
"Aku pulang."
"Mas udah pulang?" tanya Keylin dengan wajah yang sedikit ia tengokan ke arah suaminya.
"Ya" sahut Akbar singkat dan menaruh sepatu kerjanya di rak sepatu.
Akbar memperhatikan istri cerewetnya itu yang tengah sibuk menata makanan di atas meja makan. Dirinya menaruh jas dan tas kantornya di atas sofa yang ada di ruang tengahnya seraya melonggarkan dasinya.
Akbar mendekatkan dirinya di mana istrinya berada dan menggulung kedua lengan bajunya hingga ke siku.
Dirinya menatap semua lauk yang di atas meja dengan tatapan herannya.
"Kenapa kau masak sebanyak ini?" tanya Akbar seraya mencomot bakwan udang buatan istrinya.
"Mas!" pekik Keylin dan menatap tajam suami tampannya itu.
"Mas kan belum cuci tangan! Gak boleh sentuh-sentuh makanan. Banyak kumannya tau! Nanti sakit perut!" desis Keylin seraya me-melototkan matanya ke arah suaminya itu.
"Aku lapar" cetus Akbar dengan wajah datarnya dan pergi ke dapur, ke arah wastafel untuk mencuci tangannya.
Keylin terkekeh geli kala melihat kelakuan suaminya tersebut dan dirinya pun melanjutkan aktivitasnya yang tadi sempat tertunda.
"Kenapa kau masak sebanyak ini? Bukankah ini terlalu memakan banyak waktu jika kau memasak sendirian?" tanya Akbar yang sudah mendudukan dirinya di atas kursi makan setelah dirinya mencuci tangannya.
"Tidak terasa kok, karena aku senang membuatnya" ujar Keylin yang sudah selesai menata semua makanannya di atas meja makan.
"Mas mau makan pake lauk apa? Disini ada udang asam manis, ikan goreng, kangkung, tempe ,tahu, bakwan, sama ada ayam kecap. Mas mau yang mana?" tanya Keylin setelah memaparkan semua menu makanan yang ada di atas meja makannya.
Akbar menatap wajah istrinya dengan tatapan herannya. Jujur saja dirinya tidak mengerti dengan istrinya tersebut.
Entah apa yang tengah merasuki istrinya itu, sehingga wanita berparas cantik tersebut dapat memasak makanan sebanyak ini.
"Aku ma-"
Ting nong
Tok tok tok
Ucapan Akbar terpotong kala dirinya mendengar suara bel dan ketukan pintu.
Dirinya mengerutkan keningnya dengan heran seraya mengecek jam yang berada di tangan kirinya yang sudah menunjukan pukul delapan malam.
"Siapa yang datang di jam segini? Apakah itu Bunda?" batinnya bertanya-tanya.
"Mas, kayaknya ada tamu. Aku bukain dulu ya pintunya" ujar Keylin dan siap-siap melangkahkan kakinya menuju pintu rumahnya.
__ADS_1
"Tunggu dulu" tahan Akbar sembari menarik tangan Keylin dengan lembut.
"Biar aku saja" ucapnya dan berlalu pergi menuju pintu rumahnya.
Cklek
Akbar membuka pintunya dengan perlahan dan menatap orang yang tengah berdiri di depan pintu rumahnya dengan tatapan datarnya setelah dirinya membuka pintu rumahnya lebar-lebar.
"Apa kabar Adikku yang tampan? Hehehe" cengenges Leri dan menatap Akbar dengan tatapan konyolnya.
Akbar berdecak tak senang dengan tingkah konyol kakaknya tersebut
"Mau apa kau kesini?" tanya Akbar to the point seraya menaikan satu alisnya.
"Ck kau ini! Benar-benar tidak tau sopan santun! Seharusnya kalau ada tamu suruh dulu tamunya masuk! Bukannya tiba-tiba menanyakan hal yang sangat tidak sopan seperti itu. Apalagi dengan tampang jelekmu itu!" dengus Leri seraya memutarkan kedua bola matanya dengan malas.
"Masuklah" suruh Akbar dan memundurkan tubuhnya memberi pertanda agar kakaknya tersebut untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Tunggu sebentar, aku kesini dengan temanku. Tidak apa kan jika ia ikut masuk?"
"Teman?" tanya Akbar dengan tatapan datarnya.
"Ya, tadi aku tidak sengaja bertemu dengan dirinya. Ternyata dia juga penghuni baru komplek ini. Jadi aku bawa saja dia kesini, sekalian bernostalgia dengannya" sahut Leri dengan wajah santainya dan melemparkan tatapan yang sangat menyebalkan menurut Akbar.
"Oi dasar Adik durhaka!" kecam Leri dengan wajah masamnya.
"Hai maaf menunggu lama. Apa kau sudah selesai?" tanya pria berkulit sawo matang tersebut yang seketika membuat Leri mengalihkan asitensinya ke arah sumber suara itu.
"Hah sejak kapan kau datang? Mengagetkan ku saja!" desis Leri dan menatap kawannya itu dengan tatapan kagetnya.
"Kau itu berlebihan sekali" ucapnya seraya tertawa yang membuat Leri seketika tersenyum kala melihat tawa kawannya itu.
"Apa kah sudah selesai? Bisakah kita pergi sekarang?Bukankah kita akan pergi ke tempat golf?" tanya pria itu seraya melihat jam yang ada di tangan kirinya.
"Lupakan, kita bisa lain kali mencobanya. Sekarang aku ingin mampir ke rumah Adikku dulu. Apakah tidak apa jika kau ikut bergabung dengan kami? Karena kurasa kita akan sampai dengan malam, jika kita berangkat sekarang" terang Leri yang membuat kawannya tersebut menggangguk nganggukan kepalanya, pertanda ia mengerti dengan apa yang di maksud oleh Leri.
"Ya kurasa kau benar. Tak apa, aku tak keberatan bergabung dengan kalian" sahut pria berkulit sawo matang tersebut seraya melemparkan senyuman tipisnya.
"Kalau begitu masuklah. Adikku sudah ada di dalam" ucap Leri dan melangkahkan kakinya kedalam rumah Akbar yang diikuti kawannya itu dari belakang.
"Halo, permisi" ucap Leri sekali lagi saat dirinya melihat sepasang suami istri yang tengah duduk berdampingan di depan meja makan dengan perbincangan hangat diantara keduanya. Atau lebih tepatnya hanya wanita berambut panjanglah yang tengah berbicara hangat dengan suaminya itu.
"Hai, Bang Leri" sahut Keylin dengan senyuman ramahnya seraya mendirikan tubuhnya untuk menyambut orang yang sudah mengucapkan sapaan tersebut.
"Hai key, selamat malam. Maaf mengganggu waktu kalian. Bunda menyuruhku untuk membawakan ini untuk kalian, katanya ia ingin sekali kau menyicipi buatannya" ucap Leri seraya mengangkat kantong plastik yang berisikan kue bolu tersebut hingga sejajar dengan wajahnya.
__ADS_1
"Ah tidak perlu repot-repot. Seharusnya aku yang mengantarkan makanan ke Bunda, tapi mengapa malah Bunda yang mengantarkan makanan kepadaku? Membuatku jadi tidak enak hati" kekeh Keylin seraya mengusap tengkuknya kala rasa tidak enak mengahampiri hatinya.
"Ahahaha kau itu kayak tidak tau Bunda saja. Dia itu memang sudah ingin membuatkan ini untukmu. Kau tau sendiri kan kalau Bunda tidak ingin kau mengantarkan makanan apapun untuknya,"
"Baginya, dia hanya ingin kalau kau dan Akbar yang mencicipi masakan buatannya karena kau dan Akbarlah adalah satu-satunya pasangan yang sudah menikah yang ada di keluarga kita. Mungkin secara garis besarnya, Bunda merasa kalau dia seperti mempunyai anak perempuan yang sangat ia sayangi. Kira-kira seperti itulah mengapa ia begitu ingin memperhatikanmu" ucap Leri dengan senyuman manisnya dan menatap Keylin dengan tatapan lembutnya.
Wajah Keylin bersemu merah saat mendengar hal tersebut. Ahh mengetahui fakta betapa sayangnya mertuanya kepada dirinya, membuat Keylin merasa bahagia sekaligus terharu saat mendengarnya.
Tak pernah sekalipun muncul di benaknya kalau hal indah seperti ini akan datang di dalam kehidupannya.
Mempunyai suami yang baik, saudara ipar maupun mertua yang baik, membuat Keylin merasa bersyukur di berikan begitu banyak kebahagiaan oleh yang maha kuasa.
Dirinya tersenyum manis saat matanya tak sengaja menatap manik mata legam milik suaminya.
"Terimakasih karena kalian begitu baik kepadaku. Salamkan pesanku pada Bunda bahwa aku sangat menyukai kue buatannya" ucap Keylin dan menatap Leri dengan tatapan ramahnya.
"Ya akan ku sampaikan, santai saja" sahut Leri dan memberikan kantong tersebut kepada Keylin dan di terima langsung oleh wanita tersebut.
"Oh ya ampun aku sampai lupa kalau Andre ada disini. Shh sorry Bro aku lupa sama denganmu" kekeh Leri seraya mengalihkan tatapannya kepada Andre yang masih setia berdiri di belakang tubuh tegapnya dan menepuk bahu Andre dengan gaya khasnya.
Keylin terkejut dengan kedatangan Andre yang begitu tiba-tiba. Jujur saja dirinya sejak tadi benar-benar tidak menyadari keberadaan pria tersebut.
Ahh mungkin karena tinggi badan Andre yang hanya sebatas kuping Leri membuat pria berkulit sawo matang tersebut tak terlihat olehnya, karena tubuh pria tersebut seperti tengah berlindung di balik punggung tegap Leri.
"Hn santai saja, aku sudah terbiasa" sahut Andre dan menatap Leri dengan tatapan malasnya.
"Kak Andre?" ucap Keylin tanpa sadar saat dirinya baru menyadari bahwa wajah pria tersebut seperti tidak asing bagi dirinya.
Andre yang mendengar namanya disebutkan pun, seketika langsung mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara yang mengucapkan namanya tersebut.
Matanya seketika membulat saat mengetahui siapa orang yang telah mengucapkan namanya itu.
"Keylin? Benarkah kau Keylin?" tanya Andre tak percaya saat dirinya bersitatap dengan wajah manis wanita yang tengah ada di hadapannya saat ini.
"Kalian saling kenal?" tanya Akbar dengan tatapan tajamnya yang kali ini membuka suaranya setelah sekian lama dirinya terdiam.
Keylin meringis ngeri kala dirinya melihat raut wajah Akbar yang sangat galak saat ini.
Tatapan tidak suka yang Akbar lontarkan kepada dirinya, membuat Keylin tersadar jika saat ini suaminya itu tengah kesal dengan dirinya.
"Aku...."
........
TBC
__ADS_1