
Mata Keylin berbinar saat dirinya melihat sayur-sayuran yang begitu segar di minimarket yang sedang ia jelajahi ini.
Dirinya langsung memilih dan mengambil sayuran yang sesuai dengan menu yang akan ia masak hari ini.
"Sepertinya ini yang masih baru. Kalau begitu aku akan mengambil yang ini" belum Keylin mengambil mengambil sayurannya, tiba-tiba sebuah tangan besar sudah terlebih dahulu mengambil sayurannya. Membuat Keylin seketika menolehkan wajahnya.
"Maaf, apa kau ingin mengambil in-"
Deg
Jantung Keylin sesaat seperti berhenti berdetak saat dirinya melihat pria dengan berperawakan besar itu.
"keylin?" tanyanya dengan wajah yang begitu dingin.
Keylin sesaat masih terdiam kaku di tempatnya.
Jantungnya berdebar tak karuan saat melihat sosok yang hampir selama enam tahun ini ia hindari.
"Ger-Gerry?" gugup Keylin saat mata pria itu terus menatapnya dengan tatapan yang begitu intens.
Gerry menyeringai melihat respond Keylin kepada dirinya.
"Kau memang tidak pernah berubah Key" batin Gerry menatap gemas wanita tersebut.
Gerry menghela nafasnya.
"Aku kecewa karena kau tidak begitu senang bertemu denganku. Bukankah harusnya kau menyambut mantanmu ini?" Keylin memalingkan wajahnya saat Gerry menekankan kata mantan saat pria tersebut bicara.
Dengan mata yang menatap sinis Keylin pun menjawab.
"Itu sudah berlalu! Kita tidak punya hubungan lagi!" pungkas Keylin dengan tajam. Walau hatinya tengah bergetar ketakutan, tapi dirinya tidak boleh terlihat lemah di depan Gerry.
Dengan luapan kebencian yang di tujukan kepada dirinya, Gerry justru hanya terdiam dan semakin menatap Keylin dengan tatapan penuh kelembutan.
"Aku akan pergi" ucap Keylin dan bersiap-siap untuk mendorong trolinya.
"Tunggu" Gerry memegang tangan Keylin yang sedang memegang troli.
"Lepaskan! Jangan menyentuhku!" desis Keylin.
Bukannya membalas ucapan Keylin, Gerry justru terpaku dengan tangan kanan Keylin yang sedang di lingkari cincin dengan permata kecil yang menghiasinya.
Gerry mengetatkan rahangnya. Matanya menggelap saat dirinya mengetahui apa maksud cincin yang tengah membelenggu jati manis Keylin.
"Kau sudah menikah?" walau dengan suara yang penuh ketenangan tapi siapapun bisa melihat jika pria tersebut tengah menahan amarahnya.
Seketika Keylin tersenyum senang. Dengan bangganya dirinya pun menunjukan cincin pernikahannya di hadapan Gerry.
"Ya, aku sudah menikah!" ucap Keylin dengan bangga seraya mengangkat tangannya di depan wajah Gerry.
Gerry berdecih.
"Huh sialan!" maki Gerry yang membuat Keylin semakin berani menunjukkan cincinya.
Drtt drtt
Sebuah getaran ponsel yang berasal dari celana Gerry, membuat pria tersebut mengalihkan tatapannya ke arah ponselnya.
"Sial!" umpat Gerry saat melihat nama yang tertera di layar kaca ponselnya.
Setelah beberapa saat Gerry pun memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.
Gerry menatap Keylin dengan seksama.
"Sayang sekali aku hanya bisa berbicara sebentar denganmu. Sungguh aku kecewa Key" ucap Gerry dengan wajah sedihnya.
Keylin menatap benci pria tersebut seraya mengalihkan tatapan matanya ke arah lain.
Gila!
Batin Keylin merinding.
Kaki Gerry maju satu langkah mendekati tubuh Keylin.
Lalu dirinya pun berbisik.
"Sampai jumpa lagi lolipop"
Deg
__ADS_1
Kaki Keylin seketika lemas setelah kepergian Gerry dari hadapannya. Dirinya berusaha menopang tubuhnya dengan bertumpu pada troli belanjaannya.
Keylin terdiam sejenak. "Kenapa dia bisa ada disini?" tangan Keylin berkeringat dingin dengan jantung yang berpacu cepat.
Tenanglah Key, semuanya akan baik-baik saja. Ujarnya dalam hati.
Walaupun dirinya sudah berkali-kali mengatakan hal tersebut di dalam hatinya, namun tak dapat ia pungkiri jika rasa takut tetap ada di dalam hatinya.
Drtttt drttt
Sesaat Keylin mengalihkan asitensinya pada ponselnya dan mengecek saat benda canggih tersebut bergetar beberapa kali.
Sebuah pesan yang berasal dari Akbar, membuat hati Keylin seketika menghembuskan nafas leganya. Entah kenapa hatinya bisa langsung merasa tenang saat dirinya mengingat suaminya itu
From Mas Akbar:
Hati-hati, nanti Bimo yang akan menjemputmu.
Seutas senyum langsung terbit di bibir Keylin kala dirinya membaca pesan tersebut. Meski hanya sebuah pesan yang sangat singkat, namun entah kenapa dirinya bisa merasakan kehangatan suaminya.
Keylin meremas ponsel yang ada di genggamannya.
"Aku rindu Mas Akbar" lirih Keylin dengan mata yang masih menatap pesan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya.
...
Setelah hatinya sudah tenang, akhirnya Keylin pun memutuskan memulai aktivitasnya kembali.
Karena semuanya telah siap, sesuai dengan janjinya kemarin kepada Akbar, dirinya pun pergi ke kantor suaminya untuk mengantar makanan yang ia buat.
Hati Keylin sudah jauh lebih mendingan sejak dirinya menginjakan kakinya di kantor suaminya itu.
Seperti angin yang telah berlalu, perasaan resahnya pun ikut menghilang seiring dirinya ingin menghampiri Akbar.
Keylin bersenandung ria seraya melangkahkan kakinya menelusuri koridor di suatu gedung yang terbilang cukup luas nan megah.
Dirinya menenteng sebuah kotak bekal dengan senyuman yang hampir di setiap detiknya ia kembangkan di bibirnya.
Seraya melangkahkan kakinya, Keylin senantiasa menelisik pandangan matanya ke arah seluruh penjuru bangunan yang sedang ia pijaki saat ini.
Sungguh! Dirinya benar-benar terkagum dengan interior bangunan yang saat ini tengah ia masuki.
Ck benar-benar sangat memukau.
"Ekhem permisi" ucap Keylin setelah dirinya sampai di suatu meja yang ia yakini bahwa meja tersebut adalah meja untuk sekertaris dari suaminya.
"Ya ada apa Bu?" tanya sekertaris tersebut dengan sopan.
"Em apakah ada Pak Akbarnya? Aku ingin bertemu dengannya" Keylin tersenyum ragu saat sekertaris tersebut tengah menatapnya dengan tatapan menyelidiknya.
"Apakah anda sudah buat janji?" sekertaris tersebut bertanya dengan formal dan menatap Keylin dengan tatapan penasarannya.
"Ya sudah"
"Bahkan bosmu itu, yang telah memaksaku untuk datang kesini" lanjut Keylin dalam hati.
"Emhh baiklah, akan saya sampaikan. Tapi mohon maaf Mbak, Pak Akbarnya sedang ada tamu. Mbaknya bisa tunggu disana. Nanti jika sudah selesai saya akan panggil"
Keylin tersenyum dan mengangguk setelah mendengar hal tersebut.
"Baiklah, terimakasih Tuan Anton. Kalau begitu saya permisi" ucap Keylin setelah dirinya melihat name tag pria tersebut.
"Ya sama sa-"
"Keylin!" ucapan Anton terpotong kala seorang pria yang dari kejauhan meneriaki nama Keylin dengan kencang.
"Key sedang apa kau kemari? Mengapa kau hanya berdiri disini?" tanya Leri dengan heran, setelah pria tersebut sampai di depan adik iparnya tersebut.
"Nih" Keylin mengangkat dua kotak makannya hingga sejajar dengan wajahnya.
"Apa ini untuk Akbar?" Keylin menganggukan kepalanya, membenarkan apa yang Leri ucapkan.
"Lantas mengapa kau masih disini? Kenapa tidak masuk saja?" Leri menatap bingung istri adiknya itu seraya menaikan satu alisnya.
"Tuan Anton bilang jika bosnya sedang ada tamu. Maka dari itu lebih baik aku menunggunya. Kurasa tidak sopan bukan jika aku langsung masuk begitu saja" jelas Keylin.
Leri membulatkan matanya dan seketika dirinya mengalihkan tatapannya kepada Anton.
Plakk
__ADS_1
Leri meneplak bahu Anton dengan setumpuk dokumen yang ia bawa.
"Shhh aduh sakit Pak" Anton mengaduh kesakitan dan mengusap-usap lengannya yang barusan Leri tabok dengan setumpuk dokumen yang pria itu bawa.
"Kau itu! Berani-beraninya melarang Keylin untuk masuk keruangan suaminya sendiri! Dan tunggu.... tadi apa? Tamu? Cihhh kau bilang Zehran adalah tamu? Ck sungguh menggelikan!" decak Leri menatap sebal sekertaris adiknya itu.
"Ap-apa?" Anton ternganga setelah mendengarnya dan menatap Keylin dengan tatapan kagetnya.
"Ma-maafkan saya. Saya benar-benar tidak mengenali Anda" Anton membungkukkan tubuhnya di hadapan Keylin.
"Ahh kau jangan terlalu sungkan. Tak apa ini hanya sebuah kesalahpahaman" Keylin tersenyum ramah kepada Anton, setelah pria tersebut sudah menegakkan tubuhnya kembali.
Anton mengusap tengkuknya dengan perlahan. di perlakukan seperti itu oleh istri dari bosnya, semakin membuat dirinya merasa tak enak hati. Melihat betapa baiknya Keylin membuat dirinya semakin tidak enak hati di buatnya.
Ahh pantas saja wajahnya sangat familiar. Ck ternyata dia adalah istri dari Pak Akbar. Sial bodohnya aku.
Rutuk Anton dalam hati dan tersenyum kikuk ke arah Keylin.
"Ekhem baiklah kalau begitu silahkan masuk. Bu-Bu Keylin" grogi Anton saat dirinya menyebutkan nama "Bu" untuk mbak mbak yang sebelumnya ia panggil dengan se enak jidatnya.
"Kalo begitu permisi. Terimakasih Tuan Anton" Keylin berlalu pergi dan melangkahkan kakinya menuju suatu ruangan tempat dimana Akbar berada.
"Hufs makin bodoh saja kau. Lain kali hati-hati! Entah apa yang akan di lakukan Akbar jika ia mengetahuinya. Kurasa kau tidak akan selamat bro. Hn selamat bekerja" Leri menepuk bahu Anton dengan pelan dan berlalu pergi meninggalkan pria tersebut sendirian yang sedang terdiam kaku setelah mendengar ucapan Leri.
Gleg.
Anton menelan ludahnya dengan kasar. Perkataan yang tadi Leri lontarkan kepada dirinya, sukses masuk ke dalam relung hati serta pikirannya. Dirinya menatap nanar punggung tegap Leri serta punggung mungil Keylin.
Ahhhhh kenapa pintar sekali diriku. Habislah aku!
Anton mendudukan dirinya ke atas kursi empuknya dengan lesu dan meremas pelan rambut lebatnya.
Hufs apes apes
Decaknya dalam hati dan mengalihkan tatapan matanya ke arah layar monitor komputernya tuk melanjutkan pekerjaannya kembali.
..
"Aku benar-benar tidak bisa menahannya. Jika kau melihat wajahnya pasti kau akan terbahak-bahak juga sepertiku" Leri tertawa terbahak-bahak menertawai ekspresi wajah Anton yang menurutnya sangat bodoh di matanya.
"Lihatlah... ekspresinya sungguh menyedihkan! Hahahah" Leri mengusap sudut matanya yang terdapat sedikit cairan bening, karena tawanya yang begitu menggelegar.
"Ck sepertinnya kau senang sekali mengerjai Anton. Seperti tidak ada kerjaan saja!" dengus Zehran, menatap sebal kakaknya tersebut yang sedari tadi tertawa tawa tidak jelas.
"Hahaha tadi itu sungguh lucu! Tentu saja aku sangat senang bisa mengerjainya. Kurasa aku akan mencobanya lain kali. Akhhh perutku sakit" erang Leri memegang perutnya yang sedang tegang.
Akbar tersenyum simpul melihat percakapan diantara kedua saudara kandungnya tersebut.
Sebenarnya dirinya sangat ingin mengatakan hal ini, tapi entahlah dirinya sangat enggan untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya.
Melihat betapa senangnya Leri hari ini, membuat dirinya merasa sedikit lega dengan kakaknya tersebut.
Ada perasaan lega dan syukur di dalam hatinya kala dirinya melihat kakaknya satu itu bisa tertawa dengan begitu lepasnya hari ini.
Sejak dulu Leri adalah orang yang sangat jarang menampilkan senyumannya. Kakaknya itu, dulu bukanlah orang yang terbuka seperti sekarang. Bukan karena karakter yang pria tersebut miliki, tetapi itu seperti sebuah keharusan yang pria itu lakukan.
Yah itulah yang Akbar lihat tujuh tahun yang lalu, saat dirinya memandang kakaknya tersebut.
Akbar sangat tahu. Bahwa Leri bukanlah tipekal orang yang dingin dan acuh seperti dirinya. Namum entah apa yang terjadi, tiba tiba kakaknya tersebut berubah menjadi orang yang sangat cuek dan kejam.
Lima tahun di Amsterdam membuat Leri berubah menjadi sangat dingin dan mematikan. Dan itu sedikit membuatnya terganggu dengan perubahan kontras dari kakak sulungnya tersebut.
Sejak kecil Leri bukanlah anak remaja pada umumnya. Yang bisa menikmati masa remajanya dengan berkumpul, tertawa dan berfoya-foya semau dirinya.
Walau kakaknya itu, memiliki banyak teman. Tetap saja tidak ada satupun diantara temannya yang dapat merubahnya menjadi sekarang.
Entah siapa yang dapat membuatnya berubah, yang jelas Akbar sangat bersyukur dengan orang tersebut karena telah membuat Leri merasa lebih hidup seperti sekarang.
"Sudah jam makan siang lebih baik kita akhiri ini sejenak" ucap Zehran seraya menatap jam tangannya.
"Baiklah kalau gitu, kita keluar" Leri membangkitkan tubuhnya berbarengan dengan Zehran dan membereskan dokumen dokumen miliknya.
"Ehh tunggu" tahan Keylin.
"Kalian mau ke mana?" Keylin menahan kedua pria tersebut, agar keduanya dapat menghentikan laju langkah kakinya.
"Tentu saja pergi dari sini. Aku tidak ingin mengganggu pengantin baru" goda Leri yang membuat Akbar berdecak sebal saat mendengarnya.
"Pergilah, kau sangat mengganggu waktuku!" usir Akbar dengan terang terang kepada kakaknya itu.
__ADS_1
"Ck kasar sekali kau!" decih Zehran seraya terkekeh geli.
"Kenapa kalian sangat tidak sopan denganku! benar benar adik yang kurang ajar!" Leri berdesis tak suka.