My Cold Husband Is Gentleman

My Cold Husband Is Gentleman
44. AKU YANG SALAH


__ADS_3

Drttt drttt


Sejumlah panggilan masuk ke dalam ponselnya, tak membuat Keylin ingin menjawab panggilan tersebut. Berbagai panggilan yang berasal dari rekan Kantornya, ia abaikan karena saat ini hatinya tengah kacau dan tidak ingin di ganggu oleh siapapun.


Keylin menghela nafasnya dalam-dalam. Setelah tadi dirinya menyaksikan kejadian yang seharusnya tidak ia lihat. Akhirnya dirinya memutuskan untuk pergi ke sebuah kafe guna menenangkan hatinya yang tengah kacau balau.


Pemandangan malam yang begitu ramai, tak membuat hatinya menjadi teralihkan oleh kejadian tadi.


"Ck kenapa aku seperti anak remaja yang tengah patah hati?" Keylin berdecak sebal karena sikap labilnya saat ini.


Tingg


Kali ini Keylin mengalihkan asitensinya kepada ponsel canggihnya itu.


Kau dimana? Mengapa jam segini belum pulang?


Sebuah pesan yang berasal dari Akbar membuat Keylin seketika membulatkan matanya.


Sial! dirinya lupa karena tidak mengabari Akbar terlebih dahulu kalau ia akan pulang terlambat.


Keylin mengecek jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 10 malam. Yang artinya sudah 1 jam lamanya dirinya berdiam diri disini.


Dirinya buru-buru membereskan barang-barangnya dan pergi dari kafe.


"Duhh mati aku" ringis Keylin


.....


Setelah dirinya sampai di rumahnya, Keylin buru-buru pergi ke kamar tidurnya karena ia duga suaminya itu pasti tengah berada di dalam kamar.


Sebelum membuka pintu kamarnya, sejenak Keylin menghembuskan nafas gusarnya. Lalu mengambil sebuah cermin kecil untuk memastikan bahwa wajahnya tengah baik-baik saja saat ini.


Setelah semuanya selesai, akhirnya Keylin pun memberanikan diri untuk membuka pintu kamarnya.


Dan benar sesuai dugaannya. Suaminya itu kini tengah duduk di atas sofa yang ada di dalam kamarnya, terlihat seperti tengah menanti kedatangannya.


Keylin masuk ke dalam kamarnya dengan wajah penuh acuhnya dan masuk kedalam kamar mandi, mengabaikan tatapan tajam bak elang dari Akbar.


Setalah masuk ke dalam kamar mandi, Keylin pun menghela nafas leganya.


"Hufss, apakah aku akan mati?" tanyanya seraya menatap dirinya sendiri di kaca.


"Tapi kan seharusnya Mas Akbar yang ketakutan! Tapi kenapa jadi aku yang malah lebih takut pada dirinya?" Keylin berdesis kesal, karena sejak awal dirinya telah lebih dulu kalah dari suaminya itu.


Setelah dirinya membersihkan tubuhnya, keylin pun berjalan menuju ranjangnya melewati Akbar dengan cueknya.


Keylin merebahkan tubuhnya dan membalikan tubuhnya, memunggungi Akbar tanpa sepatah katapun.


Keylin mencoba menutup matanya dengan tujuan menghindari suaminya itu. Karena dirinya berpikir, mungkin itulah cara yang paling terbaik agar dirinya tidak ber-interaksi dengan Akbar saat ini.


Di sisi lain Akbar menatap sebal Keylin yang sedang berpura-pura tidur dan menghindari dirinya. Dirinya melangkahkan kakinya ke arah ranjang dan mendekati istrinya itu dengan perlahan.


"Key" panggil Akbar dengan nada yang begitu datar.


Hening..


Sekali lagi


"Key" Akbar berdecak sebal saat kedua kalinya istrinya itu tidak menjawab sahutannya.


Tanpa ingin berlama-lama lagi, dengan satu tarikan kencang, Akbar menarik selimut Keylin. Membuat sang empunya seketika terguncang dan terbangun dari acara berpura-pura tertidurnya.


Keylin terpekik kaget dan secara reflek dirinya pun langsung menduduki tubuhnya.


"Bangun!" perintah Akbar dengan tegas, mengabaikan wajah Keylik yang terlihat kebingungan.


"Apa maksud Ma-"


"Bangun!" ulangnya dengan tegas.


Keylin masih termenung menatap Akbar dan masih belum mengerti dengan apa yang dimaksud oleh suaminya itu.


Akbar yang sudah tidak sabar pun seketika langsung menarik kaki Keylin untuk meluruskan kakinya di atas ranjang mereka, seraya mengambil kaki mungil istrinya dan menaruhnya di atas pahanya.


"Ad-ada apa?" gugup Keylin saat tiba-tiba suaminya itu menarik kakinya dan menaruhnya di pangkuan pria tersebut.

__ADS_1


Akbar tidak menjawab pertanyaan Keylin. Dirinya malah memijat dan membalur kaki istrinya itu dengan minyak urut yang ada di dalam tangannya.


"Shhh aww!" pekik Keylin saat Akbar mulai memijat pergelangan kakinya dengan pelan.


"Sakit?" Akbar berujar dengan wajah datarnya tanpa mengalihkan tatapannya dari kaki mungil istrinya yang saat ini tengah ia pijat.


"Kenapa ini bisa membiru? Apakah kau jatuh?"


Keylin terdiam membisu, sama sekali tidak berniat menjelaskan jika tadi dirinya sempat tersandung di depan kantornya.


"Key" panggil Akbar, namun Keylin hanya terdiam dan menatap datar Akbar.


Sesaat Keylin teringat seperti ini juga suaminya itu memperlakukan wanita lain beberapa hari yang lalu. Hatinya kini menjadi panas dan kesal kala ia melihat Akbar melakukan hal yang sama kepada dirinya.


"Berhenti Mas, biar aku saja" Keylin menepis pelan tangan Akbar dan menurunkan kakinya dari paha suaminya.


Dirinya mengambil alih minyak urut yang ada di tangan Akbar dan mulai memijat-mijat kakinya sendiri.


Akbar yang melihat hal itu pun seketika jadi geram dan menatap tajam wanita tersebut.


Tak biasanya Keylin menolak apapun perlakuan yang ia lakukan kepada istrinya itu.


Tapi sekarang..


Istrinya itu benar-benar menolak apapun semua yang berhubungan dengan dirinya. Walaupun itu hanya sekedar hal kecil seperti ini.


Akbar mengerang frustasi dan menatap lembut istrinya itu.


"Key Dimana letak kesalahanku?" Akbar sudah tidak tahan dengan semua ketidakjelasan sikap dingin dari Keylin, sehingga ia pun akhirnya langsung memutuskan untuk langsung menanyakan hal tersebut.


"Apa maksud Mas?" Keylin masih terus melanjutkan acara memijatnya tanpa mengalihkan tatapannya pada Akbar.


"Jangan mengelak!" Pungkas Akbar dengan suara yang terdengar setengah frustasi.


"Itu kenyataannya, memangnya Mas merasakan ada yang salah?" tanya Keylin balik yang membuat Akbar seketika mendengus malas kala mendengarnya.


"Oke, jika aku tidak punya salah, lantas mengapa kau menghindari ku?" ucap Akbar to the point kepada istrinya itu.


Keylin membuang wajahnya ke samping saat mata Akbar menatapnya dengan begitu dalam.


"Aku ngantuk Mas, besok saja membahasnya. Aku benar-benar sangat lelah sekarang" Keylin masih setia membuang wajahnya ke samping berusaha menghindar dari tatapan lembut yang suaminya itu lontarkan kepadanya.


Akbar menahan tangan Keylin saat istrinya itu ingin membaringkan tubuhnya kembali.


"Ada apa? Katakan dengan jelas!" Keylin menepisnya dengan pelan.


"Aku ngantuk Mas! Besok bisa kan!" ketus Keylin yang seketika membuat Akbar menghembuskan nafas panjangnya.


"Apa sudah berbohongnya? Kau tidak pandai dalam melakukan hal itu!" tandas Akbar yang terkesan sarkastik.


Keylin langsung menatap mata Akbar dengan tatapan beraninya.


"Mas benar! Aku memang tidak pandai berbohong! Bahkan aku juga tidak pandai dalam mengenal Mas! Jadi Mas maunya apa? Mau marah?" tanya Keylin dengan menggebu-gebu, mengabaikan rasa lelah yang sedaritadi menghampiri dirinya.


"Aku lelah Mas! Aku lelah! Bisakah kita bicarakan esok? Aku tidak ingin membicarakannya sekarang!" ungkap Keylin dengan suara yang penuh dengan ke frustrasian.


Runtuh sudah pertahanan yang sedari tadi ia bangun. Niat awal dirinya hanya ingin terlihat baik-baik saja di depan suaminya, justru kini malah dirinya yang terlihat tidak baik baik saja di depan Akbar.


"Sudah marahnya?" Akbar menaikan satu alisnya dan menatap datar istrinya itu.


"Jangan kekanak-kanakan aku bukan cenayang yang selalu tau isi hatimu. Katakan dimana letak kesalahanku?" tanya Akbar dengan nada yang begitu pelan nan lembut.


Keylin meremas selimutnya dengan kencang. Entah kenapa, tiba-tiba hatinya merasa nyeri saat Akbar mengatakan hal tersebut.


Saat melihat Akbar yang begitu lembut kepadanya saat ini, ingin rasanya Keylin menangis dengan kencang.


Yah.. mungkin seperti ini juga, yang wanita itu rasakan kala mendapatkan perlakuan lembut dari suaminya ini.


Merasa berbunga-bunga dan merasa sangat dicintai oleh pria tersebut.


Mengingat betapa lembutnya Akbar memperlakukan wanita lain di depan matanya, membuat hati Keylin menjadi sedih sekaligus sakit kala mengingatnya.


Keylin terisak pelan dan tanpa sadar dirinya mencengkeram erat selimutnya.


"Hiks hiks. Memang aku kekanak kanakan terus kenapa? Mas gak suka? Mas mau ninggalin aku?!" seru Keylin dengan isak tangisnya yang terdengar pelan dan menatap kecewa suaminya itu.

__ADS_1


Anggaplah dirinya lebay. Tapi percayalah, perasaannya saat ini benar-benar kacau dan dirinya benar benar-bingung harus bagaimana menghadapi suaminya saat ini.


Akbar terperangah melihat hal tersebut, sungguh saat ini dirinya benar-benar terkejut dengan perubahan drastis suasana hati Keylin.


Dirinya benar-benar tidak menyangka jika Keylin bisa menangis dan se-marah ini kepadanya. Apalagi sebab utama istrinya itu menangis karena dirinya, membuat Akbar benar-benar merasa bersalah dan langsung memeluk istrinya itu.


"Maaf, bukan itu maksudku" Akbar berujar lembut seraya menepuk-nepuk punggung Keylin dengan lembut.


"Aku yang salah, aku minta maaf. Jangan menangis maafkan aku Key" Akbar meminta maaf kepada Keylin walau dirinya pun tidak tau dimana letak kesalahannya.


Bukannya menyahuti ucapan Akbar, Keylin malah memperdalam pelukannya kepada suaminya itu. Berusaha tuk menghirup aroma Akbar yang selama beberapa hari ini ia rindukan.


Akbar menciumi kening Keylin, berharap agar perlakuannya ini dapat menghilangkan kesedihan di dalam hati istrinya.


Hingga sudah 10 menit berlalu, akhirnya dirinya memberanikan diri untuk mengajak Keylin berbicara.


"Key" panggil Akbar dengan perlahan.


"Keylin" masih tetap sama, dirinya pun masih tidak mendengar sahutan dari sang empunya.


Mendapati tidak ada jawaban dari Keylin, membuat Akbar jadi berinisiatif untuk mengecek keadaan istrinya itu.


Beberapa saat kemudian, Akbar tersenyum gemas setelah dirinya mengetahui, jika Keylin sudah terlelap pulas di dalam dekapannya.


Akbar merapihkan rambut Keylin yang menutupi wajahnya dan meletakkan kepala Keylin di atas bantal yang empuk.


Dirinya membetulkan posisi tidur istrinya, agar wanita berambut panjang itu bisa tertidur dengan nyaman.


Cup


Dengan perlahan namun pasti, Akbar mengecup bibir Keylin dengan lama dan ********** dengan pelan.


Terdengar Lenguhan kecil dari bibir Keylin, saat dirinya melakukan hal tersebut.


Dengan berat hati, akhirnya Akbar melepaskan pangutan bibirnya dari bibir Keylin, saat tiba-tiba istrinya itu menggeliat karena tidurnya merasa terganggu oleh dirinya.


Cup


"Tidurlah dan maafkan aku Key"


Usai mengecup kening istrinya Akbar pun merebahkan tubuhnya di samping tubuh Keylin dan memeluk erat tubuh mungil itu.


..


"Key bisakah kita bicara sebentar?"


"Maaf Mas. Aku sedang buru-buru, sepertinya pagi ini ada meeting dadakan di kantor ku" ucap Keylin dan dengan ter buru-buru memasukan barang-barang bawaannya ke dalam tasnya.


"Sebentar saja, aku hanya meminta waktumu sebentar" ucap Akbar yang masih kukuh untuk membujuk istrinya.


Keylin tetap tak bergeming dari kegiatannya dan makin mempercepat pekerjaannya.


"Key" panggil Akbar dengan suara rendahnya seraya menahan tangan Keylin yang sejenak membuat istrinya itu menghentikan aktivitasnya.


"Maaf Mas aku pegi, sedikit lagi meetingnya akan dimulai" tanpa menatap wajah Akbar, Keylin pun melepaskan genggaman tangan Akbar, berlalu pergi meninggalkan suaminya tersebut.


"Sial!" maki Akbar setelah Keylin keluar dari kamar mereka.


Akbar memijat pangkal hidungnya saat lagi-lagi dirinya menerima aksi menolak dari istrinya itu.


Sungguh kali ini dirinya sama sekali tidak dapat memahami keylin. Membuat dirinya semakin frustasi dan bingung karenanya.


"Hahh" Akbar menghembuskan nafas kasarnya.


Pokoknya, hari ini dirinya memutuskan agar masalahnya dan Keylin harus selesai. Tak peduli jika dirinya harus di abaikan berkali-kali dengan wanita tersebut. Namun yang jelas, apapun yang terjadi hari ini, semuanya harus selesai tanpa terkecuali!


Tegas Akbar dalam hati.


....


TBC


jangan lupa comment dan likenya ya guyss


see you

__ADS_1


__ADS_2