
Askaf mengambil April dari Pelukan Dava, menggendong gadis itu untuk berbaring kekasur miliknya, Dava memalingkan wajahnya tidak ingin melihat Askaf yang ternyata sama hancur dengan mereka
April tidak sadarkan diri digendongan Askaf tadi, sekarang ia berbaring dikasur yang ukurannya cukup besar, Askaf duduk dipinggiran kasur menatap April yang kehilangan kesadarannya, bekas air mata mengering dipipinya sangat jelas, hidungnya yang memerah, dan matanya yang sembab, tidak pernah Askaf melihat gadisnya seberantakan ini, dan ini ulahnya
Askaf meraih tangan April dan menempelkannya dipipinya tangannya sangat dingin, membuat Askaf takut, bahkan tangannya sampai bergetar memegang jemari April, Askaf menciumi buku-buku jari April, ia juga tidak bisa menahan tangisnya, mengapa perpisahan harus sesakit ini, padahal ia pergi demi kebaikan semuanya
Dinda memegang bahu Askaf yang bergetar hebat, ia ingin menenangkan Askaf tapi Dinda tidak bisa menetralkan suaranya sendiri ia juga susah menenangkan dirinya "Apa yang harus gue lakuin?" rintih Askaf pedih, ia masih setia menciumi tangan April
"gue gak bisa ninggalin April, tapi gue juga gak bisa ngabaiin bokap gue" Askaf berbalik memeluk perut Dinda namun tangannya tetap menggenggam tangan April
Ogi,Dava membuang pandangannya kearah lain, untuk pertama kalinya Askaf menopangkan bebannya pada selain April, bahkan untuk pertama kalinya mereka melihat nya menangis sepedih ini.
Dinda mengelus rambut Askaf, ia menggigit pipi dalamnya untuk menahan raungan yang mengganjal di dadanya "kami semua hargain keputusan lo Kaf, kami tahu lo udah pertimbangin semuanya, tapi setidaknya lo nanti masih berhubungan sama kita, lo gak perlu sedih, kita bakalan ngunjungin lo, atau lo yang balik kesini ngunjungi dark rider, pintu ini selalu terbuka buat lo" Askaf menggeleng, membuat Dinda menyeritkan dahinya
"setelah gue pergi berarti hubungan kita juga harus break sampai disini kan?"
"maksud lo apa Kaf" Ogi menarik kerah baju Askaf secara paksa dan membuat pria itu berdiri, Dinda terdorong kebelakang karena aksi Ogi
"gue gak bisa berhubungan sama siapapun lagi"
"maksud lo apa bajingan!! lo mau ninggalin kita semua, lo mau lupain April maksud lo gitu, Hah?!!" Askaf mengangguk lemah dan detik selanjutnya ambruk saat Ogi meninju rahang pria itu
"Askaf" Dava berlari kaerah Askaf dan Dinda menahan Ogi yang siap menghantam pria itu lagi
"jangan mentang mentang lo udah jadi pewaris sah, lo mau lupain kita semua, otak lo mana Kaf, hati lo kemana bedebah" Ogi membentak Askaf hingga wajahnya memerah menahan Amarah, Dinda yang memeluk lengannya dengan kuat agar Ogi tidak menyerang Askaf lagi
"lo gak ngerti di posisi gue" Dava membantu Askaf berdiri
"bukan gak ngerti tapi lo emang egois kaf"
"lo gak ngerti, gue cuma mau jangain kalian"
"bagaimana bisa lo jagain kita saat lo sendiri mau ngelupain kita, hati lo dimana Kaf, kita udah bareng sejak kecil, semudah itu lo mau lupain kita? Brengsek lo emang, bedebah, anjing, mati aja lo" Ogi menepis Dinda dan melangkah keluar, menutup pintu dengan membantingnya
Dinda melihat kearah Dava yang masih memegangi Askaf, Dava mengangguk mengerti maksud Dinda yang meminta persetujuan untuk mengejar Ogi
Dava mendudukkan Askaf di sofa, pandangan pria itu kosong, pikirannya melayang entah kemana "gue harus gimana Dav?" tanya Askaf masih dengan tatapan kosongnya
"lebih baik lo jelasin semuanya kegue baru gue biar gue ngerti semuanya, biar kita gak salah paham"
Askaf menceritakan semuanya pada Askaf dan alasan mengapa ia harus meninggalkan April dan memutuskan hubungan dengan Dark Rider, dan benar adanya semuanya adalah demi kebaikan mereka sendiri
__ADS_1
"gue bakalan balik saat semuanya kembali normal, saat ini kondisinya masih sangat rentan" Askaf mengusap wajahnya frustasi
"butuh waktu berapa lama?"
"gue gak tahu, ini pertama kalinya gue terjun didunia bisnis sebesar ini, gue gak yakin bisa nyelesaiin masalahnya"
"kita bakalan nunggu sampe kapanpun itu" Dava menepuk bahu Askaf dan berjalan meninggalkan pria itu
Askaf berdiri menghampiri April yang belum sadarkan diri dari pingsanya, Askaf duduk disisi April, menepis anak rambut yang berantakan di pelipis dan leher April, ia merongoh kantongnya untuk menghubungi Albert
"Tuan"
"penerbanganku jam berapa?"
"besok pagi penerbangan pertama tuan"
"jadwalkan ulang, aku ingin mengikuti penerbangan terakhir" bagaimanapun Askaf sudah berkata bahwa ia akan pergi malam hari, tidak ingin mengecewakan gadis itu lagi
"Tapi tuan"
"lakukan atau aku tidak berangkat"
"Albert?"
"ya tuan?"
"aku butuh bantuanmu Albert"
"tentu tuan, katakan saja"
"aku ingin kau menjemputku di flat, bawa beberapa boydigard, pastikan saat sampai bandara pesawat siap berangkat tanpa penundaan semenitpun, dan apapun yang terjadi tetap bawa aku pergi" Albert terdiam cukup lama, ia tidak yakin dengan maksud Askaf
"Albert?" sahut Askaf
"ya tuan, akan saya laksanakan"
Askaf memutuskan sambungan dan menyimpan ponselnya di atas nakas, ia memandangi April yang menggeliat lemah, Askaf mengusap tangan April dengan lembut
"Askaf?"
"iya sayang"
__ADS_1
"kamu disini?" April mencoba bangkit dari tidurnya namun ditahan oleh Askaf, bukannya kembali tertidur April menarik Askaf dan mencium pria itu
Askaf melepas pungutannya setelah beberapa lama, ia menatap April yang terengah kehabisan nafas, Askaf tersenyum dan mencium kening April
April *** seprai putih milik Askaf, ia bahagia ada Askaf disini bersamanya tapi ia juga sedih bahwa besok dan seterusnya ia tidak akan membuat kenangan lagi disini, hanya akan ada dirinya dan bayangan Askaf
"sampingkan apa yang terjadi besok, lewati malam ini seperti biasa,ok"
April mengangguk lemah, ditatapnya mata laut Askaf yang masih setia diatasnya memandanginya begitu dalam, meski Askaf berkata demikian tapi April tahu dibalik cerahnya mata Askaf pria itu merasakan sedih yang sama dengannya
Askaf tersenyum, ia ingin kembali berbaring disisi April, tapi gadis itu menahan Askaf agar tidak berpindah dari atas tubuhnya
"Aku menginginkanmu" Lirih April
"April? Maksud kamu apa sayang?" Askaf menyeritkan keningnya heran
"aku mau kamu" ucap April mantap
"April kita sudah sepakat tidak akan melakukannya sampai kita menikah"
"Apa pentingnya janji itu sekarang Askaf? Kau juga berjanji padaku tidak akan meninggalkanku, tapi kau juga mengingkarinya" Air mata April yang ia tahan sejak tadi mengalir begitu saja
Askaf menatap April penuh penyesalan, ia selalu marah jika ada yang mengganggu April tapi sekarang ia yang membuat April menangis bahkan menghancurkan gadis itu
"sayang--"
"Aku mohon Askaf, aku ingin kamu, aku ingin memiliki kamu seutuhnya, aku ingin kamu bertanggung jawab atasku dan kembali padaku suatu saat nanti"
"April" Askaf menyeka air mata April
"Aku akan menunggumu sampai kapanpun juga, aku juga ingin bersamamu, aku hanya ingin mencintaimu dihidupku, aku-"
Ucapan April terpotong saat Askaf menciumnya tiba tiba, April merasakan semua emosi Askaf menyatu padanya, April tersenyum disela ciumannya tapi air matanya juga mengalir disudut matanya
Ia ingin memiliki Askaf untk dirinya sendiri, ia ingin menjadi cinta pertama dan terakhir dihidup Askaf, ia ingin Askaf seutuhnya, meski ia harus menunggu seumur hidupnya
April menangis antara sakit dan bahagia, gelayar aneh menyerang tubuh April, ia adalah milik Askaf sekarang tapi besok ia harus berpisah dengannya, adakah kesakitan yang lebih dari ini
Mati matian April menghirup dalam aroma Askaf yang ia telah familiar untuknya, April merasakan Askaf, menikmati pelukan Askaf, ia ingin mengingat semua yang tidak terlihat dari Askaf, ciuman Askaf, cumbuannya, April ingin memilikinya semuanya, ia ingin tahu Askaf dari segala sisi, ia ingin menyimpan semua tentang Askaf diingatan untuk selamanya
****
__ADS_1