
"Wow selesai!" setelah satu jam lamanya ia berdandan, Keylin berdecak girang saat melihat pantulan dirinya di cermin yang terluhat begitu cantik malam ini.
Akbar yang tengah fokus dalam permainan gamenya seketika mengalihkan tatapan matanya ke arah Keylin yang tengah berdiri di depan meja riasnya.
"Kau mau kemana? Ini sudah jam tujuh malam" tanya Akbar yang heran saat istrinya berdandan ria.
"Mas!" desis Keylin dengan raut wajah kesalnya seraya mengembungkan pipinya.
Akbar hanya menaikan satu alisnya yang membuat Keylin semakin gondok dengan suaminya itu.
"Mas lupa?" dengan wajah kesalnya Keylin pun menghampiri Akbar yang tengah duduk di atas kasur dengan tangan yang tengah memegang stick PS.
"Apa maksudmu?" tanyanya balik.
Keylin mendengus. "Kan waktu itu aku sudah minta izin ke rumah Anna hari Kamis. Masa Mas tidak ingat!" dengan perasaan malas Keylin menatap tajam suaminya itu.
Akbar yang tidak ingin membuat Keylin semakin kesal, mengurungkan niatnya tuk menjawab kata "Tidak" karena jujur saja saat ini dirinya benar-benar lupa dengan hal tersebut.
"Kapan?" tanya Akbar dengan suara yang sangat pelan.
"Apa?" sahut Keylin karena suara Akbar sedikit tidak jelas di telinganya.
Akbar menaruh stick PSnya dan menghela nafasnya.
"Kapan? Kapan kau berkata seperti itu padaku?" tanya Akbar dengan mata yang menatap Keylin.
Keylin berdecak "Oh jadi Mas lupa!" mata Keylin menyipit sinis setelah dia sadar, jika suaminya itu sepertinya lupa dengan ucapannya kemarin.
Akbar mengalihkan matanya ke arah lain saat mata sang istri menatapnya dengan tajam.
"Ish kemarin loh Mas! Yang kita abis itu 👉👈" walau dengan wajah kesalnya, Keylin tetap bersedia untuk menjelaskan.
Tak mengerti maksud Keylin, Akbar sejenak terdiam dan tak merespond ucapan istrinya itu.
"I-itu?" Akbar mengerutkan keningnya tak mengerti.
Kesabaran Keylin semakin menipis, entah mengapa suaminya itu begitu tak peka dengan apa yang ia maksud.
"Maksudku ketika kita abis melakukan itu 👉👈! Sebelum Ma-Mas tidur kan, a-aku sudah minta izin sama Mas! Tidakkah Mas ingat? Jika Mas sudah menganggukkan kepala?!" terang Keylin dengan wajah yang sedikit memerah.
Akbar menutup kedua matanya
Sial! Apakah tanpa sadar ia mengiyakan ucapan Keylin?
__ADS_1
Cetak
Lamunan Akbar tersadar saat Keylin memanggil namanya.
"Mas.... boleh ya, aku sudah berjanji pada Anna karena Mas sudah mengijinkanku. Boleh ya.." rayu Keylin dengan wajah yang memelas.
Akbar sudah tidak bisa berkata-kata saat dirinya melihat hal tersebut. Ingin rasanya ia melarang Keylin untuk tidak pergi malam ini karena esok hari, mereka akan pergi ke bandara pada jam 4 pagi. Namun karena ini juga kesalahannya, dirinya jadi tidak bisa melarang istrinya itu. Apalagi saat dirinya melihat wajah memelas Keylin, semakin tidak tega dirinya saat ingin melarang istrinya itu.
Akbar menghela nafasnya. "Baiklah"
Meski hatinya meng-iyakan, namun dalam lubuk hatinya Akbar sangat ingin menahan Keylin.
"Beneran? Mas serius?"
Melihat wajah Keylin yang sangat exited, semakin membuat Akbar mengurungkan niatnya untuk mencengah istrinya itu.
"Hn" sahut Akbar dengan pendek.
"Makasih Mas. Aku janji tidak akan pulang Malam-malam" seru Keylin dengan wajah riangnya.
Cup
Keylin mencium bibir Akbar sekilas.
Setelah Keylin pergi, Akbar langsung menghela nafas panjangnya.
Keheningan seketika nampak saat Keylin keluar dari kamarnya. Sedikit rasa kehilangan ia rasakan ketika istrinya itu tidak lagi ada di kamarnya.
Akbar melirik jam di dinding yang telah menunjukan pukul 19.13 malam. Ada rasa kesal dan menyesal membiarkan Keylin pergi begitu saja. Andai kala itu dirinya tidak meng-iyakan ucapan Keylin, pasti hal ini tidak akan terjadi.
Akbar menyingkirkan stick PS yang ada di atas kasurnya. Dirinya sudah tidak berminat lagi untuk bermain setelah Keylin pergi barusan.
Akbar merebahkan tubuhnya di atas kasur lalu memejamkan matanya dengan perlahan.
"Hah.. aku menyesal"
....
"Hahh ini sudah jam setengah sepuluh malam. Kenapa Keylin belum pulang-pulang juga?" resah Akbar yang sedaritadi memandangi ponselnya yang ada di genggamannya.
Sedaritadi Akbar uring-uringan tak jelas sejak Keylin meninggalkan rumah mereka. Dirinya benar-benar menyesal telah mengizinkan Keylin pergi tadi. Kalau tahu istrinya akan pulang semalam ini, Akbar pasti tidak akan membiarkan Keylin pergi keluar.
Akbar menutup kasar laptopnya dan menaruhnya di atas meja nakas samping tempat tidurnya.
__ADS_1
Niat awal, Akbar sengaja menyibukkan dirinya dengan pekerjaan karena sejak tadi entah mengapa pikirannya hanya tertuju pada Keylin. Namun rasanya, benar-benar sia-sia karena dari tadi hingga saat ini pun, pikirannya masih tertuju pada istrinya itu.
Akbar mendesah pelan dan mencoba kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tak henti-hentinya dirinya mengecek isi pesan yang ada di ponselnya, karena mungkin saja istrinya itu akan menghubungi dirinya.
Berbagai macam pikiran tengah menari-nari di kepala Akbar saat dirinya memikirkan istrinya itu.
Dan tanpa sadar, perlahan-lahan matanya pun ikut terpejam saat memikirkan Keylin. Dan tak lama setelah itu, Akbar pun terlelap di alam bawah sadarnya.
.....
Keylin tersenyum tipis saat dirinya melihat Akbar yang tengah meringkuk seperti bayi di atas kasur.
Tadinya dirinya sedikit heran, ketika dirinya masuk ke dalam kamar, namun tak sedikit pun suara menyapa dirinya.
Ia kira mungkin saja suaminya tengah pergi keluar. Karena kebiasaan Akbar yang selalu begadang saat tengah memainkan game kesukaannya, Keylin jadi tidak berfikir bahwa suaminya itu akan tertidur secepat ini.
Keylin menarik selimut yang ada di kaki Akbar dan menutupi tubuh kekar suaminya itu dengan selimut.
Setelah dirinya menyelimuti Akbar, Keylin pun beranjak dari tempat tidur dan membersihkan tubuhnya ke dalam kamar mandi.
Usai Keylin membersihkan tubuhnya, sesaat Keylin terkekeh geli saat wajah tampan Akbar begitu polos seperti anak kecil yang tidak memiliki dosa.
Keylin menduduki dirinya di samping ranjang di tempat dimana Akbar tengah berbaring.
Seraya mengamati wajah tampan suaminya, Keylin tak henti-hentinya mengelus-elus wajah mulus Akbar dengan jari lentik miliknya.
"Mmnghh" Keylin sesaat menjauhkan jarinya kala dirinya melihat Akbar yang sedikit terganggu dengan ulahnya.
Dirinya terkikik geli sendiri saat dengan cepatnya suaminya itu kembali tertidur pulas dengan cepatnya.
Dengan penuh kehati-hatian, Keylin mulai beranjak dari duduknya, agar tidak mengganggu Akbar yang tengah beristirahat.
Namun belum sampai satu meter dirinya menjauhi Akbar, tiba-tiba pria tersebut menahan tangannya dengan pelan.
"Jangan pergi. Kenapa kau tidak pulang juga. Jangan pergi Key" igau Akbar dengan tangan yang semakin menahan pergelangan tangan Keylin.
"Hmpss" hampir saja tawa Keylin meledak saat mendengar igauan tersebut. Tak pernah ia sangka, ternyata selucu ini jika suaminya itu sedang mengingau.
Keylin kembali mendekatkan tubuhnya kepada Akbar. Lalu sedetik kemudian dirinya pun mengecup pipi Akbar dengan lembut sambil berbisik pelan di telinga suaminya.
"Iya Mas, aku sudah pulang" ucap Keylin dengan kekehan kecil yang mengiringi.
....
__ADS_1
TBC