My Cold Husband Is Gentleman

My Cold Husband Is Gentleman
32. HUKUMAN


__ADS_3

Keylin menundukkan kepalanya seraya meremas kedua tangannya.


"A-anu Mas" cicit Keylin yang untuk kesekian kalinya.


"Kenapa? Apa kau sudah menyesalinya?" tanya Akbar dengan wajah datarnya tanpa mengalihkan tatapan matanya dari layar kaca leoptopnya.


"Iya, aku sudah menyesal" Keylin mengerucutkan bibirnya menatap Akbar dengan tatapan menyesalnya.


"Bagus! Sekarang habiskan" Akbar menyodorkan satu piring yang berisi dua puluh tusuk sate ke arah Keylin.


"Tap-tapi.... ak-aku sudah kenyang" ucap Keylin terbata-bata, menatap Akbar dengan tatapan takutnya.


"Hufs" Akbar menghembuskan nafas gusarnya, menatap Keylin dengan tatapan tajamnya.


"Baiklah kalau gitu aku yang makan" Akbar mengambil satu tusuk sate yang ada di atas piringnya dan mulai memasukannya ke dalam mulutnya.


"Jangan!" pekik Keylin menahan tangan Akbar yang ingin memasukan sate ke dalam mulut pria tersebut.


"Jangan! Ini punyaku! Mas kan tadi sudah makan!" Keylin memberengut kesal dan mengambil alih piring yang sedang Akbar pegang.


"Key!" tegur Akbar saat piring yang ia pegang ingin tumpah ke atas sofa yang ada di dalam kamarnya.


"Kau bilang kau sudah kenyang! Lantas kenapa jika aku memakannya" Akbar berujar datar, menatap sebal ke arah istrinya itu.


"Tap-tapi aku ingin menyimpannya!" ketus Keylin dan menaruh piring yang ada di tangannya ke atas meja yang ada di dalam kamarnya, tuk mengamankan makanannya dari suaminya itu.


"Key... itu tidak akan enak jika kau memakannya besok. Kau pikir itu makanan yang bisa di panaskan?" delik Akbar. Entah sudah yang keberapa kalinya dirinya mengatakan hal tersebut.


"Tak apa aku akan tetap memakannya" kukuh masih Keylin seraya menaikan tubuhnya ke atas ranjang.


Akbar menyerah. Dirinya berdecak sebal, menutup leptopnya dan menyimpannnya di atas nakas yang ada di samping ranjang tidurnya.


"Pelit!" cetus Akbar seraya menaikan tubuhnya ke atas ranjang dan memposisikan tubuhnya di samping Keylin.


"Mana ada! Aku hanya mempertahankan apa yang harus di perhannin!" Keylin berdecak tak terima dikatai seperti itu.


"sama saja!" acuh Akbar mengambil remot dan menyalakan TV yang ada di dalam kamarnya.


"Ish tentu saja berbeda!" Keylin mencebikan bibirnya.


"Jadi kau tidak menyesal?" Akbar menaikan satu alisnya.


"Tentu saja tidak!" jawab Keylin dengan spontan karena rasa kesal, dirinya sampai-sampai tak sadar dengan apa yang barusan ia ucapkan.


"Oh jadi kau berbohong padaku?" Akbar menyeringai membuat Keylin seketika gelagapan di buatnya.


"Ahh, itu Mas. Ak-aku ingin ke toilet" Keylin mengalihkan tatapan matanya dari mata Akbar seraya menjauhkan tubuhnya dari tubuh sang suami.


Namun belum juga satu meter dirinya menjauh, tiba-tiba sebuah tangan hangat langsung menghinggapi pinggangnya, menahannya dengan erat.

__ADS_1


"Selain pandai berbohong, kau juga pandai lari dari masalah ya!" sarkas Akbar berbisik pelan di telinga Keylin.


"Hahaha mana mungkin! Memangnya aku ada masalah apa sama Mas?" tanya Keylin dengan tawa garing yang memenuhi ruangan tersebut.


"Ah kau juga pandai mengeles Istriku!" ucap Akbar dengan nada rendahnya.


Terdengar sangat mengerikan di telinga Keylin kala suaminya itu mengatakan kata-kata istriku, tepat di depan telinganya.


"Mas aku..." ucapan Keylin tersendat kala tangan Akbar meremas pinggangnya dengan begitu erat.


"Kenapa? Mau ngeles lagi hnnn?" Akbar tersenyum miring, membelai pinggang Keylin dengan pelan. Yang membuat tubuh Keylin seketika menjadi kaku di buatnya.


Ingin rasanya Akbar tertawa terpingkal-pingkal saat ini, kala dirinya melihat reaksi Keylin yang menurutnya sangat lucu di matanya.


Jujur saja dirinya tadi hanya ingin menggoda istrinya itu karena dirinya hanya ingin menjaili istri nakalnya itu.


Namun siapa sangka? Ternyata menjadi seseru ini rasanya, saat dirinya melihat Keylin sedang gelagapan karena sedang ketakutan dengannya.


"Maaf" lirih Keylin, menatap suram suaminya itu.


Akbar melepaskan pelukannya terhadap istrinya itu dan menatap Keylin dengan tatapan sanksinya.


"Apa dengan kata maaf, semua masalah bisa dapat teratasi?" Keylin diam, tak menyahut ucapan Akbar sedikitpun.


Ini jadi terlihat seperti seorang guru tengah memarahi muridnya.


"Tidak kan?!  Kalau kata maaf bisa mengatasi semua masalah, berarti para koruptor pun bisa melakukannya!'' tandas Akbar yang semakin memojokkan Keylin.


Keylin terpojok, jadi sulit baginya untuk mengelak.


"Ke-kenapa Mas jadi kejam kepadaku!" Keylin cemberut mendengarnya.


"Lantas apa yang harus kulakukan? Agar Mas mau memaafkan ku?" dengan lesu Keylin menatap Akbar  dengan tatapan suramnya.


Senyuman jahat seketika tercetak jelas dibibir Akbar saat mendengar hal tersebut.


Dirinya pun mematikan layar televisinya dan menolehkan wajahnya ke samping, tuk menatap wajah istrinya itu.


Akbar mengangkat telapak tangannya.


"Hn sebentar, akan aku pertimbangkan dulu hukuman apa yang cocok denganmu" ucap Akbar dengan seringaian nakalnya, tersenyum evil kepada istrinya itu.


Kenapa perasaanku jadi tidak enak?


Dada Keylin berdebar tak karuan, saat dirinya melihat ekspresi Akbar yang sedang ingin mengeksekusi dirinya.


Sedetik.


Dua detik.

__ADS_1


Bahkan sampai lima menit berlalu pun, Akbar masih setia terdiam memikirkan hukuman apa yang cocok untuk istrinya itu.


"Kenapa lama sekali! Mas sedang bercanda ya" protes Keylin karena dirinya sudah gemas sendiri dengan suaminya itu.


"Kurasa untuk sekarang tidak ada. Akan ku simpan ini, untuk lain kali"  ujar Akbar dengan santai.


Keylin menghembuskan nafas leganya setelah Akbar mengucapkan hal tersebut.


Dirinya tersenyum-senyum, menatap Akbar dengan tatapan genitnya.


"Mas" panggil Keylin dengan manja.


"Apa?"


"Terimakasih" ucap Keylin dengan senyuman sumringahnya.


"Untuk apa?" tanya Akbar mengerutkan seraya keningnya, bingung mengapa tiba-tiba istrinya itu mengucapkan kata kata seperti itu.


"Untuk yang tadi" Keylin mendekatkan tubuhnya dan memeluk erat suaminya itu dari samping.


"Yang tadi yang mana?" Akbar semakin bingung dibuatnya.


"Hukuman!" cetus Keylin to the point dengan wajah berseri-serinya.


Oh dirinya mulai paham


Akbar seketika langsung mengalihkan asitensinya menatap intens istrinya tersebut.


"Siapa bilang aku tidak jadi menghukummu? Aku hanya bilang ingin menundanya. Ingat! Menunda dan menghilangkan itu jelas berbeda! Kau tau?" senyuman Keylin seketika meluntur dari bibirnya setelah Akbar mengucapkan hal tersebut.


Dirinya seketika langsung menjauhkan tubuhnya dari tubuh Akbar dan menatap horor suami kejamnya itu.


"Apa mas benar-benar tega, sampai-sampai ingin menghukumku?" dengan wajah yang di buat semenyedihkan mungkin Keylin menanyakan hal tersebut dengan intonasi nada yang terdengar sangat menyedihkan.


"Dan apakah harus aku memberikan rasa ibaku terhadap orang yang sudah melakukan kesalahan dan tidak mengakui kesalahannya? Kurasa tidak!" ucap Akbar dengan wajah arrogantnya yang terlihat sangat bossy dimata Keylin.


"Hiks maaf... aku janji tidak akan mengulanginya" rengek Keylin seraya mengangkat jari kelingkingnya ke hadapan wajah Akbar.


"Antarkan aku makan siang besok!" mengabaikan uluran jari istrinya Akbar langsung mengeluarkan ultimatumnya untuk istri pendeknya tersebut.


"Apa itu termasuk dengan hukuman?"


"Tidak! Hanya sebatas pemberian maafku saja" ujar Akbar yang membuat Keylin seketika memberengut kesal.


"Kenapa aku merasa seperti sedang di curangi!" pekik Keylin menatap sebal suaminya itu.


"Bukan curang, tapi cerdik!" ralat Akbar yang terdengar begitu menyebalkan di telinga Keylin.


"Sama saja!" protes Keylin dengan nada ngegasnya.

__ADS_1


Ahhh kenapa jadi begini. Decak Keylin dalam hati saat dirinya terjebak di dalam permainan suaminya itu.


........


__ADS_2