, gadis itu bersama Dava, jangan heran dengan keduanya yang selalu bersama, Dava dan April sekelas di IPA 4.
April adalah gadis kebalikan Askaf, jika pria itu adalah sang juara disegala bidang, maka April adalah si kalah di segala bidang, jangankan untuk menyelesaikan rumus fisika, perkalian delapan saja, mampu membuat kepala gadis itu buntu
Namun satu hal yang ada dalam diri April, kedisiplinannya masalah waktu, dia tidak pernah terlambat terkecuali saat dia menjemput dinda.
Sedangkan pria di sebelahnya, Dava, Sejak kecil dia selalu mendapat peringkat satu dikelasnya, meski otak Dava sambleng, tapi mereka percaya, Dava adalah orng yang baik, senyumnya yang selalu hangat, bahkan sehari saja tanpa Dava, suasana sekolah yang rame terasa sepi
Askaf menujuk Dinda yang berjalan kearah mereka dengan tas yang diseret, Dava yakin, gadis itu sudah sampai di parkiran tapi melupakan tasnya, dan mengharuskannya kembali mengambilnya. Dinda sekelas dengan Askaf di IPS 1, jadi sangat wajar saat Dinda selalu mengekori Askaf, karna lakilaki itu satu satunya sumber contekan yang paling melimpah, Dinda sebenarnya gadis yang pintar, hanya saja dia termasuk barisan cewek bar bar pembuat onar, dan satu lagi. Pikun
Ogi mengangkat tas yang di seret Dinda, gadis itu menoleh dan di hadiahi senyum dari Ogi, "Thanks" ucap Dinda melihat tasnya di bawa Ogi
"Eh buset, tugas gue itu gi" seru Dava heboh dan kemudian merebut tas Dinda dari tangan Ogi, sedangkan pria itu memutar matanya jengah
"Yaudah yuk Cabut" Ajak April
__ADS_1
April naik di atas jok boncengan motor Askaf, sedangkan Ogi, Dinda dan Dava, menaiki mobil milik Dinda, dengan Dava yang bertugas menyetir
"yang, lo duduk didepan, masa lo tega sih gue sendirian nyetir, gue kek taxi aja"
Pleetakk
Ogi menjitak kepala Dava dengan sepenuh hati, merasa jijik dengan tingkah temannya itu
"Bacot lu, tinggal jalan napa" ucap dinda
"Aish lama lama gue jadi tukang taxi ganteng njir"
"Tampang lo cocok jdi supir, jalan ah, no si Askaf udah ngilang"
"Andai gue bawa motor yah yang, biar kita boncengan kayak mereka dua, biar bisa peluk pelukan gitu" ucap Dava yang kemudian menjalankan mobil meninggalkan pekarangan sekolah
"Najis" ucap Ogi
Bukan rahasia umum lagi hubungan Askaf dan April, bukan pacaran lebih tepatnya Hubungan Tanpa Status
Askaf mengatakan bahwa dia tidak ingin pacaran, karna bisa saja merusak persahabatan mereka yang udah terjalin dari kecil, begitupun April yang sependapat dengan Askaf.
"Ngiri aja lu Ompong Gigi" sewot Dava
Plakkk
"Aisshh lo kenapa sih gi, gue lagi nyetir ni, lo mau kita masuk rumah sakit jamaah?" Dava mengusap kepalanya dengan kasar saat mendapat tamparan di kepala belakangnya
"lo aja kali gue enggak" jawab Ogi
"yang, lo gak minat belain gue gitu" adu Dava pada Dinda yang sedari tadi sibuk melihat jalanan yang lumayan senggang
"Gak, emang lo siapa gue? Mau gue belain" acuh Dinda
"Gitu banget sih yang, gue kan calon masa depan lo yang, gimana? Mau gak jadi pacar gue, pass lulus kita nikah" Dava melihat Dinda melalui kaca spion dan mengerjapkan matanya berkali kali, gadis itu menyerit geli dengan sahabatnya yang sableng itu
"Modus lo basi, kek taik kucing yang ngalir di sungai"
"gue ngomong sama Dinda, bukan sama elu maesaroh" sinis Dava dengan Ogi
"gimana yang?"
"O to the gah, Ogah!!"
-
Dava duduk di samping Dinda dengan kesal, yang mendapat tatapan bingung dari temannya
"Nape tuh muka, kek perut emak emak berlemak" Tanya April dengan nada bercada yang mempu membuat temannya terkikik kecuali Dava yang tambah menekuk wajahnya, dan Askaf yang sibuk dengan bukunya
"Ck, enak aja lu muka gue disamain sama lemak, gini gini kembarannya Zayn Malik"
"Iya sama. Kalo lihatnya dari menara Eiffel pake sedotan"
Meski sederhana, namun tawa mereka berempat pecah, saat melihat Dava yang samakin merenggut
Cafe The B adalah cafe milik kelimanya, cafe ini dibuka tepat saat mereka Lulus SMP, bukan hal sulit bagi kelimanya untuk membuat cafe sederhana ini, April merupakan anak konglomerat yang merupakan penyalur dana terbesar di sekolahnya, sedangkan Dinda, dia adalah anak pengusaha beras di kotanya, kedua orang tuanya telah bersahabat sejak kecil, di umur yang ke-5 tahun, mereka bertemu dengan Dava, pria kecil yang selalu berisik dan mengganggu Dinda dan April, namun usilan itulah yang membuatnya dekat, saat menginjak kelas 1SD, Anak lakilaki pindahan dari Manhattan, sikapnya yang dingin dan tertutup membuat teman temannya menjauhinya, namun tidak berpengaruh dengan Dava, laki laki kecil itu selalu saja mengganggunya, dia Askaf
Saat perombakan kelas, April terpisan dengan ketiga temannya, namun dikelas barunya dia betemu dengan Ogi, anak laki laki yang pintar namun sangat jail, kira kira begitu singkatnya mereka bertemu dan menjalin persahabatan
Dengan talenta luar biasa yang dimiliki Askaf, di umurnya yang 10tahun dia bisa mencetak puluhan juta dengan olimpiade yang diikuti, hebat bukan?
Meski tidak seberapa, namun Dava merupakan anak dari keluarga yang bekecukupan, tidak sekaya Dinda dan April, dan terakhir Ogi, bisa dibilang dia adalah pria dengan perekonomian yang rendah, tapi pria itu memiliki otak yang lebih pintar dari Dava, meski tidak sehebat Askaf namun, penghasilan dari olimpiade olimpiadenya tidak di ragukan lagi
Bukan, Cafe The B, berdiri bukan dari pemerasan dari kelima orang tua mereka, namun dari kenakalan mereka berlima, sebut saja The Lion si Dark Raider, begitulah nama yang dikenal di sirkuit balapan liar.
"Lagian lo kenapa sih?" tanya April lagi
"Gue ditolak" jawab Dava ogah-ogahan
"Lagi?" tanya April dan detik selanjutnya memecahkan tawanya
"teros, gas teros, ketawa aja teros" kesal Dava melihat temannya yang dengan biadabnya menertawakannya
"Lagian juga lo gak ada kapok kapoknya di tolak sama Dinda" Ogi menggelengkan kepalanya melihat Dava yang memgendus melihat Dinda yang berpindah kesamping kiri Askaf dan mengganggu pria itu
"Ini baru yang namanya cinta sejati, pantang menyerah, dan gigih, meskipun ditolak 44X" ucap Dava dengan bangga dan membusungkan dadanya dan menepuknya, membuat dinda tersenyum geli
"44? Itu bukan cinta namnya itu pemaksaat Pe'a" ucap Ogi
"Eh sembarang lu ngomong, ini masih 44x, indonesia mereka aja di tahun 45, siapa tahu gue nembak Dinda sekalo lagi dia terima" Ucap Dava menaik turunkan alisnya dan ditatap aneh oleh Dinda
"Indonesia merdeka di 1945" ucap Askaf tanpa mengalihakan matanya dari buku yang sedang dia baca, meski sedari tadi Dinda telah memohon mohon meminta contekan dari Askaf
"jadi perlu 1901x lagi Dav" serempak Ogi dan April lalu kemudian tertawa
"Siala lu Kaf, sekali ngomong nusuk banget, mending gak usah ngomong aja" Askaf mengangkat bahunya acuh
"Ambil di tas gue" Ucap Askaf pada Dinda yang sedari tadi menggoyangkan lengannya demi meminta tugas Askaf
Askaf mengangkat tangannya, memanggil pelayan cafe untuk memesan makanan, dia merasa lapar mendengan coleteh temannya yang seperti ibu ibu yang menawar sayur di pasar
Semuanya sibuk dengan urusannya masing masing, Dinda yang sibuk menyalin tugas Askaf, Ogi dan smartphonnya dan Dava yang sibuk menggoda pelayan cantik di pojokan
Dava kembali keteman temannya membawa sebetol air ditangannya dan kemudian meminumnya
"maunya yang ini sih, tapi ini juga bagus, jadi aku pilih yang mana dong" April merenggut, sudah 10menit ia menimbang nimbang 2sepatu yang menarik perhatiannya di salah satu situs pembelajaan online.
"beli dua duanya aja sayang, biar aku yang bayarin" ucap Askaf saat melihat April bingung dengan pilihannya
Prrrfffftttt
Bugh
"Woee ***, jorok lu" protes Ogi saat Dava menyemburkan air dari mulutnya, dan mendapat pukulan dari Dinda, namun di hiraukan Dava, fokus Pria itu pada Askaf, pria didepannya
"waaah Dava bangke, gue kena" Pekik April, namun tetap di kacangi oleh Dava
"kaf, kaf, lo bilang apa tadi? Sayang?" Heboh Dava dan hanya ditatap datar oleh Askaf
Dering ponsel Dinda mengalihkan perhatian keempatnya pada Dinda yang mencebik kesal karena merasa terganggu dari kesibukan contek menyonteknya.
Unknow Number
tbc
__ADS_1