My Bestfriend My Enemy

My Bestfriend My Enemy
Orang Sama dan Jiwa Berbeda


__ADS_3

Nasi karatan?


Ada-ada manusia satu ini, ia menatap Dava yang juga melemparkan tatapan memperingati padanya, seketika April mengingat Askaf. Tatapan yang sama saat April menolak makan bersamanya


"sini deh Dav" April menyimpan piringnya di nakas dan menepuk kasur di sampingnya, Dava menghampiri April


"Dinda kemana?" tanya April saat Dava duduk disampingnya


"nganter Ogi kebandara buat nganter Sendy kebandara karena harus balik ke Indonesia" jawab Dava sekenanya, April berdesis dengan kebelibetan Dava, gadis itu menarik Dava dan mencium pria itu, ia mengalunkan tangannya di leher Dava


Pria itu mengerjapkan matanya saat mendapat serangan tiba tiba dari sahabatnya itu "Balas Dav" runtuk April


"jarang jarang" kekeh Dava dan mengangkat April untuk berpindah kepangkuannya dan melumat bibir gadis itu, tidak jarang mereka melakukan ini hanya saja lucunya saat gadis itu yang berinisiatif, gadis? Wanita batin Dava membenarkan


Dava melepaskan lumatannya saat merasakan April kehabisan Nafas, pria itu menidurkan April dan menindihnya dengan kedua tangan Dava sebagai penopang. April terengah ia menarik dasi Dava dan melepas dasi hitam pemberian Dinda itu


"lo yakin Ly?" tanya Dava ragu


"apaan sih lo, udah sering kali" Dava terkekeh mengingat memang semenjak Askaf meninggalkan mereka, ia dan April sudah sering melakukannya dulu saat SMA atau pun saat pulang balik keindonesia


Dava meloloskan atasan longgar April dan melemparnya kesembarang arah, saat April ingin melepas kemeja hitam Dava, mereka terpenjat saat pintunya tiba tiba dibuka atau tepatnya didobrak


April berdecak, ia lupa mengunci pintu, ia dan Dava bangkit dan melihat pintu yang ada di belakang Dava dan didepan April, sekali lagi mereka terkejut melihat Askaf yang berdiri dengan kedua tangan yang mengepal disana


Bahkan orang bodoh pun tahu jika pria itu menahan amarah, wajah yang biasanya tanpa ekspresi itu kini menunjukkan gurat permusuhan


"Askaf" guman April dan Dava bersamaan


"tunggulah dimobil Albert"


Askaf mendekat kearah ranjang, menarik Dava dan melayangkan pukulan bertubi tubi pada pria itu, ia tidak memberinya celah untuk membalasnya

__ADS_1


"Askaf" Pekik Dava kaget sekaligus kesakitan, tapi pria itu menghiraukan dan terus menghujami pukulan pada Dava


April memekik, ia meraih kaosnya dan mencoba melerai keduanya "Askaf Stop"


"Askaf berhenti, lo mau bunuh Dava hah!" Askaf menghiraukan April yang mencoba melerainya, tanpa sadar bahkan ia menghempaskan April yang menahan tangannya, ia terselimuti oleh amarah


"Askaf berhenti, lo mau bunuh sahabat gue hah!" nafas April memburu panik melihat Dava yang tidak sadarkan diri dengan wajah yang lebam dan darah di bibir dan hidungnya


"sahabat bajingan kayak dia" Askaf berteriak dengan lantang membunuh semua keberanian April tadi, ia tidak pernah melihat Askaf semurka ini, sisi baru dari Askaf mungkin


"lo yang bajingan Askaf" ucap April bersamaan dengan air mata yang mengalir dipipinya


Askaf menatap datar, tangannya mengepal melihat April yang lebih membela Dava daripada dirinya, tidak ingin situasi memburuk karena ia sudah menekan emosi yang ingin meledak Askaf menarik April keluar dari kamar laknat itu


"lepasin gue! Lepasin brengsek" April menghempaskan tangannya tidak peduli dengan tatapan peringatan Askaf yang baru saja ia rindukan lewat Dava


"ikut denganku, atau mereka adalah tanggungannya"


"jangan lupakan fakta bahwa kau milikku Prilly" April memejamkan matanya menyerap nama yang baru saja Askaf sebutan, tidak hanya dia yang tahu, yang lainpun tahu jika Askaf mencupakan nama itu, berarti dia sedang tidak baik baik saja, April menghempaskan fikirannya


dan tersenyum sinis "persetan denganmu Askaf" April berbalik ingin menghampiri Dava


"ikut denganku April, atau semua proyek Dava kutarik, termasuk penarikan gelar Ogi dan jangan lupakan kampus Dinda sudah menjadi milikku, terlebih B cafe bisa kuambil alih dengan mudah" April mematung, jiwa siapa yang sebenarnya tersangkut dalam raga Askaf?


"apakah kau fikir akan ada perusahaan yang ingin menyuntikkan dana besar terhadap perusahaan yang bangkrut di Canada? Apa kau fikir beasiswa di sekolah negeri di indonesia datang begitu saja? Dan apakah kau tidak berfikir nasib sesorang jika saja aku meratakan kampus disalah satu kota jakarta, dan bagaimana dengan kelima cabang cafe yang baru saja berkembang pesat itu?"


"sepertinya anda terlalu banyak bicara tuan" demi tuhan April sedang menahan getaran suaranya mati matian, hatinya remuk menemukan orang ia tunggu selama ini berdiri didepannya dengan jiwa yang berbeda


"pilihan ada ditanganmu April"


Mereka terdiam memikirkan kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi, April melirik Askaf yang menatapnya tanpa kedip, wajahnya datar seperti dulu, tapi entah mengapa membuat April takut

__ADS_1


"jangan lupakan jika aku tidak suka menunggu"


"bagiamana dengan tu-tunanganmu"


"urusanku adalah milikku April kau tidak punya hak menanyakannya" aku meragukan kepemilikanmu Askaf! Batin April memekik


Pernyataan yang menusuk April telak "tidak mungkin aku kembali pada orang yang yang sudah memiliki tunangan!" suara April meninggi


"bahkan jika dia adalah istriku, kau tidak punya alasan untuk menolakku" Askaf mendekat kearah April "karena kau adalah milikku" April ingin mendorong Askaf tapi malah dirinya yang mundur


"bajingan" desis Askaf


"ikut denganku, aku tidak main main dengan ancamanku April, aku bisa melakukannya sekaligus dalam satu kedipan mata" Air mata gadis itu lolos, ia ingin menolak tapi ia takut dengan ancaman Askaf, dia tidak bisa membangkang seperti tokoh perempuan novel yang sering ia baca.


Ia sangat kenal dengan Askaf yang tidak pernah main-main dengan ucapannya, bahkan janjinya yang terakhir ia lontarakan bawa ia akan kembali sekarang ia tepati, pria itu membuktikannya. Askaf disini.! ia kembali.! tapi sebagai orang lain bukan sebagai Askaf yang dulu.


"setidaknya beri aku waktu untuk mengemas barangku dan mengobati luka Dava" tangan Askaf mengepal mendengar nama laki laki yang menyentuh perempuannya didepannya matanya tadi


"kau tidak membutuhkan barangmu dan mengobati Dava"


"izinkan aku atau kau hanya membawa mayatku Askaf, demi tuhan aku lebih memilih mati daripada ikut denganmu" April menatap Askaf yang mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangannya, sungguh April memang sangat mencintai pria itu, tapi ia juga tidak bisa kembali padanya, karena dia bukan Askaf tempatnya kembali lagi, lalu dengan mati? Askaf bisa saja mengeluarkan ancaman yang lebih parah jika ia terang terangan melontarakan ancamannya yang satu itu


"aku tidak suka menunggu April, jadi lakukan secepatnya"


April meraih bantal dan selimut untuk Dava yang masih tidak sadarkan diri dilantai kamarnya, ia tidak mungkin mengangkat tubuh pria itu, gadis itu mengobati luka Dava dan melepas kemeja yg berlumuran darah itu dan membersihkan tubuh dava, ia tidak tega meninggalkan Dava sendiri tapi ia harus, April mengusap air matanya dan menyelimuti Dava hingga batas lehernya


Terakhir meninggalkan pesan untuk sahabatnya agar mereka tidak khawatir dengan April yang tiba tiba menghilang


"Maafin gue Dav" April menutup pintu kamarnya dan menghampiri Askaf yang berdiri ruang tamu, gadis itu membawa koper ditangannya dan tas kecil dipundaknya, Askaf menarik koper April tanpa bicara berjalan keluar dari Apartemen Ogi dan diikuti April


tbc

__ADS_1


__ADS_2