My Bestfriend My Enemy

My Bestfriend My Enemy
Keputusan


__ADS_3

"Tuan" Senyum Askaf memudar saat melihat pria paruh baya setengah membungkuk menghentikan jalannya ditemani dua pria berbadan besar dikedua sisinya


"Ada apa Albert?"


"Tuan Rafael telah sadar, tuan" Tubuh Askaf membeku begitu pula April yang ada dirangkulannya, ia bahkan bisa merasakan rangkulan Askaf yang *** pinggangnya


"Temui aku di Apartemenku" setelah mengucapkannya Askaf membawa April meninggalkan Albert yang memandangnya bingung


"Askaf kau tidak ingin bicara dengannya sekarang, kita bisa mencari restoran di lantai dua" sejujurnya April penasaran apa yang akan diucapkan Askaf tapi ia juga takut menanyakan secara lansung, ia pernah bertanya mengapa ia tidak menjenguk ayahnya dan Askaf menjawab dengan tenang bahwa ia tidak yakin bisa kembali saat ia menemui sang ayah di Amerika, dan semenjak itu Albert yang melaporkan keadaan Rafael-Ayah Askaf


Askaf mengusap kepala April dan tersenyum manis melihat mata gadis itu yang antusias "Aku akan mengantarmu pulang"


"Tapi aku ingin ikut denganmu ke Apartemen"


Askaf mengangkat Alisnya mendengar penolakan April "Tidak sayang, aku ingin bicara dengan Albert dengan tenang"


"Aku mengganggumu?"


"bukan seperti itu, aku hanya ingin berfikir tanpa memikirkan satu pihak, akan sulit mempertimbangkannya saat kau ada di disana" Askaf menarik April memasuki lift yang berisi beberapa orang


"kau ingin meninggalkanku?"


Skak.!!


****


Askaf menjatuhkan dirinya dilantai dan menopang sikunya di meja ruang tamu, ia memijit hidungnya frustasi, Apartemen Askaf yang biasanya bersih sekarang berantakan bak kapal kecelakaan.


Askaf ingin April ikut bersamanya, ia akan meminta restu kedua orang tua April, tapi Albert mengatakan bahwa kabar penyakit Rafael membuat perusahaan menjadi rentan, musuh musuh Rafael mulai menampakkan diri, bahkan rumor pewaris sah telah beredar kemana mana hanya saja belum sepenuhnya terbongkar karena perubahan satu identitas Askaf pernah dilakukan saat ia pindah ke indonesia, sangat tidak aman jika membawa April ikut dengannya, tidak ada niat Albert menahan April hanya saja sebaiknya menunggu Askaf mengembalikan kondisi perusahaan untuk menghilangkan ancaman untuk Askaf dan April di masa depan, membawa April ke Amerika sama saja mendorong gadis itu kekandang singa


Mereka yang mengabdikan hidupnya untuk uang tidak akan segan segan melenyapkan nyawa orang lain demi memenuhi hasrat ketamakannya, mereka akan mencari kelemahan lawan untuk dijadikan alat sandera dimeja bundar, strategi licik, itulah bisnis


Apa yang harus ia lakukan sekarang, pertanyaan April menggema hebat ditelinganya "kau ingin meninggalkanku?"


Albert yang duduk disofa dan kedua boydigarnya berdiri dibelakang sofa terdiam menatap Askaf yang menggila hingga ambruk dilantai, Albert tahu jelas sifat Askaf, ia yang menemani Askaf selama tiga tahun saat kepindahannya ke Indonesia hingga ia ditarik kembali ke Amerika dan tidak pernah lagi bertemu Askaf


"Apa yang harus kulakukan?" ia tidak sanggup meninggalkan April dan yang lainnya tapi ia juga tidak bisa mengabaikan Ayahnya, Askaf ingin membantah kabar burung yang mengatakan bahwa April adalah satu satu emosi yang Askaf miliki, nyatanya Askaf kalang kabut saat mendengar kondisi ayahnya


"Tuan"


"Diamlah, biarkan aku berfikir" Askaf menjatuhkan kepalanya di sofa, sekelebat bayangan April memenuhi fikirannya,


*di umurnya yang hampir 10 tahun, senyuman gadis kecil menghangatkanya, dia selalu bersama dua temannya yang ia kenal Dinda dan Dava, pria yang selalu berisik dan selalu mengganggu Askaf, di 16 Desember senja tampak indah, Askaf duduk disatu taman yang cukup sepi dengan bukunya, ia membaca kalimat "senja terlihat indah karna pada saat itu malaikat memancarkan cahaya disayapnya" tiba tiba saja gadis kecil yang lebih pendek darinya terjatuh tidak jauh darinya, Askaf tahu gadis itu, dia gadis yang selalu bersama Dava, namanya April teman sekelasnya, gadis kecil yang selalu menarik perhatiannya


Askaf berlari dan membantunya berdiri, tawa garing April benar benar menghipnotis Askaf "kau malaikatku" April mebulatkan matanya mendengar penuturan tiba tiba dari Askaf


"eh tidak tidak, aku bukan malaikat"

__ADS_1


"tapi kau memiliki sayap"


"tidak ini bukan sayap asli, ini hanya kostum"


"meskipun begitu kau tetap malaikatku"


"Heh?"


"Apriiillll" April berbalik melihat Gisel dan Elang yang menggendong Dinda berjalan kearahnya


Tanpa mengucapkan apapun dan tanpa diketahui April, Askaf pergi meninggalkan April yang antusias menunggu kedua orang tua Dinda berjalan kearahnya


"Askaf" Askaf berbalik saat mendengar namanya dipanggil, ia melihat April tersenyum manis kearahnya "aku bukan malaikatmu tapi aku akan bersamamu selamanya, namaku April kita sekelas kan?" April tersenyum lagi dan berlari meninggalkan Askaf mendatangi Gisel yang merentangkan tangan kearahnya


Sejak saat itu Askaf telah mengklaim April sebagai miliknya, mungkin masi tabu bagi anak seumurannya tapi tidak bagi Askaf*


Askaf meraih ponsel di nakas kamarnya, wallpaper gadis cantik yang tersenyum manis terpanpang disana, dengan ragu Askaf menelfon gadis yang ada di Wallpapernya


"halo" suara halus menyapa Askaf membuat hatinya kian meremuk, Askaf melirik jam dinakasnya, belum larut untuk mengganggu tidur April


"sayang"


"hmmmm"


"sayang"


"iya kenapa, nelfon malam malam gini?" Askaf menelan salivanya yang serasa seperti gumpalan batu


"kau baru saja mengantarku beberapa jam yang lalu" kekehan April lagi lagi membuat Askaf merasa menjadi pria paling brengsek didunia


"tapi aku merindukanmu"


Baik Askaf maupun April, keduanya terdiam, April tahu ada yang aneh dari Askaf, pria itu tidak akan menelfonnya jika hanya untuk basa basi, dan Askaf terdiam menetralkan jantungnya yang memacu dan hatinya yang remuk


"kamu udah makan?"


"udah" Askaf menjawab cepat membuat April semakin memperkuat dugaannya


"ada apa? Katakan padaku, aku tahu kamu ingin bicara sesuatu" April mencoba membujuk Askaf


"aku terdengar seperti itu?" tanya Askaf


"yah aku tahu semua tentangmu" jawab April, Askaf tediam cukup lama hingga akhirnya membuka suara yang berubah bergetar


"aku ingin pergi bersamamu, aku ingin terawa dan menangis bersamamu, aku ingin mencintaimu seumur hidupku, aku ingin menghabiskan hidupku denganmu, Aku- Aku, maafkan aku-" Suara Askaf bergetar, April menyadarinya namun gadis itu diam


"April aku mencintaimu, sangat. Aku mencintaimu sayang, aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu" Askaf merosotkan tubuhnya disisi kasurnya, tangis yang ia tahan sejak tadi menjadi isakan isakan yang memilukan

__ADS_1


"April dengarkan aku sayang, aku sangat mencintaimu, sangat" Askaf memijat kepalanya merasakan denyut dikepala dan hatinya, April masih diam mendengar Askaf yang menangis, bukan ia tega tapi April dapat menangkap arah ucapan Askaf, ia juga menangis ia juga hancur tapi ia tidak ingin Askaf semakin tersiksa jika mendengarnya menangis


"Maafkan aku" Lirih Askaf


"Aku juga mencintaimu" jawab April


April meringkuk dipelukan Dinda, sekuat tenaga menahan isakannya mendengar Askaf yang menangis, ketiga sahabatnya menemani April di Flat, mereka telah mendengar kabar dari April


Ogi menyenderkan kepalanya dijendela kamar Askaf menyembunyikan tangisnya, ia ingin mengamuk tapi ia tidak ingin membuat suasan semakin ruwet, berkali kali Ogi meninju dinding melampiskan perasaannya yang hancur, bukan hanya Ogi, Dava pria cerewet itupun menenggelamkan kepalanya dilipatan tangannya untuk menyembunyikan air mata yang menjadi tanda dirinya tidak baik-baik saja


"sayang" suara Askaf kembali terdengar, suaranya yang serak ringan menjadi parau akibat tangisannya


"kenapa kamu diam? Kamu membenciku?" lanjut Askaf


April menggigit bibirnya untuk meredam isakannya "tidak, aku ingin mendengar nafasmu, aku ingin mendengar suaramu" Dinda melepas pelukannya berdiri berniat meninggalkan kamar tapi ditahan oleh Ogi, Dinda sudah tidak tahan lagi melihat April yang berusaha tegar


"aku merindukanmu, besok aku jemput disekolah yah" April tidak menjawab dia tidak ingin menjanjikan pada Askaf bahwa ia bisa bertemu dengannya, ia takut tidak akan melepaskan Askaf


"kapan kamu mengunjungi ayahmu" alih April


"Besok malam"


"kamu mau habiskan malam ini denganku?" Dava mengepalkan tangannya saat Askaf mematikan sambungan telfon secara sepihak


Dava ingin marah tapi bagaimana caranya, dia tidak mengerti dunia bisnis seperti apa, jika Askaf telah memutuskan jalan ini pasti pria itu sudah memikirkan matang matang, dan pasti ada alasan mengapa ia harus pergi, dan mengapa ia tidak mengajak setidaknya April di sisinya


April yang awalnya duduk berbaring di sofa menumpahkan tangisnya yang sedari tadi ia tahan, sakit, sangat! Ia tidak bisa mendeskripsikan perasaannya sendiri


"AAAAAAKKKHHHHHHHH" April memekik sangat keras, hingga membuat Dava melompat dari posisinya mendekati April. Dinda menenggelamkan wajahnya di dada Dava, menangis bersama pria itu, mereka juga merasakan sesak yang sama, ini saja menyiksa bagaimana dengan April?


"Kenapa? Kenapa disini rasanya sakit sekali, aku tidak bisa bernafas" April memukul dadanya yang seperti di remukkan, ia berteriak mencoba menghapus rasa sakit yang pertama kali ia rasakan, Dava menarik April kepelukannya


"Dava dada gue sakit Dav" April terus memukul dadanya, tak ada jawaban dari Dava, pria itu juga merasakannya


"Gue kenapa?" April *** kemeja Dava untuk melampiaskan sakitnya


"Astaga April, Dinda ambilin selimut, tubuh April dingin banget" seketika semuanya panik saat Dava sadar kondisi April yang melemah


Dinda mengambil selimut dan menyelimuti April yang masih dipelukan Dava


Braaakkk


Keempatnya menatap kearah pintu yang baru saja didobrak, Askaf bediri di sana dengan keadaan paling kacau yang pernah mereka lihat, Askaf menatap kearah April yang dipelukan Dava, dengan langkah cepat Askaf mendekati sahabatnya


"Sayang kamu kenapa?" Askaf panik melihat wajah April yang pucat tubuhnya yang menggigil dipelukan Dava


"Askaf" April berucap lirih dan menyentuh pipi Askaf

__ADS_1


"iya sayang ini aku" April tidak bisa menahan tangisnya seperti tadi, melihat Askaf secara langsung benar benar menghancurkan hatinya


tbc


__ADS_2