My Cold Husband Is Gentleman

My Cold Husband Is Gentleman
38. JANJI


__ADS_3

...selamat membaca...


.........


"Mas, Mas mau gendong Aska?"


Akbar mengercitkan keningnya. "Aska?" tanyanya dengan wajah tak mengerti.


"Ah, karena nama Alaska terlalu panjang saat aku memanggilnya, jadi aku memutuskan untuk memanggilnya dengan nama Aska" ucap Keylin dengan cengiran khas lima jarinya.


Akbar tersenyum geli. Bisa-bisanya istrinya itu mengubah nama Alaska dengan se-enak jidatnya. Bisa ia bayangkan, bagaimana jengkelnya wajah David saat mengetahui ulah istrinya ini.


"Gugunyanana"


"Mas berhenti Mas. Aska pengen di gendong sama Mas" Keylin memberhentikan langkah kakinya saat tangan Alaska berusaha menggapai tubuh Akbar.


Akbar mengambil Alaska yang ada di tangan Keylin lalu menggendongnya dengan perlahan.


Alaska seketika tertawa saat tubuhnya berada di tangan Akbar. Dirinya pun menepuk-nepuk dada Akbar dengan pelan saking senangnya.


"Mas tunggu sebentar" Keylin mengambil ponselnya dan mengeluarkan dari saku celananya.


"Key, kau mau ngapain?" Akbar yang tengah sibuk dengan Alaska, sedikit terusik saat istrinya itu mengarahkan ponselnya seolah-olah tengah mengambil gambar dirinya.


"Mas, senyum"


Cekrek


Keylin mengambil beberapa gambar Akbar dan Alaska.


Dirinya terpekik senang saat hasil tangkapan gambarnya begitu candid.


"Mas, senyum lagi cisss"


Akbar mendelik tajam saat istrinya tengah asik memotret dirinya sesuka hati.


"Key sudah" Akbar mendengus sebal. Namun bukannya memberhentikan aksi memotretnya, Keylin justru semakin menjadi-jadi memotret wajahnya.


Grep


Akbar menarik lengan Keylin sehingga istrinya itu langsung bertubrukan dengan tubuhnya.


"Ma-Mas" kikuk Keylin saat suaminya merengkuh tubuhnya dengan tangan kanan, karena tangan kiri Akbar tengah menggendong Alaska.


"Sudah kubilang cukup!" bisik Akbar yang membuat Keylin menyengir kuda.


"Ba-baiklah.Tapi lepaskan aku Mas. Aku malu orang-orang memperhatikan kita" bisik Keylin dengan wajah memerahnya.


Akbar tersadar saat Keylin mengatakan hal tersebut. Benar juga, ternyata banyak pasang mata yang tengah melihat ke arah mereka berdua.


Mungkin di mata orang lain, dirinya dan Keylin adalah sebuah keluarga kecil yang terlihat sangat bahagia. Melihat Akbar yang tengah memeluk Keylin dengan begitu posesif di tambah Alaska yang ada di tengah-tengah mereka, itu menjadi nilai plus bagi image sebuah keluarga bahagia.


Akbar menghela nafasnya. Salah dirinya yang membuat orang lain jadi memperhatikan mereka bertiga.

__ADS_1


"Ayuk kita pergi" ucap Akbar pelan yang masih bisa Keylin dengar.


Lalu Keylin dan Akbar pun kembali melanjutkan perjalanan mereka tanpa memperdulikan tatapan-tapaan orang di sekitar.


....


Mengingat Alaska yang tidak boleh keluar terlalu lama di usianya saat ini. Setelah selesai dari acara jalan-jalan paginya, Keylin dan Akbar langsung pulang ke rumah orang tuanya Keylin.


Keylin menatap Alaska dengan gemas. Melihat pipi gembul Alaska yang sangat menggoda dirinya, menbuat ia sangat ingin mencubit pipi gembul tersebut.


"Jadi, kau sekarang telah bergabung dengan Zack? Aku tidak menyangka kalau Zack akan secepat ini mengundurkan diri dari perusahaan" tanya Devan di tengah-tengah sarapan bersama.


"Begitulah. Aku pun sedikit terkejut saat mendengarnya"


Devan terkekeh geli. "Dibanding ingin beristirahat, Ayahmu pasti lebih menginginkan waktu berduaan dengan Bundamu" ucap Devan yang membuat Hellen seketika tertawa pelan.


"Papah, jangan terlalu jujur" timpal Akbar yang membuat semua orang yang tengah sarapan seketika tertawa.


Hellen menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Mereka selalu seperti itu sejak dulu. Aku saja terkadang iri dengan mereka" ujar Hellen ketika dirinya mengingat kemesraaan Zack dan Emma yang tidak pernah berubah sejak dulu.


"Ya Zehran pun juga sering kesal saat melihatnya" sahut Akbar dengan wajah datarnya, yang membuat Devan terkekeh geli mendengarnya.


"Oh iya, ngomong-ngomong bagaimana dengan Leri? Apakah dia juga akan kembali ke Amsterdam setelah kau yang mengurus disini?" tanya Devan.


"Entahlah. Tapi mungkin dia akan menetap disini selama beberapa tahun"


Devan terkekeh geli. "Dia persis seperti monster!" ucap Devan yang membuat Akbar ikut-ikutan terkekeh geli saat mendengarnya.


....


Saat ini, Akbar dan Keylin tengah terduduk di atas ranjang mereka seraya memainkan ponsel canggih mereka masing-masing.


Sedaritadi Akbar memincingkan matanya, saat dirinya melihat istrinya itu yang lagi-lagi tersenyum lebar saat melihat ponselnya sendiri.


"Key" panggil Akbar yang sedang terduduk di samping Keylin.


"Hn?" Akbar berdecak sebal. Lagi-lagi istrinya itu hanya menyahuti dirinya dengan deheman singkat.


Akbar menatap tajam istrinya. "Kau sedang melihat apa sih?" desis Akbar. Sungguh dirinya sedikit kesal saat Keylin mengacuhkan dirinya.


"Bentar Mas" sahut Keylin, tanpa mengalihkan tatapan matanya dari ponsel canggihnya. Terlihat bahwa wanita itu sangat asik sekali dengan dunia mayanya itu.


"Kau sedang apa memangnya?"


Keylin menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu mengalihkan tatapan matanya dari ponsel canggihnya.


"Mas mau tau banget ya" ledek Keylin dengan wajah mengejeknya.


Akbar mendesis malas dan membaringkan tubuhnya di atas kasurnya.


"Aku ngantuk Key, jangan lupa matikan lampunya"

__ADS_1


"Mas serius nih, gak mau lihat apa yang tadi aku lihat?" tanya Keylin yang masih ingin menggoda suaminya itu.


Akbar seketika mengalihkan tatapan matanya ke arah Keylin.


"Aku tidak akan tertipu olehmu!" ucap Akbar dengan wajah datarnya.


Keylin pun memberengut kesal. "Memangnya aku ingin menipu Mas! Aku serius, Mas benar-benar masih ingin melihat apa yang tadi aku lihat?”


Akbar memincingkan matanya. Walau dirinya sedikit curiga dengan istrinya itu, namun tak dapat ia pungkiti jika dirinya bebar-benar kepo dengan sesuatu yang sedaritadi istrinya itu pandangi.


"Berikan ponselmu" titah Akbar.


Keylin langsung mengarahkan ponselnya ke arah Akbar. Namun belum sepenuhnya ponsel Keylin sampai ke tangan Akbar, tiba-tiba wanita berambut panjang tersebut seketika menahan pergerakannya.


"Kenapa?"


Keylin tersenyum lima jari dan mengangkat satu tangannya ke hadapan wajah Akbar.


"Sebelum Mas melihat isi ponselku, Mas harus berjanji jika tidak boleh menghapusnya dan tidak boleh marah padaku"


Seketika pikiran negatif Akbar makin menjadi-jadi saat dirinya mendengar hal tersebut.


Apa maksudnya?


Jangan-jangan, sedaritadi istrinya itu tengah memandangi foto pria lain secara diam-diam?


Akbar semakin sebal saat pikiran tersebut tiba-tiba terpintas dalam pikirannya.


"Iya! Janji!" sahut Akbar dengan wajah datarnya.


"Kalau begitu Mas harus janji. Mana jari kelingking Mas?" Keylin mengulurkan jari kelingkingnya di hadapan Akbar.


"Kau tenang saja aku akan memegang ucapanku" ujar Akbar, yang artinya bahwa dirinya tidak ingin melakukan penautan jari mereka sebagai janji.


Namun walau Akbar sudah menolak hal tersebut, Keylin tetap kukuh dalam pendiriannya. Dirinya tetap ingin menautkan kedua kelingking mereka agar sebuah janji terlihat sah di matanya. Membuat Akbar seketika memutarkan kedua bola matanya dengan malas saat melihat hal tersebut.


"Sudah?" dengus Akbar setelah dirinya menautkan jari kelingkingnya.


Keylin pun tersenyum senang. "Mas janji ya, tidak boleh menghapus atau marah kepadaku!" peringat Keylin yang lagi-lagi membuat kesabaran Akbar kian menipis.


"Kenapa kau takut sekali! Memangnya apa yang ingin kau tunjukan?" Akbar semakin curiga karena istrinya itu benar-benar terlihat sangat mencurigakan.


Tak menjawab ucapan Akbar, Keylin pun langsung menunjukan sesuatu yang ada di ponselnya. Dan sesuai dugaannya, belum sampai lima detik, ponsel canggihnya hampir di rebut oleh tangan suaminya.


"Mas!"


"Key!" ucap mereka secara bersamaan.


"Key!" Keylin menutup kedua matanya rapat-rapat saat mendengar hal tersebut.


"Hah sudah kuduga akan seperti ini!" ucap Keylin dalam hati


.....

__ADS_1


TBC


__ADS_2