My Bestfriend My Enemy

My Bestfriend My Enemy
Memilih Baik-Baik Saja


__ADS_3

Dinda terdiam melihat April yang masih diam dengan wajah tak terbacanya, gadis itu syok dengan kejadian beberapa waktu yang lalu, saat Askaf menemuinya dan mendeklarasikan kepemilikannya, sebenarnya April sangat senang sebelum seorang gadis cantik menghamipiri dan memeluk Askaf dengan posessif dan memperkenalkan diri sebagai tunangan pria itu


"lo ganti baju dulu, biar gue yang jagain April" Dinda mengangguki ucapan Ogi kemudian berdiri berjalan kearah kamarnya dan April


Apartemen dengan tiga kamar yang dibeli Dava untuk ditempati Ogi sementara saat usahanya mulai bangkit, awalnya ia ingin tinggal bersama Ogi, namun jarak menuju proyek dan perusahaannya cukup jauh akhirnya Dava memilih menyewa Apartemen lain, Apartemen yang cukup luas dengan tiga kamar yang tidak terlalu besar, Dava mengatakan lebih mudah jika April dan Dinda berkunjung dan mendapatakan kamar


"gue di kamar lo yah" Ogi menatap Dinda yang berdiri tidak jauh darinya membawa handuk dan pakaiaan gantinya, pria itu mengangguk mengiyakan saat mengerti Dinda ingin memberi ruang untuk April sendiri, karna siapapun tahu Dinda tidak akan bisa sekamar dengan Sendy


Menghela nafas Ogi mendekat kearah April dan mengelus pucuk kepala gadis yang terdiam itu "Lo mau makan apa? Biar gue pesanin"


"lo belum makan sejak tadi" April menatap Ogi tapi tidak menjawab pertanyaan gadis itu


"lo bisa sakit nanti"


"gue tahu lo sedih tapi please makan yah Ly"


"Gue kekamar yah Gi" tanpa menunggu jawaban Ogi, April berlari kekamarnya


"tunggu" tangan Ogi tertahan saat berniat mengejar April, ia menatap kearah Sendy yang juga menatapnya seraya menggeleng


"dia belum makan Sen" Sendy sangat merasa janggal saat Ogi memanggilnya "Sen" ataupun dengan namanya, baginya panggilan "Bee" sangat berarti untuknya, karena hanya itu yang membedakannya dengan orang lain, meskipun sebenarnya ia adalah pacar Ogi


"biar aku masak buat April, abis itu kamu yang bujuk yah" Ogi tersenyum dan mengangguk mengikuti saran Sendy


Dinda mencuci tangannya dan mulai memotong beberapa tomat untuk membuatkan jus untuk Dava yang beberapa saat yang lalu menelfonnya dan mengatakan akan berkunjung, sebenarnya Dava adalah maniak Jeruk hanya saja stok jeruk telah habis dan Dinda sangat tidak punya nafsu untuk berbelanja ataupun meminta lainnya berbelanja, lagi pula Dava juga menyukai jus tomat sebagai alternative kedua saat tidak menemukan buah bulat kesukaannya itu, katanya jeruk dan tomat mirip, padahal banyak yang lebih mirip dibanding tomat, lihat saja jus ini berwarna jingga tidak kuning seperti jeruk, bodoh


"lo mau?" Dinda menawarkan saat melihat Sendy yang membuka pintu kulkas didekatnya


Sendy menggeleng


"eh lo mau ngapain? Biar gue yang masak" cegah Dinda saat melihat Dendy mengeluarkan sayuran


"lo aja masih sibuk sama tomat, kita belum ada yang makan"


Dinda mencibir


"gue lebih tahu jam makannya sahabat gue"


"emang lapar pake jam? Emang mereka harus nunggu lo dengan waktu makan lo itu baru mereka bisa makan"


"emang enggak, tapi gue tahu waktu makan sahabat gue jam berapa, lo gak usah ikut campur masalah rumah tangga gue"


Sendy sedikit terkejut saat mendengar suara tinggi Dinda, selama ini ia meskipun ia memarahi atau bersikap sinis dengan gadis itu tapi tidak pernah sekalipun ditanggapi serius


"gue buatin April makanan"


Dinda melirik bahan yang Sendy letakkan dipantri "April gak makan udang"


"gue bisa misahin nasi goreng sefood buat Ogi yang biasanya gue kasih ke April" mencoba menutupi kesalahannya

__ADS_1


"gue udah bilang, gak usah ngurusin rumah tangga gue, ini tugas gue, lo cuman orang luar yang gak tahu apapun"


Sendy menatap Dinda nyalang "gue mau masakin buat April sama Ogi bukan rumah tangga lo"


"lo goblok atau pura pura goblok sih? Berapa lama lo pacaran sama Ogi hah? Ogi gak makan nasi!!"


Sendy mematung, hatinya tertampar telak, bahkan hal seperti itu Ogi tidak pernah memberitahunya ah tidak mungkin ia yang tidak memperhatikan kebiasaan Ogi, dan jika diingat memang Ogi tidak pernah memesan berbahan nasi selama mereka pacaran, pacar apa ini?


Cup


"jangan marah marah, tua lo nanti, koper lo mana? Gue mau ambil data yang gue titip kemarin" Dava mencium pipi Dinda dengan gemas, sudah lama ia tidak melihat wajah marah gadis itu, ia mendengar perdebatannya dengan Sendy ia tidak ingin ambil pusing karena Dinda bisa berubah jadi apa saja saat dapurnya di ganggu, April sendiripun hanya bisa membantu sedikit saat Dinda memasak


"dikamar Ogi" Sendy mengepalkan tangannya, ia semakin terasingkan disini, dadanya bergemuruh sakit, ia adalah pacar Ogi tapi menyentuh pintu kamar pria itupun tidak


"dikamar Ogi? Mending ikut Apartemen gue aja kalo lo gak punya kamar Yank"


"gak usah, sementara doang, lo tahu kebiasaan gue kan, Ogi lebih-lebih, lagian biar gue yang jagain April, trus juga di tempat lo sepi kalo lo berangkat kerja"


Dava mengangguk "yah kalo gak ada yang keberatan sih" pria itu melirik Sendy yang memfokuskan dirinya pada sayuran di depannya dan menghiraukan sindiran yang jelas untuknya, sebenarnya ia ingin membalas namun percuma saja, dilihat dari segi manapun Sendy tidak bisa memenangkan perdebatan ini


"gak bakalan! Sana ambil, gue siapin jus tomatnya"


"lah kok tomat sih Yank"


"gak usah bacot, sana!!" Dava terkekeh dan berbalik meninggalkan dapur, namun ia kembali muncul "Sorry Sen, gue saranin jangan ganggu Dinda kalo masalah dapur" kemudian Dava benar benar menghilang


******


Bahkan sekretaris yang menjadi bawahan langsung sang Owner diacuhkan begitu saja meski ia mencoba menyapa gadis begaun hitam pekat itu


"aku tidak ingat kapan membiarkanmu masuk kedalam ruanganku" Askaf berbicara bersamaan dengan Albert yang menundukkan tubuhnya memberi hormat pada Catline- tunangan Askaf


"apa aku perlu menyusun janji dulu? Aku tunanganmu jika kau lupa"


"kau tahu, seharusnya kau melakukannya"


Catline tekekeh "kau bercanda?" Albert membungkuk lagi dan meninggalkan ruangan saat Catline menarik dasi Askaf dan merapatkan tubuh mereka, atau lebih tepatnya Catline yang melakukannya


"Apa aku terlihat bercanda" Gadis itu merinding saat ditatap tajam oleh Askaf dengan sedekat ini, ia meruntuki dirinya sendiri sudah lancang melakukan ini meski tidak jarang ia melakukannya


Cup


Tidak ingin terlihat ketakutan Catline menyatukan bibirnya dan Askaf dan melumatnya, batinnya memekik girang saat tidak menerima penolakan oleh Askaf, bahkan dengan mudahnya mengombangi ciuman kasar Catline, Askaf bahkan mengangkat tubuh Catline dan dengan sigap gadis itu melingkarkan kedua kakinya kepinggang Askaf tanpa peduli dress yang lumayan ketatnya itu tersingkap


Askaf menidurkan Catline di meja kerjanya mengabaikan berkas pentingnya terjatuh dan berantakan, ia terus menghujami ciuman menggebu pada Catline dengan kedua sikunya menyangga tubuhnya agar tidak **** gadis itu sepenuhnya


"Ask-aahff"


Tanpa sungkan Catline mendesahkan keras nama Askaf, ia mencengkram bahu Askaf saat pria itu mencium lehernya

__ADS_1


"Aku me-"


"Sebut namaku Prily"


Deg.!!


Catline membulatkan matanya dan mendorong tubuh Askaf sedikit menjauh, ia menatap wajah Askaf yang menyeringai jahat, Catline ingin menyumpahi Askaf bisa bisanya pria itu mencumbunya dan mengingat wnita lain


"Apa?" bisik Askaf serak namun sial terdengar sexy di telingan Catline, dewi! Persetan denganmu dia menginginkan pria ini


Catline menggeleng menanggapi tanya Askaf ia kembali menarik Askaf berniat menciumnya lagi, namun Askaf memalingkan wajahnya hingga Catline hanya bisa mencium pipi pria itu


"Apa yang kau pikirkan Catline? Apa kau berfikir untuk menciumku lagi?" Catline menatap nyalang kearah Askaf yang masih denga posisinya tadi


Pria itu mengusap bibir merah Catline yang membengkak karena ciumannya itu "semurahan itukah kau? Jelas kau dengar aku mengucapkan nama kekasihku, kau pura-pura tuli karena menginginkanku?" Askaf terkekeh


"kenapa aku harus? Kau adalah tunanganku Askaf" pria itu bangkit dari atas tubuh Catline


"tunangan hanya untuk formalitas Catline, itu hanya permintaan ayahku, dia bahkan masih hidup dan bisa saja membatalkan pertunangan ini"


"membatalkan?" Catline tertawa dan berdiri dari meja kerja Askaf "kau bahkan membutuhkanku seperti tadi Askaf" sambungnya


Askaf menarik tubuh Catline memeluk pinggang gadis itu "ah benar, aku membutuhkanmu seperti tadi, menciummu dengan membayangkan kekasihku, mengingat bibir gadisku dan ah sangat memabukkan, aku bahkan tidak tahu jika aku menci-"


Nafas Catline memburu dengan ungkapan pria tak berperasaan didepannya, ia baru saja ingin menampar Askaf tapi usahanya gagal saat Askaf lebih sigap menangkap tangan Catline


"ingat siapa dirimu Catline" Askaf melangkah meninggalkan Catline yang terhampas kesamping meja karena Askaf yang menghentak tangannya


Albert dan Claudia menunduk hormat saat Askaf keluar dari ruangannya dengan ekspresinya seperti biasa, dingin dan beraura kelam


"dimana April sekarang"


Askaf dan Albert memasuki lift khususnya "dirumah tuan Ogi, menurut mata-mata kita ia belum pernah keluar dari Apartemen dua hari ini"


"kita jemput April"


"tapi tuan"


"aku tidak meminta pendapatmu Albert"


"maafkan saya tuan"


****


"elah si unyil diem aja sih, makan atuh neng, sakit tahu rasa lo" Gerutu Dava saat sudah dua jam menunggu April memakan makanannya


Sebenarnya April lapar hanya saja ia merindukan ekspresi aneh Dava yang mulai pudar digantikan wajah yang serius seperti Askaf, tentang pria itu April ingin menekan ingatannya dulu, sungguh April tidak bisa menemukan alasan Askaf seperti ini


Ia sudah lelah menangis seharian, memikirkan Askaf yang sama sekali tidak datang untuk memberi penjelasan, ia merasa sangat lemah tapi saat melihat sahabatnya yang lain ikut sedih sepertinya membuatnya membulatkan tekad untuk mencari jalan terbaik dengan baik baik saja untuk saat ini, toh selama empat tahun terakhir mereka baik baik saja tanpa Askaf, meski sebenarnya April ingin teriak tidak sanggup, hanya saja untuk didepan sahabatnya saja ia ingin terlihat biasa saja

__ADS_1


"mau makan kapan sih Ly, perut lo udah demo! Mau nunggu cacing cacing diperut lo mati dulu? Nunggu makanannya karatan dulu"


Nasi karatan?


__ADS_2