My Cold Husband Is Gentleman

My Cold Husband Is Gentleman
24. CEMBUKUR


__ADS_3

"Key apa kau melihat laptopku? Kurasa tadi aku menaruhnya disini" tanya Akbar yang sedaritadi sibuk mencari-cari keberadaan laptopnya yang tak kunjung ia temukan.


Keylin hanya terdiam membisu dan hanya melihat suaminya yang sedaritadi sibuk mencari laptopnya.


"Key" panggil Akbar sekali lagi.


"Aku tidak tahu, memangnya aku pernah menggunakan laptopnya Mas" sahut Keylin dengan wajah acuh tak acuhnya.


Akbar menatap tajam istrinya.


"Aku serius" ujar Akbar dengan wajah kesalnya.


"Gak tau. Beneran Mas" jawab Keylin yang masih memasang wajah datarnya.


"Hufss" Akbar mendelik saat dirinya melihat wajah acuh istrinya, lalu melangkahkan kakinya ke arah Keylin yang sedang terduduk di atas sofa yang ada di dalam kamarnya.


"Jangan bercanda! Kerjaanku sedang menumpuk!" desis Akbar.


Bohong!


Sahut Keylin dalam hati.


"Aku mau sikat gigi Mas, Mas juga jangan lupa sikat gigi ya" ujar Keylin dan berlalu pergi tanpa menjawab pertanyaan Akbar.


"Ck" decak Akbar saat Keylin berlalu pergi dari hadapannya.


"Hah! Jadi ini maksud dari senyumannya tadi?" Akbar menghembuskan nafas kesalnya dan mendudukkan tubuhnya di atas sofa.


Sial! Kenapa aku jadi seperti ini?!


Apakah ini karena dirinya melihat Keylin dan Andre tadi bersama?


"Hufs" Akbar menghembuskan nafas gusarnya untuk yang kesekian kalinya.


Dengan perasaan gelisah yang tengah menguasai hatinya, Akbar pun bangkit dari duduknya dan pergi ke atas kasur.


Dirinya berdecak sebal saat lagi-lagi perkataan Leri muncul di dalam benaknya, seolah-olah tengah menghantui pikirannya agar membekas dalam ingatannya.


Akbar merebahkan tubuhnya dan menutup wajahnya dengan lengan kanannya.


"Sial! Kenapa aku jadi terpengaruh oleh ucapan Leri. Padahalkan aku tau jika dirinya hanya sedang bermain-main!" umpat Akbar dalam hati seraya memejamkan matanya, berusaha tuk menghilangkan rasa kesal yang tengah menghampiri dirinya.


Falshback


Setelah obrolan diantara dirinya dan Leri berakhir. Kini Akbar dan Leri tengah menuruni tangga rumah Akbar dengan adanya obralan diantara mereka berdua.


"Hahaha kau benar kak Andre. Aku masih ingat, jika Reihan lah yang sering di hukum oleh Pak Geno karena sering ketauan sedang bermain game di kelas. Kau tau? Aku sangat tak menyangka jika dirinya bisa jadi pengusaha hebat sekarang,"


"Padahal jika di ingat-ingat, dulunya dia hanya seorang mahasiswa yang terlihat sangat bandel dan urakan.  Tapi siapa sangka? Ternyata dia duluanlah yang lebih sukses diantara kita semua" ucap Keylin dengan tawa gelinya saat menceritakan hal tersebut.


"Hem kau benar. Aku juga tidak menyangka jika Reihan bisa begitu sukses diusianya saat ini. Kau benar! Dia sungguh mengejutkan banyak orang karena kesuksesannya yang tak pernah orang sangka-sangka. Aku pun juga tak pernah menyangka jika anak itu bisa sekeren saat ini. Hahaha" ucap Andre dengan tawa geli yang keluar dari mulutnya seraya menatap Keylin dengan tatapan lembutnya


Dari kejauhan Akbar menatap kedua orang yang tengah berbicara asik tersebut dengan tatapan datarnya.


Dirinya masih terus melangkahkan kakinya menelusuri anak tangga rumahnya seraya memfokuskan pandangan matanya ke arah istrinya yang tengah tertawa lepas karena mendengar celotehan lawan bicaranya itu.


"Jadi kapan kau akan membicarakan ini dengan Ayah? Kurasa ia akan senang jika mengetahuinya" tanya Leri yang masih setia berjalan berdampingan dengan adiknya itu.


Leri seketika mengerutkan keningnya dan menengokkan kepalanya ke arah Akbar, saat dirinya tidak mendengar jawaban apapun dari lawan bicaranya.


Dengan perlahan namun pasti, Leri pun mengikuti arah pandangan Akbar dengan rasa penarasaran yang amat tinggi.


Dirinya benar-benar penasaran dengan apa yang tengah dilihat adiknya itu. Sampai-sampai ucapannya pun terdengar seperti angin lalu bagi adiknya tersebut.


Seketika senyuman jahat pun terbit di bibir Leri.


"Ah jadi itu yang daritadi kau lihat?" Leri tersenyum miring menatap adiknya itu.


Kini dirinya mengerti mengapa adiknya tersebut sampai-sampai tidak fokus saat sedang berbicara dengannya.


Ahh sepertinya ada yang sedang cemburu melihat istrinya tertawa dengan pria lain.


Heh kurasa ini akan menarik jika aku membumbuinya dengan sedikit garam. Batin Leri bersorak jahat dan menatap adiknya itu dengan senyuman miringnya.


Leri berdehem sedikit lebih keras untuk menyadarkan lamunan adiknya tersebut.


"Kau tau? Dulu Andre pernah mengatakan jika ia sangat mengagumi Keylin. Karena istrimu itu, menurutnya adalah mahasiswa yang sangat gemilang di matanya. Dan kurasa Andre memiliki perasaan yang khusus pada Keylin" Leri sekilas melirik adiknya tersebut.

__ADS_1


"Ya kau tau sendirilah, jika Andre dan Keylin dulunya hampir bertemu setiap hari karena Andre adalah dosen pembimbingnya. Dan kurasa kau harus berhati-hati jika kau tidak ingin Istrimu jatuh hati kepada sahabatku itu. Karena kau tau kenapa?" jeda Leri dan menatap adiknya itu dengan tatapan seriusnya


"Andre adalah salah satu dosen yang paling banyak di gemari di kampusnya dulu. Dan kurasa tidak ada kemungkinan bukan? Jika Keylin, Istrimu itu tidak bisa tidak jatuh hati dengan sahabatku?" lanjut Leri dengan wajah datarnya seraya menepuk-nepuk pelan bahu adiknya.


"Ku rasa kau harus berhati-hati. Ingat! Jangan sampai ke colongan ok" ucap Leri dan meninggalkan Akbar yang masih terdiam membisu setelah mendengar ucapan kompornya itu.


"Hehe kena kau! Kurasa ini akan menjadi pertunjukan yang bagus nanti" batin Leri tertawa jahat dan mendekatkan dirinya ke arah di mana Andre dan Keylin berada tanpa memperdulikan adiknya yang sepertinya mulai terpengaruh dengan ucapan kompornya itu.


Falshback off


"Agrh sial!" maki Akbar pelan tanpa sadar.


"Mas kenapa? Mas sakit?" Keylin yang baru saja keluar dari kamar mandi, terburu-buru mendekati Akbar saat dirinya mendengar hal tersebut. Karena ia kira siapa tahu suaminya itu tengah mengaduh kesakitan


Hening


Keylin pun mendekati tubuhnya kepada Akbar lalu dirinya menyingkirkan rambut Akbar yang ada di jidat dan meraba kening suaminya tuk memastikan suhu suaminya tersebut.


Keylin mengerutkan keningnya kala tangan mungilnya sudah mendarat dengan mulus di jidat Akbar


Gak panas. Ucapnya dalam hati.


"Tapi kok diam saja?" tanya Keylin dalam hati dan menatap aneh wajah Akbar yang masih di tutupi oleh lengan berotot pria tersebut.


"Mas kenapa Hn?" tanya Keylin dengan lembut seraya mengelus lembut rambut lebat Akbar.


Akbar memejamkan matanya sejenak untuk menikmati perlakuan Keylin pada dirinya.


Dengan pelan namun pasti, Akbar pun menjauhkan lengan kekarnya dari wajahnya dan menatap Keylin dengan tatapan yang sangat sulit di artikan.


"Kenapa hn?" tanya Keylin sekali lagi yang masih sabar mendengar jawaban suaminya itu.


"Apa aku sedang cemburu?" batinnya bertanya-tanya saat dirinya melihat Keylin.


"Kepalaku sakit" adu Akbar dan melingkarkan tangannya di pinggang Keylin yang sedang ada di sampingnya.


Bluss


Wajah Keylin memerah dibuatnya.


"Ekhem Sakit? Aku bisa pijitin kepala Mas. Sebentar" Keylin melepaskan lingkaran tangan suaminya dan menurunkan tubuhnya dari kasur untuk mengambil minyak urut untuk kepala.


Akbar pun hanya menuruti kemauan istrinya itu dan mendaratkan kepalanya di atas paha istrinya.


Keylin membalur minyak rambut miliknya ke seluruh rambut milik suaminya itu dan mulai memijat kepala suaminya itu dengan perlahan.


"Enakan Mas?" tanya Keylin setelah hampir sepuluh menitan dirinya memijat kepala suaminya itu.


"Engh berhenti" ucap Akbar lalu menangkap tangan Keylin dengan pelan.


"Kenapa? Udah enakan?" tanya Keylin dan menatap wajah suaminya dengan tatapan lembutnya.


Akbar tak menjawab ucapan Keylin, dirinya malah membangkitkan tubuhnya lalu duduk menghadap ke Keylin dan menatap wajah istrinya itu dengan tatapan datarnya.


"Apa kau dan Andre memang sedekat itu?" tanya Akbar to the point yang seketika membuat Keylin tersentak di buatnya.


"Maksud Mas hubunganku dengan Kak Andre?" tanya Keylin ragu-ragu.


"Ya" sahut Akbar dengan wajah datarnya.


"Mas... jangan-jangan Mas.."


"Ya, memangnya kenapa? Kau kan Istriku! Wajar saja jika aku cemburu!" potong Akbar dengan wajah datarnya.


Keylin sesaat terdiam membeku saat mendengarnya. Namun beberapa detik kemudian, hatinya tiba-tiba melting saat mendengar pengakuan suaminya itu.


Ah jadi itulah mengapa sedaritadi Akbar begitu dingin padanya.


Keylin sebisa mungkin menahan senyumannya saat dirinya ingin menjawab pertanyaan Akbar.


"Bukan seperti itu Mas. Kita hanya berteman tidak lebih dan tidak kurang" jelas Keylin dan memeluk Akbar dengan perlahan.


"Jangan cemburu. Mas adalah segalanya bagiku, tidak ada orang lain selain Mas" ucap Keylin dengan lembut seraya mengusap punggung tegap Akbar dengan pelan nan lembut.


Akbar menghembuskan nafasnya saat Keylin melakukan hal tersebut.


Perlahan-lahan perasaan gelisahnya pun memudar seiring usapan lembut yang ada di punggungnya.

__ADS_1


Akbar pun membalas pelukan Keylin dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya yang seketika membuat Keylin jadi tersenyum dengan perlakuan suaminya itu.


Beberapa saat kemudian Akbar menjauhkan wajahnya dari ceruk leher Keylin dan menatap Keylin dengan tatapan lembutnya.


"Ada yang ingin aku katakan padamu Key" Keylin pun hanya terdiam menunggu suaminya melanjutkan ucapannya.


"Sepertinya besok aku akan pulang larut malam. Kau jangan pergi kemana-mana ok, karena aku tak mau kalau kau pergi sendirian" jelas Akbar seraya mengusap pipi Keylin dengan penuh kelembutan.


"Kenapa? Bukankah sekarang ada Bimo yang membantu Mas. Kenapa Mas harus lembur lagi?" tanya Keylin dengan wajah tak sukanya seraya membuang wajahnya ke samping setelah mendengar kabar tersebut sehingga wajahnya terlepas dari tangkupan tangan Akbar.


"Hufs Key, dengarkan aku!" ucap Akbar dengan lembut sembari menarik kembali wajah istrinya agar wanita tersebut dapat menatap wajahnya.


"Tadi Leri menawarkan aku untuk menjadi pimpinan di perusahaan Ayah yang ada di kota ini, aku sama sekali tidak bisa menolaknya"


"Dan besok aku harus mengurus semuanya sendiri. Ayah ingin aku segera menjadi pimpinan disana agar aku dapat membantu Zehran dan Leri yang mulai kewalahan karena mengurusnya"


"Mulai besok aku harus mengurus semuanya karena kepindahan ku kali ini agak sedikit merepotkan"


"Dan kumohon kau jangan pergi kemana-mana, karena aku khawatir kau akan kenapa-napa ok" ucap Akbar memperingati istrinya itu dengan tatapan tajamnya.


Karena dirinya tau sekali, jika Keylin sedang memasuki dalam masa mode on bosannya. Istrinya itu pasti akan melakukan hal-hal nekat dengan melarikan diri seorang diri walaupun hari sudah memasuki fase kegelapan.


Keylin menatap wajah tampan suaminya itu dengan tatapan teduhnya.


"Baiklah" ungkap Keylin dengan pasrah.


Dirinya berdesis tak suka saat lagi-lagi Akbar mampu membuat hatinya luluh dengan begitu mudahnya karena ucapan manis yang keluar dari bibir pria tersebut.


Seraya mencebikkan bibirnya, Keylin menatap wajah Akbar dengan tatapan kesalnya.


"Mas peluk" rengek Keylin dengan manja seraya merentangkan kedua tangannya di hadapan suaminya itu, yang seketika dapat membuat Akbar terkekeh geli saat melihatnya.


Akbar pun mendekatkan tubuhnya ke pada Keylin dan memeluk istrinya itu dengan erat, menenggelamkan wajah manis keylin di dalam dadanya.


"Manja" cetus Akbar yang diiringi dengan kekehan yang keluar dari mulutnya.


"Biarin memangnya tidak boleh?!" gumam Keylin yang semakin memperat pelukannya di tubuh Akbar dan mencium dalam-dalam aroma tubuh suaminya itu.


Akbar tak menjawab ucapan Keylin. Dirinya hanya dapat mengeluarkan senyuman tipis dari bibirnya kala dirinya merasa, jika istrinya ini seolah-olah sedang tidak rela jika mereka harus berpisah.


Akbar mencium puncak kepala Keylin dengan lembut seraya memainkan rambut Keylin yang sedang bergelantungan di punggung wanita tersebut.


"Key"


"Hn?" sahut Keylin pelan karena ia masih terlena dengan pelukan suaminya itu.


"Apakah kau lelah?" tanya Akbar yang masih setia membelai rambut panjang istrinya itu.


"Tidak, kenapa emangnya?" tanya Keylin yang masih setia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Akbar.


"Aku ingin mengulang kejadian kemarin malam, apakah boleh?" tanya Akbar dengan tenang.


Keylin reflek mengangkat wajahnya saat mendengar hal tersebut.


"Mak- maksud Mas?" grogi Keylin.


Akbar menyelipkan poni Keylin ke belakang kuping wanita itu. Sembruat merah yang muncul di pipi keylin membuat dirinya tidak dapat menahan senyumannya.


Dengan pelan namun pasti, Akbar mendekatkan bibirnya ke bibir Keylin, mengecupnya dengan pelan seraya memeluk erat pinggang istrinya itu.


"Engh" lenguh Keylin saat Akbar mulai memperdalam ciumannya.


"Mmm, Ma-Mas" ucap Keylin yang terengah-egah seraya mendorong pelan ke dua bahu Akbar, setelah oksigen yang ada di paru-parunya yang kian mulai menipis.


"Aku tidak tahan, apakah boleh?" ucap Akbar dengan nafas memburunya saat rasa gairah mulai menguasai tubuhnya.


Keylin tersenyum malu dan menatap suaminya itu dengan tatapan lembutnya.


"Boleh, kenapa harus minta ijin?" ucap Keylin seraya terkekeh geli dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.


"Terimakasih" ucap Akbar pelan dan mencium pelipis Keylin dengan lembut seraya memulai perang diantara dirinya dan istrinya itu


............


Terimakasih karena telah membaca cerita ini


See youuu

__ADS_1


ヾ(^-^)ノ


__ADS_2