My Bestfriend My Enemy

My Bestfriend My Enemy
Dipeluk Terong?


__ADS_3

"katakan apa yang kau inginkan?"


"sifat sombongmu benar benar mendarah daging kak" Rimba bersedekap menatap kesal kearah Askaf


"sebentar lagi aku akan mengambil alih perusahaan ayah-"


"apa untungnya kau mengatakannya padaku?"


Rimba mengangkat alisnya heran saat Askaf memotong ucapannya seakan yang Rimba katakan bukan hal yang penting, meski ia tahu bahwa Askaf tidak pernah menggunakan uang dari sang ayah tapi tetap saja perusahaan yang bergerak dibidang security raksasa itu tentunya hal yang berharga


"benarkah? Ah seharusnya aku mengikut sertakan gadis bernama April tadi" Askaf mengepalkan tangannya dengan kuat, rahangnya mengeras menahan emosi yang terbakar didadanya


"jangan berani menyentuhnya bajingan" Rimba mengedipkan matanya merasa hawa ruangan sedikit berbeda dan berpusat pada pria yang ada dihadapannya


"seharusnya memang iya" kekeh Rimba menetralkan suaranya


"apa lagi yang kau inginkan? Bukankan kau telah merebut ayahku? Kau adalah yang putra yang dibangga banggakan? Harta? Tahta? Apalagi yang kau inginkan dariku?" Askaf menggeram, wajah dingin yang selalu menghiasi wajahnya berubah menyeramkan


"kasih sayang" Rimba berdecih merasa benci dengan ucapannya sendiri, bayangan ibunya berputar dikepalanya, senyum wanita parubaya itu sangat manis tapi menghancurkan Rimba hanya dengan mengingatnya


"kau pergi begitu saja, kau tidak melihat bagaimana tersiksanya ibuku! Ia memang bermandikan uang bertahta tinggi! Tapi dia tidak pernah mendapat balasan kasih sayang dari ayah! Membunuhmu pun tidak akan cukup untuk membalas satu butir air mata ibuku yang terlalu baik merawat ayah!"


"Apa kurangnya ibuku kak?" Rimba mengguncang tubuh Askaf yang memandanginya datar


"Katakan!" Rimba berteriak muak dengan Askaf yang setia memasang wajah datarnya menyembunyikan ribuan emosinya


"Dia bahkan mengabdikan seluruh hidupnya pada ayah yang jelas jelas masih mencintai wanita yang sudah tertimbun tanah" Rimba membanting kursi didepan Askaf yang masih terikat memandangi Rimba yang berbicara dengan intonasi tinggi dan emosi yang meluap


hening.....


hanya ada suara nafas Rimba yang memburu memenuhi ruangan yang hening, menghela nafas Rimba menyampingkan kembali kenangannya


"aku ingin kau merasakan bagaimana rasanya hidup disangkar emas seperti ibuku, aku ingin ayah melihat anak kesayangannya menderita sebelum ajalnya seperti aku yang menjadi budak perusahaan saat ibuku menghembuskan nafas terakhirnya" Rimba mengepalkan tangannya menahan tangis mengingat betapa biadabnya perusahaan menahannya diruang meeting saat sang ibu menghembuskan nafas terakhir dirumah sakit


"apa maksudmu?" Rimba mengusap air matanya dan terkekeh mendengar ucapan Askaf yang membuat Rimba muak dengan ketidak tahuan pria itu


"Ibuku mengalami kecelakaan saat ingin menemui ayah di perusahaan, saat itu aku dan ayah melakukan meeting pengalihan wilayah Spains Grup, wilayah yang selama ini ayah incar, usiaku tentu masih terlalu muda untuk paham hal ini tapi ayah bersi keras menahanku untuk menyaksikan meeting, ia ingin menunjukkan cara menjadi seorang pemimpin yang tegas, tiba-tiba saja sekertaris ayah menyampaikan bahwa ibuku kecelakaan, aku ingin keluar tapi keputusan ayah adalah mutlak, aku tidak bisa keluar dari ruangan sebelum meeting selesai, kau tidak akan merasakan bagaimana kalang kabutnya aku saat itu dan betapa biasanya ayah melanjutkan meeting hingga selesai"


Rimba berjongkok mensejajarkan tingginya dan Askaf yang terikat dikursi "kau tahu kemenangan ayah mengambil alih wilayah seperti berkhusus untuk kuburan ibuku" Rimba menatap dalam mata Askaf, ia benci melihat mata itu, mata yang mengingatkannya dengan orang yang menghalanginya bertemu ibunya, bibir yang sama dengan orang yang memerintah untuk tetap di ruangan itu


"Aku akui ayah adalah pemimpin yang hebat, tapi bukan kepala keluarga yang hebat, sekarang ia berbaring lemah dirumah sakit, ia koma selama tiga bulan terakhir, ia depresi kehilangan ibuku, entahlah aku juga tidak percaya apakah ia benar benar bisa merasa kehilangan atau hanya alasan dokter saja"

__ADS_1


"Ayah?" Meski lirih, Rimba mendengar lirihan itu, ia menepuk pahanya dan berdiri, pandangannya yang tidak terlepas dari Askaf, ia menerima setumpuk kertas dari boydigardnya


"itu adalah surat pengalihan harta kekayaan ayah, semua atas namamu, ia membangun semua perusahaan raksasa ini untukmu, ibuku bilang kau pernah koma selama empat tahun dan biaya yang digunakan sangatlah tidak sedikit itulah yang membuat tekad ayah bulat dan membangun perusahaan besar dalam satu tahun, ia tidak ingin kehilangan keluarga satu-satunya" Askaf tidak mengingatnya hanya saja ia tahu pemalsuan umur saat pindah keindonesia, Askaf dinyakatan berumur 6 tahun meski sebenarnya hanya menghitung bulan ia berumur 10tahun, kondisi fisik yang cukup kecil dan badan yang masih kurus mendukungnya, ia masih dalam tahap pemulihan namun ia menetap di Indonesia


Meski raut wajahnya tetap dingin, namun dalam benaknya ia mengumpati dirinya yang sangat bodoh, ia ingin menyesal tapi tetap saja tidak akan menebus dosanya, kini ayahnya bahkan terbaring membutuhkannya tapi mengetahuinya saja melalui orang lain, ia ingin menangis tapi ini bukan waktu yang tepat


"kau menyesal sekarang?"


"lepaskan aku"


"begitu kah? Dengan perjanjian kau harus menandatangani surat peralihan ini"


"dalam mimpimu saja"


"hidup ayah ditangamu kak, perusahaan masih dalam kendaliku meski belum sepenuhnya, sebelum sang pewaris yang sah kembali dan siap menjadi pemimpin, ah tapi kau tidak perlu kembali biarkan aku yang melanjutkan usaha ayah, bukankah kau sudah cukup dengan penghasilanmu?"


"apa yang menjadi milikku tetap akan menjadi milikku" bukan serakah tapi Askaf tidak akan membiarkan hasil keringat sang ayah jatuh ditangan manusia licik seperti Rimba


"jadi kau ingin kembali kak? Bagaimana jika aku melarangmu? Yah tapi itu jika kau mau aku memutuskan biaya perawatan ayah sekarang juga dan nyawanya akan melayang seperti debu yang dihamburkan" Rimba mengangkat bahunya santai seakan ia mebicarakan cuaca yang cerah


"brengsek"


Brraaaakkkk......


Dua boydigard Rimba mengancungkan pistol pada Dava yang masih merenungi nasib pintu itu, Rimba mengangkat tangannya keudara pertanda untuk kedua boydigard menahan tembakannya


Pukkkk


"kayak punya lo kokoh aja" Dava mengusap kepala belakangnya yang dipukul oleh Ogi yang baru saja datang membereskan ketujuh boydigard Rimba yang berjaga diluar


"Sakit ***"


Meski kaget Rimba tetap menetralkannya dengan senyuman dan tepuk tangan dengan kagum, darimana kedua badut ini mengetahui lokasinya


"Hebat, kalian menemukan kami lebih cepat dari perkiraanku"


"Pppffffttttt Buaahahahahahaha" Tawa Ogi dan Dava meledak melihat Askaf yang terikat dikursi dengan wajah dinginnya, Dava bakan memegangi dinding pintu menopang dirinya yang tidak berhenti tertawa


Rimba tersenyum sinis merasa diabaikan kedua teman Askaf, tidak ada rasa takut sedikitpun terpancar dari keduanya meski kedua boydigardnya telah mengancungkan pistol padanya


Ogi menelan salivanya saat mendapatkan aura dingin dari Askaf "Diem Dav" cicit Ogi saat Dava masih berusaha menetralkan tawanya.

__ADS_1


"Ayo Kaf, kita pulang" Dava berjalan mendekati Askaf untuk melepaskan tali yang mengikatnya, belum sempat Dava melepas talinya Rimba menyerang Dava dari belakang, dengan gerakan memutar Dava menendang Rimba yang berhasil mengelaknya, kedua boydigard Rimba ikut menyerang Dava


"gini nih punya temen tapi otaknya dimusiumin" Ogi memutar bola matanya melihat Dava melawan kedua boydigard Rimba, dengan santai ia berjalan kerah Askaf dengan Rimba yang memegang belati dileher Askaf


Rimba melihat Ogi yang juga melihat kearahnya


"Apa liat liat? naksir? Mau ngancem bunuh Askaf, alah kebanyakan nonton Drama korea lu" Ucap Dava datar


"kau pikir aku takut membunuhnya?"


"Lo pikir gue bego, dari tadi lo ngoceh pake toa kedengeran sampai diluar hayati"


"maju satu langkah, Askaf mati disini"


"Ck, basi tahu gak gue mau selamatin temen gue bukan pacar gue, udah gini aja, gue gak maju" Dava merongoh kantong belakangnya mengambil pistol dan mengancungkannya kearah Rimba "gue pinjam dari boydigard lo diluar, tanding cepat Askaf atau lo yang duluan mati, Tiga!"


Dorr


Dorr


Rimba menjatuhkan belati saat peluru menembus pinggang dan bahunya telak, Askaf yang sedari tadi terdiam tersenyum kecil melihat kelakuan Ogi


"shit" maki Rimba


"padahal tadi gue bidik otak lu" Ogi memandang Rimba yang sedikit demi sedikit kehilangan kesadarannya, sengaja Ogi membidik area yang tidak fatal untuk melayangkan nyawanya, baginya cukup menjatuhkan Rimba saja polisi akan memakan gaji buta jika ia ikut andil menghukum Rimba, toh ia tidak mau berurusan panjang jika Rimba mati karenanya


Ogi berjalan mendekati Askaf dan membuka tali yang mengikat Askaf, ia mebantu Askaf berdiri dan berjalan membopong pria itu


"berat lu kaf"


krik


krik


tak ada jawaban dari Askaf dan Ogi sudah menduga hal itu


"Remuk, remuk, remuk!!" Teriakan Dava mengalihkan pandangan kearahnya, Dava yang terkuci dilengan boydigard Rimba yang setinggi Dava terlihat seperti sedang bermain karena sang boydigard pun sudah terlihat kehabisan tenaga


"maitiin aja" sahut Ogi dan memapah Askaf yang lemah berjalan kearah pintu


"eh emang lu kira gue saklar lampu dimatiin?" protes Dava

__ADS_1


"Pria ditanah jahannam" desis Dava untuk Ogi dan sekali tendangan di selangkang boydigard Rimba menumbangkannya, Dava berhasil keluar dari kuncian pria itu


"najis dipeluk terong" Dava berdigik kemudian menyusul Dava dan Askaf yang sudah keluar dari pintu bersamaan dengan beberapa polisi yang masuk mengamankan tempat kejadian


__ADS_2