My Bestfriend My Enemy

My Bestfriend My Enemy
Kuku-Kuku Dava


__ADS_3

"Tapi-" ucapan April terpotong oleh Dinda yang tiba tiba menyahut "Biar gue yang ikut" Askaf tahu kekhawatiran sahabatnya, tapi ia tidak ingin melibatkan orang lain, karena ia sendiripun tidak yakin dengan dirinya sendiri


"Gak, biar gue aja, Ogi mending lo jaga April sama istri gue" Ogi memutar matanya jengkel, istri haha ditolak aja 44x batin Ogi tertawa sinis


"pokoknya gue! lo mau Askaf nabrak pembatas jalan karna ocehan kecebong ini? Dan gue gak bakalan biarin Ogi ngikut Askaf, April yang sangat rentan disini, ini markas Roy dan semua orang tahu kelemahan Askaf itu April, jadi Roy sama Dava jagain April, gue yang ikut sama Askaf" putus Dinda dan diangguki Ogi dan Dava, ucapan Dinda ada benarnya, bahkan sangat berpeluang besar terjadi


"tapi lo gak harus ikut"


"kalo gue ikut kemungkinan gue bisa bantu lo, tapi kalo gue tinggal disini bisa jadi beban buat Ogi dan Dava saat terjadi sesuatu" Ucap Dinda dan menatap Askaf


"Lo-" ucapan Dava terpotong lagi, dan membuatnya ingin menghilang saja di dunia ini,Lebay


"Gue ikut atau Askaf gak tanding sama sekali" Dinda berang sekarang


Askaf memandang Dinda sebentar kemudian melihat April yang masih saja setia dengan kekhawatirannya, ia tersenyum dan mengecup pucuk kepala April, membuat Ogi, Dava dan Dinda kaget setengah mati, bukan mereka yang mendapat ciuman tapi mereka yang tegang, aneh


Tidak, bukan, bukan karena itu, tapi senyuman Askaf yang mereka lupa kapan terakhir melihatnya meski tinggal di flat yang sama, berbeda dengan April yang sering melihatnya, bukan karena pria itu jauh dari Ogi, Dava dan Dinda, namun karena Askaf akan menjadi sisi yang lain saat hanya bersama April.


April memegang tangan Askaf yang terlepas dari pipinya kemudian melihat Askaf yang berjalan mendekati Roy dan kawan kawannya yang juga sedang bercengkrama, kemudian di ikuti Dinda yang setengah berlari kecil.


"Jagain April, awas aja kalo lecet, gue sunat lo berdua" Ancam Dinda yang membuat Ogi san Dava merasa ngilu sedangkan April terkikik melihat raut keduanya.


"Kejam banget si lo yang, masa depan kita nih" ucap Dava yang entah masih didengar Dinda atau tidak


-


"Setelah ini lo harus jelasin ke gue, tentang lo dan Rimba" Dinda berucap sambil memasang seltbetnya, gadis itu kemudian menatap Askaf yang duduk disampingnya dan memegang erat stir mobil Roy, tak ada balasan dari Askaf, ia fokus pada gadis berambut pirang yang mengayunkan bendera kota kotak di depan sana, sedikit melirik Roy tersenyum manis di mobil hitamnya.


Gadis itu mengangkat benderanya dan detik selanjutnya merasakan hembusan angin dari mobil di kiri dan kanannya, diikuti sorak dari penonton yang ada di sirkuit itu


Rumput dan dedaunan kering yang berterbangan saat kedua mobil itu melintas seperti melambai pada keduanya, Askaf yang berada tidak jauh dari mobil Roy yang ada didepannya sedikit mengeluarkan raut gelisah


Bayangan kemenangan yang disambut dengan kecelakaan April terputar dikepalanya, ia menggeleng dan memasukkan gigi selanjutnya mulai mendekati mobil hitam yang dengan gagahnya melaju tanpa ampun


"Kaf, lo bisa" Sahut Dinda pelan saat menyadari air muka Askaf.


Saat mobil keduanya bersisihan, Roy tersenyum mengejek pada Askaf yang juga meliriknya, kemudian mobil itu meleset lebih cepat dan meninggalkan Askaf yang semakin pucat saat menabrak tiang pembatas jika saja dia telat membanting stir dan membelokkan mobilnya ditikungan tajam yang menghasilkan decitan ban yang beradu dengan aspal.


Dinda menghela nafas, hampir saja jantungnya meloncat dari tempatnya, dia ingin protes tapi menurutnya ini bukan waktu yang tepat saat melihat Askaf yang kembali menancap gasnya dan memukul stir mobilnya dengan emosi

__ADS_1


Sorak penonton kembali menggema saat melihat mobil hitam yang melaju melewati mereka dengan mobil putih yang tidak jauh dibelakang. Namun beda halnya dengan April, gadis itu memeluk lengan Ogi saat melihat mobil itu melintasinya dan memacu untuk putaran kedua.


"Gi, mereka baik baik saja kan?" lirih April, sungguh bukan kemenangan yang diinginkan April tapi kedua sahabatnya yang ada di mobil putih itu


Ogi mengusap bahu April, kekhawatiran yang dirasakan April sama dengannya "Pasti, mereka akan baik baik saja" meski ragu tapi pria itu menenangkan April


Bugh!!


April memekik saat meilhat Dava yang terhempas ketanah memegangi sudut bibirnya yang berdarah, Ogi meilhat empat orang yang diyakini adalah orangnya Roy berdiri angkuh dan terkekeh melihat Dava


"Woy apaan sih lo Banci? Main nyerang dari belakang, gue gak maho yah" Ringis Dava yang masih dengan nada bercandanya yang membuat keempatnya menatap jijik pada pria itu


"sabun Dove lo gak apa apa?" tanya Ogi saat ia dan April menghampiri pria yang sudah bangkit jatuh tak elitnya itu


"gak apa apa. Lecet dikit paling" jawab Dava


"Kalian mau apa?" tanya April menatap keempat pria yang sekarang tersenyum sinis kearahnya


"mau nyulik lo" jawab salah satunya dengan enteng


"nyulik kok bilang bilang, itu bukan nyulik namanya maho" sindir Dava


Ketiga temannya tadi hendak menyerang Ogi dan Dava, bersamaan jiwa bar bar April yang muncul dipermukaan dan membantu Ogi yang melawan 2 orang sekaligus. Semanja manjanya April dia bukan gadis lemah, meski tidak mengikuti pelatihan bela diri secara resmi tapi ia memiliki Askaf yang ahli dalam segala bidang, dan tentu saja hasil pemaksaan Askaf sangat dibutuhkan April, meski dulu berkali kali menolak


Dava menjatuhkan satu lawannya dan memutar tubuhnya dan menendang pria dibelakangnya yang siap menghantam punggung Dava dan terpental cukup jauh


"Anjir, sepatu gue baru dicuci semir tadi pagi udah nginjak orang aja" Dava memelas melihat sepatunya yang kini kecoklatan karena debu.


April menendang perut pria yang sedikit lebih tinggi darinya hingga mundur beberapa langkah, tak puas dengan itu, ia kembali meninjunya berkali kali dan kembali menendangnya menjauh


"Samphoo Dave" teriak April


Dava berbalik dan mendapati pria yang ditendang April terpental kearahnya dan dengan sigap pria itu menumbangkannya dengan satu kali pukulan


"kuku kuku gue!! baru kesalon kemarin!" pekik Dava bersamaan dengan pria yang mendarat ditanah dengan tidak mulus, April memutar bola matanya dengan pekikan sahabatnya itu


Ia berbalik dan melihat Ogi yang berdiri di depan pria yang ia tumbangkan, kemudian melihat kerumunan orang orang yang menontonnya saja tanpa berniat membantu


"Roy" Geram April

__ADS_1


-


"Roy" geram Askaf, emosi pria itu tiba tiba diambang batas kesabaran, melihat itu Roy terkekeh, kedua mobil itu beriringan hingga memudahkan askes bagi Roy untuk mengungkapakan yang terjadi di garis Finish sekarang.


Bukan hanya Askaf, Dinda terdiam mencoba menahan emosi yang siap meledak saat mendengar bahwa ketiga temannya masuk dalam jebakannya.


"Mungkin aja dia baik baik saja atau sebaliknya" ucap Roy terkekeh, Askaf mencengkram kuat stir mobilnya hingga buku buku tangannya memutih


Dengan cepat kilat Askaf menaikkan gigi mobilnya dan menancap gas tanpa berfikir, melesat meninggalkan Roy yang tertawa terbahak bahak dimobilnya.


Rasa takut bercampur khawatir menyelimuti Dinda yang melihat wajah Askaf yang lain, matanya memerah dan bibirnya terkatup rapat, Dinda memegang tangan Askaf yang memegang stir mobil dengan kuat, mencoba menenangkan pria itu meski dalam benaknya juga takut dan khawatir


"Tenang Kaf, gue yakin mereka baik baik saja" meski tidak banyak setidaknya cengkraman tangan Askaf pada stir mobilnya sedikit mengendur, Askaf melirik kaca spion tengah dan tidak mendapati mobil Roy dibelakangnya, sialan dia dijebak


Askaf balik menggenggam tangan dinda, sungguh dia menyesal meninggalkan April, tapi dia juga tidak bisa membahayakan nyawanya dan Dinda, bukan karena takut, siapa yang akan menyelamatkan jika terjadi apa apa pada April disana.


Meski dalam mode cepat, Askaf mengendarai mobilnya dengan satu tangannya mengenggam Dinda, sedangkan gadis itu menatap teduh pria yang sangat mencintai sahabatnya itu.


Tak ada sorak yang menyambut kemenangan Askaf, semuanya teralihkan pada keempat pria yang sedang berbaring ditanah menahan sakit di bagian tubuh tertentu


Decitan ban yang mengalun menarik perhatian April dan mendapatakan Askaf yang turun dari mobil tergesa gesa, April mendekati pria itu dan memeluknya erat. Ia merasakan tubuh pria itu bergetar, ia tahu Askaf menahan emosinya


"Sayang, kamu gak apa apa kan?" Askaf melepas pelukannya dan memeriksa tubuh April, tidak parah namun warna ungu di pipi April membuat Askaf ingin membakar seluruh penghuni sirkuit


"Aku gak apa apa, ini masih luka kecil" April terkekeh saat tangan Askaf mengelus pipi lebamnya, sakit memang tapi meringis bukan pilihan yang tepat saat ini, Askaf memandang gadis yang tersenyum manis itu dan memeluknya lagi dengan erat


"Maaf" ucap Askaf


April terkekeh lagi "ini bukan apa apa Kaf, kamu lihat Dava" Askaf melepas pelukannya dan mencari Dava


Pria itu ternyata berada di belakangnya, bersama Dinda, "Yang sakit parah" ucap Dava dengan ekspresi di buat buatnya, bukannya kasihan Dinda menjitak kepala Dava pelan


"Awssh belum nikah aja udah KDRT lo yang" ringis Dava, memang diantara mereka bertiga Dava yang mendapat lebam terbanyak, pipi, sudut bibir dan matanya, berbeda dengan Ogi yang sama sekali tidak memiliki luka lebam.


"Lo gak apa apa gi?" tanya Dinda dan mendapatkan anggukan mantap dari Ogi


Dava berdecih "si Ogi aja yang diperhatiin, hellow yang disini juga butuh belaian kale" sinis Dava


Tanpa memperdulikan Dava, Dinda berdiri kearah April, memastikan gadis itu baik baik saja, "Astaga Prill, pipi lo" April tersenyum pada Dinda, ia melepas kedua tangan gadis itu dari pipinya dan menggenggamnya "Gue baik baik aja" jawabnya teduh.

__ADS_1


Tepuk tangan yang menggema dan tawa seorang pria menjadi pusat perhatian semua orang, Ogi berdecih, bahkan hanya tepuk tangan saja mereka sudah tertarik, lalu bagaimana adegan tadi, tak ada satupun yang membantu.


__ADS_2