My Bestfriend My Enemy

My Bestfriend My Enemy
Kakak?


__ADS_3

Beberapa ditik yang lalu, hampir saja ia kehilangan nyawa satu satunya, karena kegilaan manusia nonpribumi ini


"Askaf gak bakalan mati karena ban motornya bocor coek" Ogi kembali memekik saat Dava menerobos lampu merah


"ban motor Askaf gak bocor, dia nelfon gue katanya ada yang ngikutin dia" jawab Dava, ia menyerit melihat google maps miliknya memasuki pinggiran kota yang sepi


"terus maksudnya ban bocor itu apa?" tanya Ogi mulai khawatir


"gue gak mau mama sama yang lainnya khawatir, Askaf aktifin Pelacak di kunci motornya pertanda dia gak mau kita semua tahu kalau dia dalam masalah"


Dava memberhentikan mobilnya saat melihat motor Askaf yang terparkir dipinggir jalan


Tidak ada siapapun, hanya ada barang barang Askaf yang berterbaran, termasuk kunci motor.


"Ah shit, telfon Askaf" Ogi menendang udara merasa kesal saat tidak menemukan jejak berguna


Dering ponsel menarik perhatian keduanya, Dava mengambil Ponsel Askaf yang tergeletak disamping motor Askaf, "sial, hpnya juga ketinggalan"


Ogi mengacak rambutnya gusar, mereka sudah memeriksa sekitar tapi tidak ada tanda tanda keberadaan Askaf.


"Rimba kah?" guman Ogi


"musuh iya, tapi motif apa?"


"goblok, emang musuh harus pake motif?"


"lacak keberadaan Rimba" putus Ogi


"gue gak ahli buat itu, satu satunya yang bisa bantu tanpa terdeteksi oleh Rimba adalah Dinda, bagaimana jika mereka tahu?"


Ogi menggeram, bagaimana cara mencari Askaf tanpa kedua gadis itu tahu?


"Jalan satu satunya Dinda, cukup Dinda jangan beri tahu April" Dava sedikit berfikir kemudian mengangguk


*******


"Apa!!!" Dinda memekik saat mendengar penuturan Ogi yang mengatakan bahwa Askaf diculik


"lo kenapa Dind?" April yang baru saja keluar dari kamar mandi menatap heran Dinda yang memekik dengan kuat


"ga-gak gue refleks tadi" April mengguk dan keluar dari kamar Dinda


"Askaf diculik? Terus gue bantu apa?" tanya Dinda


"Lo lacak Rimba, alak pelacak Askaf semua ditinggalin dijalan, hanya alat pelacak tanam yang bisa kita askes ke Askaf, tapi itu bisa nimbulin kecurigaan April" jelas Ogi dan dibenarkan Dinda


"kasi gue sepuluh menit untuk ini" Dinda meraih leptopnya dan berusaha melacak semua nomor ponsel Rimba yang ia tahu, Dinda menyerit


"keamanan ketat dan duplikat pelacak, Rimba memanipulasi empat tempat yang ada, dan tidak ada yang berdekatan, sepertinya sudah direncana sejak lama, jarak yang ditempuh satu tempat ketempat lainnya memakan 7 sampai 9 jam" jelas Dinda


"gak ada detail yang meyakinkan Dind?" tanya Ogi Frustasi

__ADS_1


"Rimba adalah warga negara asing, biodata yang tidak terdaftar dinegara sangat sulit untuk diretas, memakan waktu berjam jam dengan ketidak pastian, kita tidak memiliki banyak bahan sebagai data" jawab Dinda


"kirimkan daerah terdekat dari posisi gue Dind, jalan satu satunya adalah mencari keempat tempat" teriak Dava


"jarak terdekat adalah penghujung kota arah barat, di pinggiran desa pantai barat, jangka tempuh sekitar 6 jam, jangan gegabah jika keempatnya adalah manipulasi kemungkinan mereka berada ditempat yang tersembunyi dari peta, atau mungkin saja semakin jauh dari tempat manipulasi"


"sialan, apa yang harus gue lakuin" tanya Dava


"Aktifkan pelacak tanam" tegas Dinda, pelacak tanam adalah pelacak khusus yang dirancang Dark Rider yang dirancang Askaf, alat pelacak yang hanya diketahui sang pemilik, yang ditanam ditubuh Dark Rider, dan terhubung dijam tangan handpone milik dark rider, hanya saja saat mengaktifkan alat lacak tersebut meraka akan merasakan sengatan listrik yang kecil seperti tergigit semut dan secara otomatis akan menampilkan keberadaan mereka berlima di jam tangan dark rider


"April bisa curiga"


"biar gue yang urus, yang perlu diketahui adalah keadaan Askaf"


Meski ragu Dava dan Ogi mengangguk


*****


April terkejut dengan sengatan yang tiba tiba dibahunya, ia mengelus bahunya dengan pelan


"Ada apa sayang" tanya Gisel saat melihat April yang terdiam dan mengelus bahu kirinya


"gak apa apa mah, aku ke Dinda dulu" April berlari kekamar Dinda, ia melihat jam ditangannya yang menunjukkan lokasi sahabatnya, jantungnya berpacu saat melihat inisial A berada jauh dari rumah Dinda, lebih mengarah pada sebuah hutan yang cukup dalam, sedangkan Ogi dan Dava yang bergerak yang April yakin menuju kearah Askaf


Dinda menarik tangan April masuk kekamarnya dan mengunci kamar.


"Dinda apa apaan? Kenapa lo kunci kamar gue mau keluar" pekik April gusar


"Askaf Dind, Askaf, dia jauh di hutan, dia ngapain dihutan"


"tenang dulu Prill"


"gak gue gak mau, gue mau nyusul Askaf Dind buka pintunya Dinda"


"gak Prill lo gak bisa kesana"


April menatap tajam kearah Dinda, ia merasa terintimidasi hanya dengan tatapan yang sangat jarang gadis itu tunjukan


"lo gak nyembunyiin sesuatu dari gue kan Dind?" tanya April sangat tenang, membuat bulu kudu Dinda meremang


"jawab Dinda lo gak nyembunyiin apa apakan, Dinda jawab gue, kenapa Askaf ada dihutan, jawab Dinda"


"Ok, ok gue jawab, lo tenang dulu ok" Dinda menenangkan April yang memberontak


"bagaimana gue bisa tenang kalo gue gak tahu Askaf baik baik aja" pekik April, dan untuk pertama kalinya Dinda bersyukur kamarnya kedap suara


"Askaf diculik"


Tubuh April menegang, kakinya seperti jelly sekarang, ia tersungkur mendengar kata diculik dari Dinda, bagaimana bisa mereka menyembunyikan ini darinya


April menggelengkan kepalanya, ia tidak bisa tinggal diam, tidak, dia harus mencari Askaf, April berdiri dan mencoba memberontak lagi

__ADS_1


"Biarin gue pergi Dinda, Askaf sendiri Din, gue harus selamatin dia Dinda" April menggila bahkan suaranya mulai sumbang efek dari tangisannya


"April, you not!!"


"Gak, gue gak mau tinggal diam, gue harus bantu Askaf Dind, gue harus" berkali kali April menepis tangan Dinda namun rupanya kabar Askaf benar benar menguras tenaganya


"Dinda Please" Dinda iku menangis melihat April yang kini menatapnya penuh permohonan, tubuh gadis itu meluruh dilantai dan memecahkan tangisnya


"seharusnya lo gak jahat sama gue Dind, Askaf juga sahabat lo, lo tega berdiam diri saat dia lagi butuh bantuan" April melirih demi tuhan kemana semua kekuatan April??


"Prill, Dava dan Ogi pasti bawa Askaf kembali, percaya sama gue" Dinda memeluk April yang terlihat menyedihkan didepannya


"apa gue cuman harus duduk dan nangis Dinda? Apa gue cuman harus berharap doang? Apa gue harus menunggu aja tanpa ngelakuin apa apa Dind?" Dinda menggeleng dipelukan April, bahkan untuk membalas pelukan Dinda saja April sudah tidak sanggup


"harusnya lo ngerti perasaan gue Dind, lo nyiksa gue dengan nahan gue disini"


"maka dari itu lo harus istirahat, karna saat pangeran lo udah kembali lo punya tenaga buat meluk dia, Maafin gue Pril" Dinda meraih suntikan disakunya dan menyuntikkannya di ditangan Aprill


"Apa yang lo lakuin?" tanya April lemah dan detik selanjutnya kehilangan kesadaran


*****


Bulu mata lentik yang menghiasi mata terpejam itu perlahan bergerak membuka mata hitam pekat yang tadinya tertutup indah, Askaf mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan, satu yang ia tahu ia dirumah yang terawat, terbuat dari kayu yang terlihat tua


"sayang sekali kunci alat pelacak dikunci motormu ketinggalan" Askaf mengedarkan pandangannya dan mencari asal suara yang sepertinya bertuju padanya


"kau mencariku kak?" Askaf menyerit merasa deja vu


"seharusnya memang kau harus mencari adikmu bukan?" bayangan hitam yang mendekati Askaf perlahan menunjukkan wajahnya


"salam kakakku tercinta? aku bahkan tidak merubah namaku tapi tetap saja kau tidak mengenalku"


Rimba menghembuskan nafas seolah olah tertekan, Askaf selalu terdiam sepertinya Pria itu mengingatnya sedikit demi sedikit


"Apa maumu?" tanya Askaf


"woah to the poin, inikah reuni persaudaraan kita?"


"katakan yang kau inginkan"


"baiklah, baiklah, tidak banyak hanya saja ingin bertemu dan membalas dendam ibuku...." Rimba menepuk tangannya dan memalingkan wajahnya "ah mungkin itu terlalu kasar, ibuku adalah orang yang baik dia tidak mengajarkanku untuk dendam pada seseorang yang bahkan hampir memusnahkan kata bahagia dalam hidupnya" Rimba menarik kursi dana duduk dihadapan Askaf yang masih memandangnya datar


"Oh hey jangan terlalu tegang kakak, aku hanya ingin bermain denganmu, tertawalah" Rimbah terkekeh dan menarik kedua sudut bibir Askaf tapi sang pemilik memalingkan wajahnya dengan kasar


Rimba mengangkat kedua alisnya seakan acuh " Ah, mungkin rumor yang mengatakan kau hanya memiliki satu emosi itu benar, ah betapa monotonnya hidupmu kak" nada mengejek itu tidak mempengaruhi Askaf sama sekali


"kau terlalu banyak bicara" Askaf merasakan sengatan di bahunya


"sial" Askaf membatin saat merasakan alat pelacaknya Aktif


"kau tipe orang yang tidak sabaran" Rimba tersenyum sinis tepat didepan wajah Askaf

__ADS_1


__ADS_2