My Bestfriend My Enemy

My Bestfriend My Enemy
Posessif


__ADS_3

"lelahnyaaa" Dava menjatuhkan tubuhnya di sofa rumah Dinda seraya merentangkan tulang tulangnya terasa remuk, diikuti Ogi dengan wajah lesunya


"gak sia-sia kita belajar bela diri tiap hari Dav" ucap Ogi dan menenggelamkan wajahnya dibantal sofa


"saat sebayanya kita banyakan main, kita cari mati" Dava menerawang masa kecilnya yang beberapa kali memdapat prank dari malaikat maut karena mengikuti bela diri extrem


"hmmm" Ogi berguman lelah


"si Askaf mah enak pulang pulang dikelonin" Dava terkekeh saat melihat Askaf yang berjalan kearah kamar Dinda


Askaf mengetuk kamar Dinda, menunggu sebentar sebelum sang empu membuka pintu yang sesungguhnya ingin Askaf hancurkan karena tidak sabar


"Askaf, syukur lo baik baik aja, lo hutang penjelasan sama kita" Dinda tersenyum meski hatinya remuk, ia tidak bisa tenang melewati waktu saat pencarian Askaf, ia ingin marah tapi melihat raut wajah Askaf yang sepertinya menahan sesuatu membuat Dinda menghilangkan niatnya


Askaf mengangguk "April?"


"Dia masih dalam pengaruh bius mungkin bangun beberapa jam kedepan" Lagi lagi Askaf hanya mengangguk "Ogi sama Dava kayaknya babak belur" ucap Askaf dan dimengerti oleh Dinda


Dinda berjalan meninggalkan Askaf yang masuk kekamarnya menemui April yang masih dalam keadaan terbius, ia melihat kedua sahabatnya yang beristirahat di sofa membuat ia merasa kasihan sekaligus ingin tertawa, Ogi yang tidur tengkurap disofa dan Dava yang telentang dengan kepala yang menggantung di pinggiran sofa


Lebam di wajah Dava mulai membiru, disudut bibir dan matanya, Dinda berdigik ngeri baru kemarin mereka mendapat lebam sekarang seakan lebam itu semakin banyak


"Astaga Dava" pekik Gisel saat melintas melewati ruang tamu bersama sang suami


"Apasih Mah teriak teriak" tegur Elang


"Dava Pah" Gisel menunjuk kearah Dava yang berbaring terlentang, Elang menyerit memperhatikan wajah Dava lebamnya bertambah, ia sempat melihat lebam tadi pagi tapi tidak sebanyak sekarang


"Kenapa Dind?" Dinda mengangkat bahunya berpura pura tidak tahu saat Elang dan Gisel menatap kearahnya bertanya


"Biasa Pah anak cowok"


"tapi gak boleh sering sering juga sayang, udah gih papa mau jalan kamu obati dulu" Elang mencium kening anaknya


"Hmmmm" Dinda menganggu "Papa hati-hati"


"kasi tahu yang lain, nginep disini aja, nanti malam mama pualang bawa makan malam, biar kita makan bereng"


"iya mah"


****

__ADS_1


Secara perlahan mata dengan bulu mata lentik itu tebuka, April kaget saat keasadaraanya kembali, ia ingin bangkit tapi tubuhnya kehilangan kekuatannya, bahkan untuk mengangkat tangannya saja sedikit sulit, kepalanya terasa pusing sekelebat bayangan yang ia ingat adalah pengakuan Dinda bahwa Askaf diculik dan terakhir saat ia merasa lemah dan tidak sadarkan diri


Dengan sisa tenaganya, April meraih guling dan memeluknya erat, ia menyembunyikan wajahnya di batalan untuk meredam tangisnya, ia benci dirinya yang tidak bisa apa-apa ia benci dirinya yang lemah


"Askaf" April berguman perih dalam tangisnya, suaranya bergetar hebat "Askaf" ia benci saat ia tidak bisa menolong nya "As-kaaf" April *** bantal dengan kuat, ia benci menangis tapi ia tidak bisa berhenti menangis


"Askaf hikss"


Pria yang sedari tadi duduk di kursi belajar Dinda berjalan mendekati April yang memunggunginya, ia mendengar lirihan lirihan April tapi ia masih memikirkan banyak hal salah satunya bagaimana kedepannya ia dan April saat ia sudah tahu kondisi ayah dan perusahaan yang tidak mungkin Askaf abaikan terlebih perusahaan yang telah dibangun setengah mati oleh ayahnya.


Askaf duduk disisi ranjang dan menunduk untuk memeluk April yang tidak mengetahui keberadaannya, Askaf memegang tangan April yang *** bantal dan mencium pipi gadis itu yang tertutupi oleh rambutnya yang berantakan


April semakin terisak saat mengetahui siapa yang memeluknya dengan erat, bau khas Askaf menusuk hidungnya, ia bahagia mengetahui Askafnya kembali tapi ia belum bisa meredakan ketakutan didirinya


Diam....


Isakan April memenuhi ruang kamar Dinda, tidak ada yang berubah dari posisi mereka, Askaf yang masih setia memeluk April dengan diam, dan April yang masih menetralkan perasaannya mencoba menekan tangisnya yang tak kunjung berhenti


"Maaf, maafkan aku" Bisik Askaf, April menepis tangan Askaf dan bangun dari tidurnya memeluk Askaf dengan erat, Askaf membalas pelukan April, mengusap punggung gadis itu untuk menenangkannya, meski tidak sekeras tadi tapi getaran gadis itu masih cukup hebat


"Lihat aku, aku disini, kamu tenang yah" Askaf mengangkat wajah April dan merapikan anak rambut yang menutupi wajahnya yang berantakan


Mata sembabnya yang di genangi air, hidung yang memerah, bercak air mata yang tidak teratur dipipinya, Askaf ingin marah tapi ia juga sedih melihat April yang seperti ini, Askaf mencium kening April dan kembali memeluknya


"sayang kamu ngomong apa sih?"


"Aku takut saat aku bangun kamu gak ada disini"


"Aku disini sayang"


"Aku takut-hiks Aku takut, aku tidak bisa bantu kamu, aku takut kenapa kenapa, Askaf aku takut" April *** kaos putih Askaf, kemeja sekolahnya kotor akibat perkelahiannya tadi


"tapi sekarang aku ada disini, jadi gak ada yang perlu ditakuti" Askaf memegang kedua pipi April menatap dalam manik mata yang digenangi air mata itu


"jangan ulangi lagi" April ingin mengamuk, ia ingin memukul Askaf hingga babak belur, ia ingin menceramahi pria itu, tapi efek bius yang Dinda gunakan benar benar menguras tenaganya


Askaf tersenyum gemas meski dalam hatinya ia merasa bersalah telah membuat semuanya khawatir, Askaf mendekatkan wajahnya dan mencium melumat bibir April yang terlihat merekah karena tangisnya, April tidak menolak, Askaf melepaskan ciumannya beberapa detik setelahnya merasakan tidak ada pergerakan dari April


Gadis yang baru saja meraung seperti bayi kini tertidur, Askaf tersenyum kecil membaringkan April dengan pelan kemudian ikut berbaring di kasur berukuran single itu, untuk sebentar saja ia ingin beristirahat sebelum kembali memikirkan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan


Dinda menutup pintu kamarnya dengan pelan saat Askaf berbaring memeluk April, ia menghapus Air matanya pelan dan melihat Ogi yang menyender di sampingnya

__ADS_1


"Gue gak bisa bayangin kalo gue diposisinya Askaf" Dinda berjalan kearah sofa diikuti Ogi, saat ia mengobati lebam Ogi, pria itu bangun dari tidurnya, sedikit berbincang tentang masalah tadi, ia menjelaskan semua cerita yang ia dengar di rumah hutan tadi


"gue juga gak nyangka awalnya, tapi Askaf gak bantah perkataan Rimba jadi sepertinya emang benar" Ogi duduk di samping Dinda


"Eh eh Gi, menurut lo keputusan Askaf gimana nanti? Rimba udah ditangkep polisi, Ayah Askaf sedang dirumah sakit dan pewaris satu satunya adalah Askaf, yang lo bilang tadi Askaf bersi keras buat gak tanda tangan, kira kira dia mau balik ke Amerika?" Dinda menyilangkan kakinya dan menatap Ogi yang sedang berfikir


"gue gak yakin Askaf bisa ninggalin April tapi gak mungkin Askaf ninggalin ayahnya"


"emang Askaf bisa ngurus perusahaan ayahnya?"


"yah bisalah, otak Askaf jenius gak kek elu, lo gak mikir gimana Askaf bisa buat pelacak tanam tanpa ketahuan ditubuh kita?" sewot Ogi


"itukan beda, Alat pelacak ini gak ada apa-apanya buat Askaf, ini perusahaan raksasa bukan tugas Fisika, menyangkut ratusan orang, salah dikit aja perusahaan bisa hancur"


"eh bener juga sih, mending kita tunggu keputusan Askaf aja" Dinda mengangguk


"lo istirahat di kamar tamu aja, biar gue yang jagain Dava


Sebulan setelah kejadian penculikan Askaf semuanya kembali normal, awalnya April tidak membiarkan Askaf jauh darinya, ia takut jika Askaf kembali diculik


Meski sudah dijelaskan berkali kali gadis pendek keras kepala itu tidak menerima apapun, bukannya risih Askaf malah menyukainya, yah Askaf, bukan Dava yang merana melihat itu


Askaf juga sudah menjelasakan semuanya pada sahabat-sahabatnya dan mendapat respon positif dari keempatnya, hanya saja Askaf masih belum membuat keputusan secepat ini, dia masih berfikir dan menyerahkan urusan perusahaan pada Albert tangan kanan ayahnya, meski tidak jarang Albert datang keindonesia bertemu Askaf untuk berdiskusi tentang perusahaan, bisa dibilang Askaf menjadi Owner dan Albert yang menjadi Ceo sementara untuk menggantikan sang pewaris


Gabriel, pria yang disewa oleh ayah April ikut menghilang, April sendiri yang mengamuk mendatangi sang ayah dan mengancam untuk mogok sekolah jika masih meminta Gabriel mengikutinya


Tapi tidak sampai disitu kekesalan April, meski tidak terang terangan tapi April ingin membunuh teman kelas pindahan di kelas Dinda yang selalu mencuri pandang dengan Askaf


Dinda menjelaskan pada April bahwa gadis itu tidak memiliki niat tertentu, meski sering melirik Askaf tapi ia tidak pernah mengajak Askaf berbicara, mungkin bukan hanya Askaf yang dilirik begitu.


Dan semenjak itu tingkat posesif April meningkat pesat membuat Askaf terkadang jengah sendiri, merasa lucu, dan gemas sendiri, seperti sekarang April yang sedang melabrak pelayan butik yang terang terangan mendekati Askaf


"Apa? Gue gak butuh diskon, gue kesini untuk membeli baju kalau lagi pengen, bukan karena ada diskon, lo buta? Dia pria untuk apa lo nawarin kedia?" memang butik yang mereka masuki adalah butik yang mengkhususkan pakaian wanita, Askaf menunduk menutup mulutnya berusaha menahan tawanya


"bukan begitu mbak, maksud saya, mbak dibelanjakan pacar mbak, jadi saya tawarkan siapa tahu ada diskon dan membawa mbak kesini lagi" pelayan toko bername tag Nani tergugup saat mendapat bentakan dari gadis yang cukup pendek dibawahnya


"Alasan lo, bilang aja lo kegatelan" Askaf tertawa keras dan menarik tangan April memeluk pingganggnya posesif April bersedekap jengkel


"pulang, gak usah beli disini" kekeh Askaf


"tu-tunggu dulu, Anu maaf soal yang tadi" pelayan tadi mencoba menghentikan Askaf tapi pria itu tiba-tiba mengeluarkan aura digin membuat bulu kudunya meremang

__ADS_1


Dengan sinis April memandang gadis tadi sebelum berjalan keluar bersama Askaf


tbc


__ADS_2