My Bestfriend My Enemy

My Bestfriend My Enemy
Setan Judes


__ADS_3

"April"


Nafas Askaf memburu, tubuhnya dipenuhi peluh, mimpi yang benar benar mengacaukan tidurnya, ia bermimpi tentang April


Askaf menatap langit-langit kamar Flatnya, sedikit lega karna ternyata ia masih disini, sejujurnya hal yang Askaf takutkan saat menutup matanya beberapa jam yang lalu adalah saat ia terbangun dan tidak mendapatkan April disampingnya


Pria itu melihat jam dinakas, 04.02. Demi tuhan Askaf baru saja tertidur jam tiga lewat, ia melirik gadis memeluknya, diusapnya pelan pipi itu, Askaf tahu April sangat lelah, ia merasa jadi pria bajingan yang brengsek sekarang, bisa bisanya ia meniduri gadis yang akan ia tinggalkan


Rasa bersalah mencubit perasaan Askaf, pria itu bangun menggunakan celana panjangnya tadi malam, melangkah kelantai bawah untuk meneguk air


Askaf menyerit saat mendengarkan suara gesekan dari arah dapur, seperti kursi yang ditarik, Askaf berjalan dan melihat Dava dan Dinda yang berciuman di kursi dengan Dinda yang duduk mengangkangi Dava. Askaf melihat dua piring dan gelas dimeja makan, bisa Askaf simpulkan bahwa Dava meminta Dinda menemaninya makan lagi


Tanpa memperdulikan dua sejoli yang tidak sadar dengan kedatangannya, Askaf mengambil air dan meneguknya, ia lalu mengambil beberapa sayuran dan roti kemudian duduk di kursi bulat dekat pantri


Hanya memandangi sayur sayurannya, niatnya yang ingin membuat sayur tiba tiba menghilang saat otaknya tiba tiba tidak bisa berfikir, salah satu kelemahan Askaf, memasak


"Eh" Askaf memandang datar Dava yang mendorong Dinda hingga punggungnya membentur meja makan, Dava menatap horror kearah Askaf, sejak kapan dia disana?


"Apa-apaain sih Dav, sakit"


Dava menunjuk kearah Askaf dengan dagunya, Dinda berbalik dan melihat Askaf menatap mereka tanpa Ekspresi, matanya membulat kaget, Askaf seperti hantu yang datang tanpa suara, cepat cepat Dinda turun dari pangkuan Dava, entah kenapa ada saatnya mereka canggung dengan Askaf, jika saja yang duduk disana adalah Ogi, Dinda mah bodo amat, dan mungkin akan melanjutkan kegiatannya


"se-sejak kapan lo di sana?"


"sejak tadi"


Dava berdehem menetralkan suasana, yang demi tuhan ia juga sedikit canggung, ia melanjutkan makannya seakan tidak pernah ada yang terjadi sebelumnya, sedikit melirik Askaf yang masih memandangi sayuran didepannya, ini kali pertama Askaf telanjang dada keluar dari kamar semenjak ia tinggal di Flat.


Dinda yang mati gaya menyumpah serapahi Dava yang terlihat biasa saja, ia menghembuskan nafas, dan berjalan kearah Askaf


"lo masak apa?"


"gak tahu"


Dinda terkekeh, ia tahu Askaf tidak bisa memasak, April pernah dititik malas tingkat dewanya, Askaf lapar dan ia tidak ingin menunggu untuk delivery, mau tidak mau Askaf memaksakan diri untuk memasak, telur pertama yang Askaf goreng menghitam seperti dibakar, dan lebih parahnya saat Askaf ingin mengambil piring dilemari yang Askaf sendiri tidak tahu pasti tempatnya, alhasil api membakar dan menghanguskan panci bersama telur gosongnya, udah gosong terbakar lagi


Askaf panik setengah mati, ia menyiram wajan dengan air bukannya padam, api justru bertambah besar, untungnya April segera keluar saat mendengar keributan di dapur, meski dengan ogah ogahan ia tidak ingin sesuatu terjadi didapur dan benar saja ia baru memikirkannya api besar menyambut kedatangan April di dapur, terakhir Askaf mendapat omelan maut terdahsyat yang pernah April keluarkan, sisi induk singanya keluar


"lagian ngapain sih bangun subuh sok sokan mau masak" Dinda meraih seledri didepan Askaf dan mencucinya, Askaf sedikit tertegun melihat Dinda yang terkekeh


"Dind? Lo-"


"gak usah dibahas, lo mau lewatin hari ini seperti biasa kan?" Askaf tidak menjawab, ia tidak mengingat pernah mengatakan pada siapapun selain April


"gue denger semuanya" Askaf memalingkan wajahnya, entah ia malu atau apa tapi Askaf lupa jika kamar mereka tidak ada yang kedap suara, meskipun begitu bukan berarti Dinda bisa mendengarnya


"gue di depan kamar sama Ogi sama Dava" kali ini Askaf yakin jika Dinda berkemampuan cenayang, ia bahkan tidak mengatakan apapun dari tadi, tapi wanita itu menjawab semua pertanyaan dibenaknya


"gini-gini juga gak tega ninggalin lo, yang ada lo yang ninggalin kita" Askaf dan Dinda menatap Dava yang kembali menyuapkan makanan kemulutnya, seakan yang ia bicarakan hal yang biasa

__ADS_1


"Dava!!"


"Apa?" dengan santai Dava menjawab bentakan Dinda


"Lo itu yah-"


"Apaan sih yang?"


"Lo yang apa-apaan"


"Gue minta maaf" kini Askaf yang menjadi objek perhatian


Dava berdecih "Nyadar juga lo"


"Udah deh Dav" Dinda kembali membentak Dava


"gak papa Dind, gue tahu gue salah" Askaf menghela nafas, Askaf tahu pria itu masih diselimuti amarah, biasanya ia akan mengelurkan kata kata garing bukan hal yang menyindir seperti ini


"AAASSKKKAAAFF" Dinda yang sedang mengiris tomat terkesiap saat mendengar pekikan dari kamar Askaf, ia tahu itu April, Dava bahkan hampir tersedak karena suara itu, entahlah kenapa disaat seperti ini mereka menunjukkan hal hal yang tidak ditemuinya beberapa tahu bersama


Askaf berlari kearah tangga saat melihat April yang memakai kaos putihnya berlari keluar kamar dan disusul Ogi yang baru keluar dari kamar Dava dengan tergesa gesa


Diujung anak tangga tiga terakhir April melompat kearah Askaf yang berdiri di tangga terakhir, Askaf memeluk tubuh kecil yang bergetar itu, April terisak, ia kira Askaf pergi tanpa memberi tahunya, ia kira ia tidak akan menemukan Askaf, ia bahkan sempat mengutuk dirinya yang tertidur tadi malam


"ak-u kira kamu pergi" April mencengkram tengkuk Askaf, pria itu terdiam mengusap punggung April yang ada digendongannya seperti koala


Ogi duduk di tangga atas melihat keduanya, ia juga panik saat mendengar April berteriak, dari tadi malam hanya dia yang tidak tidur, dia yang berfikir keras tentang apa yang terjadi kedepannya, Ogi memang pria yang paling sensitive di antara personil Dark rider, ia bahkan mengabaikan panggilan Sendy berkali-kali


Askaf merasa canggung saat semua tatapan sahabatnya terarah padanya, sebenarnya bukan hal baru hanya saja suasana yang biasanya berisik dan berwarna sekarang terasa sunyi, tidak ada lagi suara Dava yang cerewet, Ogi yang selalu membalas ucapan Dava, Dinda yang selalu menjadi objek keusilan Dava, dan April dengan tawanya yang renyah


Mereka merasakan Atmosfir yang benar benar berubah suram, Askaf tidak dapat membayangkan kedepannya saat ia harus tinggal di manhattan, berkumpul disini saja tanpa kebiasaan sahabatnya membuatnya aneh apalagi jika ia harus menepikan sahabatnya beberapa waktu kedepan


"Maafin keegoisan gue, gue tahu gue egois, gue gak mikirin perasaan kalian, gue buat keputusan sebesar ini tanpa minta persetujuan dari kalian, gue mutusin pergi tanpa jelasin apa-apa" inilah Askaf dan to the poinnya


"gue juga minta maaf kalian harus mendengar penjelasan dari Dava bukan dari gue langsung" Dava tersenyum sinis, ia meninggalkan Askaf tadi malam bukan berarti ia menerimanya tapi ia kecewa kenapa Askaf harus memilih jalan pergi dan tidak memiliki alternatif lain?


Dava berdiri "kemana lo Dav?" tanya Dinda


"siap siap sekolah"


"gue belum selesai ngomong" Askaf mengusap bahu April yang sedari tadi memeluknya dari samping


"lo bilang kita lewati hari ini sepeti biasa"


"tapi kita masih punya banyak waktu buat ngobrol"


"gue cuman lakuin yang biasa gue lakuin, biasanya gue makan subuh habis itu kesekolah gak ada diskusi kek gini"


"Dava jangan mulai Deh"

__ADS_1


"dari tadi lo belain dia, kenapa sih Dind? Lo suka sama dia" Dava berucap sinis


"maksud lo apaan Dav? Gue gak belain siapa-siapa gue cuman mau kita bicara baik-baik"


"lo masih ngarep gue bicara baik sama orang kek dia?"


"Dav, gimana pun dia tetep sahabat kita" Ogi angkat bicara


"lo masih nganggep dia sahabat?" tanya Dava dan menunjuk Askaf yang tertunduk di samping April


"tega lo yah Dav!" suara lemah April terdengar, Mata April memerah melihat Dava yang tidak memasang wajah menyesal sedikitpun


"lo aja yang bucin sama dia" Askaf menggeram mendengar ucapan Dava yang begitu menusuk


"Lo kenapa sih Dav? Sadar woi, sekarang bukan waktunya berantem" Dava menarik kerah baju Dava


"yaudah gue pergi" Dava melepas tangan Dinda dan melangkah meninggalkan sahabatnya, namun baru menginjak tangga pertama, Dava mendengar suara Ogi


"Apa susahnya sih lo gak keras kepala Dav? Askaf bakalan pergi dan lo buat masalah kek gini?"


"yang lo bilang buat masalah siapa Gi?" bentak Dava


"Gue? Lo juga ikutan belain Askaf, iya salahin gue aja terus, gue cuman lakuin kayak biasanya, yang buat masalah tuh dia, bukan gue, andai dia gak pergi kita gak bakalan kek gini Gi" Dava mengepalkan tangannya menahan emosi


"Dava seharusnya lo ngerti Askaf ngambil keputusan buat kebaikan kita semua!" tambah Dinda yang berusaha mengeluarkan setan judes dari tubuh Dava


"Kebaikan seperti apa Dind? Ini yang lo maksud kebaikan? Yang ada kita bikin masalah subuh-subuh kek gini"


"Dav-"


"Diem lo, gue gak butuh ceramah lo" Dava memotong ucapan April kemudian menunjuk kearah Askaf


"Dan lo, seharusnya lo gak usah jadi temen kita dulu, seharusnya lo tetep jadi manusia patung gak berperasaan kek dulu, balik sana ke Amerika dan jangan balik lagi keindo, Nyampah"


Dinda melangkah kearah Dava yang masih berdiri diujung tangga


PLAAAKKK


Dava memegang pipinya yang terasa panas karena tamparan Dinda, ia menatap Dinda penuh tanya


"itu biar lo sadar" pekik Dinda diaertai air matanya yang menetes dipipi kurus itu


krik


krik


krik


Buahahahahahaha

__ADS_1


Keempatnya menyerit melihat tawa Dava yang pecah memegangi pipinya, terbahak bahak seperti orang yang kerasukan, Dinda yakin ia menampar Dava agar setannya keluar, ini malah masuk


__ADS_2