
"gue sama Ogi bakalan coba beasiswa luar negeri" Ucap Dava menatap Dinda yang masih terengah karena ciumannya dengannya. Dinda tersenyum lalu mengangguki ucapan Dava, eh?
"what? Kamu bilang apa tadi"
"kamu mau jatuh?" Dava menggerutu dengan gerakan tiba-tiba Dinda mendorong dadanya, tidak sadarkah gadis itu jika ia masih melingkarkan kakinya dipinggang Dava, melepas pelukan dileher Dava sama saja menjatuhkan diri secara gratis
"Ck! Akukan masih coba sayang belum tentu lulus"
"kok dadakan? Kemarinkan masih bingung" protes Dinda tidak terima, Dava mendudukkan dirinya di ujung kasurnya dengan Dinda dipangkuannya, ia mencium leher Dinda dengan lamat
"kan udah kubilang kemarin-kemarin, cuman keputusannya baru tadi malam, setelah bicara sama mami-papi yah aku dapat izin, kami juga udah bicara sama ibu dan disetujuin masalah jaga kan kamu sama April bisa jagain ibu" Dinda merenggut kesal, Ada apa dengan mereka semua? Setelah Askaf sekarang Ogi dan Dava
Sialan!!
"kok kepikiran gitu sih?"
"Apa?" tanya Dava yang melihat raut wajah Dinda yang mendung
"lo tiba-tiba mau pergi, belum juga kelar sama Askaf?"
Dava terkekeh "Bilang aja kalo lo gak mau gue pergi" Dinda tersedak salivanya sendiri, benarkah ia tidak ingin Dava pergi?
"bukan gitu, tapi lo yakin?"
"kalo gak yakin ngapain minta restu Yang?" Dinda tergugup tidak tahu ingin menjawab apa
"lo diam berarti lo gak mau gue pergi" Dava tertawa renyah pipi Dinda memanas dan merah, kurang ajar kali sahabat laknatnya ini, ia ingin marah tapi hati kecilnya sebenarnya juga tak ingin jauh dari Dava
"Apaan sih lo kepedean Gaje lagi" Dinda menatap kesal kearah Dava dan turun dari pangkuan pria itu berjalan keluar dan memperbaiki kancing bajunya yang terbuka, sebebarnya dia masih ingin meminta penjelasan tapi wajah Dava yang tidak memiliki raut sedihnya membuat Dinda sedikit kecewa
"tahan gue goblok" batin Dinda berharap diikuti umpatannya
"jangan keluar" tersenyum lebar, Dinda berbalik dengan penuh harap hingga Dava saja heran dengan senyuman itu
"Lipstik lo berantakan"
Mati saja kau Dava! Mati!!
****
"kalo aku pergi kamu kangen gak bee?"
__ADS_1
"enggak tuh"
"kalo aku lama bee?"
"B aja"
"kalo lama banget bee?"
"kayaknya"
"kalo lamanya lama banget bee?"
Sendy mengerutkan keningnya dengan pertanyaan Ogi, kesambet apa pacarnya itu, selama hampir 2 tahun hubungan mereka tidak pernah satu kalipun Ogi menanyakan ataupun mengatakan kata "kangen"
"kamu kenapa sih?"
"gak, gak kenapa-kenapa mastiin aja" Ogi menyengir kaku, sebenarnya ia sudah memikirkan matang tentang beasiswa luar negrinya itu, setelah ujian nasional ia akan ikut ujian beasiswa itu, ia dan Dava bahkan sudah meminta restu kepada tetua dan mendapat izin
Awalnya ia pun ragu meninggalkan sang ibu sendiri di tanah air, tapi bagiamana lagi cita-cita sang ibu adalah kebaikan anaknya, bisa dibilang ibunya lah yang mengusir Ogi dari tanah air
Setelah lama meyakinkan Ogi dengan alasan Dinda dan April bisa menjaganya disini, Ogi memutuskan untuk ikut beasiswa itu, toh demi kebaikannya juga.
Kemudian dilanjut perundingannya dengan Dava untuk mengatakan pada kekasihnya, Dava sempat mencibir dengan ucapan Ogi, pemilihan katanya sangat tidak pas untuknya yang jomblo abadi
"Sandy? Lo aja kali" sewot Ogi merebahkan badannya disamping Ogi di atap Flat menatap langit hitam dihiasi bintang, semenjak malam dimana Askaf pergi, atap flat yang biasanya diangguri itu kini menjadi tempat favorit mereka
"Dinda!" bagi Ogi untuk mengatakan pada Sandy sepertinya hal yang mudah toh selama ini mereka pacaran Ogi tidak pernah mencintai gadis itu, ia hanya tertarik dia hanya menyukainya
"gue juga gak tahu, April lebih-lebih" Dava menerawang membayangkan reaksi April jika ia tahu keputusannya adalah meninggalkan Indonesia
Menghela nafas "Biar gue coba bicara sama April nanti pass udah Ujian nasional takutnya dia kembali tertekan malah gak ikut ujian lagi" Dava mengangguk menyetujui
Ogi merenggangkan tangannya dan dengan jailnya mendorong wajah Dava tidak santai
"weh apaan sih lo pegang pegang, Maho!"
"najis gue main pedang-pedangan" Dava mendelik Ogi "Besok kita bilang kemereka" sambungnya
"yakin lo? Katanya mau nunggu ujian"
"Ck! Dinda sama Sendy" Dava mengangguk mantap mengepalkan tangannya keudara sebagai tanda menyemangati mereka*
__ADS_1
Sandy melambaikan tangan didepan wajah Ogi yang melamun, beberapa kali Sendy memanggil pria itu, tapi tetap saja diam, semacam kehilangan nyawanya
"Ogi!!"
"eh iya!"
"ngelamun apaan sih?"
"gak ngelamun kok, bengong doang bee"
Sama aja goblok, iyain aja napa batin Sandy
"terserah"
"aku mau ambil jalur beasiswa luar negeri, gimana bee?" Sandy menatap penuh selidik kearah Ogi yang menatapnya penuh harap
Tatapan Sendy sedikit membuat Ogi merinding, mengingat bagaimana Sandy jika mengamuk, cukup dua kali ia diamuki gadis yang ia panggil bee itu, sesuai namanya bee yang berarti lebah, lebah yang menciptakan madu yang sangat manis tapi ada kalanya menyengat dengan sangat menyakitkan
"Oh"
Heh?
Ogi mengerjapkan matanya, apa itu tadi? Hanya Oh? Mungkin Ogi salah dengar, perlukah dia ke THT memeriksa telinganya?
"jadi kamu ngizinin aku bee?"
Meski berat Sendy mengangguk, ia tahu cita-cita pria itu, ia ingin mempunyai pendidikan yang bagus untuk masa depannya dan ibunya, terkadang Sendy berfikir bahwa sebenarnya dia tidak pernah ada bayangan masa depannya Ogi, meski ragu Sendy tahu bahwa Ogi tidak mencintainya seperti ia mencintai pria itu, entah apa alasan Ogi menjalin hubungan dengannya dan apa tujuan Ogi yang tidak ingin melepasnya
jika difikirkan Sendy banyak menderita sendiri karena hubungan ini, Ogi memang bersamanya tapi hati pria itu entah kemana kasat mata dan tidak terasa
Senyum lebar menghiasi wajah pria itu, senyum yang entah sejak kapan menjadi favorit Sendy "tapi berarti kita LDR-dong"
Gadis itu mengangguk lagi, toh LDR ataupun tidak sama saja bagi Sendy, ia hanya memiliki pria itu tapi bukan hatinya, setidaknya biarkan rindu tak melihat pria itu dari pada memeluknya tapi tidak terjangkau oleh Sendy "aku percaya sama kamu" Ogi menarik Sendy kepelukannya
"Makasih Sen"
Lihat kan? Dia bahkan tidak menanyakan perasaan Sendy sama sekali, ia bahkan tidak meminta alasan Sendy melepasnya, ia juga tidak menanyakan kekhawatirannya, Ogi dan Egoisnya yang tidak punya kepekaan
Pria itu bahkan tidak tahu bahwa Sendy mati-matian menahan pelukannya agar Ogi tidak melihat air matanya, tidakkah pria itu berfikir perasaan Sendy? Tidakkah ia merasa kehilangan seperti Sendy, ataukah memang dia tidak merasakannya? Mana ada pasangan jika saling mencintai saling melepaskan tanpa menanyakan alasannya, kesimpulannya Ogi memang tidak mencintainya
Kenapa lo gak lepasin gue kalo sebenarnya lo gak cinta sama gue gi? Dua tahun kita pacaran, apa lo gak pernah sedikitpun jatuh cinta sama gue? Kalo iya kenapa lo mati-matian bujuk saat gue lagi marah? Lo gak pernah bilang lo kangen sama gue? Lo bahkan gak pernah bilang cinta kegue? Lo gak pernah khawatirin gue? Lo gak pernah nanyain perasaan gue? Batin Sendy menjerit
__ADS_1
dimana hatimu Divianogi?
tbc