
Bukannya ia kewalahan dalam mengalahkan lawannya, hanya saja Ogi heran kenapa bisa terjadi di saat Askaf dan Roy balapan?, kenapa tak ada yang melerai?, dan dengan itu ia menyimpulkan bahwa ini rencana Si ketua Geng Roy brengsek
Ucapan pria yang mengatakan ingin menculik April tidak main main. Benar kata Dinda, jika tadi dia atau Dava yang ikut bersama Askaf, mereka akan kewalahan mengalahkan keempat orang ini, bukannya Dinda tidak bisa bela diri, hanya saja kemampuan Dinda yang masih minim
Saat yang lainnya fokus pada bela dirinya, Dinda justru sibuk bermain dengan alat elektroniknya, gadis itu memang kurang dalan rumus fisika ataupun yang lainnya, tapi untuk urusan hacker atau mesin komputer, bisa dikatakan ia memiliki skill malaikat dibidang itu
"Apakah aku harus mengadakan pesta kekalahanku, karena dikalahkan dengan orang yang dua tahun trauma dengan balapan mobil?" Roy berucap enteng disertai tawa jenakanya, membuat Ogi dan Dava menggeram
Askaf baru saja ingin menghajar mulut manis milik Roy yang kini tersenyum mengejek, namun tanggannya di tarik oleh April dan menenangkan pria itu
"Woah woah santai bro" Roy mengangkat tangannya bercanda kala Dava menghampirinya dan siap menghantam pria itu
"gue bahkan gak sempat bilang woah woah santai bro pass anak buah lu yang maho itu serang gue ***" ucap Dava mengikuti gaya bicara Roy
Roy mengangkat alisnya dan tertawa melihat betapa kocaknya pria didepannya ini "Sorry sorry itu diluar rencana gue" jawab Roy santai seakan bercerita tentang cuaca yang cerah
"Jadi ini beneran rencana lo" pekik Dava dan detik selanjutnya punggung Roy membentur mobil yang ada dibelakangnya, karena satu kaki Askaf didadanya memaksanya bersandar si mobilnya
Roy mengangkat kedua tangannya saat teman segengnya berniat menyerang teman Askaf pertanda untuk mengurungkan niatnya
"Sesuai kesepakatan, katakan sebelum kesabaran gue habis dan bakar lo hidup hidup disini" Dinda mendekat kearah Askaf dan memeluk lengan pria itu
"Kaf" Ucap Dinda dan mengggeleng, Dinda tahu Askaf sedang menahan emosinya yang siap menghancurkan sirkuit ini, jika April saja tidak bisa meneangkan Askaf, Dindapun ragu, tapi tidak ada pilihan lain melihat April yang menggigil dengan raut khawatir disamping Ogi
Roy mencoba melepaskan kaki Askaf yang masih betah di dadanya, kemudian membersikan debu yang menempel dikemeja birunya, belum selesai dengan itu Askaf kembali melayangkan tinjunya pada Roy
"Askaf!!" pekik Dinda namun ditarik menjauh oleh Dava
"Brengsek berani beraninya lo nyetuh milik gue" demi tuhan tak ada satupun yang pernah mendengar suara Askaf sebesar ini, Askaf kembali menarik kemeja Roy dan kembali melayangkan tinju kewajah Roy, pria itu terbatuk dan memuntahkan darah saat menerima pukulan bertubi tubi dari Askaf, namun senyum sinis tak hilang dari bibirnya, bukan tidak ingin melawan Askaf, tapi pria itulah yang tidak memberi cela bagi Roy untuk melawan
Askaf menarik kembali Roy dan mencekiknya membuat pria itu kesulitan bernafas, Ogi yang melihat itu berlari menghampiri Askaf bersama April.
"Kaf, lo bisa bunuh dia"
"Sayang, tenang!!" panik Ogi dan April
Roy meraskan Udaranya menipis hingga Askaf melepas cengkraman pada lehernya, ia terbatuk memegangi lehernya yang yang masih terasa perih
__ADS_1
Kedua temannya memegangi tangan Roy agar tidak terjatuh, dan saat ini pria itu masih bisa menahan senyumnnya, ia hanya ingin bermain dengan Askaf, benar dengan kabar burung yang beredar bahwa satu satunya emosi yang tertinggal dalam diri Askaf adalah April. Sekali lagi ia tersenyum sinis kearah Askaf yang disisi kirinya April telah memeluknya dan Ogi disisi kirinya, ia kemudian melirik Dava yang merangkul Dinda di belakang Askaf. "Sampai kapanpun lo gak bakalan bisa capai yang lo mau Rimba" guman Roy dalam hati
"Gabriel" ucapan terakhir Roy sebelum matanya tertutup rapat
-
Dinda menarik Dava masuk kedalam flat dan mendudukan pria itu di sova kemudian berajak menuju dapur, beberapa saat gadis itu kembali dan mbawa kota P3K di tangannya
"April kesini biar obati luka lo" sahut Dinda saat melihat April menaiki tangga dan di ikuti Askaf
April menghentikan langkahnya dan mengangguk pada Askaf, pria itu hanya memandangnya datar kemudian melangkah meninggalkan April
"gue gak apa-apa kok Dind" jawab April
"gak apa-apa gimana sih curut, pipi lo lebam gitu" Dinda menyeritkan dahinya melihat April yang senyum senyum tidak jelas
"Dikit doang, bsok juga sembuh" Ucap April
"Tapi-" ucapan Dinda terputus saat melihat temannya senyum senyum jenaka dan menunjuk kearah kamar Askaf yang ada di lantai dua, Dinda memutar bola matanya malas, ia tahu maksud gadis nakal itu.
"Serah lu" ucap Dinda berlalu dan menggeleng gelengkan kepalanya merasa heran dengan temannya itu. Sedangkan April berlari kecil menuju kamar Askaf
Dinda membersihkan pelan memar di wajah Dava, ia meringis saat melihat sudut bibir kanan Dava robek, bekas darah kering masih menempel disana "Dava bodoh" guman Dinda dan tersenyum hangat saat menyelesaikan acara pembersihan luka Dava.
Gadis itu melangkah menuju kamar Dava, dan kemudian kembali membawa baju, bantal dan selimut untuk Dava, ia menepuk pelan pipi pria yang tertidur pulas itu "Dava bangun, ganti baju dulu" ucap Dinda namun hanya mendapat respon lenguhan pelan dari Dava.
Dengan itu Dinda tahu pria ini tak akan bangun meski mereka diterjang gempa ataupun Tsunami, Dinda membuka sepatu Dava dan mengganti kemeja pria itu dengan piama yang di ambil dikamar Dava, kemudian mengangkat kepala Dava untuk memberinya bantal agar saat ia bangun lehernya tidak akan sakit, terakhir ia menyelimutinya hingga sebatas leher.
Dinda tersenyum hangat, pria ini sangat tampan dan polos saat tertidur tapi sangat menyebalkan saat ia membuka mata birunya, ia terkekeh mengingat wajah melas pria itu saat di sirkuit tadi. Dinda mencium lamat kening Dava
"Ekhmm" Dinda tahu suara itu tapi tidak memperdulikannya ia masih mencium kening Dava dengan hangat kemudian kedua matanya, pipi, hidung dan terkhir bibir Dava "Good night my silly boy" bisik Dinda dan kemudian membereskan kotak P3K-nya
Bersamaan dengan itu Ogi yang sedari tadi berdiri di ambang pintu memperhatikan sahabatnya itu, senyumnya mengembang kala mengingat bahwa persahabatan mereka memang sangat berbeda dari persahabatan mereka pada umumnya
"Darimana aja?" tanya Dinda pada Ogi yang masih melamun diambang pintu
Ogi melangkah mendekat kearah Dinda dan menyimpan dua kantongan di tangannya keatas meja
__ADS_1
"Dari rumah Sandy sekalian beli makanan" jawab Dinda dan kemudian melangkah menyimpan kotaknya, setelah itu ia kembali membawa piring dan sendok menyiapkan makanan untuk ketiga sahabatnya kecuali Dava yang Dinda yakin akan bangun tengah malam dan meminta makanan pada Dinda
"Gado-gado?" tanya Dinda dan dianggukin Ogi
"Sandy tadi mesen gado-gado, jadi sekalian buat kalian" Dinda tersenyum dan mengucapkan terimakasih pada pria itu
"Lo makan duluan, gue bawain April sama si Askaf dulu" ucap Dinda menyodorkan sepiring gado-gado untuk Ogi
Dinda melangkah dengan semangat menaiki tangga menuju kamar Askaf, kedua tangannya memegang piring berisi gado-gado membuatnya tak bisa mengetuk pintu dan langsung memasuki kamar Askaf yang tidak tertutup rapat
"Ogi be-sorry sorry gue gak liat apa apa" ucapan Dinda tepotong dan lansung memutar tubuhnya kearah pintu, oh adakah portal menuju dunia lain saat ini, ia berjanji ini terakhir kalinya dia masuk kamar Askaf tanpa mengetuk pintu, wajahnya memerah padam, pandangan di yang ia lihat beberapa detik yang lalu benar benar diluar dugaannya, meskipun sebenarnya dia tidak sepolos itu tapi demi tuhan yang disana adalah Askaf, pria yang tidak tersentuh sama sekali, ia tidak pernah berfikir bahwa Askaf memiliki sisi ini juga, meski hanya ciuman saja tapi posisi Askaf yang berada di atas tubuh April benar benar merusak mata jomblowati seperti Dinda, perlu di garis bawahi "Hanya ciuman".
Dinda mengedipkan matanya dengan cepat berharap hal yang ia lihat tadi hanya halusinasi, tidak benar, dan terserah terjadi atau tidak terjadi yang jelas diluar penglihatan Dinda, dia berfikir selama ini Askaf hanya sekedar memegang tangan, memeluk dan mencium kening April, dia fikir Askaf hanya bermanja dengan April, ia mengabaikan bahwa Askaf pria normal
"emang ciuman sama Askaf ada rasanya? dingin gitu? Emang Askaf tahu caranya?" batin sisi iblis Dinda terkekeh, dengan cepat Dinda menggelengkan kepalanya mencoba menghempaskan fikiran tidak senonohnya
"Ada apa Dind" tanya April terkekeh pelan
"Anu- Eh ini gue bawain gado gado, si Ogi yang beli tadi" jawab Dinda yang masih setia memandangi pintu didepannya
"oh simpan di meja aja" Mampus!! Tidak mungkin Dinda berbalik dengan wajahnya yang panas sekarang, meskipun ia tahu tanpa melihat bahwa mereka telah menyudahi adegan perusak mata jomblo tadi
"Eh gu-gue tunggu dibawah aja" Dinda ingin keluar kamar tapi shit tangannya membawa piring dan bagaimana ia bisa membuka pintu? Untuk pertama kalinya Dinda mengutuk arsitek rumah yang membuat pintu dengan handel bukan pintu dorong
"lo udah bawa kesini Dind simpan dimeja aja, lo kenapa sih?" April tahu jika sahabatnya itu malu padanyanya, tapi bukankah ia yang harus malu karna kepergok? Askaf saja sudah menyembunyikan wajahnya di cekukan leher April sejak gadis itu masuk kekamarnya
Dengan mengumpulkan keberanian dan menetralkan rasa gugupnya, ia berbalik pelan dan dengan cepat menyimpan kedua piring itu di meja di dekat sofa ruangan Askaf, matanya kembali melirik kearah sahabatnya yang bersandar di bantal yang di susun tinggi membuatnya setengah duduk yang demi tuhan Dinda tahu jika April sengaja soal ini terlihat dari senyum jenakanya mengelus rambut belakang Askaf, dan Askaf yang setengah badanya **** April memeluk gadis itu seperti Koala dan kepalanya ditumpukan dicekukan leher April berpura pura tertidur dengan selimut yang menutupi hingga punggung Askaf.
Dinda mengambil langkah seribu dan samar samar mendengar suara April yang tertawa keras, ia menjatuhkan tubuhnya di lantai dan bersandar pada sofa yang ditiduri Dava, wajahnya memerah dan nafasnya tersengal membuat Ogi menyerit bingung.
"Abis tanding sama setan kamarnya Askaf?" tanya Ogi
"Gila! Lebih parah dari setan" jawab Dinda heboh
Ogi mengangkat alisnya "jadi si Dava bener, dikamarnya Askaf ada setan?" ucap Ogi dan kemudia kembali melahap gado gado yang ada di tangannya, setan tembok yang biasa di ucapkan Dava saat keluar dari kamar Askaf mungkin benar adanya
"setan mesum" cetus Dinda dan membuat Ogi tersedak lontong yang ia makan, refleks Dinda memberikan air pada Ogi yang kini wajah putihnya memerah dan matanya yang berair
__ADS_1
Dengan kilat Ogi menyambar air yang diberikan Dinda dan meminumnya