My Bestfriend My Enemy

My Bestfriend My Enemy
Salak


__ADS_3

Dava memegangi perutnya, tiba-tiba perutnya sakit saat tertawa keras, ia memandangi wajah-wajah serius sahabatnya, ia rasa aktingnya cukup untuk jadi pemain ftv picisan


Tubuhnya oleng saat menerima geplakan maut sendal rumahan ala Dinda, gadis itu ingin menhancurkan wajah yang sialnya tampan ini, meski ia sendiri tidak tahu motif dibalik tawa misterius Dava, baginya ini bukan momen yang tepat untuk tertawa


"Sakit ay"


"lo kesembet apa sih Dav?"


"he eh? Kan lo bilang kita sepeti biasa, kan biasanya gue kek gini" Ogi menjatuhkan tubuhnya disofa menangkap arah pembicaraan badut recehan yang dengan watadosnya tertawa di tangga


"sarap" Dinda memakai sandal rumahannya dan kembali kesofa, ia meraih April yang masih setia memeluk Askaf


"kita lupain nanti ok, hari ini kita jalani" gadis itu menatap netra coklat Dinda, meski enggan tapi tetap mengangguk, bagaimanapun ini keinginan Askaf


"hari ini kita gak usah sekolah yah" April menatap penuh harap pada Dinda, gadis itu beralih menatap ketiga sahabatnya meminta persetujuan dan diangguki selain Askaf


"kita harus tetap masuk"


"ayolah kaf, lo gak mau ngelukis moment moment bahagia gitu sama kita" rajuk Dava dengan gaya lebaynya


"bolos sehari gak buat kita bodoh seumur hidup"


"selain April maksudnya" April mendelik pada Ogi yang dengan santainya mengatakan bahwa dia bodoh


Dinda, Dava dan Ogi tertegun seperti melihat setan, meski kecil tapi mereka yakin Askaf tersenyum?


"Apa?"


*****


"Otak gue buntu" Dinda menjambak rambutnya saat memainkan permainan yang membosakankan baginya, demi untuk bisa bermain dengan Askaf yang entah kapan lagi bisa ia lakukan


Tidak terhitung berapa kali ia kalah, hanya Dava yang mampu mengalahkan pria yang entah kenapa hari ini mereka merasa Askaf banyak tersenyum, kemenamgannya pun hanya sekali, mungkin keberuntungan, tiga lawan satu, saking berambisinya ketiganya melawan Askaf yang tampak biasa saja sedangkan Dinda, dava dan Ogi keringat dingin takut salah langkah


"skak!.......Mati" Ketiganya melebarkan matanya tidak percaya dengan strategi yang mereka bagun mati-matian dengan gampangnya dibaca oleh Askaf


Sialan sekali Askaf terancang untuk pintar


"gue udah bilang strategi lo basi" Dava menjepit kepala Ogi dan menjitak kepalanya habis habisan


"sejak kapan lo bilang ***"


"emang dasarnya lo tuli"


Dinda melihat April yang keluar dari kamar menggosok rambutnya yang basah dengan handuk, kemudian menatap Askaf yang kembali mengatur caturnya


"Eh Kaf, nanti kalo lo udah nyampe disana, ngapain aja?" Sejenak terdiam dan berhenti melakukan atur caturnya Askaf menatap Dinda dengan makna tidak ingin membahas tapi tetap dijawab Askaf


"gue juga gak tahu, gue belum pernah turun langsung diperusahaan"


"emang segitunya yah sampe lo harus turun tangan"


"bukan segitunya, emang tanggung jawab gue, anak satu satunya bokap"


"lah, bukannya si Rimba juga anak bokap lo Kaf" timpa Dava


"dari awal emang bokap gue bangun perusahaan buat gue"


"dibidang apa?" Ogi menumpukan tangannya dimeja menatap Askaf tertarik, moment langka pria itu menjawab semua pertanyaan dengan jelas selain Ya, Tidak, Oh dan anggukan


"security dan transportasi"


"jual beli satpam gitu" Dinda memukul kepala Dava karena pertanyaan bodohnya


"pantes aja lo jago bikin alat pelacak ini" Ogi menunjuk ke lengan kanannya tempat alat pelacaknya ditanam, Askaf dan Dinda adalah paduan yang sangat sempurna saat itu berhubungan dengan skill melacak


"gak juga, gue gak pernah belajar diperusahaan"


"gue lupa lo pindah keindonesia kelas satu SD"


"April ambilin jus jeruk" Dava cengengesan mendapat delikan tajam dari Askaf, sungguh ia haus setelah membuang keringat melawan Askaf dimeja catur dan Ogi di pergulatan kekalahan

__ADS_1


"bisnis sekejam itu yah, berteman aja gak boleh"


"begitulah, gak ada yang bisa dipercaya dalam bisnis"


"ck! Kaf, semenit yang lalu lo bilang gak tahu bisnis, sekarang lo bicara seakan akan udah jadi CEO seabad" Askaf terkekeh hingga giginya hampir kalihatan sempurna karena gerutuan Dava


Ketiga sahabatnya melongo melihat gingsul dan lesung pipi Askaf yang menghiasi kekehannya, oh Askaf tuhan ngebayangin apasih pas nyiptain lo


"Dav, sadarin gue "


"Kayaknya gue juga mimpi deh Dav"


"kita bertiga kali yah"


Senyum lebar Askaf luntur begitu saja melihat wajah wajah minta tabok ketiga sahabatnya, entahlah Askaf juga bingung dengan otak sahabatnya jika dalam fase bercanda, ada ada saja hal yang menakjubkan yang dilakukan mereka


"kalian kenapa?" April meletakkan jus jeruk didepan Dava


"gue lihat pangeran ketawa tadi" April lantas melihat Askaf yang juga melihatnya


"si maho"


"eh tiati kalo ngomong yah"


"yah kali ajakan, selama inikan lo jomblo"


"idih, ngaca dong buk, emang Askaf nganggep lu pacar? Gue juga gak butuh pacar kale, Dinda juga cukup, bener gak Yang" Sinis Dava lalu meminta persetujuan Dinda


"serah"


"eh kaf lo gak pamitan sama para tetua" Askaf menggeleng dengan celetukan Dava


Tetua adalah gelar orang tua dark rider, awalnya Dava yang mencetuskan nama tersebut entah apa yang dibahas saat itu tiba-tiba Dava mengatakan para tetua, yang awalnya menjadi pro dan kontra berkepanjangan, namun apalah daya mulut Dava yang seperti menampung seribu mulut gaib yang suka bercoleteh


Tidak jarang April yang sebagai personil terkalem -meskipun sebenarnya tidak tapi dialah yang paling minim bicara- rasanya ingin menabok pria itu saat berbicara panjang kali lebar tapi tidak memiliki makna selain mengejek orang, itulah keahlian Dava yang tidak pernah mendapatkan penghargaan


"gak bakalan sempat juga kali Dav"


****


"kamu beneran gak bawa barang barang kamu?" April duduk ditengah kasur bersila melihat Askaf yang memunguti barang barang yang menurutnya saja penting untuk dibawa seperti beberapa figura fotonya dan April dan barang barang yang April berikan padanya termasuk jam tangan yang Gisel dan Elang belikan


"aku bisa beli semuanya disana"


Holang kaya mah bebas


"tapi kan yang disini juga masih layak pakai"


"kamu pake yang mau kamu pake, selebihnya kasi ke Ogi atau Dava atau kalo enggak, sumbangin aja" April mengangguk patuh, ia masih setia menatap Askaf yang memilih barang-barang yang harus ia bawa


Suasana yang begitu menyedihkan sebenarnya untuk April, entah Askaf sadar atau tidak tapi April benar-benar ingin berteriak untuk menahan Askaf untuk tidak pergi, mendengar kabarnya saja ia sudah kelimpungan


Bagaimana nanti jika ia harus menjalani semuanya saat Askaf sudah tidak ada, berapa tahun mereka bersama pasti akan aneh jika Askaf sudah tidak bisa ia dapat dijangkauan dan pandangannya


Hoddie putih yang Askaf lipat membuat April tersenyum miris, itu adalah kado yang April berikan dua tahun yang lalu, pria itu sangat menyukai warna putih, hampir semua barangnya berwarna putih, termasuk kamar yang nuangsa hitam putih


"aku gak percaya kamu beneran ninggalin kita"


Meletakkan hoddie dalam koper, Askaf duduk di pinggiran kasur, ia bisa melihat dengan jelas sorot kepedihan dimata April dan yang lainnya hanya saja ia tidak ingin menegur karena takut merusak suasana yang setengah mati mereka bangun, anggap saja suasana bahagia dibalik luka, eh


"Aku gak pergi Ly" Askaf mengusap pipi April lembut, dan hati-hati seakan yang ia pegang adalah berlian mahal yang rapuh dan siap hancur sedikit saja melakukan kesalahan "Aku hanya berjalan untuk capai tujuan aku, kamu tahu tujuan hidup aku" tangan yang selama ini menggenggam tangan Askaf terasa dingin dikulitnya "tujuan aku kamu Ly"


Wajah April merona, entah apa yang membuatnya malu-malu, padahal ini bukan kali pertama Askaf mengungkapkan kata gombalannya, bisa dibilang bukan gombalan, karna setahu mereka Askaf bukan orang orang yang inkar pada kata-katanya, semacam manusia yang banyak diam tapi kaya akan tindakan


Bahkan terkadang Dava ingin menabok kepala pria itu dengan palu thor saat ingin bercandai Askaf tapi pria itu selalu saja serius dengan apa yang di ucapkannya, membuat Dava kadang kalang kabut


"kamu alergi sama aku?"


Heh?


"apanya?"

__ADS_1


"pipi kamu merah sampai telinga"


Gosh!


Tidak tahukah pria ini jika pipi merah itu tanda ia tersipu? Sadarkan dia siapapun didunia ini jika dapat kata-kata seperti itu dari pria setampan Askaf pasti akan mengalaminya


Kerutan di dahi Askaf benar benar membuat April ingin menjadi tim penyemangat Dava untuk menabok kepala Askaf dengan palu thor, anggap saja ia jahat, salahkan pria tampan itu yang tidak tahu arti blusshing


"jangan memutar matamu padaku Pril"


"aku tidak memutar, hanya melihat kiri, atas, kanan, bawah"


Tak!


Hey apa-apaan pria ini, baru beberapa saat ia membuatnya blusshing sekarang menyentil keningnya yang malang,


"sak-"


Eh?


Baru saja April ingin mengeluarkan omelan tingkat ibu-ibunya, Askaf mengecup bibirnya kilat, merasa jengah tanpa sadar April memutar bola matanya kembali


Tak!


Heii!!


"Ask-"


cup


Eh?


Askaf terkekeh melihat tatapan tajam April, rasanya menyenangkan membuatnya kesal, mungkin alasan Dava suka mengganggu orang lain dengan tujuan ini


Saat Askaf mengangkat tangannya ingin kembali menyentil kening itu, April lebih dulu menutupi keningnya membuat pria berlesung pipi itu terkekeh renyah


April menatap Askaf penuh protes apa-apaan pria ini, sakit jiwa mungkin dia, setelah kejadian tadi subuh ia menjadi menyebalkan mungkin saja tamparan pada Dava sangat keras hingga setan Dava keluar dan masuk ketubuh Askaf, sepertinya


"jahil banget deh sumpah"


"salah sendiri, siapa suruh gemesin"


"kemarin kemarin enggak tuh"


"emang enggak"


"Apa!!"


Cup


Nah kan


"jangan teriak teriak aku gak tuli"


"kam-hmmptt"


"lanjutin yang tadi malam yah"


"tadi malam aja nolak"


****


Bughh


Ogi Dan Dinda menepuk dengan tidak santai punggung Dava yang keselek salak untuk yang ketiga kalinya, ia menyumpahi siapapun yang mengganggu acara makan salaknya


"niatnya nolongin atau balas dendam sih" mata Dava memerah dan berair karena tenggorokannya masih deganjal salak yang seenaknya menerobos tenggorokannya tanpa izin dari Dava


"dua duanya, lagian lo makan kek gak pernah dapat salak aja"


"gue makannya pelan kali Yank, salaknya aja yang bandel main masuk masuk aja"

__ADS_1


tbc


__ADS_2