My Bestfriend My Enemy

My Bestfriend My Enemy
4L (Lo Lagi Lo Lagi)


__ADS_3

Dinda menyerit bingung dengan nomor privasi yang tertera di Handphonnya, ia menantap temannya pertanda meminta persetujuan dan diangguki keempatnya


"Dark Rider" ucap seseorang disana diikuti kekehannya, Dava memutar bola matanya bosan dengan suara diseberang sana


"Ck, si 4L"


"4L" ulang Ogi dan orang disebelah sana


"Lo Lagi Lo Lagi, gak bosen kalah lu?" jawab sekaligus tanya Dava


"Kemenangan kalian cuman kebetulan, So? Gue gak bakalan bosan, karna keajaiban gak selalu berpihak pada satu titik" jawabnya


"Cielah si jamur jempol, kalah aja songong lu, mana ada kebetulan sampe ratusan kali" Sinis Dava


"kali ini gue cuman mau nantang Askaf, gue dengar dia habis ngalahin Rimba Race" Ucap Roy, ketua gang FlashRider, merupakan musuh bubuyutan DarkRider.


April, Dinda, Ogi, dan Dava menatap penuh tanya pada Askaf, sejak kapan pria itu ikut balapan tanpa memberi tahu keempatnya, dan lagi Rimba? Pria yang benar benar ingin di bunuh Askaf


"Sepertinya ada rahasia yang terbongkar" Ucap Roy kemudian tertawa terbahak bahak


"Diam lo ***" sentak Dinda


"Wow, selow girl, gue cuman ngingatin aja, jam 9 malam, di tempat biasa, gue tahu apa yang Rimba rencanain, kesepakatan di tangan lo Askaf, see you gaes"


Sambungan terputus, April mendorong kursi dan meraih tasnya, melangkah meninggalkan temannya dengan kesal


"Eh eh prill, lo mau kemana?" tanya ogi namun di hiraukan gadis itu


Askaf menarik tangan gadis itu dan menariknya hingga April berbalik dan menatap marah pada Askaf yang jauh lebih tinggi darinya


"Lepasin gue" Ogi dan Dava serentak meringis mendengar kata "Gue" di nada sinis April, mereka tahu, gadis mungil itu sedang menahan emosinya


"Dengerin aku dulu" Ucap Askaf berbisik dan menatap nanar April yang memberontak mencoba melepaskan diri darinya


"Gak, gue gak mau dengerin penjelasan lo!!" dengan sekali sentakan kuat, April melepas cengkraman Askaf dan pergi meninggalkan temannya dan Askaf


Pria itu-Askaf, menatap kepergian April dengan sendu, kemudian menjatuhkan dirinya dikursi dan menyadarkan punggungnya dengan frustasi, bukannya ia tidak ingin mengejar gadis itu, hanya saja pria itu sangat kaku dalam hal seperti ini, dia tidak tahu apapun soal cinta kecuali memiliki April, ia tidak tahu membujuk, ia tidak tahu berkata manis dan tidak tahu mendekati perempuan


"Ferguso, bini lu ngambek gak dikejar tuh, diambil orang mewek lu" Ucap Dava


"Lo tahukan si April benci banget sama Rimba, lo malah ladenin dia tanpa bilang bilang lagi, Kaf, lo udah janji sama April, sama kita, lo gak bakalan berurusan lagi sama dia" kesal dinda


"Lagian kenapa sih lo, tanding sama si Rimba gak bilang bilang" Ogi ikut menimbruk merasa gemas dengan pria dingin didepannya ini, namun Askaf tetap memilih diam, pikirannya berkecamuk memikirkan April


"Kaf-" Ogi kembali membuka suara namun di sela oleh Askaf

__ADS_1


"Lo bertiga bisa diam gak sih? Gue tahu gue salah, tapi setidaknya dengerin penjelasan gue dulu" Askaf berucap frustasi, Ogi menghebuskan nafas berat, ia tahu pria itu juga merasa berat, pasti ada alasan dibalik ini semua, Askaf adalah pria yang dapat dipercaya ucapannya, benar katanya seharusnya mereka mendengar penjelasannya dulu.


"Ok ok, kita bakalan dengar tapi sebaiknya lo kejar April dulu" Dinda menutup bukunya dan memasukkan kedalam tasnya, niatnya menyalin tugas Askaf sudah melebur entah kemana


"Ck, ngapain lo masih disini, nunggu April di janda dulu?" Tanya Dava yang merasa jengkel saat melihat Askaf yang masih setia dengan wajah masamnya


"gue harus bilang apa?" tanya Askaf pelan


"Lo minta maaf terus jelasin, berusaha dong, kalo lo diam kek gini, yang ada dia tambah ngambek" Kesal Dinda, dan ditatap datar oleh Askaf


"Sekarang Nyet, lo cowok men, dan ini salah lo, lo harus minta maaf sekarang dan jelasin sekalipun negara api menyerang, hujan meteor, stunami, gempa bu-" ucapan Dava terhenti saat tiba tiba Askaf berdiri dan berlari keluar dari Cafe


"Cinta emang lebih panas dari Api"


-


"Ngapain Lo disini" April berujar dingin tanpa menoleh kebelekangnya, matanya terus menatap laut didepannya yang menggulung ombak tanpa henti dari apartemen askaf yang berdinding kaca


Setelah membuat Askaf kelimpungan mencari gadis itu di berbagai tempat dan akhirnya menemukannya di apartemennya, pria itu menarik senyum tipis, sangat tipis, hingga hanya dia saja yang tahu bahwa dia tersenyum, tempat pelarian yang sangat bagus bukan? Askaf menggeleng geli, alasan gadis itu bersembunyi disini karna ia tahu, Askaf sangat jarang berada di sini, pria itu lebih banyak menghabiskan harinya di flat mereka. Ia duduk disofa dan memperhatikan punggung gadinya yang berbaring di king size miliknya


Beberapa saat yang lalu, ia dibuat uring uringan saat tidak mendapatkan April di apertemen gadis itu, dia bahkan hampir menabrak truk saat ingin mencari di flat.


Hening, tidak ada yang mengakat suara, deruan nafas keduanya menjadi soundtrack memenuhi ruangan, terutama Askaf yang habis berlari menaiki tangga untuk naik keapartemennnya di lantai 11, bukannya tidak ada lift, hanya saja liftnya sedang terpakai dan pria itu tidak ingin menghabiskan waktu dengan menunggu lift tersebut


"Maaf" ucap Askaf lembut, April menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya, elusannya begitu kaku namun tangan besar itu terasa hangat saat menyentuh kepalanya


"Aku lakuin ini demi kamu, Rimba ngancem aku, dia bakalan nyakitin kamu" Askaf kembali mengingat dimana dia mendapat pesan singkat dari Rimba "Sirkuit Rimbarace kamis depan atau gadis ini hancur di tangan gue" menyertakan foto dua gadis yang sedang sibuk berbelanja secara candid- Dinda dan April


Posisi Askaf saat itu sedang diluar kota, tidak banyak yang dapat dia lakukan selain menerima tawaran Rimba atau memerintahakan boydigard untuk menjaga keduanya namun tidak ada kepastian bahwa April akan 100% Aman


"dan kamu percaya itu?" lirih April yang masih didalam selimutnya


Askaf melirik ponsel April yang bergetar atas di nakas, ia mengambil ponsel itu dan membalas pesan dari Dinda dan meletakkannya ketempat semula


"Aku akan percaya jika itu semua menyangkut kamu, aku gak mungkin abaikan gitu aja dan kamu adalah taruhannya sayang" April merubah posisi tidurnya menjadi duduk bersila menghadap Askaf, meski bukan hal yang baru tapi panggilan sayang dari Askaf selalu saja menggetarkannya


"kamu ingat waktu aku ke bali? Aku dapat pesan dari Rimba yang ngajak aku tanding, dia ngancem aku bakalan nyakitin kamu dan mengirimkan foto saat kamu lagi belanja dengan Dinda tanpa Ogi dan Dava" April mengedipkan matanya lucu, mulutnya terbuka berbentuk O, seketika rasa marahnya melebur di udara, "kalimat terpanjang yang pernah Askaf ucapkan" batinya


Sedikit berfikir dengan melihat keatas kiri, membuat Askaf gemas dan menyentil kening gadis didepannya.


"Awssshh, tapi akukan bisa bela diri dan juga itu bukan alasan kamu langgar janji dong, setidaknya kamu bilang sama aku sama yang lainnya" April meringis dan mengusap keningnya yang disentil Askaf, ia ingat saat Askaf kebali, Dinda memang memintanya untuk menemaninya belanja keperluan Flat


"memangnya kalo aku bilang kamu izinin?" Askaf bertanya dan mendapat gelengan cepat dari April, pria itu mengendus berat, Demi Dava yang sedang minum jus tomat sekarang ia ingin menerkam gadis menggemaskan ini sekarang juga. Sifat bar bar April hilang entah kemana.


"so?" tanya Askaf

__ADS_1


"Kamu jangan ulangin lagi, kamu udah janji sama aku, sama yang lainnya" April maju dan memeluk Askaf "Aku tahu kamu bisa jaga diri, kamu bisa menang dari dia, kamu handal, tapi aku khawatir, dia orang yang licik, kamu tahu itu" Askaf menghangat dengan ucapan gadis yang memeluknya itu, ia membalas pelukan April dan menyembunyikan wajahnya di cekuk leher gadis itu


"Aku janji, tapi kalau itu berurusan dengan kamu, aku minta maaf kalau aku langgar janji itu" balas Askaf dan merasakan pelukan April mengerat


"kamu juga harus jaga diri, bukan hanya kamu yang rasa kek gitu, aku juga takut kalau itu tentang kamu sayang" April melepas pelukannya dan menyatukan keningnya dan Askaf


"Kamu tahu? Aku kecewa saat tahu kamu nyembunyiin sesuatu dari aku" April berguman seraya mengelus lembut pipi Askaf


"Maaf" ucap Askaf


"Kamu adalah satu satunya yang kumiliki didunia ini Kaf" lirih April lagi, Askaf menatap gadis yang menutup matanya itu dengan teduh


"Maaf" lirih Askaf lagi


"Aku bahkan lebih ba-" Ucapan April terpotong saat ia merasakan benda lembut yang menyentuh bibirnya, April melingkarkan kedua tangannya di leher Askaf, tanpa sadar ia menangis ditengah ciumannya dan Askaf, sungguh, hanya Askaf satu satunya orang yang sangat ia cintai, saat kedua orang tuanyapun tidak pernah peduli dengannya


-


Uuhuuukkkk


Wajah Dava memerah saat tiba tiba saja jus tomat yang ia minum seakan menjadi gumpalan saat melewati tenggorokannya.


"Gue tahu gue ganteng, gak usah diomongin napa" kesal Dava


"Lo nya aja yang kepedean di omongin" sahut Ogi


"Eh si April bilang apa?" Tanya Dava, Dinda yang sedari tadi sibuk dengan rubik 3 x 3 mengkat wajahnya, ia lupa dengan gadis itu, fokusnya pada benda kotak berwarna ditangannya yang seakan ingin meledakkan kepalanya, bukan kali kesepuluh ia mencoba, sudah ratusan dan tidak pernah selesai, berbeda dengan Askaf, Dinda mengendus kesal dan meraih handphonenya


"Udah ketemu, di apartemen Askaf, yaudah cabut, capek gue, ntar malam si Askaf tanding lagi" Dinda tahu Askaf yang membalas pesannya, dari pesannya saja, ia tahu pria itu tidak ingin diganggu, jadi Dinda mengajak kedua temannya pulang bukan ke Apartemen Askaf


"Kita gak nyusul?" tanya Ogi


"Gak usah, biar mereka nyelesain masalahnya dulu" jawab Dinda


"Ia deh, bsok kita bayar kontrak sama si dunia milik berdua" ucap Dava, meraih tasnya dan berjalan keluar duluan


-


"si Dava mana?" tanya Ogi pada Dinda


Gadis itu bersila di kasur kamar flatnya dengan memangku sekotak Popcorn dan makanan ringan lainnya sambil menonton kartun jepang yang biasa disebut Anime


"Udah kesirkuit sejam yang lalu" jawabnya tanpa mengalihkan matanya dari tontonannya


Ogi ikut bergabung dan berbaring di samping Dinda

__ADS_1


__ADS_2