My Cold Husband Is Gentleman

My Cold Husband Is Gentleman
29. KENCAN BERKEDOK REUNI


__ADS_3

Leri membulatkan matanya kala mendengar hal tersebut.


"Diam! Jangan coba-coba kau merayunya. Aku tidak Sudi menyerahkan Sienna kepada laki-laki sepertimu! Meskipun kau itu sahabatku!" Leri berucap ketus dan menepis tangan ian yang ingin menggenggam tangan Sienna yang tengah ada di atas meja.


Hati Sienna berdebar tak karuan saat mendengarnya. Pipinya tibahtiba bersemu merah kala Leri mengucapkan hal tersebut.


Seperti ada kupu-kupu yang tengah berterbangan di perutnya, tiba-tiba hatinya seketika meleleh dibuatnya.


Meski ia tahu walau sebenarnya pria tersebut sepertinya tidak terlalu menyadari dengan apa yang dia ucapkan, namun tetap saja hatinya menjadi terbunga-bunga setelah mendengarnya.


"Santai saja heh! Kau cemburu ha?" Milad tersenyum mengejek, menepuk pundak Leri dengan pelan.


"Diam!" tepisnya.


"Aku hanya tidak ingin, sahabatku jatuh kepelukan laki-laki yang salah! Aku benar-benar tidak ingin jika dia merasakan akan pahitnya patah hati, itu saja!" Leri memberengut kesal dan menatap Milad dengan tatapan tajamnya.


Ah Sabahat ya


Sienna mendesah kecewa di dalam hati saat mendengarnya.


Tak pernah ia sangka ternyata hanya sebatas itu perasan Leri terhadapnya. Ia kira mungkin saja ada setitik rasa cinta yang tumbuh di dalam hati pria tersebut, setelah kebersamaan yang mereka lewati begitu lamanya.


Namun nyatanya harapan tinggallah harapan. Nyatanya pria yang selama ini yang selalu berada di sampingnya, kini hanya mengganggapnya sebatas teman saja dan itu membuat hatinya sangat kecewa dengan fakta tersebut.


"Bilang saja kau cemburu! Cih" decih Zehran menatap malas kakaknya tersebut yang seketika membuat Leri mengeram kesal kala mendengar hal tersebut.


"Hufs tak kusangka Leri bisa sebodoh itu. Hal seperti itu saja dia tidak menyadarinya. Ck benar benar pintar!" gumam Alfin disamping Eiko.


Eiko seketika langsung menengokkan kepalanya ke samping setelah mendengar ucapan Alfin barusan


"Kau benar, dia terlalu naif! Dasar bodoh" Alfin mengangguk anggukkan kepalanya setuju dengan kata kata Eiko barusan.


"Sh" ringis Keylin pelan di tengah-tengah perbincangan tersebut.


"Kenapa?" Akbar menolehkan kepalanya menghadap Keylin.


"Dingin" Keylin mendekap tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya.


"Mau pulang?" tawar Akbar seraya mengusap pelan pipi Keylin yang sedikit mendingin.


Keylin menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Nggak. Aku masih mau disini" rengek Keylin menatap suaminya itu dengan tatapan manjanya.


"Baiklah pakailah Hoodie ku" Akbar melepaskan hoodienya dan menyodorkannya kepada istrinya itu.


Keylin menepisnya dengan pelan.


"Kebesaran Mas. Aku gak suka! Keliatannya aku jadi gemuk!" tolak Keylin dengan keras.


Akbar menatapnya dengan datar dan menaruh hoodienya ke atas meja.


"Baiklah ayo" Akbar mengambil tas dan ponselnya yang ada di atas meja.


"Kemana?" tanya Keylin saat dirinya melihat Akbar yang tengah memasukan barang barangnya ke dalam tas.


"Pulang" jawab Akbar singkat dan menatap keylin dengan tatapan lurusnya.


"Pu-pulang?" Keylin kelabakan. Ahh sepertinya suaminya itu tengah kesal dengannya.


"Baiklah.. baiklah, aku akan memakainya. Mas jangan marah ya" Keylin mengambil tangan Akbar dan mengusap lembut tangan Akbar yang tengah berada di dalam genggamannya.


"Pakai" Akbar menyodorkan hoodienya ke hadapan sang istri.


"Lihatlah aku akan memakainya" Keylin langsung memakai Hoodie Akbar dan merenggangkan kedua tangannya setelah memakainya.


"Sudah kan?" Akbar menatapnya dengan tatapan datarnya.


"Kenapa harus menungguku marah dulu hm?" tekan Akbar membisikan kalimat tersebut ke telinga Keylin dan meremas paha Keylin dengan pelan.


"Ak-aku hanya bercanda kok" ucap Keylin gugup.


"Maaf, jangan marah ya. Nanti mas jadi jelek" Keylin memeluk Akbar dari samping dan terkekeh geli setelah mengatakan hal tersebut.


"Jangan berbohong!" Akbar membalas pelukan keylin, mencium kening Keylin dengan mesra.

__ADS_1


"Atau nanti akan kuhukum kau!" ancamnya dengan suara datar.


Keylin mengubah wajahnya menjadi semenyedihkan mungkin, mendongakkan kepalanya ke hadapan suaminya dan mencubit pelan lengan Akbar.


"Jangan..." jeda Keylin.


"Nanti Mas yang menang banyak lagi!" lanjut Keylin dan memukul pelan bahu Akbar.


Akbar terkekeh geli. "Memang itu tujuanku" jujurnya yang membuat Keylin seketika memekik sebal saat mendengarnya.


"Ck hentikan! Dasar tidak tau tempat" Seraline berdecak kesal dengan nada yang sedikit meninggi.


"Hei, kau ini sirik sekali! Jangan karena Jordan tidak datang, kau jadi pengacau dalam keromantisan orang lain ya!" Bara mengejeknya, melemparkan satu potong kentang goreng ke wajah Seraline.


"BARA" amuk Seraline.


"Skincareku mahal sial!" Seraline mencubit tangan Bara dengan kencang.


"Aw, sakit Seraline!" Bara mengaduh kesakitan, mengelus elus tangannya yang sudah memerah.


"Rasakan! Makanya jangan macam-macam denganku. Sakit kan!" jutek Seraline seraya mengibaskan rambutnya dengan kencang, menatap Bara dengan tatapan angkuhnya.


Rasakan! Seraline kok dilawan!


Seraline tersenyum bangga ketika Bara meringis kesakitan karenanya.


"Cih kau ini galak sekali! Apa Jordan tidak takut padamu? Heh" dengus Bara yang masih setia mengusap-usap kan tangannya yang tadi Seraline cubit.


"Mau tau saja! Ayo Na, antar aku ke toilet. Bisa-bisa jerawatan wajahku jika tidak di bersihkan" Seraline bangkit dan menarik tangan Anna tuk mengajaknya ke toilet.


"Begitu saja lebay! Dasar wanita" Bara berujar malas seraya memutarkan kedua bola matanya.


"Biarin bleee. Sirik saja!" ucapnya seraya pergi berlalu menjauhi Bara.


"Dasar!" decak Bara yang masih mengusap-usap tangannya.


"Rans"


"Kenapa?" Rans mendekatkan tubuhnya ke arah sang istri.


"Aku lapar" Killa merengek pelan seraya megusap-usap perutnya yang sudah membuncit.


"Itu" tunjuk Killa.


"Tapi di suapin ya" rengek Killa manja dengan mengeluarkan tatapan mengibanya.


"Jangan..... jangan lagi!" celetuk Kenos berdecak sebal menatap kedua pasangan tersebut dengan tatapan tajamnya.


"Berhentilah! Kalian sungguh menyebalkan!" sengit Bara ketus saat adegan romantis akan dimulai beberapa saat lagi.


"Ya! Jangan sampai kuratakan bangunan ini. Sungguh... Aku benar-benar kesal melihatnya!!" tandas Zehran yang ikut-ikutan mencemoh kedua pasangan tersebut.


Killa mendelik sebal dan menatap ketiga pria tersebut dengan tatapan sinisnya.


"Dasar jones! Ayo Rans kita pindah saja. Disini banyak pengganggu huh!" Killa menarik lengan Rans dan beranjak pergi ke arah meja yang paling pojok di atas bangunan tersebut.


"Pergilah! Bila perlu pergilah yang jauh" cetus Bara dengan sarkas yang dapat membuat Rans langsung mendelik tajam kala mendengarnya.


"Hufs membuat iri saja" desah Milad seraya mengeluarkan satu bungkus rokok dari saku celananya.


"Kau mau?" tanya milad kepada Zehran yang langsung dijawab dengan anggukan oleh sang empunya.


"Nih" Milad melempar satu bungkus rokok ke arah Zehran dan dengan mudahnya pria tersebut menangkapnya.


"Ganti lagi heh? Mana koreknya?"


Milad mengeluarkan koreknya.


"Ya karena kurasa yang kemarin rasanya agak asem di mulutku jadi ku ganti saja" ucap Milad seraya menyodorkan korek apinya kepada Zehran.


Zehran yang mendengarnya hanya mengganggukkan-anggukkan kepalanya dan mulai menyalakan puntung rokoknya yang ada di selipan jarinya.


"Kau mau?" tawar Zehran kepada Akbar, namun Akbar menolaknya dengan halus.


"Ukhuk-ukhuk" batuk Elyon saat asap rokok Milad menerpa wajahnya.

__ADS_1


"Kau ini, masih saja tidak tahan. Minumlah" Eiko menyodorkan segelas air mineral kehadapan Elyon.


"Terimakasih, memang aku tidak tahan dengan asap rokok. Karena itulah sebabnya dari dulu aku tidak pernah merokok tidak seperti kalian yang suka sekali mencari penyakit" Elyon mengerutu sebal dan mengelus-elus dadanya yang sedikit terasa sesak.


"Ekhem. Nona cantik lebih baik kau pindah saja di sampingku. Tidak baik wanita secantikmu berada di dekat orang-orang yang tengah merokok. Nanti kau akan menjadi perokok pasif lagi" Alvin mengedipkan satu matanya ke arah Floren yang tengah berada di samping Milad dan melemparkan senyuman termanis yang ia miliki.


"Cih dasar modus!" Leri berdecak malas menatap Alfin dengan tatapan jengahnya.


"Biarin saja sih. Toh Floren juga masih single kan? Jadi bebas dong aku mendekatinya" sewot Alvin.


"Jangan.... nanti Zehran cemburu" celetuk Eiko seraya melirik Zehran, berharap pria tersebut dapat sedikit terpengaruh oleh ucapannya.


Namun sayangnya, nyatanya pria tersebut benar-benar tidak perduli dan terkesan acuh tak acuh saat Eiko mengucapkan hal tersebut.


Membuat hati Floren seketika meradang dibuatnya.


Ah sakitnya


Batin Floren dalam hati dan menatap Zehran dengan tatapan penuh kekecewaan.


Milad yang langsung peka terhadap perasan Floren, seketika langsung mematikan puntung rokoknya dan merangkul wanita tersebut dengan mesra.


"Sudahlah jangan bersedih! Kau itu kan manis. Aku yakin masih banyak laki-laki yang ingin denganmu. Laki-laki bukan hanya dia doang kan?" Milad berbisik pelan di telinga Floren, mengusap lembut bahu wanita tersebut bertujuan untuk memberikan sedikit ketenangan untuk wanita cantik itu.


Rupanya hal itu dapat membuat Floren sedikit terhibur dengan kata-kata yang Milad lontarkan kepadanya.


Dirinya pun tersenyum tipis dan menatap kawannya tersebut dengan tatapan lembutnya.


"Terimakasih, kau benar-benar sangat baik" bisik Floren tersenyum hangat kala menatap Milad.


"Sama-sama manis" sahut Milad dengan tawa jenakanya.


"Hei curang sekali kau!" Alfin memekik kesal saat Milad dengan mesranya merangkul Floren.


"Rasakan! Siapa suruh kau lambat" ujar Milad mengejek Alfin dengan tatapan mencemohnya.


"Heii, kau yang curang. Aku yang di bilang lambat! Dasar licik!" dengus Alfin tak terima, saat dirinya dikatai lambat oleh Milad.


"Ck sama saja! Mengakulah!" sarkas Milad yang membuat Alfin semakin kesal dibuatnya.


Eiko yang melihatnya hanya menatapnya dengan tatapan datarnya seraya memutarkan kedua bola matanya dengan malas


Hufsss dasar gila.


Batinnya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali menyesap puntung rokoknya.


Elyon mengalihkan tatapannya ke arah Akbar yang sedang duduk di sebrang mejanya.


"Jadi, apa itu benar? Soal kau akan kembali ke perusahan Om Zack?"


Akbar menganggukkan kepalanya.


"Ya, kurasa ini memang sudah waktunya" Akbar tersenyum tipis dan sekilas matanya melirik ke arah Keylin.


"Ah jadi itu alasannya" Elyon langsung menyadarinya.


"Dasar! Kau mulai seperti Julian saja" Elyon tersenyum sinis namun beberapa saat kemudian dia terkekeh geli sendiri.


"Hnn akhirnya kau terlihat lebih manusiawi. Kukira itu tidak akan pernah terjadi padamu" Karena tentu saja pria seperti Akbar sangatlah sulit di tebak. Maka dari itu dirinya bisa berkata seperti ini.


Akbar tersenyum miring mendengarnya.


"Yah aku juga tidak pernah membayangkan hal seperti ini"


Elyon menyesap kopinya.


"Hah! Kurasa aku juga harus mencoba" Elyon mendesah lesu karena iri melihat ke uwuw-an orang-orang di sekitarnya.


"Ck reuni berkedok kencan!" dengusnya.


....


...Terimakasih yang telah membaca cerita ini. ...


...Jangan lupa dukung cerita ini ya. Dengan like dan comment kalian. ...

__ADS_1


...Sekian arigatou...


...Ლ(◉❥◉ ლ)...


__ADS_2