
Keylin merapatkan tubuhnya kepada tubuh Akbar dan memejamkan matanya saat rasa kantuk dan lelah mulai menguasai tubuhnya.
Dengan nafas yang masih terengah-engah, dirinya memeluk erat tubuh suaminya itu.
"Kau lelah?" Akbar bertanya dengan mata yang masih terpejam.
"Tentu saja" sahut Keylin dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Tapi menyenangkan bukan?" Akbar membuka matanya seraya terkekeh geli saat melihat wajah kelelahan istrinya tersebut.
Keylin memukul pelan punggung lebar suaminya.
"Itu mah menang banyak di Mas!" keylin berdengus sebal.
Akbar terkekeh geli mendengar hal tersebut.
"Kau tau? Aku sudah lama tidak melakukannya. Anggap saja ini seperti buka puasa karena aku sudah tidak melakukannya hampir seminggu" ucap Akbar seraya membelai lembut punggung polos istrinya itu.
"Hah itu kan salah Mas sendiri! Siapa suruh pulang malam-malam terus. Dan tunggu..tadi apa? Buka puasa? cihh dasar laki-laki" Keylin bercibir sebal.
Akbar tertawa pelan dan semakin memeluk istrinya dengan erat.
"Key aku ini pria dewasa. Wajar saja aku menginginkannya. Apalagi aku melihatmu setiap hari tertidur di sampingku, tentu saja aku akan sulit menahannya. Terlebih lagi statusmu adalah istriku. Pasti aku tidak akan menyia-nyiakannya, nanti aku bisa rugi" Akbar terkekeh geli seraya meremas pinggang Keylin dengan pelan.
"Mas ishh, kok jadi omes sih! Malu tau!" Keylin berdesis malu dan memukul pelan dada suaminya.
"Omes? Maksudmu mesum?" tanya Akbar dengan satu alis yang terangkat.
"Ya gak usah di perjelas juga dong!" pekik Keylin dengan wajah yang sudah bersemu merah.
Akbar tertawa pelan saat melihat reaksi lucu istrinya tersebut. Dirinya menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengusap-usap lembut rambut istri manisnya itu.
"Mas" panggil Keylin.
"Hn?"
"Apa pekerjaaan Mas semakin banyak di kantor?" tanya Keylin seraya mengerak-gerakan jari telunjuknya di dada telanjang suaminya dengan gerakan abstraknya.
"Tentu saja" sahut Akbar jujur yang malah membuat Keylin mendesah kecewa ketika mendengarnya.
"Apakah Mas akan sering lembur?" tanya Keylin lagi yang masih setia melakukan aktivitasnya, yang sedang menggambar pola-pola abstrak di dada bidang suaminya.
"Tidak"
Keylin mendongakkan kepalanya kala mendengar hal tersebut.
"Kenapa? Bukankah pekerjaan Mas sudah semakin banyak sekarang?"
"Ya, tapi Leri dan Zehran selalu membantuku. Dan kurasa itu cukup untuk membuatku tidak sering pulang larut malam untuk kedepannya" jelas Akbar dan menatap kedua mata Keylin dengan tatapan intensnya.
"Sungguh? Mas tidak berbohong kan?" Keylin bertanya dengan wajah senangnya.
"Tentu saja aku berbohong" jawab Akbar enteng.
"Mas!" pekik Keylin.
"Gak lucu!" sinisnya dan menatap garang suaminya tersebut.
Akbar tertawa pelan melihat ekspresi Keylin seraya mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya dan megecup lembut bibir istrinya tersebut.
"Mnghh Mas" panggil Keylin di sela-sela ciuman mereka.
Akbar tak menjawab panggilan istrinya itu. Pria tersebut malah terus melanjutkan aktivitasnya dan semakin gencar mencium lembut bibir istrinya itu.
Bahkan tangannya pun sekarang sudah semakin tak terkendali dan mulai menjelajahi tubuh mungil istrinya, yang membuat Keylin seketika meremang di buatnya.
"Ngh Mas berhenti" Keylin menjauhkan wajahnya dari wajah suaminya dan menahan mulut Akbar dengan jari-jarinya kala suaminya itu ingin mencium dirinya kembali.
"Kenapa?" tanya Akbar dengan nafas memburunya.
__ADS_1
"Tadi kan udah Mas" ujar Keylin dengan wajah memerahnya karena rasa malu yang telah menguasai hatinya.
"Sekali lagi ya" Akbar memohon dengan puppy eyesnya seraya mememgang tangan Keylin yang ada di mulutnya.
"Ah ta-tapi Mas.."
"Kumohon Key" potong Akbar seraya meremas pelan tengkuk istrinya itu yang membuat Keylin jadi tidak tega melihatnya
"Baiklah, tapi ada syaratnya"
"Apa?" tanya Akbar tak sabaran.
"Ajak aku malam mingguan, bagaimana?" ujar Keylin.
"Itu saja?" tanya Akbar seraya menaikan satu alisnya.
"Ya."
"Ck mudah" remeh Akbar dan menatap istrinya tersebut dengan tatapan mendambanya.
"Mari kita fokus kembali. Aku benar-benar sudah tidak tahan" ujar Akbar dan kembali mencium istrinya tersebut dengan menuntut dan memulai aksi perangnya dengan istrinya tersebut.
........
"Emhh Mas"
"Mau kemana?" tanya Akbar dengan suara seraknya saat dirinya melihat Keylin yang sedang ingin turun dari ranjang kasurnya.
"Aku mau mandi Mas" ucap Keylin yang membuat Akbar melirik jam yang ada di atas meja nakasnya yang telah menunjukan pukul empat sore.
"Nanti saja, bareng denganku" Akbar kembali menarik Keylin dan merapatkan tubuhnya dengan punggung mungil Keylin, karena saat ini istrinya itu tengah memunggungi dirinya.
"Ta-tapi Mas" wajah Keylin merona hebat saat tubuh telanjangnya dan tubuh telanjang suaminya bersatu tanpa ada jarak di antara keduanya.
"Sebentar Key" Akbar semakin mempererat pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di rambut panjang istrinya.
Apa aku tidak salah dengar? Jika tadi Mas Akbar mengajakku mandi bersama?
Wajah Keylin bersemu merah saat mengingatnya.
Bagaimana ini? Apakah dirinya harus ketakutan dengan ucapan suaminya tadi? Atau apakah dirinya harus berseru senang dengan tawaran yang begitu menarik baginya?
Keylin menggeleng-gelengkan kepalanya.
Gila! Apasih yang dirinya pikirkan! Kenapa otaknya jadi mesum begini!
Desis Keylin seraya menepuk jidatnya berkali-kali.
"Ayuk Key"
"Hah? Apa?" Keylin seketika menengokkan wajahnya ke arah belakang saat dirinya mendengar ucapan suaminya itu barusan.
"Ayuk mandi"
"Ma-Mas tunggu sebentar!" Keylin terpekik kaget saat suaminya tiba-tiba bangkit dan menggendong dirinya dengan ala gaya bridal style.
"Ma-Mas aku malu!" Keylin menutup mukanya menggunakan kedua tangannya saat tanpa busana dirinya dan suaminya pergi menuju kamar mandi.
"Kenapa? Aku sudah melihat semuanya Key" ucap Akbar seraya tertawa pelan yang membuat Keylin seketika memberengut kesal saat mendengarnya.
"Ishh" desis Keylin. Dan yah dirinya sangat mengetahui bahwa mandi yang di maksud suaminya itu, bukan hanya mandi yang hanya membasuh tubuh masing-masing. Melainkan ada aktivitas lain yang sangat suaminya itu sukai di sela-sela aktivitas mandi mereka.
Meski sangat melelahkan untuk dirinya, namun Keylin menikmatinya.
Begitulah hari yang dirinya habiskan bersama dengan Akbar di hari sabtu yang panjang ini.
....
Setelah acara tempur-bertempurnya. Kini akbar dan Keylin tengah bersiap-siap untuk pergi ke suatu tempat yang sudah tadi Kenos (sahabat Akbar) kirim alamatnya.
__ADS_1
Tadinya Akbar menolak dengan mentah-mentah ajakan Kenos yang katanya, sahabatnya itu dan kawan-kawannya yang lain, tengah mengadakan acara malam mingguan dengan mengumpulkan beberapa teman di semasa SMAnya.
Dan katanya disana pun, ada Leri dan Zehran yang bahkan turut hadir dalam acara tersebut. Membuat dirinya semakin malas saja untuk datang, setelah dirinya mengetahui kabar tersebut.
Namun, saat melihat Keylin yang terus-terusan merengek kala menagih janjinya, membuat Akbar terpaksa harus menerima ajakan Kenos yang sudah mengundangnya jauh-jauh hari.
Karena memang sejujurnya dirinya pun masih belum mempunyai ide, untuk membawa istrinya tersebut jalan-jalan kemana.
Dan dari pada dirinya bingung, nanti muter-muter tidak jelas. Lebih baik ia bawa saja istrinya tersebut ke acara sahabatnya itu. Toh sama saja kan.
Sama-sama, jalan-jalan.
"Ayo Mas" Keylin melingkarkan tangannya ke lengan panjang suaminya itu.
"Hn tunggu" tahan Akbar kala istrinya tersebut ingin menyeret dirinya.
"Kenapa?" tanya Keylin dengan heran.
"Kau tidak benar mengancingkan ke mejamu" ucap Akbar seraya melirik kancing baju istrinya yang masih terbuka di bagian dadanya.
"Be-benarkah?" tanya Keylin seraya menundukan pandangannya dan meraba baju kemejanya.
"Hahaha ternyata benar. Sepertinya aku terlalu banyak melamun sampai-sampai aku tidak sadar jika aku belum mengancinginya" ucap Keylin dengan tawa garingnya, lalu mulai mengancingi baju kemejanya tersebut.
"Sudah, bagaimana apakah masih ada yang lain?" tanya Keylin seraya merentangkan kedua tangannya di hadapan suaminya itu.
Namun bukannya menjawab, Akbar malah mendekatkan tubuhnya ke tubuh Keylin dan mendekatkan bibirnya ke telinga istrinya tersebut.
Keylin gugup.
Jantungnya berdetak tak karuan saat dirinya di perlakukan seperti itu oleh suaminya tersebut.
"Kalau kau sampai terlihat seperti tadi di hadapan pria lain, maka akan kuhabisi kau dan pria itu"
"Dan kau tau? Aku pasti akan menghukummu sampai-sampai kau tidak ingin melakukan kesalahan itu lagi" bisik Akbar tepat di telinga Keylin.
Keylin seketika merinding di buatnya.
"Ke-kejam! Mas tega menghukum ku?" tanya Keylin dengan gugup seraya meremas kedua tangannya.
"Tentu saja Key. Tapi khusus untuk kau, akan ku hukum kau dengan caraku sendiri. Kau mau tau bagaimana caranya aku menghukummu hn?" bisik Akbar di telinga Keylin seraya membelai lembut rambut istrinya tersebut.
"Se-seperti apa?" tanya Keylin penasaran namun dengan intonasi nada yang terdengar sangat pelan.
"Akan ku hukum kau seperti apa yang tadi sore kita lakukan. Tapi bedanya akan ku buat kau tidak bisa bangun dari tempat tidur agar kau kapok sampai-sampai tidak bisa melupakannya.
mengerti?" ucap Akbar dan membelai lembut leher jenjang istrinya yang seketika membuat tubuh Keylin bergetar karena kelakuan suaminya itu.
Bluss
Wajah Keylin seketika memerah kala mendengar ucapan suaminya itu. Sungguh ucapan suaminya itu, benar-benar tak terduga. Karena dirinya tidak pernah menyangka, bahwa pria sedingin suaminya itu bisa mengatakan hal seintim tersebut dengan gamblangnya.
"Me-mengerti" ujar Keylin dengan suara bergetarnya.
Se-seram. Batin Keylin ketakutan
"Bagus! Ayo kita pergi. Leri dan yang lain sudah sampai, ayo" ucap Akbar datar dan membawa tangan kecil Keylin ke dalam genggamannya.
"Y-ya" sahut Keylin dengan wajah yang masih memerah dan mengikuti tarikan tangan suaminya yang membawanya ke arah garasi rumahnya tuk pergi ke tempat tujuan.
........
...Terimakasih yang telah membaca cerita ini...
...Dan jangan lupa atas dukungannya. ...
...See you...
...( ͡ ͜ʖ ͡ )...
__ADS_1