
Hingga tandas, ia terbatuk dan merasakan Dinda menepuk pudak pria itu.
"Makan tuh yang bener" protes Dinda
"Lo tuh ngomong yang bener, yakali setan mesum, yang ada nyeremin atau gak cantik kek difilm film" ucap Ogi dan Dinda mencebik
"si Askaf emang nyeremin" Ogi lantas menoleh, sedikit menangkap arah ucapan Dinda
"lo dimesumin sama Askaf" pekik Ogi yang Dinda yakin dapat didengar dua manusia di atas sana, ia menabok kepala Ogi dengan jengkel
"jangan teriak bego" ucap Dinda
"Pantesan muka lo kek kepiting rebus" kekeh Ogi seraya mengusap kepalanya yang masih sedikit sakit akibat pukulan dahsyat Dinda
"bukan gue bambang, noh si April"
Krik
Krik
Krik
Dan tiba tiba suara pecah Ogi memenuhi ruangan, sekarang ia tahu maksud gadis didepannya ini dan kenapa wajahnya memerah, setan mesumnya adalah Askaf. Keungkinan paling besar Dinda masuk tanpa mengetuk kamar dan mendapat adegan tak senonoh didalam sana
"diam lo bangset" Ucap Dinda dan merebut gado gado yang ada di tangan Ogi
"lumayan live gratis" ucap Ogi yang memegang perutnya saat gado gadonya di ambil alih oleh Dinda
"abis gue pikir si Askaf yang paling alim, dia gak pernah tertarik sama yang berbau kek gituan" ucap Dinda kesal melihat Ogi yang masih berusaha meredakan tawanya dan melahap gado gado Ogi yang tinggal setengah
"jadi lo pikir si Askaf maho? Kalo iya ngapain sama si April kenapa gak sama gue atau Dava aja" Ogi menyenderkan tubuhnya di sofa yang ditiduri Dava "Askaf juga cowok normal dan itu adalah kebutuhan cowok, dia bukannya gak tertarik tapi pada dasarnya orangnya emang kek gitu" Dinda mengangkat alisnya melihat Ogi meneguk air di gelasnya "dia gak butuh teori dia cuman butuh praktek, dan lo tahu sendiri kan si Askaf sama April kek gimana" Tambah Ogi dan mendapat anggukan dari Dinda, mereka tahu bahwa Askaf mempunyai ribuan kepribadian yang hanya akan ditunjukkan pada April, Dinda menggeleng bisa bisanya dia lupa akan hal itu
"so?" tanya Dinda saat melihat Ogi yang menatapnya intens
"gado-gado gue" jawab Ogi
"lo makan punya gue aja, gue gak bakalan bisa habisin, gue juga mau temenin si Dava makan nanti" bukan rahasia umum lagi jika Dava membuat keributan subuh subuh untuk membangunkan Dinda karena dia lapar
Ogi mengangguk antusias, lumayan jatah double.
-
Dinda benar pukul 04.37 Dava membangunkannya yang tertidur di karpet berbantalkan lengan Ogi yang juga terlentang di samping Dinda
__ADS_1
"yang, ngapain sih kamu tidur di karpet sama si mogi mogi" protes Dava sambil menyuapkan gado-gado kearah Dinda
Ini bukan kali kesepuluh Dava membangunkan Dinda untuk makan bersamanya, entah untuk kesekian kalinya hingga ia tahu bahwa laki laki menyebalkan ini tidak akan makan jika Dinda tidak ikut makan bersamanya
"Ketiduran" jawab Dinda sebelum melahap toge and the geng itu kearahnya, setidaknya itulah nama yang Dava juluki untuk makanan kesukaannya itu
Dava memasukan toge squad kemulutanya kemudian mengangguk menanggapi ucapan Dinda "Eh yang-"
"telen dulu" potong Dinda saat Dava mengangkat bicara. Pria itu menganggat tangannnya membentuk huruf V
"Menurut lo maksud Roy tadi malam apa yak?" Ogi meraih air di depannya dan meneguknya, ia melirik Dinda sepertinya juga sedang berfikir
Dinda mengangkat kedua bahunya "Gak tahu, mungkin salah satu rencana Rimba, lagian si Askaf keburu ngebonyokin tuh anak mangkanya kita gak dapat informasi" jawab Dinda "atau jangan jangan Gabriel ketua OSIS" tebak Dinda sekenanya
Dava menggeleng "Sembarang lo Yang, gitu gitu si Gabriel anak baik baik, gak mungkinlah ia gabung Geng geng kek kita apalagi Gengnya si Rimba" ucap Dava, Dinda mengangkat bahunya acuh kemudian menerima suapan dari Dava lagi
Meskipun sebenarnya ragu tapi tidak menutup kemungkinan Gabriel terkait dengan hal ini, Dava sedikit curiga, namun keraguannya lebih besar, sudahlah bukan hanya satu yang bernama Gabriel didunia ini.
"lebam lo gimana" Dinda menyimpan meraih air yang ada didepan Dava dan meminumnya
"lebih baik kalo lo cium" jawab Dava sekenanya, Dinda mencebik "udah gue lakuin tapi gitu gitu aja" ucap Dinda dalam hati
"itu maunya lo doang, dasar manja" sinis Dinda dan membersihkan meja tempat ia makan dan Dava
Dava tersenyum melihat Dinda melangkah menjauh, di dapur ia mencuci piring dan memasak sarapan untuk sahabatnya, jam menunjukkan pukul 05.59, daripada melanjutkan tidurnya lebih baik melakukan hal yang berguna
"Sabun Dove Sialan!!!" Dinda meringis teriakan menggema dari ruang tengah, ia berani bertaruh pada raja togel sekalipun, Dava pria menjengkelkan itu mengganggu tidur Ogi yang baru terlelap jam 3 tadi.
Kemudian disusul tawa dari Dava yang kian menghilang, Dinda melihat kearah tangga dimana Dava sedang berlari keatas dengan tawa yang menggema, bersamaan dengan pintu kamar Askaf yang terbuka, dan April keluar seraya mengikat rambutnya asal, Dava menghentikan langkahnya dan bebicara pada April, entah apa yang mereka bicarakan, yang Dinda tahu April sedang kesal pada Dava yang mengganggu tidurnya dini hari
Beralih pada Ogi yang berada di sofa tempat Dava tertidur, pria itu kembali membenamkan wajahnya di bantal, berniat melanjutkan tidurnya, Dinda tersenyum geli, meski tidak normal tapi gadis itu menemukan rumah kedua setelah orang tuanya yang terlalu sibuk pada pekerjaannya
"subuh subuh udah bangun aja lu Din" ucap April yang kini duduk di meja makan dan memperhatikan Dinda yang sibuk pada wajan di depannya
"biasa Prill si Dava minta ditemenin makan" jawab Dinda tanpa. Berbalik menatap April
April terkekeh, sahabatnya yang satu itu benar benar ajaib lebih dari lampu Aladin, melihat kebelakang dan mendapati Ogi yang masih begelut dalam mimpinya, ia melihat tas berukuran sedang di samping Ogi "Itu tas siapa Dind?" tanya April menunjuk tas hitan diruang tamu, Dinda berbalik dan mengikuti arah telunjuk April
"Tas gue, rencananya tadi malam pengen balik kerumah, tapi gue gak tahu kejadiaanya kek gini, mana tega gue ninggalin Dava hancur kek gitu" jawab Dinda dan memindahkan nasi goreng yang ia buat kewadah nasi kemudian melangkah menyimpannya di atas meja makan, meski terlihat tidak peduli tapi Dinda bagaikan jantung Flat ini, ia bagaikan ibu rumah tangga yang mengurus anak-anaknya, begitupula pada Dava yang ia acuhkan disirkuit namun menemaninya hingga pagi, bohong jika ia ketiduran disofa, Ogi sudah meminta Dinda untuk kembali dikamarnya tapi gadis itu menolak dengan alasan ia takut Dava membutuhkan sesuatu dan tidak mendapatkannya di dekat pria itu, Ogi bahkan manawarkan untuk memindahkan Dava kekamar dan sekali lagi Dinda lebih memilih menunggu Dava di ruang tamu, takut jika pria itu terbangun
April mengangguk "gue bangunin Askaf dulu, udah jam 6 lo sebaiknya siap-siap juga, Askaf bilang jamnya lebih pagi, lo berangkat sama Askaf biar gue sama Ogi sama Dava" Dinda menepuk jidatnya ia lupa bahwa hari ini jam pelajarannya lebih cepat dari sebelumnya
"yaudah gue mandi dulu" ucap Dinda dan melangkah masuk kekamarnya yang memang lebih dekat dari dapur
__ADS_1
April membuka pintu kamar Askaf dan menemukan pria itu yang masih meringkuk dalam selimutnya, sedikit menggoyangkan Askaf, April mencoba membangunkan pria itu "Kaf, Askaf, bangun" guman April namun hanya dijawab lenguhan pria itu
"yang katanya ada jam pagi" bujuk April kemudian menggoyangkan tubuh pria itu lagi, dengan malas Askaf membuka matanya dan melihat senyum manis April yang duduk di sampingnya
"kamu mandi aku siapin baju kamu" Askaf mengangguk dengan malas memasuki kamar mandi dengan malas
April mengambil sepasang seragam Askaf dan menyimpannya diatas kasur kemudian memasukkan buku sesuai jadwal pria itu yang sudah di hafal diluar kepala oleh April, terakhir membersihkan kamar pria itu
30 menit berlalu Askaf keluar dari kamar mandi dan menggosokkan handuk di kepalanya "Aku bngunin Ogi dulu" ucap April dan mendapat anggukan dari Askaf.
Mendengar suara berisik saat melewati kamar Dava, April membuka pintu Dava sedikit dan menemukan Dinda tang sudah lengkap dengan seragamnya meggelitiki telinga Dava dengan kemoceng, membuat pria itu mengendus kesal namun tak kunjung bangun dari tidurnya, ia kembali melangkah ketujuan awalnya, Membangunkan Ogi
"Ogi bangun" ucap Dinda menepuk pelan pria yang sedang tengkurap itu
"lima menit, please" gumannya setengah sadar
"Palalu lima menit, udah setengah 7, bangun atau gue siram" Refleks Ogi terduduk dan mengucek matanya, ia kapok dengan air yang pernah disiramkan April padanya saat tak ingin bangun.
Ogi berdecak "galak banget sih lu" Protes Ogi
"mandi sana, gue siapin sarapan, cepetan sana, awas lo tidur lagi, gue sirem lo pake es batu" perintah April dan mendorong tubuh Ogi yang ogah ogahan.
Askaf melangkah turun dan menghampiri April yang menyiapkan makanan untuknya.
"belum mandi?" tanya Askaf saat meililhat April yang masih betah dengan kemeja kebesarannya
April menggeleng dan tersenyum, "nanti kalo udah berangkat" jawab April dan diangguki Askaf
Dinda duduk di depan Askaf yang sibuk menyantap nasi gorengnya, ia meraih piring dan ikut makan bersama Askaf, April ikut bergabung dengan membawa secerek air
"makan sama aku" ajak Askaf
"nanti bareng Ogi sama Dava" Askaf mengangkat alisnya menatap April, mengerti dengan tatapan itu, April duduk dan ikut makan dengan Askaf dan Dinda
"jangan terlambat" Askaf mencium kening April
April mengangguk dan tersenyum
"Gue jalan Prill" ucap Dinda melambaikan tangannya dan berjalan bersama Askaf menaiki motornya dan meleset pergi
Gadis itu melangkah masuk dan bertemu Dava yang turun darj tangga "Lo sarapan gue mandi dulu" ucap April
"Dinda sama Askaf mana?" tanya Ogi yang kini duduk di meja makan
__ADS_1
"udah berangkat duluan"