
1 tahun kemudian
"APRILL, DINDA!! IBU SUMPAHI KALIAN TIDAK LULUS SEKOLAH"
Semua orang mengalihkan pandangannya pada guru BK yang berteriak didepan ruang guru dengan menununjuk kearah kedua siswinya yang berlari sambil tertawa puas
Setahun kepergian Askaf keAmerika, sekarang mereka menduduki puncak terakhir bangku sekolah, seminggu lagi ujian nasional diadakan serentak seluruh indonesia, bukannya belajar April dan Dinda malah sibuk membuat onar
semenjak terbangun dari pingsannya karena boydigard Askaf, gadis itu mengamuk mencari Askaf, keadaan flat benar-benar hancur bersama penghuninya bukan hanya April, Dava dan yang lainnyapun begitu, mereka seperti mayat yang bernyawa, hingga akhirnya Ogi sadar jika ia tidak bisa selamanya seperti ini
Banyak hal yang berubah terutama pada April, gadis yang dulunya pendek berisi itu kian mengurus, semenjak kepergian Askaf satu tahun yang lalu gadis itu nampak berubah drastis, jika dulu ia dijuluki kalem, sekarang ia bahkan hampir mencapai tingkat cerewetnya Dava
Bukan hal mudah untuk mencapai tingkat ini, awalnya gadis itu benar benar terpukul, ia hanya mengurung dirinya dikamar, makan pun harus dibujuk seharian oleh Dinda, setiap malamnya ketiga sahabatnya selalu mendengar tangisan April, tubuh April turun drastis bahkan pernah sampai sakit selama seminggu di minggu ketiga Askaf pergi membuat Ketiganya kalang kabut ditambah April yang mogok bicara kecuali menyebut nama Askaf
Kondisi yang benar benar memperihatinkan, saat Dinda mengusulkan memberi tahu orang tua mereka tapi ditolak keras oleh April, takut gadis nekat itu melarikan diri, mereka akhirnya menyerah dan merawat April sendiri
Setelah hampir enam bulan wajah April dirundung mendung, tiba-tiba saja Dava dikagetkan karna menjadi pertama kali melihat April tertawa, dan sejak itu April bangkit dari terpuruknya hanya saja melewati batas yang sahabatnya tahu, April bukan lagi gadis Nakal kalem kalem, dia benar benar menjadi pembangkang ulung, kembaran Dava
Dinda tertawa renyah diikuti April yang ngos-ngosan sampai diparkiran, sial jadwal simulasi yang ternyata dilakukan di sekolah lain, baru saja mereka memdapat info bahwa simulasi dimulai 30menit lagi. Dava dan Ogi sudah disana satu jam yang lalu karena memang berangkat lebih pagi, April menyumpahi kedua sahabatnya yang tidak memberitahukannya
"gila tuh guru, nyumpain gak lulus" protes Dinda
"dia terlalu sayang sama kita"
Sayang palalu peang
Bukan tanpa sebab guru BK memarahi keduanya, tapi karena pelanggaran yang April dan Dinda lakukan, rok sekolah yang harusnya memiliki belahan maximal 10cm, tapi Dinda dan April memiliki belahan hingga batas lutut, bukan sengaja hanya saja keseringan memanjat pagar membuatnya robek setelah dijahit
"eh kita kesana naik apa?"
"cari taxi, atau Ojek"
"kelamaan bege, cari motor junior deh"
"randi!"
Dinda mengikuti Randi kemanapun pria itu melangkah dengan memohon untuk mau meminjamkan motornya, sejak ia dan April mencarinya di sudut sekolah akhirnya menemukan pria itu nongkrong dikantin
"Randi please, nanti gue telat"
"bukan uruasan gue Dind"
"gitu banget sih, gini deh gue janji gue comblangin lo sama si fika" Randi mengangkat satu alisnya, Fika afalah teman kelas Dinda yang selama ini diincar Randi, Dinda juga tahu Randi karena Fika yang sering curhat dengan Dinda dikelas
"Sumpah Ran, jadi please pinjamin gue"
__ADS_1
"tapi lo janji dulu"
"gue janji, lo boleh bunuh tetangga gue kalo gue sampe bohong" sedikit menyerit tapi Randi tetap melemparkan kunci motor besarnya pada Dinda
"Yess!!"
*****
Bugh
Bugh
Dava dan Ogi meringis saat mendapat pukulan bersamaan di kepala belakangnya, ayolah mereka baru menguras otak tadi sekarang mendapat pukulan yang entah dari mana
"kenapa lo gak bilang kalo simulasinya gak disekolah ***"
Mati! Baru saja mereka berdua ingin menghindari Dinda dan April siapa sangka kedua macan betina itu telah muncul, dibelakangnya pula
"yah anu, kirain lo udah tahu"
"udah tahu dari Afrika? Emang gue kelihatan cewek suka baca mading?"
"yah siapa kali lo lagi kesambet baca mading" bela Ogi
"nama tengah gue, eh kalian kesini naik apa?"
"gausah sok peduli, seminggu kalian dua masak sendiri" refleks Dava dan Ogi terbelalak mendengar ancama Dinda
"kok gitu sih Dind" rajuk Ogi
Dinda berjalan diikuti April meninggalkan kedua sahabat laknatnya, menghiraukan panggilan panggilan Frustasi keduanya, siapa juga yang ingin masak sendiri selama seminggu, oh dewi apakah mereka harus puasa dengan masakan-masakan Dinda? Sungguh sangat sayang melewatkan masakan gadis itu meski hanya sehari, entahlah, mungkin tangan Dinda diberkati skill memasak tingkat Dewi
"gara gara lo sih Dav, pake acara ngerjain mereka" Ogi menggerutu dan memakan mie instan didepannya, setelah membujuk Dinda selama hampir 3jam akhirnya Dava dan Ogi mendapatkan masakan Dinda, mie instan
"yah gue mana tahu bakalan kek gini"
"ck, mending gue pesan pizza aja dah" ucap Ogi bangkit dari lesehannya diruang tamu, sudah hampir sepuluh menit ia hanya memandangi mie instan didepannya,
Dava menarik tangan pria itu dan kembali duduk diposisinya semula, ia melipat tangannya dimeja dan menumpukan dagunya meratapi mie yang sudah hampir dingin karena hanya dilihat
"lo mau diamuk Dinda?" benar sekali, meski bujukan tiga jamnya hanya berhasil di mie instan setidaknya mereka harus menghargai masakan ogah ogahan Dinda jika tidak ingin diamuki
"bayangin kampus aja bulu kudu gue udah merinding, gimana lanjutnya, gak ah gue gak mau kuliah" Dinda dan April yang baru saja keluar dari Dapur membawa jus jeruk duduk di Sofa diatas lesehan Dava dan Ogi
"lo gak mau kuliah Ly?" tanya Ogi menimpali dan diangguki April
__ADS_1
"lo mau ngapain dong setelah lulus? Nikah?"
"nikah palalu peang, Askaf aja belum ada kabar"
Dinda menyenggol pantat Ogi dengan kakinya menegur atas ucapan yang sepertinya laki-laki itu kecoplosan, Ogi yang sadar meruntuki dirinya sendiri
Sekilas air wajah April berubah, namun ia menyembunyikannya dengan kekehan gak jelasnya, membuat ketiga sahabatnya meringis dalam hati, 'Sekuat itu lo Ly' batin Dinda
"gue rencana mau ngurusin cafe" Dava memutar badannya menghadap Dinda
"Lo yakin Ly?"
"eh ngomong ke April, jangan liat gue" protes Dinda, Dava terkekeh
"yah gue juga gak yakin sepenuhnya sih, tapi yah coba aja, kan gue bisa nanya ke lo lo pada kalo ada yang susah, yang penting gak ada rumus rumusnya lah"
"yah kan disana udah ada pengurus ditiap bidangnya, jadi boss mah enak"
"yah itupun kalo kalian setuju"
"setujulah, malah baguskan kalo ada yang ngawasin, meskipun gak gede-gede amat" tambah Ogi
"hmmm kalian?"
"gue masih bingung, netap di Indonesia atau balik kebokap nyokap, apalagi tawaran beasiswa D.Smith grub ngilerin banget" Ogi menghembuskan nafas bingung mendengar penjelasan Dava yang juga diusulkan akan beasiswa luar negeri, setengah dirinya menginginkan tetap di indonesia tapi setengahnya menginginkan pendidikan yang bagus untuk membanggakan ibunya, ia sama dilemanya dengan Dava
"gue juga pengen ngejar D.smit Grub sih lumayan kan kuliah luar negeri, tapi gue gak bisa ninggalin ibu sendiri kan" ketiganya mengangguk setuju dengan Ogi
"gue mau daftar di Greaaze" tidak diragukan lagi, universitas khusus yang memiliki nama dibidang Teknologi kominikasi itu akan dipilih Dinda, meski hanya sekolah swasta namun keharuman nama sekolah tersebut sangatlah baik
"lo beneran mau jadi heacker yah Dind?"
"gak sih hobby doang, cuman kalo bisa kan jadi bonus, mayan buat ngebajak akun akun lo" Dava berdigik bagaimana jika kedua gadis ini membobol akun priabadinya dan menjahili mereka, tamatlah riwayatnya
"lo yakin masuk disana"
"kenapa lo takut akun lo kebobol?"
Tepat sasaran
"yah enggak, tapi peluang kerjanyakan tipis"
"siapa bilang, dimana mana dunia ini penuh teknologi, yah kalo gak ada yang rekrut gue, yah gue yang bangun usaha"
bersiapalah Ogi
__ADS_1