My Bestfriend My Enemy

My Bestfriend My Enemy
Genap? Harusnya Ganjil


__ADS_3

April menghentakkan kakinya kesal, bagaimana tidak sejak ia menginjak parkiran sekolah, Gabriel, pria itu selalu mengikutinya kamanapun, ditambah Dava teman kelas yang selalu menempel padanya itu menghilang entah kemana, dan Ogi, manusia mogi mogi yang terlalu pintar bagaikan kereta api yang melesat secepat kilat keperpustakaan


"Ngapain sih lo ngikutin gue mulu"


"cuman jalanin tugas gue"


"lo pikir gue anak emak ayam lu yang diikutin mulu" Gabriel mengangkat bahunya acuh, baginya apapun yang dikatakan April bukan hal yang penting, cukup menjalankan tugasnya dan mendapatkan uang, sudah cukup baginya


April mengerutkan keningnya saat melihat keramaian dikelas seberang tepatnya IPS 1, ia melirik jam yangelingkar ditangannya, masih 5 menit sebelum jam pelajaran dimulai, rasa penasaran menariknya menuju keramaian itu


"Ada apa?" tanya April pada salah satu murid cowok yang ada dikerumunan itu


"cewek pindahan"


"Dari mana?"


"Luar negeri katanya, tapi gak bule bule amat"


April mengangkat kedua alisnya tertarik, ia menerobos kerumunan dan mengintip dijendela, gadis bertubuh tinggi berdiri disana, April mengakui kecantikan gadis itu, kulit putih, kaki yang jenjang, matanya yang agak sipit dan bulu mata yang lentik. April melirik Askaf yang berada di sudut kelas bersama Dinda, sedikit tersenyum saat melihat pria itu lebih fokus pada buku didepannya daripada gadis cantik yang sedang berdiri di depan sana, berbeda dengan Dinda yang memperhatikan gadis itu dari bawah hingga keatas seakan mengabsen satu satu organ tubuh gadis itu


Merasa tubuhnya yang ditarik keras, April memekik karena keseimbangan tubuhnya yang goyah, ditarik secara tiba-tiba mebuatnya kesulitan mengambil langkah dengan baik, April terjatuh tepat didepan pintu dan menarik perhatian sesisi ruangan kelas IPS 1 dan para pengintip dijendelanya


Gelak tawa dan siulan menjadi satu, rok April yang diatas lulut sedikit tersingkap, membuat siswa yang melihatnya bersiulan dan tertawa. malu, sangat malu.!!


"Apa apaan sih lo *** main tarik tarik" April berteriak dan menatap seakan membunuh Gabriel yang masih memasang wajah temboknya, Askaf yang mendengar suara April menengok dan mendapati gadis itu terduduk dilantai didepan pintu kelasnya, Dinda berdiri dan membiarkan Askaf keluar dari bangkunya, ia sama kagetnya saat melihat sahabatnya tibatiba terjatuh didepan pintu


"sekarang udah jam pelajaran"


"bukan urusan lo"


Askaf menarik tangan April berdiri dan menatap April dengan kening berkerut, April yang tahu maksudnya mengangguk seakan berkata kalau dia baik baik saja


"Askaf kembali ketempat dudukmu" Askaf menatap datar Gabriel yang juga menatapnya kemudian berbalik masuk kekelas dan duduk di bangkunya


"jangan ikutin gue" April menunjuk tepat di depan hidung Gabriel dan meninggalkan tempat dan orang laknat itu, pagi ini ia benar benar malu


Gabriel menatap kepergian April lalu melihat Askaf didalam kelasnya menatapnya dengan dingin, kemudian menatap siswi baru yang masih berdiri didepan, padangannya tanpa ekspresi tapi gadis itu tersenyum kecil melihat Gabriel


******


Ogi dan Dava memandang iba phonsel hitam yang sedetik yang lalu banting pemiliknya dimeja "lo kenapa sih Kaf?" Dinda angkat bicara mewakili temam temannya yang sama bingungnya, menghela nafas Askaf memandang April yang berjalan kearahnya dengan wajah masam, entah apa yang merasuki kedua sejoli ini


"kenapa pula kau tuan putri" April duduk dengan kesal didekat Dinda, menghiraukan pertanyaan Dava dengan logat bataknya


Ogi menatap Askaf dan April bergantian, mencoba mencari petunjuk untuk memecahkan petanyaan yang mengambang diudara


"Gue risih, Gabriel ngikutin gue mulu, sampe di WC masa" Askaf menatap April yang berbalik melihat Gabriel yang kini duduk dimeja belakang


"Holang kaya mah bebas, ke WC aja pake boydigard"


"Gak bisa mesum mesuman lagi dah" bersamaan dengan kata terakhir Dava, Dinda melayangkan sendok dan mendarat dengan mulus dikening Dava


"sakit sayang, KDRT mulu" Dava mengusap keningnya, Ogi sempat meringis saat mendengar bunyi sendok yang beradu dengan kening Dava


"lagian mulut lo kalo ngomong di saring ogeb" April menatap horror pada Dava sekilas melirik Askaf yang entah sejak kapan tenggelam didunia buku, demi tuhan melihat sampul bukunya saja April merasa kehilangan pijakan "Kutu" Batinnya


"pulang nanti gue gak balik ke flat, bokap nyokap gue ngamuk gegara gak nemuin gue pas mereka balik" Dinda berucap seraya mengaduk jus jeruk milik Dava


"gue ikut yang, udah lama gak ketemu mertua"

__ADS_1


"bukannya nanti ada rapat OSIS?"


"gapapa gue kangen sama mertua, biar si Askaf yang wakilin gue" serentak mereka memandang Askaf yang baru saja menutup bukunya, Askaf menatap datar keempat sahabatnya secara bergantian, ia mengangkat alisnya seolah mengatakan "Apa?"


"Dava gak ikut rapat OSIS lo yang wakilin" Ogi yang lebih dulu peka dengan tatapan Askaf menjawab pertanyaan isyarat pria itu


Tanpa meminta penjelasan Askaf mengangguk menyetujuinya, ia terlalu fokus dengan buku yang ia baca, sedikitpun obrolan sahabatnya tidak tersave di otaknya, lagipula ini bukan kali pertama Askaf mewakili wakil ketua OSIS itu.


"kamu gak ikut?" meski tahu jawaban Askaf, April tetap bertanya pendapat Askaf, manusia monoton ini tidak akan meninggalkan tanggung jawabnya jika bukan hal yang mendesak, bahkan selama ini ia tidak pernah lari dari hal yang berbau tanggung jawab OSIS


"kemana?"


"kerumahnya Dinda, Mama sama Papa udah pulang dari Singapore"


"aku harus rapat" April mengangguk dan berbalik melihat Gabriel yang masih setia duduk dibelakangnya


******


"kaki empat?"


"enggak enggak"


"lucu lucu?"


"ya iya!!"


"manis?"


"iya iya"


"galak?"


"Canttikk?"


"iya iya"


"DINDAAA"


PLAAKKKK


Ogi melempar sendal rumahan Dinda yang dengan mulus mendarat dihidung Dava, mereka sedang menirukan permainan yang ada disalah satu siaran TV diindonesia, jawaban yang seharusnya adalah burung merak tapi dengan seenak jidatnya Dava menjawab Dinda


"sakit Ogeb" Dava mengelus hidungnya yang malang


"itu biar otak lu waras lagi" kesal Ogi, Dava yang duduk diatas sofa meloncat melewati meja kecil yang membatasi dirinya dan Ogi yang duduk melantai dan menubruk pria itu hingga berbaring diatas lantai


April menggeleng melihat kedua sahabatnya yang bergulat dilantai, ia meletakkan napan diatas meja dan melangkah menuju kamar Dinda


"mama kemana?" April menjatuhkan tubuhnya di kasur single milik Dinda, Dinda memiliki kebiasaan tidur sendiri, dia bahkan tidak bisa memejamkan mata saat seseorang tidur disampingnya malam hari, sekalipun berhasil ia akan terbangun tengah malam karena alam bawah sadarnya yang mungkin merasa risih


"belanja, bentar lagi balik"


"AYANG BEBEB ABANG TOYIB DIMESUMIN MAHO BELANDA"


April meringis mendengar pekikan Dava menggema


"SINI LO KANCUK BANCI"


"APAAN LO PEGANG PEGANG MAHO"

__ADS_1


"RASAIN NIH RASAIN"


"KETEKLU BAU KENCUR ANYING, LEPASIN GUEEE...!! AYANG DINDA PANGERANLU DIKETEKIN"


Dinda memutar kedua bola matanya melihat dua sejoli yang masih setia bergulat diruang tamunya, matanya teralih saat melihat kedua orang tuanya berdiri disisi pintu utama menggelengkan kepala melihat kedua sahabat anaknya


"Ogi lepasin Dava, gak baik ketekin orang, nanti dia tambah masem" ayah Dinda berucap seraya berjalan kesofa dekat ring gaib pergulatan Dava dan Ogi


"eh papa" Ogi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, mereka terlalu asik dengan adegan jepit jepitannya dengan Dava hingga tidak menyadari kehadiran orang lain


"ini ngebelain atau ikutan ngebully sih pa?" Dava menyugar rambutnya yang berantakan dengan kesal namun lembut "Rambut cetar gue, maafin papa sayang" sesal Dava


"dua duanya mungkin" Elang -ayah Dinda- mengangkat bahu acuh dan mengambil jus jeruk yang diletakkan April di meja dan menyerumputnya


"mama bawain ole-oleh dari singapore, bentar mama ambilin" setelah menyimpan barang belanjaan Gisel -mama Dinda- melangkah kekamarnya untuk mengambil buah tangan untuk Dinda dan yang lainnya


Dinda memeluk leher Elang dari belakang dan mengecup pipi pria parubaya itu "Dinda kangen papa"


"papa juga kangen sama kalian" Elang mengecup pipi Dinda dan mengelus kepala April yang duduk disampingnya


"jadi kita enggak nih pah?" tanya Dava


"ih amit amitlah kangen sama elu" sahut Ogi sinis


"gue gak nanya elu bajigong"


"gue juga gak bilang sama lu ferguso"


"tapi lo ngelirik gue kakek cangkul"


"lo yang merasa dilirik sundel bolong"


"eh anjer gak ada sundel bolong cowok"


"udah udah, sejam aja gak berantem bisa gak sih" Gisel meletakkan lima paper bag di meja dan mencoba melerai keduanya


"maaf mama cantikku" serentak Dava dan Ogi, terkadang Gisel heran dengan kedua sahabat anaknya yang sudah ia anggap anak ini, mengapa mereka selalu saja bertengkar karena berbeda pendapat padahal disatu sisi mereka sangat kompak


April berdiri dan memeluk Gisel "Aku kangen mama"


"kangen kok kemarin gak kesini" April terkekeh tidak berusaha menjawab pertanyaan Gisel, Dinda yang tadinya memeluk Elang mendekati Gisel dan ikut memeluk wanita itu


"Askaf mana?" tanya Elang melihat agensi anak anaknya yang genap


"Biasa pah, orang sibuk" jawab Ogi sekenanya


******


"sekarang dia sendiri"


Pria itu menutup telfonnya dan tersenyum sinis melihat Askaf yang berjalan kearah parkiran, beberapa menit yang lalu ia menghadiri rapat OSIS dan mendapat panggilan dari Elang untuk menemuinya dirumahnya


"ikutin dia"


Ucap pria tadi saat melihat Askaf memacu motornya meninggalkan pekarangan sekolahnya


"kali ini kupastikan kau tidak mendapatkan cela"


Tbc

__ADS_1


__ADS_2