My Bestfriend My Enemy

My Bestfriend My Enemy
Kelaparan dan Matilah


__ADS_3

Ogi membanting gelas yang diberikan Dinda beberapa saat yang lalu, matanya memerah menahan amarah membaca pesan singkat yang ditinggalkan April pada mereka


*Gue ikut Askaf sebentar, jangan khawatir gue masih jago silat kalo ada apa-apa, gue usahain balik secepatnya sorry buat luka-luka Dava


April yang cantik*


"Astaga Ogi, kalo kena Dava gimana" protes Dinda yang duduk disamping Dava yang masih tertidur atau tepatnya pingsan


Menghela nafas Dinda menghampiri Ogi dan mengusap lengan pria itu "tenang, gue yakin Askaf gak bakal nyakitin April kok" mereka ragu.! Setelah melihat perubahan Askaf dua hari yang lalu


"Gue takut Dind" menjatuhkan diri di kasur kamar April dan memijit pangkal hidungnya yang berdenyut, rencananya ia akan kembali ke indonesai lusa, ia ingin bertemu sang ibu yang ia dengar kabar dilamar oleh seorang duda beranak satu, tapi dengan situasi seperti ini, Ogi harus berfikir ribuan kali, antara ibu dan April, kedua wanita yang ia sayangi, apakah ia harus menebus rindunya atau menyelesaikan masalah April dulu


"jangan takut, kita berfikir yang jernih dulu okey" Dinda bersyukur sahabatnya mulai dewasa dengan tidak memberontak tanpa berfikir panjang dulu


Lenguhan Dava menarik perhatian mereka, Dinda menghampiri Dava yang coba bangkit dari lantai, kepalanya pusing dan beberapa bagian tubuhnya terasa remuk.


Tunggu


Remuk?


Dava melihat setiap inci ruangan saat kesadarannya kembali sepenuhnya "April mana" panik Dava


"sabar dulu napa Dav, April ikut Askaf, dia bilang akan kembali secepatnya" jawaban Dinda menyandarkan tubuh di kaki ranjang dengan lelah


Meski perasaannya cemas tapi Dava tahu Askaf tidak akan menyakiti April, tatapan Askaf tadi menjelaskan bahwa pria itu masih mencintai April, mereka hanya perlu menunggu penjelasan Askaf dan alasan perubahan sikapnya


"gue percaya sama Askaf tapi gue juga ragu" guman Ogi, Dava menatap sahabatnya yang duduk dikasur atasnya


Dinda mengangguk mengiyakan, Dava mendesah " gue bisa lihat seberapa besar cintanya Askaf ke April tapi gue gak ngerti dia sama sekali" Dinda yang menangkap arah pembicaraan Dava meringis, ini tentang tunangan Askaf dan lebam di pipi Dava


"Lagian kok lo bisa dihajar sama dia sih, Askaf bukan tipe orang yang main bonyokin orang kalo gak merasa terganggu"


Pertanyaan laknatmu Yank


Dava mendesah pasrah " Dia mergokin gue nidurin April" mata Ogi dan Dinda membulat tidak percaya sedetik kemudian tertawa terbahak bahak membuat Dava kembali mengendus kesal


"lagian lo juga baru ditinggal bentar main nyosor nyosor aja" Ucap Dinda girang


"April yang minta kali Yank, lagian gue juga normal, siapa coba yang nolak" sinis Dava

__ADS_1


"lagian lo serakah, gak sama gue, April juga"


Ogi menggelengkan kepalanya, benarkan persahabatan mereka gak normal, bagaimana mungkin hubungan sesentive ini dibicarakan seperti cuaca, terlebih lagi mereka menertawakan tentang teman tidur yang bergantian antara Dinda dan April


"ngaca dong Yank, gak puas sama gue lo nyosor Ogi"


"eh apaan, orang Ogi yang selalu nyosor duluan"


"ngeles ae lu Yang, sekalipun Ogi nyosor duluan, kalo lo juga yang mau" Sinis Dava


Dan semudah itulah April teralihkan untuk sementara, karena meski ragu mereka tetap menyimpan harapan kebaikan hati Askaf


*


Namun nyatanya beda, disisi lain di sebuah apartement dengan nuangsa putih, hitam dan abu-abu itu, April menangis sejadi jadinya saat Askaf dengan teganya beberapa waktu lalu memperkosanya dan sekarang dikurung dalam kamar tanpa cela


Pria itu gila


Abnormal


Psikopat


"Lepas" lirihnya


April terisak, mengabaikan sakit ditangannya mengabaikan remuk tubuhnya, ia ingin bebas dari sini dan dunia kejam ini


Inikah takdirmu tuhan?


Kembali mengurai air mata, ia mengingat semua perlakuan Askaf padanya kejam dan tidak punya hati, ia merasakan remuk didadanya.


Tidak cukupkah penderitaannya selama ini? Apakah ia harus lari lagi seperti dulu? Berpura pura bahagia saat sebenenarnya ia terluka? Mungkin yang mereka lihat April adalah orang yang bahagia dan bebas namun kenyataanya dia tetaplah manusia yang butuh kasi sayang orang tuanya, ia ingin dimengerti oran tuanya, ia kuat demi sahabatnya ia menjalankan hidup demi Askaf


Tapi sekarang? Masih adakah alasannya untuk itu? Saat orang yang membuatnya bertahan kini menjatuhkannya? Orang yang satu satunya ia cintai menyiksanya lebih kejam dari orang tuanya, tidak ada kah yang bisa melihatnya sedikit saja, dimulai saat ia kecil ia telah kehilangan kasih sayang dari sosok orang tua, lalu ia berjuang sendiri mempertahankan hidupnya yang hancur ditinggalkan kekasihnya dan sekarang ia harus menerima bejatnya siksaan orang yang ia cintai diseparuh hidupnya


Takdir apa lagi yang harus April terima?


April menggeram marah, kenapa disaat saat seperti ini ingatan buruk memenuhi fikirannya, menumbuhkan benci pada orang orang yang menyakitinya, mengapa ia harus memikirkannya sekarang


Mengapa ia memikirkan orang tuanya yang egois, yang selalu mengedepankan keinginannya tanpa tahu apa yang April inginkan yang April cita citakan, mengapa ia mengingat betapa biadabnya Askaf dan tunangannnya itu kenapa ia tidak bisa mengingat sisi baik mereka

__ADS_1


Air matanya berhenti berlinang, bibirnya membentuk garis lurus, dengan susah payah ia menelan kesakitan yang entah mengapa menghujaminya di saat yang tidak tepat seperti sekarang


Suara pintu terbuka menarik perhatian April, pria yang barus saja difikirkan itu berdiri disana dengan nampan ditangannya, Askaf memberi isyarat pada Albert meninggalkan mereka


Mata April mengikuti setiap langkah Askaf hingga pria itu duduk disampingnya dan menyimpan napan diatas nakas samping tempat tidur


"Makanlah" ucap Askaf dingin


"aku ingin pulang" jawab Dinda membuat Askaf menggeram


"makanlah Prilly aku tahu kau belum makan" Askaf mencoba meredam emosi yang memuncak


"aku tidak lapar dan aku ingin pulang"


Askaf menghiraukan dan mengambil piring kemudian ingin menyiuapi April, namun gadis itu menepis tangan Askaf dengan satu tangannya yang tidak terantai


"jangan membuatku marah Prilly" Askaf kembali menyuapi April namun lagi lagi ditepis oleh April


Askaf mencengkram pipi April dan memasukkan sesendok makanan secara paksa kedalam mulut gadis itu, pipi April sakit tapi ia tidak bisa melepas cengkraman erat pria itu, makanan itu masuk dengan paksa membuat April tersedak dan terbatuk, Askaf yang panik meraih segelas air dan menyodorkan kearah April namun ditepis kembali oleh April


"lebih baik seperti ini daripada aku harus memakan makanan darimu Askaf" wajah April memerah dan air mata menggenang di matanya akibat tersedak


Braakk


Bunyi dari retakan piring membuat April memekik tertahan, pria sakit jiwa itu membanting makanan yang ia bawa tadi membuatnya berserakan, April meneteskan air matanya saat ini ia takut melihat Askaf


"kelaparan dan matilah Prilly" desis Askaf dan berjalan keluar, hati April hancur mendengar penuturan Askaf, pria itu mengharapkannya mati, jika nyawanya tidak berharga, mengapa pria itu mengurungnya disini, April terisak karena sakit didadanya tidak bisa ia tahan, inilah puncak kesakitannya


"aku tidak ingin mati, aku ingin pulang Askaf"


"jika pulang adalah pergi dari sini maka pulanglah dengan mati atau membunuhku" jawab Askaf menutup pintu kamar April


Albert menunduk saat Askaf berdiri didekatnya, ekspresinya sangat menakutkan, semenjak perawatan yang dilakukan Askaf tiga tahun yang lalu ia tidak pernah lagi melihat wajah tersenyum Askaf, pria itu terlalu pintar menyimpan emosinya, entah mengapa sekarang pria itu mengeluarkan Ekspresi selain wajah datar mengintimidasinya


"jadwalkan ulang meeting dengan perusahaan Dava, dan pastikan kali ini dimenangkan 100% olehnya" sebenarnya proyek yang dimaksud Askaf adalah proyek yang sekarang Dava geluti, hanya saja satu dari penanam saham tersebut mengalami kebangkrutan dan mereka kembali merebutkan siapa yang akan menggantikannya, itulah mengapa Dava sangat sibuk


"saya akan memastikan tuan Dava mendapatkannya tuan"


Tanpa bicara apapun lagi, Askaf berjalan meninggalkan apartemennya, satu hal lagi yang harus ia lakukan sendiri, ketiga sahabatnya

__ADS_1


tbc


__ADS_2