
Keylin mengerjapkan kedua matanya saat rasa kantuk lama-lama mulai memudar pada dirinya.
Seraya merenggangkan otot-otot tangannya, Keylin membangkitkan tubuhnya.
Ia mendesah kecewa saat pagi ini, dirinya tidak menemukan keberadaan suaminya di samping dirinya lagi.
Kemarin malam, setelah acara mettingnya dengan Ragan dan Gara selesai, Keylin pun langsung bergegas pergi pulang kerumahnya dengan diantar oleh kedua pria tersebut.
Tadi malam dirinya juga pulang larut malam karena bosnya itu baru menyelesaikan metting mereka tepat pada jam sembilan malam.
Sehingga al hasil dirinya pun jadi ikut-ikutan pulang larut malam karena menemani kedua pria yang notabenya adalah kakak beradik tersebut.
Keylin tersenyum masam kala dirinya mengingat kejadian tadi malam yang dapat membuat moodnya menjadi buruk.
Setelah sampai di kediaman rumahnya, tadi malam Keylin lagi-lagi dibuat kesal karena tidak mendapati Akbar ada di rumah.
Padahal jika dilihat-lihat hari sudah menunjukan pukul setengah sebelas malam, namun suaminya itu tak juga kunjung-kunjung pulang walaupun hari sudah ingin berganti.
Padahal tadinya ia akan mengira, jika suaminya itu akan menyambut kedatangannya. Namun lagi-lagi Keylin harus menelan kepahitannya sendiri karena angan-angan yang ia bangun tak sesuai dengan kenyataan. Membuat dirinya benar-benar malas untuk berangkat ke kantor hari ini
Apalagi jika tadi dia tidak mendapati keberadaan suaminya setelah ia bangun, moodnya benar-benar kian memburuk karena hal tersebut.
Dan rasanya dirinya ingin sekali tidak berangkat ke kantor hari ini, menghabiskan waktunya dengan merebahkan tubuhnya seharian di atas kasur sembari melupakan rasa galau yang tengah menguasai hatinya.
Tapi lagi-lagi dirinya tidak bisa melakukan itu semua. Karena ia sadar jika gaji yang ia terima bukanlah gaji buta.
Melainkan gaji yang harus ia dapat dengan usaha serta kerja kerasnya sendiri. Sehingga mau tak mau dirinya harus profesional walau hatinya sedang tak mendukung dirinya saat ini.
Seraya menghembuskan nafas malasnya, Keylin pun pergi beranjak ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya, bersiap-siap untuk pergi ke kantor.
Setelah menyelesaikan acara mandi dan berdandannya, kini keylin melangkahkan kakinya keluar kamar dan menuruni tangga rumahnya dengan wajah lesunya.
Namun baru satu langkah kakinya menapaki di lantai satu rumahnya, tiba-tiba Keylin mencium aroma makanan yang sangat menggugah seleranya.
Dengan penasaran, keylin pun melangkahkan kakinya ke arah dapur yang terdengar suara bising seperti seseorang yang sedang memasak.
"Mas?" Keylin menatap suaminya itu dengan kaget kala dirinya melihat suaminya Akbar tengah bertempur dengan alat-alat masak yang ada di dapurnya.
"Ma-Mas kok ada disini?" tanya Keylin dengan heran setelah Akbar membalikkan tubuhnya menghadap ke arah dirinya
"Ini rumahku memangnya ada yang salah jika aku ada disini?" tanya Akbar seraya menaikan satu alisnya.
"Ah anu buk-bukan begitu maksudku" ucap Keylin seraya mengusap tengkuknya.
"Maksudku, bukankah seharusnya Mas sudah pergi ke kantor? Ini kan sudah jam sembilan, biasanya kan Mas pergi ke kantor jam enam" jelas Keylin yang dapat membuat Akbar mengercitkan keningnya, keheranan atas pertanyaan istrinya itu.
Namun bukannya menjawab ucapan Keylin, Akbar malah melontarkan pertanyaan kepada istrinya itu.
"Kau mau kemana? Mengapa kau memakai baju seperti itu?" tanya Akbar seraya melepas celemek hitam yang tengah melingkari tubuhnya.
"Aku?" tunjuk Keylin pada dirinya sendiri.
"Ya tentu saja ingin pergi ke kantor. Apa Mas tidak lihat jika aku sudah membawa tas?" Keylin terkekeh geli mendengar pertanyaan aneh dari suaminya seraya menunjukan tas jinjingnya.
"Apa kau lupa jika ini hari Sabtu? Bukankah kau libur bekerja jika di hari Sabtu?" tanya Akbar dengan wajah datarnya dan menatap istrinya itu dengan tatapan anehnya.
Keylin membulatkan matanya setelah dirinya mendengar ucapan suaminya itu.
"Apa? Benarkah?"
Wanita bertubuh mungil tersebut seketika terpekik kaget kala dirinya baru ingat bahwa hari ini adalah hari liburnya.
Ah memangnya hari ini hari Sabtu? Kenapa aku tidak menyadarinya. Ucap Keylin dalam hati dan membuka ponselnya canggih miliknya.
__ADS_1
Keylin seketika langsung menghela nafasnya kala dirinya benar-benar baru mengetahui jika hari ini adalah hari Sabtu. Yang berarti, hari ini adalah hari libur bagi seluruh karyawan yang ada di kantornya.
Bodohnya aku. Batin Keylin dan terkekeh geli menertawakan kebodohannya sendiri
Dirinya pun melempar tas jinjingnya ke sembarang arah dan mendudukkan tubuhnya di atas kursi meja makan.
"Jadi ini semua Mas yang masak?" tanya Keylin dengan mata yang berbinar-binar kala dirinya melihat lauk pauk yang begitu menggugah seleranya.
"Kau suka?" tanya Akbar seraya mendudukkan tubuhnya di samping Keylin.
"Sangat! Hehehe" sahut Keylin dengan senyuman lebar yang terpatri dibibirnya. Lalu mulai mencicipi satu per satu lauk yang ada di atas meja.
"Sejak kapan Mas memasak ini semua? Kenapa tidak membangunkan aku saja? Hnn ini enak!" Akbar tersenyum tipis saat melihat wajah Keylin yang sangat ekspresif terhadap masakannya.
"Makanlah" ucap Akbar dan mengusap kepala Leylin dengan lembut.
"Apakah Mas tidak lelah? Kurasa ini terlalu banyak. Yah walau jujur saja aku sangat menyukainya" kekeh Keylin seraya menyendokkan nasi untuk suaminya itu.
"Tidak aku hanya sedang ingin memasak saja. Sekali-sekali tidak ada salahnya bukan?" ucap Akbar seraya menerima sodoran piring dari istrinya.
"Ah tumben" ucap Keylin tersenyum jail dan menatap Akbar dengan tatapan mengejeknya yang hanya di jawab dengan senyuman tipis oleh pria tersebut.
"Key" panggil Akbar di tengah-tengah sarapan paginya.
"Ya ada apa?" tanya Keylin yang masih fokus pada suapan nasinya.
"Mulai minggu depan aku tidak akan sesibuk seperti hari-hari kemarin" ucap Akbar dan menaruh sendoknya seraya menatap serius ke arah Keylin.
"Akan ku usahakan agar aku tidak pulang larut malam lagi seperti kemarin. Maaf karena telah membuatmu menunggu" ucap Akbar seraya mengelus lembut kepala Keylin dari samping
"Benarkah?" tanya Keylin cuek yang terkesan acuh tak acuh setelah mendengar ucapan suaminya itu.
"Key berhenti dulu makannya" suruh Akbar yang seketika dapat membuat Keylin menghentikan acara makannya.
"Kau marah?" tanya Akbar seraya mengelus lembut pipi mulus Keylin.
Keylin memukul pelan dada Akbar seraya memberengut kesal ketika mendengar pertanyaan tersebut.
"Tentu saja! Memangnya aku Istri apaan. Ya masa aku senang melihat Suamiku seperti Bang toyib yang tidak pulang-pulang! Dan kalau pulang ke rumah Istrinya malah di cuekin. Mas kira aku seneng gitu?" sungut Keylin seraya menatap sebal suaminya itu.
"Aku tuh kesel banget pokoknya sama Mas. Udah aku tahan-tahan ini dari empat hari yang lalu!" Keylin memberengut kesal dengan wajah cemberutnya.
Akbar tersenyum tipis dan menatap wajah Keylin dengan tatapan lembutnya.
"Maaf... aku minta maaf karena telah membuatmu kesal. Akan ku usahakan kejadian ini tidak akan terulang lagi" ujar Akbar sembari menarik kepala Keylin menenggelamkan wajah istrinya itu di dada bidangnya seraya mengecup-ngecup puncak kepala Keylin.
Keylin menjauhkan tubuhnya dari pelukan Akbar seraya membekap mulut Akbar dengan satu tangannya agar pria tersebut berhenti menciumi puncak kepalanya.
"Baiklah aku maafkan. Tapi ada satu syarat yang harus Mas lakuin"
"Apa?" tanya Akbar melalui bahasa isyaratnya dengan menaikan salah satu alisnya karena saat ini mulutnya tengah di bekap oleh tangan mungil istrinya.
"Pokoknya hari ini Mas harus menghabiskan waktu berdua denganku. Tanpa pekerjaan, tanpa laptop dan tanpa komputer. Bagaimana? Deal?" Keylin berujar serius sembari menjauhkan tangannya dari mulut suaminya itu.
"Deal" sahut Akbar dengan cepat tanpa pikir panjang dan kembali memeluk istrinya tersebut.
Keylin tersenyum senang dan membalas pelukan Akbar dengan tak kalah eratnya.
"Emhh Mas, aku ingin bertanya sesuatu" Keylin menjauhkan tubuhnya dari tubuh Akbar dan menatap serius suaminya itu.
"Kenapa?"
"Aku mau bertanya, kenapa sejak awal Mas tidak kerja saja di perusahaan Ayah? Kenapa baru-baru sekarang Mas ingin bergabung dengan Ayah?" tanya Keylin dengan wajah yang penuh dengan pertanyaan.
__ADS_1
"Emm sebentar aku pikirkan" ucap Akbar yang memegang dagunya seraya memasang tampang serius di wajah tampannya itu.
Setelah beberapa saat akhirnya Akbar pun membuka suaranya.
"Setelah kupikir-pikir tidak ada. Hanya saja, sekarang aku memang sedang ingin bergabung dengan Ayah" sahut Akbar yang seketika membuat wajah Keylin memberengut kesal setelah mendengarnya.
"Ishh itu bukan alasan Mas!" desis Keylin yang membuat Akbar terkekeh pelan.
"Maaf aku hanya bercanda" ucap Akbar dengan wajah jenakanya.
"Sebenarnya aku punya alasan sendiri mengapa baru sekarang aku ingin bergabung dengan Ayah. Kau tau Key?" Akbar menatap Keylin dengan tatapan lembutnya.
"Terkadang seseorang harus membuktikan kualitasnya tanpa pijakan seseorang"
Ah jadi seperti itu!
Keylin mulai memahami dengan apa yang di maksud oleh suaminya.
"Maksudku seperti privilege. Yah walau sebenarnya pun, pendidikan juga adalah bentuk privilege yang di berikan oleh kedua orang tuaku"
"Yah tapi apa dayaku, jika sejak lahir aku memang terlahir kaya dan akan selalu mempunyai privilege kemana pun aku pergi" Akbar tertawa pelan saat istrinya memutarkan kedua bola matanya dengan malas.
"Tidakkah aku benar?" tanya Akbar dan tersenyum miring ke arah istrinya.
"Ya, ya, Mas benar! Karena itulah aku bisa hidup dengan privilege itu" ucap Keylin yang menekankan kata privilege pada katanya.
"Untung saja aku yang menjadi Istri Mas. Coba kalau bukan aku, tentu saja aku tidak akan bisa merasakan kekayaan ini!" ungkap Keylin yang membuat Akbar seketika tertawa saat mendengarnya.
"Hnn kau benar, kau bisa menikmati kekayaanku selama itu masih batas wajar. Karena memangnya untuk apa aku bekerja siang dan malam, jika Istriku tidak bisa menikmatinya Hn?" ucap Akbar yang memangku sebelah pipinya dengan tangannya yang ia tumpukan pada meja, seraya menatap Keylin yang ada di samping.
Seketika alarm bahaya muncul dalam benaknya saat Akbar melakukan hal tersebut.
Gawat! Gawat!
Mas Akbar terlihat sangat tampan saat ini!
Jerit Keylin dalam hati. Karena hatinya sangat berdebar saat melihat tubuh seksi suaminya itu.
Inilah nasib seseorang yang mempunyai suami dengan wajah bak seorang model papan atas.
"Be-beruntungnya aku.." ucap Keylin yang terbata-bata dan mengalihkan tatapannya ke arah mana pun yang tidak ada keberadaan suaminya.
Akbar tersenyum miring saat melihatnya.
Yah dirinya sangat mengetahui kenapa istrinya itu terlihat gugup seperti itu.
Ternyata menggoda istrinya bisa sangat menyenangkan seperti ini.
Melihat Keylin yang salting di buatnya, membuat dirinya menjadi gemas sendiri dengan tingkah istrinya itu.
Betapa manisnya istrinya itu jika sedang seperti itu.
Hn mungkin lain kali dirinya harus Sering-sering melakukan ini pada Keylin. Karena jujur saja, melihat wajah Keylin yang tersipu malu kepadanya membuat dirinya jadi bangga sendiri dengan dirinya.
Entah dibagian mana dirinya harus bangga, namun senang rasanya bisa melihat istrinya salting atau tersipu malu karena dirinya.
Memang aneh, tapi itulah yang ia rasakan.
Akbar tersenyum tipis saat melihat Keylin yang terlihat berusaha berbicara, agar istrinya itu bisa mengalihkan rasa salah tingkahnya pada dirinya.
"Dasar" ucap Akbar dalam hati dan masih terus mendengarkan celotehan-celotehan istrinya.
...
__ADS_1