My Bestfriend My Enemy

My Bestfriend My Enemy
Apa Aku Orang Asing?


__ADS_3

3 tahun berlalu begitu cepat semenjak kepergian Dava dan Ogi, terbilang 4 tahun April benar benar tidak pernah mendapatkan kabar dari Askaf, laki-laki itu menghilang seperti ditelan bumi


Gadis itu benar benar menepati ucapannya untuk mengabdikan diri di cafe B milik dark rider, cafe yang dulunya hanya menjadi tempat tongkrongan anak sekolahan beralih menjadi restoran yang besar, tidak semudah yang ia pikirkan dulu, ia kira semuanya akan mudah nyatanya ia hampir setres dengan urusan cafe


Dengan kerja keras kini restoran itu memiliki tiga cabang di luar kota jakarta, tiga tahun terakhir April mengikuti pelatihan pelatihan kepemimpinan, serta belajar secara otodidak untuk memajukan bisnisnya, dengan otaknya yang pas-pasan, alih alih untuk menyampingkan fikiran yang ikut bersama ketiga sahabatnya, terutama Askaf


Bisnis yang sedikit dicampuri tangani oleh Dava, pria itu kembali kenegara asalnya canada dan memutuskan kuliahnya atas permintaan orang tuanya untuk membangun perusahaan yang diambang kebangrutan.


Meski kadang berkunjung ke indonesia tapi pria itu tidak akan lama, setahun terakhir pria itu bahkan tidak pernah menemuinya lagi, mengingat pembangunan saham baru di New York merebut seluruh waktunya, "Mungkin ini adalah rezeki Dava" kata sang ayah


Saat diambang kehancuran Dava mengambil alih perusahaan keluarga tersebut dan tanpa bersusah payah seperti ayahnya Dava mendapat suntikan dana besar dari perusahaan besar untuk membangun kembali perusahaannya, dan hebatnya lagi Dava memenangkan kontrak bisnis yang yang sangat besar di New York, tentu saja Dava tidak akan menyia-nyiakannya dimana perusahaannya memegang saham terbesar dari kelima perusahaan yang ikut berkolaborasi


Ogi? Pria itu mendapatkan wisudahnya tahun ini, ia lebih cepat satu tahun dari Dinda yang kini masih menduduki bangku kuliah semester 6. Ogi benar benar berterima kasih pada tuhan untuk beasiswa di universitas swasta itu.


"lo udah mesen tiket Ly?" Dinda merebahkan tubuhnya di sofa ruangan April


"hmmm, lusa kita berangkat"


"lo sibuk akhir-akhir ini, beneran nih lo ikut acara wisudahnya Ogi?"


April mengalihkan pandangannya dari leptop dengan lambang apel tergigit itu pada sahabatnya "gak mungkin gue lewatin hari spesial kayak ini kan?" menghela nafas "lagian gue juga butuh refresing, masalah kerjaan gue bisa nyerahin ke mila"


Dinda mengangguk "Amerika yah?" gadis itu terkekeh membuat April menyerit "kesambet Dind?"


"gak, gue cuman mikirin aja, kira kira kita bisa ketemu Askaf gak yah?" sesungguhnya April juga memikirkan hal itu, bahkan sangat berharap, dia sangat merindukannya


"amerika luas kali Dind, lagian apa yang kita harapin? Ketemu juga gak bakalan kayak dulu lagi, lo ingat kata kata Askaf kalo dia gak bakalan kenal kita lagi?"


"tapi dia janji bakalan balik"


April berdecak


"ia kalau urusannya udah kelar, buktinya sampe sekarang belum ada kabar sama sekali, urusannya belum kelar berarti, ketemu juga kita gak bakalan dianggap cin" April merasakan sesak saat mengucapkan kata melupakan, oh ayolah sampai saat ini tidak ada pria yang bisa menarik hatinya


"tapi sampai kapan, gue kangen banget ngumpul tahu gak" April mengedikkan bahunya sebagai tanda ia tidak tahu


Hening


Lagu Last first kiss memecahkan keheningan, Lagu yang sering Askaf lantunkan saat bersama April itu menjadi nada dering handphonenya, panggilan Vidio Call dengan tiga kode negara berbeda membuat April tersenyum


Tidak hanya April, ponsel Dinda pun sama, Dinda juga terkekeh


"Hay"


Dava dan Ogi menyerit melihat kedua gadis itu ditempat yang sama, ruangan April

__ADS_1


"kenapa lo gak angkat bareng April aja?" Dinda melirik April yang juga melihatnya


"mager gue, lo gak lihat dia masih di kursi kebesarannya?"


"hahaha sibuk banget yah Pril?" tanya Ogi


"gak kok gue cuman nyelesaiin tugas buat seminggu kedepan, kan gue mau ke sana"


"kalo gak bisa jangan di paksain"


"nggak lah, ini udah kelar, lagian juga gak mungkin gue lewatin moment ini"


"Sendy ikut gak Gi?" Ogi mengangguk sebagai jawaban


"Lo kenapa Dav, diam-diam bae" tidak ada respon, pria itu sibuk membolak balikkan kertas dimejanya


"holang sibuk ae, kita dikacangin" Dava melirik sekelias lalu kembali berkutat dengan dokumennya


"dia lagi sibuk buat presentasi minggu depan, katanya pengajuan kerja sama perusahaan terbesar seAmerika" jawab Ogi, selama di New York memang Dava dan Ogi selalu bertemu tidak jarang Dava menginap di Apartemen Ogi


"kan masih minggu depan?" tanya Dinda


"yah namanya perusahaan besar, saingannya banyak dan otomatis kuat lah, perusahaan Dava kan baru maju setahuh terakhir, lagian CEO D.Smit Groub terkenal sangat sulit ditaklukkan, kata Dava sih"


"bukannya D.Smith Grub yang ngasih lo beasiswa yah Gi?" Ogi mengangguk


Dinda dan April menyerit "bukannya perusahaan Askaf juga dibidang itu Gi?"


"perusahaan security gak satu di Amerika kali Dind, lagian gue denger Smith itu marga, emang Askaf punya marga Smith?" April dan Dinda tampak berfikir, benar juga, nama belakang Askaf Davinzon bukan, lagipula Dinda pernah mencari identitas Askaf tadi tidak mendapati identitas lain selain yang mereka tahu di indonesia


"kalian ingat gak janji Askaf bakalan balik saat semuanya teratasi?" ketiganya mengangguk saat Dava mengangkat suara "D.Smith grub sekarang jadi perusahaan besar bukan banyak ancaman malah dia yang mengintimidasi, dia yang jadi ancaman, perkembangannya sangat pesat, dan kalau memang CEO nya adalah Askaf dia udah balik dari dulu, masalah apa lagi coba yang harus di atasi?" lagi lagi ketiganya mengangguki ucapan Dava


"gue denger juga, kolega bisnis gue bilang kalo Mr.Davin CEO D.Smit Grub sudah punya tunangan"


"namanya Davin? Sudah jelas bangetkan dia bukan Askaf" April dan Dinda menghembuskan nafas lega, ternyata bukan Askaf, karena jika itu benar mungkin April akan mengamuk disini, dan lebih parahnya mungkin bunuh diri. Dinda menggelengkan kepala menepis fikirannya yang bodoh


"selain orang kantornya tidak ada yang tahu wajah sang billioner muda itu, kolega bisnisnya saja tidak pernah bertemu dengannya, dia bahkan tidak pernah menghadiri wisudah kelulusan di Universitas gue jelas-jelas dia adalah pemegang saham terbesar"


"lagian ngapain kita ngomongin orang"


*****


"maaf bee, aku keluar sebentar jemput April sama Dinda, ingat, gunakan ruangan ini sesukamu tapi jangan pernah masuk dikamarku ok" Ogi mengusap kepala Sendy dengan lembut


Semenjak kedatanganhya kemarin, Ogi tidak pernah membiarkannya masuk kedalam kamarnya, bukan hanya disini di Indonesiapun sama, Dava mengatakan bahwa Ogi memang tidak pernah mengizinkan orang asing memasuki wilayah privasinya, Sendy tersenyum miris menanggapi ucapan Ogi

__ADS_1


"aku orang asing yah Gi?" sayang sekali, Sendy hanya mampu mengucapkan dalam batinnya


"hati-hati, aku akan menunggumu"


"gadis pintar, jangan buka pintunya siapapun tamunya, kalau kamu tidak ingin dirampok" Sendy terkekeh, tawa yang selalu membuat Ogi merasa hangat


Kekehan khas Sendy yang tidak mengeluarkan suara yang menarik perhatian Ogi, untuk pertama kalinya Ogi merasa tertarik dengan perempuan dalam hal mengenai perasaan, biasanya jika bukan karna cantik berarti sexy


Sejak pertama kali melihat Sendy enam tahun yang lalu, di Cafe B menjadi salah satu pelayan, pria itu telah berencana menggoda gadis itu, jika biasanya perempuan akan meladeni gombalan pria tampan itu, berbeda dengab Sendy yang malah menampar Ogi karena menggodanya hingga mencium pipi gadis itu, tentu harga diri Ogi jatuh saat itu, tapi bukan Ogi namanya jika ia hanya diam


Dengan liciknya ia menargetkan Sendy menjadi mangsanya, bebarapa bulan beralalu aksi pendekatan Ogi tidak membuakan hasil, yang ada ia selalu mendapat penolakan, hingga membuat pria itu semakin gencar mengejar gadis yang sok jual mahal itu


Singkat cerita tipu muslihat dan kepura-puraan Ogi membuat Sendy cinta mati terhadap pria yang lebih muda darinya itu, sayangnya bukan hanya Sendy yang jatuh cinta, Ogi yang awalnya berniat jahat itu pun jatuh pada pesona Sendy, dilihat bagaimaba pria itu ragu untuk menyakiti Sendy seperti niat awalnya bahkan sampai sekarang ia bahkan tidak berani mencampakan Sendy meski kadang bersikap dingin pada gadis itu, jika ditanya pun Ogi tidak tahu alasan mengapa ia tidak menjalakan niatnya, dan kesimpulannya Ogi benar jatuh cinta hanya saja pria itu tidak mengetahui arti cinta sebenarnya, bagi Ogi, ia hanya menyukai Sendy tapi tidak dengan Cinta, karna sampai sekarang pun logikanya tidak menerima kata Cinta


"kau ingin kubelikan sesuatu?" Ogi memutar badannya saat sampai diambang pintu


"tidak, pergilah"


"kau mengusirku?"


Sendy terkekeh dengan ekspresi Ogi "tentu, mereka menunggumu lama Divianogi"


"hmmm, baiklah"


Baru saja Sendy ingin menutup pintu, Ogi kembali bertanya "kau tidak ingin ikut"


"ck! Ada apa denganmu? Pergilah atau tidak sama sekali"


"baiklah baiklah aku pergi sekarang"


Menutup pintu Sendy menggelengkan kepalanya mengingat tingkah Ogi, ia tahu Ogi khawatir meninggalkanya sendiri, tapi apa susahnya mengatakannya langsung sih? Dasar gengsi atau Sendy yang kepedean


Sendy menyerit mendengar suara kode pintu apertemen Ogi berbunyi, apakah Ogi melupakan sesuatu?


Ceklek


"melupakan sesuatu?" tanya Sendy


Ogi mendudukkan tubuhnya di Sofa "tidak, Dava menelfonku, Ia sudah ada di basment, dia yang menjemput dibandara"


Sendy mengangguk dan memasuki dapur, suara ketukan pintu terdengar, Sendy ingin membukanya tepat di dekat bar mini, ia melihat Ogi yang tegesa gesa membuka pintunya


ceklek


"MOMOGI.! GUE KANGEN SAMA LO" Sendy mengepalakan tangannya, melihat adegan Dinda meloncat memeluk leher Ogi dan mengalunkan kakinya di pinggang pria itu, demi tuhan ia bahkan tidak seantusias itu saat bertemu Ogi, atau lebih tepatnya Ogi yang hanya menyambutnya dengan senyum dan kemudian memintanya beristirahat, tidak ada obrolan panjang ataupun tawa dan pelukan seperti yang ia lihat sekarang

__ADS_1


Pria itu tertawa dan memutarkan tubuhnya menikmati pelukan yang telah lama ia rindukan, setelah tiga tahun berpisah akhirnya ia bisa kembali bertemu gadisnya itu


"I miss you to! Miss you so bad! Rasanya pengen mati" Dinda tertawa keras


__ADS_2