
"kau sangat tinggi Ogi, aku bahkan hampir tidak bisa memelukmu seperti biasanya" Ogi mengecup singkat bibir Dinda "dan kau bahkan harus menunduk untuk menciumku, hei!! tiga tahun yang lalu kita sejajar saat kau mengangkatku seperti ini kan?"
Ogi memutar bola matanya, perempuan ini cerewet, tapi berhasil membuatnya kelabakan menahan rindu
"itu tiga tahun yang lalu Dinda, dan please pake bahasa indonesia aja kalo lo sama gue" Dinda terkekeh
"yes sir"
"kamu sendiri? April sama Dava dimana?"
"Oh, si April lagi dapet bulanan di mobil tadi, jadi Dava harus nganter dia buat belanja, gue naik duluan, nomor apartemen lo Dava yang kasi-"
Cup
Sendy membekap mulutnya perlahan mundur sudah tidak sanggup lagi melihat adegan kekasihnya dan sahabatnya yang begitu mesra. ini kah "ciuman persahabatan" yang dimaksud Dinda di bandara waktu itu.
"Astaga Gi- lo mau bunuh gue hah? Lo kayak maniak tau gak" protes Dinda saat pria itu melepas ciuman yang menggebu dari Ogi, Ogi terkekeh kembali keraup dan melumat bibir Dinda, rasanya gemas saat melihat perempuan itu mencibir
"yah gimana lagi, tiga tahun gak dapet jatah"
"gak ada yang ngsih yah?"
Eh? Tiba tiba Ogi teringat sesuatu, matilah dia, ia lupa jika Sendy ada di apartemennya, ia menurunkan Dinda di sofa dan mencari Sendy.
"eh mau kemana?" protes Dinda tidak terima
"cari Sendy" Dinda tertegun, ia tidak tahu bahwa Sendy ada diampartemen Ogi.
jantung Ogi berdegup kencang, saat mencari keberadaan Sendy. Lord.! Semoga saja gadis itu tidak melihat apapun, demi tuhan semoga saja!
"mereka udah dateng?" Ogi menegang mendengar suara Sendy saat masuk kedalam dapur
"kamu gak liat apa-apa?" tanya Ogi
Sendy menyerit "Lihat apa?"
"Dinda sama-"
"oh udah dateng, aku gak sadar, dari tadi didapur siapin minuman buat nyambut mereka" Ogi menatap buah yang berada di depan Sendy dan blender, ia menghembuskan nafas lega
"gadis baik, perlu aku bantu?" Sendy tersenyum dan menggeleng "udah hampir selesai, kamu temenin mereka diluar aja"
__ADS_1
"baiklah, aku tunggu kamu diluar" Ogi mencium pelipis Sendy sekilas lalu berlalu meninggalkan gadis itu, bodohnya Ogi adalah mengabaikan fakta bahwa selain kamar apartemennya tidak kedap suara, siapapun yang pasti akan mendengar suara pekikan Dinda tadi
Tangan Sendy bergetar, air matanya kembali menetes menatap punggung tegap itu, begitu kah? Ia menertawai dirinya sendiri yang bodoh. "Setelah dengan Dinda kau menciumku Gi" lirih Sendy
*****
"setelah beberapa tahun menjabat sebagai CEO, akhirnya Mr. Davin berani keluar kandang" Dava menyesap kopi yang disodorkan Dinda
"gaya lu ngomong gitu Dav"
"hello, gue calon pengusaha sukses yah Yank, informasi seperti itu penting buat gue" Dinda terkekeh, yang pada dasarnya gesrek akan tetap gesrek meskipun ia menduduki kursi CEO
"palingan juga om-om botak berperut buncit" Dava berdesis Dinda tertawa, April yang sudah siap dengan dres abu-abunya menimpali pembicaraan mereka
"pala botak, perut buncit gak jadi masalah kalo kaya, tinggal nunjuk cewe cantik semaunya"
"gue sih ogah yah" timpal Dinda menyerit jijik
"emang lo cantik Yank?"
*** Dava!
"cantik, cinderella aja ngiri"
Dinda membulatkan matanya "Eh upil kodok! Gue juga jomblo karna lo yang selalu ngancem cowok yang deketin gue!" pekik Dinda tidak terima
"udah mending kita berangkat, make up lo luntur sebelum acara kalo marah marah mulu"
April berjalan meninggalkan Dava dan Dinda yang masih berdebat kecil, katanya calon pengusaha sukses, tingkah aja masih menye-menye, dan satunya lagi calon hacker yang sama sekali tidak punya karakteristik hacker sejati, April terkekeh dengan fikirannya sendiri
****
Askaf Davinzon Smith.
Nama itu berputar di benak keempat orang yang mematung diantara ribuan manusia lainnya, acara wisudah yang mendapatkan tamu spesial itu benar benar riuh saat pria dengan jas hitam melekat ditubuhnya menaiki podium untuk mengucapkan beberapa kata
Dinda, April, Ogi dan Dava. Mereka bahkan tidak mendengar sedikitpun yang dikatakan pria yang berperawakan dewa yunani diatas sana, telinga mereka seakan berdengung menutupi gendang telinga mereka
April *** tangan Dava "bangunkan aku jika ini mimpi, tampar aku jika ini kenyataan" Guman April, matanya berkaca-kaca. Pria yang ia tunggu selama empat tahun lamanya berdiri disana, banyak yang berubah darinya, mata elangnya kian menajam, tubuhnya bahkan tercetak jelas di jas yang khusus itu
"Bajingan" Desis Ogi, matanya memerah antara menahan haru dan diselubungi emosi, tangannya terkepal hingga Sendy yang duduk disampingnya gelisa sekaligus merasa takut, tidak pernah melihat pria itu semarah ini
__ADS_1
Perkataan Ogi di Vidio Call mereka sepekan yang lalu yang mengatakan CEO D.Smith grub telah memiliki tunangan berputar hebat dalam benaknya, matanya terus mengikuti langkah pria yang hampir menggapai tangga untuk turun dari podiumnya
"April.!" Dinda berlari menyusul gadis yang berlari meninggalkan ruangan, Ogi yang duduk ditempat khusus mahasiswa itupun ikut mengejarnya bersama Sendy
Sekilas melihat Askaf yang mematung di ujung tangga melihat Aksi kejar-kejaran itu, Dava berdiri mendorong kursi hingga berbunyi nyaring karena keheningan terjadi saat April berlari, menarik perhatian Askaf
Dava tersenyum sinis saat menatap Askaf yang juga menatapnya, tempatnya yang tidak jauh dari posisi Askaf membuat Dava dengan mudah melihat ekspresi pria yang ia cap Biadap beberapa detik yang lalu itu sama sekali tidak meggambarkan rasa bersalahnya, Dava merapikan jasnya dan berlari mengikuti sahabat sahabatnya
"April Tunggu" Ogi meraih tangan April dan menarik gadis itu kedalam pelukannya
"Le-pasin Gue!" brontak April, namun tetap saja tenaga Ogi jauh lebih besar darinya, Dinda meringis mendengar jeritan April yang teredam didada Ogi "Lepass!!" meski tidak sekuat tadi tapi April masih saja memberontak
Bersyukur dengan keadaan parkiran kampus yang sepi karena acara yang baru saja dimulai, Sendy yang menatap iba kearah April sedikit tahu tentang Askaf dan hubungan mereka
"Lo boleh nangis, lo boleh menjerit, lo boleh pukul gue, tapi jangan harap gue lepasin lo" Ucap Ogi mengeratkan pelukannya pada April
Bersamaan dengan berhentinya penolakan April, tangisan gadis itu bertambah parah, membuat Dava yang baru saja menyusul mengepalkan tangannya geram
"Gi kita duduk disitu yah" Ogi mengangguk menyetujui ucapann Sendy dan membawa April duduk bersamanya
"Brengsek! Banjingan! Sampah! Sialan lo Askaf, aaaaaaakkhhh bedebah!!!" Dinda menghampiri Dava yang mengamuk menendang dan memukul benda yang ada disekitarnya
"Dava tenang dulu" pekik Dinda meraih tangan Dava
"Tenang apanya Dind? Gimana bisa gue tenang lihat bajingan itu hah? Setelah apa yang dia lakuin lo minta gue tenang!" Sendy yang duduk disamping April yang memeluk Ogi pun terpenjat dengan suara Dava
"iya gue tahu, kita bisa bicarakan ini baik baik, yang jelas tenangin diri lo dulu"
"lo bego atau apa sih Dind? Lo udah lihat dengan mata kepala lo sendiri! Apa gunanya lagi dibicarakan"
"ok ok! Gue ngerti,perasaan lo, tapi please tenang dulu
Suara langkah kaki menarik perhatian mereka, Dava dan Ogi secara refleks menghentakkan tangan yang memeluknya dan berlari menghapiri pria yang berjalan kearahnya
Askaf memiringkan kepalnya menghindari pukulan dari dava dan memiringkan lagi tubuhnya saat Ogi ikut menyerangnya, pandangan keduanya seakan membakar namun tetap tidak ada apa apanya dengan wajah Askaf yang tetap datar
Pertarungan dua lawan satu yang dulunya sahabatan itu berlangsung lama dengan Askaf yang keluar sebagai pemenang, Dinda, April dan Sendy menatap tak percaya pada Pria yang menepuk membersihkan jasnya
"Brengsek" Dinda memekik dan berniat menampar pria yang membuatnya muak beberapa waktu lalu, namun gerakannya tertahan saat Askaf menahan tangannya dan menghempaskannya hingga gadis itu terjatuh
Askaf meraih wajah April, mencengkram rahang wanita itu, matanya berkilat tajam melihat wajah sendu April yang masih dipenuhi air mata, seakan beku April hanya memandangi Askaf yang menatapnya seperti ingin membunuh
__ADS_1
"Kau adalah milikku"
tbc