My Bestfriend My Enemy

My Bestfriend My Enemy
Maniak Jeruk


__ADS_3

"lakukan apapun agar kita terlihat


mencurigakan" ucap pria itu pada boydigard yang menjadi supirnya, matanya menatap senang kearah pria berseragam yang mengendarai motor besarnya


"buatlah penjagaan yang mencurigakan disetiap jalan menuju green View, dan sisakan jalan memutar di pinggiran kota" pria itu memutuskan panggilan telfonnya dan mencek lokasi anak buahnya yang satu persatu menuju posisi mereka


Rimba tersenyum melihat Askaf yang selalu membatalkan untuk mengambil jalan lain untuk kerumah Dinda, ia tahu sekarang Askaf sadar jika ia diikuti dan anak buah Rimba ada setiap jalan lain yang bisa dilewati menuju rumah Dinda


Askaf menyerit saat jalan satu satunya adalah pinggiran kota, mobil yang ada dibelakangnya jelas jelas menunjukkan bahwa ia sedang mengikutinya, Askaf menyalip mobil truck dan menekan tombol panggilan cepat pada sahabatnya di jam tangan handphonenya untuk menghalangi pandangan penguntitnya, sebelum membelokkan motornya kepinggiran kota


"dimana lo beb" Ogi mendelik jijik pada Dava yang mendapat panggilan dari nomor privasi Dark Rider.


"gue diikutin" jawab Askaf lewat earphone yang tersambung di helmnya


"Siapa?" ucap Dava yang tiba tiba serius, dan menarik perhatian kelima orang yang ada didepannya


"gue belum tahu pastinya" jawab Askaf dan melihat mobil yang masih setia mengikutinya hingga masuk didaerah sepi dipinggir kota.


"gue kesana sekarang" putus Dava dan mematikan sambungan telfonya


Askaf menghentikan motornya dan tanpa dilihat siapapun ia menekan tombol aktif dialat pelacak seukuran kancinga baju dikunci motornya dan memasukkannya di saku bajunya


Dugaannya benar mobil itu berhenti beberapa meter dari tempat Askaf berdiri sekarang, tidak heran lagi, Rimba keluar dari mobilnya dengan senyuman khas diwajahnya


"diluar dugaan, sang pangeran memilih berhenti daripada memacu lebih kencang" Rimba berucap seolah olah menemukan hal yang tidak biasa


"Apa aku memiliki urusan denganmu?" tanya Askaf


"dan apakah kau berfikir orang sepertiku mengikuti orang yang tidak punya urusan denganku?"


"aku tidak memilikinya"


"tapi aku memiliki"


Rimba tertawa sumbang melihat Askaf yang terdiam dengan wajah datarnya "wah wah sepertinya aku memiliki masalah otak dan berfikir bahwa kau mengingatku"


"sepertinya iya, enyalah" ucap Askaf


"wooah sabar brotha, aku ingin kau mengingatnya sendiri dan sepertinya aku harus membenturkan sedikit kepalamu untuk membantumu"


"apakah kau sepenting itu untuk diingat? Maaf membuatmu kecewa tapi aku tidak suka kekerasan, sampai jumpa" Askaf mengurungkan niatnya untuk pergi saat 1 mobil dan 2 motor berhenti didepan motornya


Empat pria berseragam hitam keluar dari mobil, dan empat lainnya masih duduk dimotor mereka dan memandang kearah Rimba


"Aku tahu, aku tidak akan menang melawanmu dengan kekerasan, bagaimana jika kita ubah rencana? Aku akan membawamu dan membantumu mengingat semuanya, metodenya gampang ikuti kami dengan sukarela atau sedikit kekerasan"


"persetan dengan urusanmu" Askaf kembali meraih helmnya berniat untuk pergi, namun dengan cepat salah satu boydigard Rimbah menahan tangannya


Askaf memindahkan helm ketangan satunya dan menghantam kepala pria itu hingga tersungkur, itu memicu boydigard lainnya ikut menyerang Askaf, sekali lagi dengan bantuan helm Askaf menjatuhkan dua boydigard Rimba


Perkelahian lima lawan satu tidak terhindarkan, satu persatu lawan Askaf tumbang, namun tidak semudah itu, strategi perkelahian tentu bergantian, saat ada yang tumbang maka akan ada yang bangkit


Rimba tersenyum takjub, bahkan sudah beberapa menit berlalu Askaf belum juga tumbang ditangan delapan boydigardnya


Meski lima dari delapan sudah tidak mampu berdiri, tapi Askaf merasakan keganjalan, hingga akhirnya sesuatu menancap dilehernya, ia merasakan aliran dipembuluh darahnya,


"shit" Seharusnya ia sadar dari awal bahwa tujuan Rimba bukan mengalahkannya, seharusnya ia tahu bahwa melawan kedelapan boydigard Rimba tidak ada yang memberinya luka fatal. Dan ia lupa jika Rimba keluar dari pintu belakang mobil yang artinya ia tidak sendiri

__ADS_1


Kepala Askaf mulai berat matanya berkunang, ia tersungkur di aspal, ia sempat melihat sepatu hitam yang beberapa senti darinya yang ia yakin itu Rimba


******


Dava mengendus kesal saat dengan semangatnya membuka paper bag yang diberi oleh Gisel sebagai oleoleh dari singapore, tidak sesuai ekspentasi, paper bag berukuran besar itu berisi kotak besar yang berisi gantungan kunci singa setengah ikan seukuran jari jempol


"bukannya gak syukur mah, yakali paper bagnya segede ini tapi isinya sekecil ini" mereka semua tertawa saat melihat wajah Dava yang memelas menatap nanar pada gantungan kunci itu


"itu mahal loh sayang, kamu harus kesingapore dulu baru bisa dapet" jawab Gisel


"dipasar ikan juga banyak kali mah"


"syukur napa lu sabun dove, masih untuk mama gue ingat sama lo" tambah Dinda


"wah jam tangannya lucu ma" April menatap sepasang jam tangan berwarna Blacksilver dengan merek ternama itu dengan mata berbinar, April berdiri memeluk Gisel menciumi pipi wanita itu "Makasih mah"


"mama doang? Papa enggak nih?" tanya Elang, April yang mendengarnya menghampiri Elang dan memeluk pria itu "makasih pah"


"Dianak tiriin gue, mah, pah, kok April dapat jam aku gantungan kunci?" rajuk Dava namun suaranya ditenggelamkan dengan pekikan girang Dinda


"Kalung ukiran" Dinda memeluk Elang yang duduk disampingnya dengan erat "Makasih pah" memdapat elusan dikepalanya


"sini papa pakein" Elang meraih kalung ditangan Dinda dan memasangkan dileher gadis itu, dengan cepat dinda berdiri dan meraih handphonya untuk dijadikan cermin


"cantik mah, pah, makasih"


"ini beneran buat Ogi mah, pah?" Ogi mengangkat sepatu abuabu ditangannya meminta kepastian dan mendapat anggukan dari Elang dan Gisel


"Makasih mah, pah, aku janji bakalan kujagain kayak malika" Ogi berucap dengan haru, meski bukan pertama kalinya tapi Ogi merasa sangat bahagia mendapat hadiah dari orang yang sudah ia anggap orang tuanya, mereka semua tahu bagaimana susahnya kehidupan Ogi, orang tuanya yang sudah tidak lengkap ditambah ekonomi yang lemah, membuat Ogi dewasa sebelum waktunya


Benar kata orang bahwa mereka yang banyak tertawa sebenarnya yang memiliki paling banyak beban, beda halnya dengan Dava yang memiliki otak yang gila dari lahir


Mereka tertawa terkecuali Dava " kalau begini, Dava pamit Mah, Pah, Dava udah gak sanggup lagi, Ogi jagain Dinda gue, dan April sampain ke Askaf gue cabut, sakit hati gue"


Gisel tertawa dan memberi paper bag dengan nama Askaf disana "ini buat Dava"


Dava menatap Gisel bingung, bukankankah itu untuk Askaf tapi kenapa diberikan untuknya? Dava ingin bertanya namun Gisel lebih dulu membuka suara


"Papa yang rencanain ini, ini buat Dava dan oleoleh Askaf sama April" Dava melihat kearah April yang senyam senyum menunjukkan jam tangan Couplenya dengan Askaf pada Dava yang memasang wajah minta taboknya


"Ah sudah kuduga tidak mungkin mama menganak tirikanku, iyakan Mah?" tanya Dava girang menerima paper bagnya "kecuali Papa" Elang tertawa mendengar ucapan tambahan Dava, Elang selalu mengambil kesempatan untuk menjahili Dava, dan seharusnya Dava peka dengan itu


"wih mah keren, ah mama tahu aja sih kesukaan Dava" Dava membolak balikkan ukiran yang terbuat dari kaca berbentuk jeruk itu, siapapun tahu bahwa Dava maniak jeruk akut.


"itu Papa yang pilihin" Dava melirik kearah Elang yang menatapnya dengan alis terangkat


Dava terkekeh yang terdengar meringis malu " tadi bukan Dava yang ngomong, tapi alter ego Dava pah, Papa baik kok terganteng sedunia" Elang tertawa


"sejak kapan lo punya alter ego?" tanya April


"sejak tadi"


Plaakk


Drrt Drrt Drrt


Bersamaan dengan jitakan Ogi, ponsel Dava berdering

__ADS_1


"sakit ogeb" Dava meraih handponenya


"Secret Askaf Calling" Dava mengerutkan keningnya melihat Askaf memanggil melalui nomor Privasi Dark Rider


"Kenapa?" tanya Ogi


"Askaf, tapi dia pake Secret Number" jawab Ogi


"Oh tadi Papa telfon Askaf suruh dia kesini, mungkin Hpnya kehabisan baterai"


Mereka mengangguk lega, bukan tanpa alasan Secret Number adalah nomor yang hanya diketahui Dark Rider dan kedua orang tua Dinda, hanya orang orang tertentu yang mengetahui nomor tersebut, tentu saja hanya digunakan disaat saat genting


"dimana lo beb?" Dava bertanya sebelum Askaf berbicara terlebih dahulu


"......"


"siapa?"


"......"


"gue kesana sekarang" Dava mematikan sambungan telfonnya dengan terburu buru


"Ada apa Dav?" April menyahut tidak sabaran, ekspresi serius Dava sukses membuatnya khawatir


Dava memandang satu persatu mereka yang memandanhinya berjamaah dengan wajah serius membuat mereka khawatir dan mewanti wanti apa yang terjadi


"ban motor Askaf bocor" ucap Dava lucu kemudian tertawa seakan akan yang ia ucapkan adalah lelucon yang lucu


April dan Dinda menghebuskan nafas lega, mereka sempat khawatir saat melihat wajah serius Dava, mereka lupa bahwa Dava tadi mengucapkan kata "siapa" yang tidak ada hubungannya dengan ban bocor


"Mah, Pah aku sama Ogi jemput Askaf dulu" Gisel mengangguk kemudian meninggalkan ruang tamu diikuti April menuju dapur


"cotto matte! Kok gue sih?" protes Ogi


"cotto matte apaan?"


"bahasa jepang, artinya tunggu dulu"


"sok jepang, dasar pribumi"


"lah daripada elu nonpribumi"


"jemput Askafnya kapan hmmm?" tanya Elang alihalih menghancurkan debat keduanya


"eh Otw pah, cabut Gi" Dava berdiri dan menyeret Ogi dengan menarik kera baju Ogi dari belakang


"woi lepasin gue bule nyasar, gue gak bisa nafas"


"eh apa? Gue ganteng? Gak usah muji gue tahu kok"


"gue gak bisa nafas bangke"


"Dava, Oginya jangan diseret" Gisel yang melihat Dava menyeret Ogi melintas dipintu dapur memekik kelabakan, sedangkan Dinda dan Elang tertawa melihat betapa akrabnya keduanya


"Mama tolongin Ogi"


*****

__ADS_1


"bule nyasar, lo terniat bunuh gue?" Ogi merasakan jantungnya ingin meloncat dari tempatnya, ia melihat kebelakan melihat truck kontener yang disalip Dava


tbc


__ADS_2