
"Weeiii gue lulus!!!" teriakan yang cukup besar itu tenggelam dalam riuhnya siswa/siswi disekolah
setelah melewati tiga tahun duduk dibangku SMA, sekarang bebas melakukan apa saja, sangat salah jika mereka mengatakan kebebasan karna justru sebaliknya lulus SMA adalah awal dari hidup yang sebenarnya
jika pada saat remaja seperti ini mereka masih bergantung pada orang tua, maka sekarang adalah pintu menuju kehidupan seaungguhnya, cobaan hidup akan dimulai dari sini
"Gue juga lulus Dind" April memekik kegirangan sekaligus merasa lega, awalnya dia takut untuk melihat papan kelulusan, ia takut jika menemukan fakta bahwa namanya masuk dalam daftar merah, atau daftar siswa siswi yang tidak lulus, dilihat dari otaknya April yang pas-pasan, tapi siapa sangka bahwa meskipun seperti itu April tetap lulus
"yah, kalo bukan karna sumpahnya si guru BK juga sih gue gak bakalan khawatir kali Dind" Dinda terkekeh geli melihat ekspresi sahabatnya itu
merangkul April dan membawanya keluar dari kerumunan itu "kan kita dua yang disumpahin, tapi gue B aja tuh"
April mencebik pada sahabatnya itu " yah lo sih masih mending, otak lo masih ada fungsinya, nah gue"
kali ini Dinda tertawa, ternyata gadis pendeknya ini tahu diri bahwa otaknya dipenuhi sarang Spidermen karena tidak pernah digunakan
"sebelas dua belaslah"
"sebelas dua belas sama lo? gak lah jauh lo Dind"
"yee emang yang bilang sama gue siapa? maksud gue lo sama itu tuh" Dinda menunjuk gadis berambut cepak gendut yang memegang keripik ubi ditangannya, bisa dibilang dia adalah siswi yang benar benar hanya membawa diri kesekolah, masih syukurlah April yang meskipun tidak mempunyai kepintaran dibidang hitung hitungan dan sains tapi nilai bahasa inggris April terbaik kedua dikelasnya setelah Dava
"weh sialan lo" Dinda tertawa saat April menamparnya halus
"kira-kira Askaf gimana yah?" Dinda menghentikan tawanya, setelah sekian lama April memendam rasanya sendiri, untuk pertama kalinya gadis itu menyebut nama Askaf didepannya, itupun baru di depannya!
"kenapa lo kangen?" April mendelik
"menurut lo? dia benar gak main main sama ucapannya" April menghembuskan nafas gusarnya "Atau dia beneran udah ngelupain kita?"
"huuuss omongan lu tuh yang harus dilupain, lo sendiri tahu kan Askaf itu orang yang menjaga ucapannya, apalagi janji, lo tenang aja deh, suatu saat dia bakalan balik kok" Dinda mencoba menyemangati sahabatnya itu, hari ini harusnya mereka bahagia meskipun sebenarnya Dinda juga merindukan pria pendiam itu
"tapi suatu saatnya kapan Dind? ini udah setahun loh, satu kabar aja gak ada!" ucapan April melirih, ia merasakan sesak didadanya, fikirannya berkecamuk negatif, memikirkan kemungkinan kemungkinan buruk tentang Askaf
"yah kita tunggu aja, yakin aja dia juga rindu kok sama kita" April mengangguk sebagai jawaban, entah kenapa keraguan timbul dihati April, dirinya bimbang ditengah ketakutan akan asumsi yang ia buat sendiri
tuhan, kenapa ia sangat merindukannya
"Prill, Dinda!"
mereka menoleh saat namanya diteriaki, suara yang sudah dihafal diluar kepala, Ogi tersenyum lebar disana diikuti Dava dibelakangnya
"gimana-gimana kalian pasti kalian gak lulus kan? gue juga bilang apa sumpahnya ibu BK itu nyata" April dan Dinda menatap tajam kearah Dava yang berbicara seenak jidatnya
jangan salahkan Dava yang berbicara begitu, salahkan saja kedua gadis itu yang memasang wajah mendung di hari pengumuman, meskipun sebenarnya mereka sudah tahu bahwa 100% siswa siswi disekolahnya dinyatakan lulus
"hehe canda ih yang, mukanya sangar banget"
"gimana?" tanya Dinda
"gimana apanya?" Ogi dan Dava berseru bersamaan
"gimana sama kalian"
"kirain lo nanya gimana selanjutnya kita, nikah sekarang atau tunda dulu"
bughh
Dava mengusap tengkuknya yang dipukul oleh Ogi sebagai perwakilan Dinda yang terlihat sangat bernafsu menonjok mulut Dava
"Apasih lo Gi, dendam sama gue?"
__ADS_1
"lagian lo ngomongnya halu mulu!"
"lagian Dinda juga nanya kek gituan, udah tahu kita cowok beprestasi masa gak lulus, mereka aja lulus" Protes Ogi dan mendapat tatapan setajam silet dari April dan Dinda
"lagian lo kepedean banget sih" sinis Dinda
"lagian masa lo gak tahu sih"
"lagian ngapain gue tahu!"
"lagian kalian kenapa berantem sih" lerai April
"lagian kok lo ikut ikutan sih Pril!"
"lagian kalian gak mau diam"
"lag-"
"sekali lagi lo ngomong lagian gue tonjok lu Dav!" Ogi menarik dasi Dava dan melayangkan tinjunya keudara untuk mengancam Dava
"lagian lo galak banget sih, eh eh eh iya iya ampun ampun"
Ogi melepas cengkraman didasi Dava dengan kesal, otaknya panas memikirkan bagaimana cara mengatakan rencananya dengan April sekarang malah bercanda seperti ini
"sensi banget si lu Gi, PMS lu? atau gak dapat jatah?" April dan Dinda terkekeh merasa terhibur dengan opera kecil kecilan itu
"tebak aja sendiri, lo kan dukun!"
"gak dapat jatah pasti"
jduuar!!
terakhir! terakhir kalinya Ogi meminta Dava menebak "Diem lo kodok!" Dava tertawa ngakak dan merebut perhatian orang orang yang melintas, tebakannya benar kan!
"sempak banci, sok tahu lu"
"yah mendingkan dari pada sok tempe, karena cukup tahu saja, tidak perlu ada tempe diantara kita"
kriik kriik
kriik kriik
"Kenapa lo Pril? biasanya juga heboh? insaf lu" tanya Ogi mengalihakan pembicaraan
berjalan menuju kantin tak jarang mendapatkan ucapan selamat dari junior junior disekolahnya atas kelulusan mereka, siapa sih yang tidak mengenal mereka? Askaf saja yang sudah berhenti ditahun kedua masih menjadi bahan perbincangan panas disekolah ini
bahkan anak semester pertama pun ikut mendengar kabar yang tersebar, ada tiga pangeran disekolah ini namun sayang yang satunya telah gugur di tengah jalan, padahal prestasinya adalah yang terbaik bahkan di ditingkat nasional, tak ada satupun yang tahu kabar pria itu sekarang
"lagi gak mood aja" jawab April
"gak mood kenapa, udah lulus juga"
"kangen yayang Askaf yah"
bugh
"woe kaleng sarden, demen banget sih nabok pala gue, geger otak gue lama-lama, lo mau tanggung jawab!" Ogi memberi tatapan peringatan pada Dava, tuhan kenapa pria itu goblok sekali sih, terkutuklah kau Dava
baru saja Ogi membuka basa basi untuk membicarakan soal beasiswa, Dava lebih dulu membuat suasana jadi begini
"gue baru mau ngomong sama April, lo malah ngingetin sama Askaf" Ogi berdesis sekecil mungkin berharap April tidak mendengarnya
__ADS_1
"ngomong apa?" eh didengar juga ternyata, Ogi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
"eh anu-itu Ly" Ogi melirik Dinda minta bantuan pada gadis itu, ternyata percuman Dinda sama gugupnya dengan Ogi, ia melihat Dava yang terlihat santai didepannya berjalan dengan April, sesekali menggoda junior yang melitas ataupun yang ia lintasi
Dinda mengatakan "suruh Dava" melalui matanya, alis Ogi berkerut hebat, memprotes ide gila gadis itu "mampus kita kalo Dava yang ngomong" Dinda meringis dengan jawaban Ogi, benar juga, bisa berabe jika Dava yang berbicara
"kalian telepati?" Dava yang merasa dilirik terus menghentikan langkahnya dan menghadap kekedua sahabatnya
"kok tahu? Dukun yah?" canda Ogi
"baru tahu lo?" Dava menantang
"dukun amatiran" sela April menggeleng-gelengkan kepalanya
"yeleh gak percaya? Gue tebak telepati kalian, mau ngomong ke April kalo ki-ppfftttt" Dinda membulatkan matanya pada Dava yang sialnya tebakannya benar
Untung Ogi sudah membekap mulut lancang sahabatnya itu, demi pluto yang tidak dianggap semesta, maukah kau menerima mahluk bumi yang satu ini? Ingin rasanya Dinda mengasingkan Dava di pluto sekarang juga
"kalian nyembunyiin sesuatu sama gue?" April menunjuk dirinya sendiri menatap menyelidik pada ketiga sahabatnya
Dava yang memberontak berusaha melepaskan diri dari bekapan Ogi menjadi fokus perhatian penghuni sekolah yang berada sekitar koridor
"gak kok Pril, kita gak nyembunyiin apa-apa dari lo kok" April tahu sahabatnya berbohong
"sampai kapan mau bohong si Dind?"
"anu pril- itu kucing samping flat kawinan"
Ngeek!!
"Gi!" tegur Dinda
Dava menatap sinis kearah kedua sahabatnya, kenapa harus mengelak lagi? mau tidak mau mereka harus tetap bilang kan? cepat atau lambat
nah kan, sekarang adalah waktu yang cukup baik, lebih cepat lebih baik, meskipun mood April sepertinya tidak begitu baik
tapi kabar kelulusan cukup membuat suasana yang baik, setidaknya ada alasan cukup untuk negosasi dengan gadis itu
"gue bakso" ucap Ogi saat sampai dikantin, ia duduk disamping April yang sedari tadi hanya diam, entah apa yang dipikirkan gadis itu
"nyadar lo Gi?"
Dava dan ledekannya
"maksud gue pesan bakso" April dan Dinda menggelengkan kepalanya, entah apa yang mamanya Dava indamkan saat mengandung Dava, kenapa otak pria itu punya milyaran ledekan
"ngemeng toh" Ucap Ogi sinis
"eleh, lagian Dinda juga yang pesan bukan lo, ngapain jelasinnya ke lo"
"tapi lo jelasin juga bambang"
"eh udah udah kita tuh mau makan bukan berantem" lerai April, merasa menang Dava menjulurkan lidah kearah Ogi
tidak terima ledekannya, Ogi melempar kotak tissue kearah wajah kampret sahabatnya itu, yang hanya dibahas kekehan oleh Dava
"samain sama Ogi" ucap April
"Biasa yank, jus jeruk sama batagor jangan lupa pake cinta" Dava mengedipkan matanya membuat buat ekspresi yang menurut Ogi menjijikkan
"Cintanya pak tarno" Ucap Dinda berlalu
__ADS_1
pak tarno adalah suami penjaga kantin langganan mereka, pria paru baya yang supel dengan pelajar di sekolah ini, orangnya yang ramah, membuatnya banya disukai oleh pelanggannya, meski begitu tidak dapat menjadi alasan Dava menjadi pelakor karna Dava tidak memiliki kelainan sebagai pecinta Om om apalagi Homo
tbc