My Bestfriend My Enemy

My Bestfriend My Enemy
Perpisahan


__ADS_3

Banyak tawa yang menggema di flat sederhana itu, dimana penghuninya bahkan tidak pernah melewati pagar untuk keluar rumah, biasanya pagi hingga siang flat akan kosong dan kembali disore hari, itupun tidak setiap malam flat akan terisi lengkap


Ogi menatap sahabatnya yang duduk diatap dengan Dava duduk paling depan dan Askaf dan April si belakang kirinya, serta Dinda yang tidak jauh darinya, menyaksikan sang mentari yang berganti tugas dengan bulan, jika ditanyakan hal yang Ogi sukai maka jawabannya adalah matahari


Mungkin bagi kebanyakan orang mengatakan bahwa matahari hanya menyinari siang tapi tidak menemani selamanya, ia tidak menemani tidurnya


Salah!!


Justru mataharilah yang paling setia, meski ia pergi dimalam hari, meski ia tidak dianggap pada malam hari, meski ia tidak menemani tidur tapi matahari tetap membantu bulan dengan sinarnya, meski orang mengatakan bahwa bulan bersinar indah tanpa mau tahu bahwa itu adalah sinar matahari


Ogi ingin menjadi seperti itu, menyinari semua orang meski tidak ada terimakasih meski tidak dianggap, tapi itu dulu, sekarang ada keempat sahabatnya yang selalu menganggapnya dan sekarang ia ingin Askaf begitu nantinya, meski tidak lagi bersama tapi pria itu akan ada dihati mereka, menyinari


Dava merenggangkan tangannya keatas "gak terasa yah udah mau malam aja" memecahkan keheningan


Dinda melirik Dava yang duduk di ujung atap menjuntaikan kakinya kebawah, siluet pria yang selalunya menganggu dan ceria itu terlihat murung dan tidak bersemangat meski melihatnya hanya dari belakang


Tidak ada jawaban, semuanya terdiam larut dalam fikirannya masing-masing, rasa takut itu kian menyelimuti setiap detik tenggelamnya matahari


Dava melihat 4 mobil hitam memasuki area flatnya, meski miris tapi ia tetap tersenyum, Dava berbalik dan melihat keempat sahabatnya dengan sendu duduk dibelakangnya, ia berdiri


"jujur sih lo nyebelin kalo kebanyakan diam, kadang gue pengen nyeburin lo keamazon, kadang gue pengen nabok lo pake palunya thor dan kadang gue mau kasi masuk lo kejebakan jigsaw, tapi gue tetap gak rela ngebiarin lo pergi" sekilas Dava melihat beberapa pria berbaju hitam turun dari mobil, ia berbalik melihat Askaf


Merasa Dava berbicara dengannya, Askaf menatap pria itu dengan intens, menunggu lanjutan ucapannya


"Apapun yang terjadi gue bakalan nungguin lo, gue gak bakalan mati sebelum lo balik kekita lagi, dan lo harus balik meski tanpa nyawa atau hanya tulang tulang sekalian" lanjut Dava


Askaf tersenyum mengeratkan rangkulannya pada April "Gue janji akan kembali secepatnya"


"Gue pegang janji lo-Lagi Kaf"


"lo nyebelin yah Kaf, bertahun tahun hidup sama kita tapi lo segampang ini ninggalin kita" Askaf tidak membantah ucapan Dinda karena pria itu tahu bahwa Dinda berusaha menyampaikan segala yang mengganjal dihatinya


"gue pengen bagi dua lo Kaf, biar lo tetap disini meskipun tubuh lo cuman setengah" Askaf terkekeh, Pedih!!


"gue gak maho, tapi hati gue sakit nginget kalo lo bakalan ninggalin kita" Ogi tersenyum menatap matahari yang sedikit lagi terbenam


"gue sayang sama lo Kaf" April memeluk Askaf saat merasakan tubuh pria itu bergetar karena ucapan sahabat sahabatnya


"gue juga sayang sama kalian"

__ADS_1


Dava tersenyum "Lo udah dijemput" Dinda,Ogi dan April terkejut panik dengan ucapan Dava


"Kaf" seru April


Deru nafas Askaf tidak beraturan, ia membawa April turun dari atap, dan diikuti sahabatnya, dengan mengendap endap, Askaf berusaha turun dari tangga dan memasuki dapur, sungguh ia belum siap


"kami datang menjemput anda tuan" Askaf mematung melihat Albert berdiri didekat jendela, menetralkan nafasnya Askaf berjalan kearah Albert dan dihampiri dua boydigardnya


"Askaf" pekik April, air mata gadis itu sudah mengalir sejak tadi, begitupun dengan Dinda dan Ogi


Askaf berbalik ingin meraih April namun ditahan kedua Boydigardnya sendiri, Askaf memberontak dan memukul kedua boydigardnya secara membabi buta, saat boydigard lainnya ingin meraih Askaf, Dava dan Ogi serentak menendang tubuh kekar itu hingga terpental kesofa ruang tamu


Tidak sampai disitu enam boydigard lainnya kembali menyerang Dava dan Ogi kemudian mencoba meraih Askaf, bukannya berhasil Askaf malah menjatuhkan satu boydigarnya lagi


Terengah, luka luka yang disebabkan boydigarnya menghiasi wajah ketiganya, penampilan dengan penuh keringat dan acak acakan membuat Dinda dan April panik


Ingin membantu tapi boydigard lain menariknya dari belakang dan menjatuhkan keduanya dengan posisi berlutut dan belati yang siap menerjang leher Dinda dan April


Askaf meninju bergatian dua boydigardnya hingga terpental kembali, ia melihat Ogi yang kewalahan menarik lawannya dan menjatuhkannya telak, suasanya benar benar mencekam, pertarungan didalam flat berlansung beberapa menit hingga beberapa boydigard tidak bisa berdiri lagi dan Dava yang kegabisan tenaganya


"Cukup Tuan!!" pekik Albert untuk kesekian kalinya tapi diharaukan Askaf


"April Dinda!!" Pekik Ogi


"ikut saya sekarang atau mereka menjadi korbannya" ucap Albert berusaha tenang


"kau menantangku Albert?"


"sungguh, tidak tuan"


Askaf mendekati April, namun belum sempat melangkah jauh lagi lagi suara Albert mengintruksi "jangan mendekat tuan, atau-" mata Askaf memerah menahan emosinya melihat April yang menangis menggeleng


"atau apa Albert?" Albert terdiam sejenak "atau belatinya akan melukai mereka tuan" April menggeleng meminta Askaf untuk tidak pergi


"lepaskan dia bajingan" pekik Ogi dan salah satu boydigard itu juga melumpuhkan Ogi dari belakang,


"maaf tuan Ogi, setelah tuan Askaf berasama saya, saya berjanji akan melepaskannya"


"persetan!" Ogi menatap Dava yang tidak sadarkan diri didekat boydigard Askaf

__ADS_1


"baiklah, aku ikut, tapi biarkan aku mendekatinya dulu"


"maaf tuan, kami tidak tahu apa yang akan kau lakukan"


"Apa maksudmu Albert" Askaf berteriak marah


"ikutlah denganku tuan"


"kau tidak mempercayaiku?"


"maaf tuan" Albert menunduk sopan


"tidak" Askaf berjalan mendekat


"lakukan" seketika Askaf berhenti berjalan


"Tunggu!!" menjeda kalimatnya, ia menatap dalam kearah mata April mengarungi mata coklat itu menyimpannya baik baik diingatannya, gadis itu menggeleng dengan air matanya yang mengerikan, sorot terpukul memancar menghujam jantung Askaf, begitupun Dinda.


sedikit tersenyum pahit "Aku mencintaimu April, Dinda jaga dirimu dan lainnya", dengan berat hati Dava berbalik "kau menang Albert" bersamaan dengan Air matanya yang terjatuh


"Tidak! Askaf tunggu" Askaf berjalan menghiraukan pekikan sahabat sahabatnya, berat sangat berat tapi ia harus pergi


"Askafff!!!"


"tunggu Askaf!"


"tidak!!"


merasakan sesuatu disuntikkan di bahunya Ogi menggeram "Askaf ingat janji lo!!"


Memberontak tapi tetap saja tidak berhasil, mereka hanya mampu teriak ditambah suntikan bius yang melemahkan dan mencoba meraih kesadaran ketiganya, sedangkan Dava yang pingsan sejak pergulatan tadi masih tetap diawasi boydigardnya


Askaf berbalik bersamaan dengan mata April yang tertutup


"itu hanya bius dosis rendah tuan muda"


"persetan denganmu Albert"


Albert tersenyum mengangguk menutup pintu mobil dan berjalan kearah pintu penumpang disisi lainnya, dan meninggalkan flat bersama keterpaksaan Askaf

__ADS_1


Bisakah ia melanjutkan hidup saat sebagian dirinya ia tinggalkan disini? Askaf menangis tanpa suara, pedih yang teramat sangat, yang baru ia rasakan seumur hidupnya


__ADS_2