My Cold Husband Is Gentleman

My Cold Husband Is Gentleman
48. RUMIT


__ADS_3

Brak


Simon menutup matanya, saat lagi-lagi benda berbagai macam melayang di hadapannya. Ini sudah yang ke sepuluh kali, (Gerry), bos mudanya melempar semua barang-barang yang ada di atas meja kerjanya.


"Sial! Sial!" amuk Gery dan menginjak-injak serpihan barang yang sudah ancur lebur.


Simon hanya terdiam kaku. Sejak tadi entah apa yang membuat bos mudanya itu kalang kabut seperti ini. Sejak menerima laporan jimmy (Asistennya), tiba-tiba Gerry berubah menjadi seperti ini.


"Hah, sialan! Jadi selama ini aku sia-sia mencarinya?" desis Gerry seraya menatap lolipop yang sedang ia genggam.


Simon hanya terdiam dan tak berniat untuk menimpali atasannya tersebut.


Trakkkk


Lolipop yang ada di genggaman Gerry dalam sekejap remuk dan hancur berkeping-keping. Sebuah senyuman sinis muncul dibibir Gerry setelah menghancurkannya.


Sial! Tak pernah ia sangka ternyata cinta pertamanya (Keylin), telah menikah dengan orang lain. Hampir lima tahun lamanya dirinya menunggu wanita yang sangat ia puja itu.


Dikiranya, semuanya akan berjalan dengan lancar, jika ia menyelesaikan masalalu mereka berdua. Namun lagi-lagi takdir menghianatinya. Wanita yang ia cintai, kini telah dimiliki orang lain. Sungguh takdir yang kejam!


Jika takdir memiliki wujud, maka sudah ia pastikan, ia akan membunuhnya.


"Hahh" Gerry menyibak rambutnya.


"Jika tau, kalau kau akan dimiliki oleh orang lain. Seharusnya saat itu aku mengikat lehermu erat-erat. Cihh sia-sia saja aku bermurah hati pada mereka!" decih Gerry dan mengambil sebatang rokok dan melipkannya di bibir tipisnya.


Gerry melempar sebuah map ke wajah simon. "Carilah. Carilah identitas Suaminya. Setelah itu, beritahu aku jam tujuh malam nanti. Ingat! Aku benci orang bodoh dan lelet!" pungkas Gerry dan kembali menyesap rokoknya.


Simon menunduk badannya "Baik, saya permisi dulu."


Setelah menutup ruang kerja Gerry, Simon pun berdecak malas.


"Huh Dasar gila!" dengus Simon dengan wajah datarnya.


....


Drttt drttt


Akbar mengucek kedua matanya, saat ponselnya yang di atas nakas bergetar. Akbar langsung menjawab panggilan masuk yang berasal dari Leri.


"Halo"


"Maaf mengganggumu. Apa kau baru bangun tidur?"


"Hn, ada apa?"


"Begini, bisakah kau membantuku untuk mengecek file dari grup biort? Kudengar ada yang miss dari perhitungannya"


"Baiklah"


"Ck, kau terlalu to the point. Baiklah kututup dulu. Maaf karena telah mengganggumu"


"Hn"

__ADS_1


Seusai panggilan dari Leri berhenti, Akbar langsung bangun dari tidurnya.


"Emnghh Mas"


Keylin menarik lengan Akbar saat Suaminya itu, hendak bangkit dari kasur.


"Kenapa?" tanya Akbar dan mengambil kaca matanya.


"Mas mau kemana? Ini masih jam 8 pagi" Keylin bangkit dari tidurnya dan memeluk Akbar dengan perlahan.


Akbar mencium pipi Keylin dan menatap wajah Keylin yang masih pucat.


"Ada kerjaan mendadak. Setelah ini, aku akan kembali tidur"


Keylin cemberut mendengarnya "Kenapa ada saja pekerjaan Mas?!" Keylin kembali memeluk Akbar dan menenggelamkan wajahnya di leher kokoh suaminya.


"Maaf" tidak tahu harus berkata apa, Akbar lebih memilih untuk meminta maaf saat mendengar kekecewaan Keylin.


"Satu jam" titah Keylin "Hanya satu jam Mas mengerjakan semuanya"


Akbar terkekeh dan menganggukkan kepalanya. "Baiklah, kalau begitu lepaskan aku"


Akbar dengan pelan mulai melepaskan pelukannya dari Keylin. Dan tampak begitu jelas jika wajah istrinya sedikit kecewa dengan perlakuannya. Namun jika tidak buru-buru ia lepas, Keylin pasti akan menahannya lebih lama.


"Mau belanja bersamaku nanti?" tawar Akbar agar dapat menggantikan kekecewaan istrinya itu.


"Mau" jawab Keylin dengan semangat. Seperti dugaannya, Keylin benar-benar suka dengan tawarannya.


.....


Floren menatap jam tangannya yang sudah menunjukan pukul sebelas siang. Dirinya bersidekap dada, saat sudah 1 jam lamanya dirinya menunggu kedatangan temannya.


Saat ini dirinya tengah berada di sebuah kafe minimalis, yang bernuansa monokrom. Dengan kedatangan pengunjung yang tak banyak, membuat kafe ini nyaman untuk menghabiskan waktu.


Floren menghela nafasnya. Setelah kejadian pertemuannya dengan Zehran terakhir kali. Sudah lama juga, dirinya tidak pernah melihat pria tersebut.


Rasa rindu sedikit menghantuinya, setelah sekian lama dirinya tidak melihat cinta pertamanya tersebut.


Sekian lama ia menyibukkan diri, namun tetap saja jika di waktu-waktu luang seperti ini, perasaan rindu pasti datang kembali mengingat Zehran.


Floren menepuk kedua pipinya. Sadarlah! Kau hanya parasit baginya!


"Hei Flo, maaf membuat menunggu" seorang pria dengan aksen bulenya datang menghampiri Floren.


"Ada sedikit kendala di perjalanan. Sumpah aku tidak berniat membuatmu menunggu" ucapnya sembari menunjukan jari peacenya


Floren tersenyum tipis. "Tak apa, santai saja"


"Minumlah" Floren menyodorkan secangkir kopi hangat kepada kawannya itu.


"Terimakasih, kau memang perhatian" Agram mengacak-acak rambut Floren dengan gemas.


"Felll. Kau selalu melakukan ini padaku!" karena kebiasaan sejak masa kecil yang selalu Agram lakukan padanya. Hingga besar pun pria tersebut selalu saja melakukan ini kepadanya.

__ADS_1


"Hah, itu sulit untuk di hentikan! Kau kan tau aku begitu menyukaimu!" tak mau di omelin Agram justru malah berdalih.


Mata Floren meyipit. Meskipus sudah berkali-kali ia peringatkan namun tetap saja kawannya itu tetap melakukan hal seperti tadi.


"Baiklah ini yang terakhir. Kali ini akan kumaafkan"


"Bagus, ini baru kekasihku" Floren yang mendengarnya seketika memutar kedua bola matanya dengan malas, karena sudah kesekian kalinya temannya itu mengatakan hal tersebut.


"Oh ya, ada satu lagi temanku yang akan datang. Kau tidak keberatan kan kalau dia bergabung dengan kita?" tanya Agram dengan nada yang begitu lembut.


Sejenak Floren terdiam, entah sejak kapan Agram mulai begitu lembut padanya. Awalnya ia mengira jika itu hanya perasaanya saja. Namun entah mengapa, semakin lama dan akhir akhir ini, Agram sering sekali menghubungi dirinya. Seperti seorang pria yang kini tengah jatuh cinta pada dirinya.


Ck apa yang ia pikirkan. Tidak! Tidak mungkin Agram jatuh cinta pada dirinya. Karena jelas-jelas pria tersebut pernah mengatakan, jika dirinya tidak akan pernah jatuh cinta pada sahabatnya sendiri. Tak perduli seberapa baik, atau cantiknya sahabat yang ia punya. Yang jelas, pria itu pernah mengatakan bahwa dirinya sangat anti jatuh cinta dengan sahabatnya sendiri.


"Hussf bodohnya aku, memikirkan hal yang tidak mungkin terjadi"


"Hei" Agram menepuk pipi Floren yang sedaritadi hanya melamun, asik dengan pikirannya sendiri. "Kenapa diam saja? Kau tidak setuju, jika temanku bergabung?"


Floren menggelengkan kepalanya. "Tidak, maaf aku asik sendiri. Aku setuju, silahkan jika dia ingin bergabung. Kau ini aneh sekali, mengapa harus meminta izin dulu" Floren terkekeh pelan, pasalnya melihat Agram yang seperti ini. Sungguh aneh di matanya.


"Kau itu!" Agram mendengus pelan, dan beberapa detik kemudian pria tersebut tersenyum tipis melihat perilaku Floren. Melihat perilaku Floren yang tidak pernah berubah sedikitpun, membuatnya jadi merasa lucu kala melihat wanita itu. Ia rasa, waktu seperti berhenti pada Floren. Entah dari tawa ataupun dari cara Floren bicara, tidak ada satupun yang berubah dari sahabatnya itu.


"Ram, aku ke toilet dulu"


"Perlu kutemani?" Floren menggelengkan kepalanya.


"Baiklah hati-hati"


Setelah Floren meninggalkan meja mereka, beberapa saat kemudian seorang pria berjaket kulit menghampiri meja Agram.


"Sorry aku telat. Ada bajingan gila yang menahanku tadi" dengan tergesa-gesa seorang pria berbaju hitam menghampiri meja Agram


"Alasan! Bukankah kau yang bajingan gila?"


"Sialan kau!" desisnya dan kemuadian duduk di samping bangku Agram.


Dahinya mengercit. "Kau sedang bersama wanita?" tanyanya saat ia melihat tas selempang wanita berwarna hitam .


"Hn, dia temanku dulu"


"Dulu?"


"Ya, itu dia. Flo kemari"


"Hai Flo, kenalkan ini temanku. Zehran"


Deg


..........


TBC


see you

__ADS_1


__ADS_2