
Dua gadis cantik dengan lambang kelas X menghampiri meja mereka, dengan malu-malu menatap kearah Dava yang memainkan ponselnya
"kak" April Ogi dan Dava menatap gadis yang sepertinya gugup itu
"eh neng neng manis, ada yang bisa abang bantu?" Ogi dan April memutar matanya jengah, pria itu tidak bisa melihat yang bening sedikit saja
Dan yang paling mengherankan adalah kedua gadis itu malah salah tingkah dengan pipi yang memerah, belum tahu saja dia yang menggombalnya adalah rajanya raja gombal yang udah mentok disatu hati
"kenapa dek?" tanya April
"i-ini kak, mau kasih kak Dava" Ogi melongo melihat kado yang masih digenggaman kedua gadis itu
"Wah rezeki hamba yang baik"
"itu kadonya gak salah alamat dek" Ogi mengerjapkan matanya
"yeh sirik aja lo momogi, sini dek sini wah makasih yah" Dava menerima dua bingkisan dari juniornya itu
"sirik ginjalmu retak, gue cuman gak habis fikir bule nyasar cap playboy kek elu punya fans"
"kak Dava kan baik kak, jadi aku su-eh itu, gak deh yaudah kak semoga suka selamat atas kelulusan kakak" gadis berambut panjang itu membela Dava kemudian beranjak pergi
"gue kira katarak tu cewek" canda April
"ih si onyet, elah jujur aja lagi kalean" Dava membuka kado yang diberikan adik kelasnya itu
"lo aja gak mau jujur kegue" Dava menyeritkan alisnya mendengar penuturan April
"gue tahu sekarang lo rada gesrek Pril, tapi gak bawa jujur jujuran keles, sejak kapan gue bohong sama lu"
"emang kalian jujur kalau lusa mau ikut seleksi beasiswa luar negeri" Ogi dan Dava menelan salivanya yang seakan menggumpal seperti batu
"lo-lo udah tau Pril?" April menopang dagu dengan kedua tangannya dan mengangguk lucu
"lo gak marah Pril?" dan lagi diangguki
"Ciyus?" Ogi dan Dava serempak, dan kesekian kalinya April mengangguk dan menatap kedua sahabatnya dengan alis berkerut
"Miapa?"
"Ck! Alay banget si lo berdua, ia gue gak apa-apa lagian kalian bukan Askaf yang harus gue tangisin"
Eleh, Dava memaki Ogi mencebik, mereka sudah khawatir setengah mati dan respon gadis pendek ternyata diluar ekpentasi, katakan selamat atas sia-sianya kekhawatiran mereka
"tau dari mana?"
"gue di flat kali pas Sendy sama Ogi ngobrol di ruang tamu"
"lo beneran gak apa-apa Pril?" tanya Dinda yang baru saja datang dan menyimpan bakso di meja mereka
"ngapain juga gue apa-apa, ini tuh cita citanya kalian toh nanti kalo udah sukses bisa gue porotin kalian biar gue gak usah kerja di cafe lagi" April terkekeh membuat ketiga sahabatnya kesal sekaligus lega
__ADS_1
"ikhlas gue diporotin sama lu" kekeh Ogi
Tanpa mereka ketahui bahwa sebenarnya gadis itu sudah menangis sendiri meratapi sahabatnya yang satu persatu pergi, dan kini ia menangis kembali dalam hati menahan pedih saat merelakan mereka pergi tanpa berkata jangan
Dia mungkin kuat tapi hatinya rapuh
****
Kelulusan Dava dan Ogi adalah kabar bahagia sekaligus kabar buruk bagi April, Dinda dan Sendy, sejak awal Dinda tidak pernah meragukan kemampuan keduanya, meski kadang terlintas dibenaknya mendoakan kegagalan mereka, bukan tidak ikhlas hanya saja ia masih ragu, sama saja!
Dan disinilah mereka didepan pintu bandara berbicara untuk saling melepaskan, Dava tidak henti hentinya menggelantungi Dinda yang terlihat risih
"Yang beb gue beneran pergi kok lo gak nangis sih?" Sendy terkekeh tidak heran lagi pada Dava
"apaan si lo Dav, lo kayak anak monyet tau gak, kan lo yang mau pergi, malu tahu diliatin" gerutu Dinda mencoba melepas tangan Dava
"April kok lama?" sahut Sendy mencari keberadaan personil geng sahabatnya itu
"dia gak bisa datang bee, Bunda lilia bawa April kebali kemarin" Sendy mengangguk
Kedatangan Lilia dan Anton selalu mendadak, seperti kemarin pagi ia kembali menjemput April dan membawa gadis itu ke Bali sorenya, untuk menemui kolega bisnisnya, perusahaan di bidang properti, perusahaan terbesar kedua indonesia saja sesibuk itu, bagaimana kabar sahabatnya yang satu itu
"yaudah masuk sana!!" pekik Dinda jengah
"dasar, aku pergi bee jaga diri kamu baik-baik" Ogi mendelik kearah kedua sahabatnya lalu mengusap kepala Sendy
"kamu juga, aku tahu kamu bisa jaga diri kamu tapi aku tetep ingatin kamu jangan lupa makan apalagi sampai sakit, belajar yang giat, hubungi aku kalo udah nyampe"
"aku janji" Dava memeluk dan mencium kening Sendy dengan kilat, Sendy merongoh tasnya dan mengambil ponselnya yang berdering, Ogi menarik kera baju Dava yang masih dalam drama alaynya, pria itu mundur memberi ruang pada Ogi dan Dava
"Gue jalan Dind, jaga diri jaga April, gue bakalan kangen banget sama kalian, lo makan sebelum tidur karena Dava gak bakalan minta makan tengah malam lagi, belajar yang baik yah, gue gak mau lo sakit dan jangan ganjen sama cowok, jangan Nakal pokoknya" Ogi menarik Dinda dalam pelukannya dan melirik Sendy yang masih menerima telfon yang entah dari siapa
"gue udah pesan taxi buat lo pulang, gue jalan dulu, inget pesan gue, gue gak mau lo kenapa kenapa apalagi sakit saat gue gak ada disisi lo, titip salam gue ke April" Ogi berbalik dan menyeret Dava yang berniat memeluk Dinda lagi, mereka sudah chek in sejak tadi, jadi barang bawaan Ogi sekarang adalah Dava
"Ogi apaan sih lo kodok main tarik tarik aja, gue belum selesai adegan perpisahan sama istri gue, Dinda gue sayang lo, jaga diri baik-baik, tunggu abang pulang! Gue janji bakalan pulang hidup atau mati, tunggu gue yaaanggg!!!" Dinda meringis melihat Dava yang diseret dengan teriakan anti malu ala Dava, Satpam bandara dan pengunjung lain menatap kedua mahluk astral itu menghilang di balik pintu dengan melambaikan tangan mereka
"udah nelfon Sen? Pulang bareng yuk" ajak Dinda, meski ia tahu Sendy tidak menyukainya toh bodo amat, kan cuman Sendy yang gak suka Dinda biasa-biasa aja tuh
"lo duluan aja, Ogi mesan taxi buat lo bukan gue"
Dinda mengerutkan keningnya, taxi kan luas, apa salahnya berbagi?
"temen gue cuman miscall tadi, gue denger semua yang Ogi bilang, gue lihat Ogi nyium lo" Dinda membelalakkan matanya, salah paham lagi kan!!
"itu gak seperti yang lo maksud Sen"
"terus maksud dia apa? Perhatiannya dia kegue sama lo jelas beda Dind, gue tahu kok selama ini Ogi gak pernah cinta sama gue, guenya aja yang goblok gak mau ninggalin dia"
"Ogi bukan gak cinta sama lo, dia cuman gak ngerti sama perasaan dia sendiri, dan buat yang tadi, itu cuman buat persahabatan kita aja, kalau saja ada April dia bakalan lakuin itu ke April"
"ciuman persahabatan? Kelulusan Dava dan Ogi adalah kabar bahagia sekaligus kabar buruk bagi April, Dinda dan Sendy, sejak awal Dinda tidak pernah meragukan kemampuan keduanya, meski kadang terlintas dibenaknya mendoakan kegagalan mereka
__ADS_1
Dan disinilah mereka didepan pintu bandara berbicara untuk saling melepaskan, Dava tidak henti hentinya menggelantungi Dinda yang terlihat risih
"Yang beb gue beneran pergi kok lo gak nangis sih?" Sendy terkekeh tidak heran lagi pada Dava
"apaan si lo Dav, lo kayak anak monyet tau gak, kan lo yang mau pergi, malu tahu diliatin" gerutu Dinda mencoba melepas tangan Dava
"April kok lama?" sahut Sendy mencari keberadaan personil geng sahabatnya itu
"dia gak bisa datang bee, Bunda lilia bawa April kebali kemarin" Sendy mengangguk
Kedatangan Lilia dan Anton selalu mendadak, seperti kemarin pagi ia kembali menjemput April dan membawa gadis itu ke Bali sorenya, untuk menemui kolega bisnisnya, perusahan di bidang properti, perusahaan terbesar kedua indonesia saja sesibuk itu, bagaimana kabar sahabatnya yang satu itu
"yaudah masuk sana!!" pekik Dinda jengah
"dasar, aku pergi bee jaga diri kamu baik-baik" Ogi mendelik kearah kedua sahabatnya lalu mengusap kepala Sendy
"kamu juga, aku tahu kamu bisa jaga diri kamu tapi aku tetep ingatin kamu jangan lupa makan apalagi sampai sakit, belajar yang giat, hubungi aku kalo udah nyampe"
"aku janji" Dava memeluk dan mencium kening Sendy dengan kilat, Sendy merongoh tasnya dan mengambil ponselnya yang berdering, Ogi menarik kera baju Dava yang masih dalam drama alaynya, pria itu mundur memberi ruang pada Ogi dan Dava
"Gue jalan Dind, jaga diri jaga April, gue bakalan kangen banget sama kalian, lo makan sebelum tidur karena Dava gak bakalan minta makan tengah malam lagi, belajar yang baik yah, gue gak mau lo sakit dan jangan ganjen sama cowok, jangan Nakal pokoknya" Ogi menarik Dinda dalam pelukannya dan melirik Sendy yang masih menerima telfon yang entah dari siapa
Ogi menunduk dan mengencup bibir Dinda sekilas, Dava memekik tertahan karena ingat masih ada Sendy disini, "terkutuklah kau wahai Divianogi", batin Dava
"gue udah pesan taxi buat lo pulang, gue jalan dulu" Ogi berbalik dan menyeret Dava yang berniat memeluk Dinda lagi, mereka sudah chek in sejak tadi, jadi barang bawaan Ogi sekarang adalah Dava
"Ogi apaan sih lo kodok main tarik tarik aja, Dinda gue sayang lo, jaga diri baik-baik, tunggu gue pulang! Gue janji bakalan pulang hidup atau mati, tunggu gue yaaanggg!!!" Dinda meringis melihat Dava yang diseret dengan teriakan anti malu ala Dava, Satpam bandara dan pengunjung lain menatap kedua mahluk astral itu menghilang di balik pintu dengan melambaikan tangan mereka
"udah nelfon Sen? Pulang bareng yuk" ajak Dinda, meski ia tahu Sendy tidak menyukainya toh bodo amat, kan cuman Sendy yang gak suka Dinda biasa-biasa aja tu
"lo duluan aja, Ogi mesan taxi buat lo bukan gue"
Dinda mengerutkan keningnya
"temen gue cuman miscall tadi, gue denger semua yang Ogi bilang, gue lihat Ogi nyium lo" Dinda membelalakkan matanya, salah paham lagi kan!!
"itu gak seperti yang lo maksud Sen"
"terus maksud dia apa? Perhatiannya dia kegue sama lo jelas beda Dind, gue tahu kok selama ini Ogi gak pernah cinta sama gue, guenya aja yang goblok gak mau ninggalin dia"
"Ogi bukan gak cinta sama lo, dia cuman gak ngerti sama perasaan dia sendiri, dan buat yang tadi, itu cuman buat persahabatan kita aja, kalau saja ada April dia bakalan lakuin itu ke April"
"ciuman persahabatan? Gue gak bodoh Dind! Lo liat aja cara dia ngomong kegue beda banget sama lo, dia bahkan khawatirin lo segala hal, lah gue apa Dind? Cuman gue yang khawatir"
"Sendy, Ogi tu-"
"udah deh Dind, lo gak perlu jelasin kegue, biar Ogi sendiri yang jelasin kegue nanti" Dinda melongo menatap Sendy yang berjalan menjauh, sekuat itukah hati gadis itu, yang rela menanngung sakit demi Ogi? Ck, dasar Ogi.
Dinda berjalan menuju parkiran, tak satupun yang sadar bahwa gadis bercoat hitam tengah menangis menatap kepergian sahabatnya dari jauh, mengawasinya ditengah kerumunan orang orng di bandara. april dan ketidakrealaannya, ia berbohong bahwa kedua orang tuanya membawanya kebali, ia hanya tidak ingin jika ia mengantar sahabatnya dia tidak akan bisa menahan tangis, dan sekarang terbukti kan?
tbc
__ADS_1