My Cold Husband Is Gentleman

My Cold Husband Is Gentleman
22. KENA KAU!


__ADS_3

"Kalian saling kenal?" tanya Akbar dengan tatapan tajamnya yang kali ini membuka suaranya setelah sekian lama dirinya terdiam.


Keylin meringis ngeri kala melihat raut wajah suami tampannya itu. Jujur saja dirinya sedikit takut kala melihat wajah Akbar yang saat ini sangat seram menurutnya.


Tatapan tidak suka yang Akbar lontarkan kepada dirinya, membuat Keylin tersadar jika saat ini suaminya itu tengah kesal dengan dirinya.


"Aku-“


"Ya, kau benar. Kita memang saling kenal" sahut Andre dengan senyuman yang mengembang manis di wajahnya.


"Bagaimana kalian bisa kenal? Apakah kalian pernah bertemu?" tanya Leri dengan tatapan menyelidiknya.


"Tentu saja! Keylin adalah mahasiswa yang aku bimbing saat dia ingin membuat skripsi" jelas Andre dan menatap Leri dengan tatapan senangnya.


"Oh jangan-jangan kau yang jadi dosen pembimbingnya?" tanya Leri seraya mengangkat satu alisnya.


"Ya kau benar. Aku adalah dosen pembimbingnya" ujar Andre dan menatap Keylin dengan tatapan lembutnya.


"Ah jadi, mahasiswa yang sering kau ceritakan itu Keylin?" tanya Leri yang membuat Andre mengangguk-anggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Leri.


"Ck ternyata dunia sempit!" decak Leri seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Apa, menceritakan?" beo Keylin dan menatap Andre dengan tatapan herannya.


"Ya dia sering sekali menceritakan kau, kau tau? Katanya kau adalah mahasiswa yang sang-"


"Aku lapar!" cetus Akbar dengan ketus memotong ucapan Leri yang seketika dapat membuat Leri kesal setengah mati dengan sikap tidak sopan adiknya itu.


"Ah ya ampun aku lupa" pekik Keylin dan menatap Akbar dengan tatapan saltingya.


"Ck bisakah kau sopan sedikit? Kau selalu saja seperti itu! Membuatku kesal saja" dengus Leri dan menatap Akbar dengan sebal.


"Ahh sudahlah, tidak usah dibahas. Kurasa Mas Akbar ada benarnya, lebih baik kita makan saja dulu. Lalu abis itu kita berbincang lagi" sahut Keylin dengan senyuman manisnya kala dirinya menatap wajah tampan Leri, agar pria tersebut tidak akan melanjutkan perdebatan dengan suami kakunya.


"Cih, sudahlah. Kau benar! Aku memang lapar" ucap Leri dengan kekehan yang keluar dari bibirnya seraya mengusap-usap lembut perut kerasnya.


Keylin bernafas lega saat melihat itu semua. Dirinya kembali menduduki tubuhnya saat Leri, Akbar dan Andre mulai menempati posisinya masing-masing di atas meja makan.


Seraya mengambil nasi, diam-diam Keylin melirik Akbar yang nampaknya masih enggan berbicara dengan Leri, saat kakak iparnya itu tengah mengajak suaminya mengobrol.


Dengan senyuman manis yang masih setia mengembang di bibirnya, Keylin menatap Akbar yang tengah di sampingnya saat ini dengan tatapan lembutnya.


"Mas mau pake lauk apa?" tanya Keylin dengan suara yang sangat lembut yang dapat membuat siapa saja saat mendengarnya akan merasa terlena karena suaranya yang terlalu meneduhkan hati.


Akbar menolehkan wajahnya saat mendengar suara lembut istrinya memanggil dirinya.


Dengan wajah yang sangat dingin, Akbar menatap istri manisnya itu dengan tatapan datarnya


"Aku ingin udang dan kangkung" sahut Akbar pendek.


Keylin menyerahkan piring ke hadapan suaminya.


"Nih tanpa sambel bukan?'' tanya Keylin untuk memastikannya sekali lagi.


"Ya, terimakasih" jawab Akbar dengan senyuman tipis yang ia terbitkan di bibirnya.


"Ekhem Key, aku juga ingin dong diambilin seperti Akbar. Kurasa akan terasa lebih nikmat jika kau yang mengambilkannya untuk ku" ucap Leri dengan suara manjanya seraya memasang wajah yang sengaja di imut-imutkan.


"Kau!" Akbar melayangkan tatapan tajamnya kepada kakaknya tersebut.


Kena kau!

__ADS_1


Leri tersenyum miring saat kesabaran Akbar mulai menipis.


"Berhentilah mengganggu Istri ku! Apakah kau tidak punya tangan? Sehingga Istriku yang harus mengambilkan makanan untukmu?!" tanya Akbar dengan bengis kala dirinya melihat Keylin yang tengah ingin melakukan ancang-ancang untuk mengambilkan makanan untuk kakaknya tersebut.


"Diamlah!" tahan Akbar sembari menarik pelan tangan istrinya untuk duduk kembali.


"Hanya aku! Kau boleh melakukan itu, hanya untukku!" ucap Akbar dan menatap Keylin dengan tatapan tajamnya.


"Hmpss, dasar pecemburu!" dengus Leri dalam hati.


Keylin duduk kembali dengan perasaan campur aduk. Ditatap dengan tajam oleh suaminya, membuat Keylin hanya mampu terdiam kaku dan melakukan apa yang Akbar mau. Karena menolak pun juga percuma.


Sungguh! Dirinya benar-benar takut jika melihat Akbar yang seperti ini.


"Kau ini posesif sekali dengan Istrimu!" dengus Leri dengan tatapan mengejeknya dan menatap Keylin dengan senyuman miringnya.


"Ahhh, sayang....." Leri menggantungkan ucapannya seraya menatap Keylin dengan tatapan menggodanya yang seketika dapat membuat Akbar langsung menatap Leri dengan tatapan membunuhnya.


"Kau! Berhenti!" geram Akbar dan mengeratkan pegangan garpu yang ada ditangannya.


"Ahh sayang sekali Adikku yang manis ini tidak bisa mengambilkan makanan untukku" lanjut Leri. "Hnn tidak apa lah, terimakasih kau sangat baik Key" Leri mengabaikan ucapan Akbar seraya mengedipkan satu matanya ke arah Keylin dengan kedipan nakalnya.


Akbar mengetatkan rahangnya saat dirinya melihat hal tersebut.


"Kau itu kenapa sih?!" ledek Leri.


"Aku hanya ingin mengucapkan itu saja. Mengapa kau seperti orang yang sedang kesetanan?" tanya Leri dengan nada mengejeknya seraya menatap Akbar dengan tatapan menggodanya.


Akbar mengeram kesal saat dirinya baru sadar jika kakaknya tersebut hanya sedang ingin mengerjai dirinya


"Berhentilah berbicara! Dan makanlah. Habis itu angkat kakimu dari sini!" usir Akbar secara telak dengan wajah datarnya dan kembali melanjutkan aktivitas makan malamnya.


Leri menatap Akbar dengan tatapan mautnya.


"Ahh Leri sudahlah, lebih baik kita makan. Bukankah kau tengah lapar? Kurasa lauk disini begitu lezat" ucap Andre dengan wajah gemasnya untuk menengahi kakak beradik tersebut.


Leri menghembuskan nafas kesalnya dan menatap Akbar dengan tatapan tidak bersahabatnya


"Kau.." tunjuk Leri ke arah wajah datar adiknya tersebut.


"Setelah ini ada yang ingin aku bicarakan. Ini mengenai perusahaan Ayah dan kau harus ikut terlibat!" ucap Leri dengan tegas seolah tak ingin di bantah.


"Hn baiklah" jawab Akbar dengan acuh tak acuh karena pria tersebut masih sibuk dengan santapan makanannya.


"Ck untung saja kau Adikku! Kalau tidak, sudah ku lempar kau dari tadi" gumam Leri dengan dengusan yang keluar dari bibirnya seraya memulai acara makan malamnya.


Andre menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat itu semua. Dengan senyuman yang sedikit mengembang di bibirnya, Andre menatap Akbar dengan tatapan gelinya.


"Yang satu seperti matahari dan satunya lagi seperti kutub utara. Cih mereka sungguh Kakak ber-Adik yang sangat serasi!" batin Andre seraya terkekeh geli dengan fakta tersebut dan melanjutkan makan malamnya kembali yang tadi sempat tertunda karena perdebatan antara sahabat dan adik sahabatnya tersebut.


Dan akhirnya makan malam pun berjalan dengan hikmat, tanpa ada suara yang keluar dari bibir ke empat manusia tersebut.


"Kau, apakah sudah selesai?" tanya Leri kepada Akbar setelah dirinya menghabiskan makan malamnya.


Akbar mengangguk pelan dan mendirikan tubuhnya.


"Ayo" ajak Akbar.


"Kau mau bicara dimana?" tanya Akbar tanpa basa basi dan menatap Leri dengan tatapan datarnya.


"Kurasa di balkon lebih enak. Aku ingin sembari merokok, rasanya mulutku agak sepet jika tidak melakukan itu setelah makan" jelas Leri yang mendapatkan tatapan malas dari Akbar.

__ADS_1


"Baiklah" jawab Akbar dan pergi bergegas naik ke tangga rumahnya meninggalkan Leri, Keylin dan Andre yang masih berdiam diri di posisi mereka masing-masing.


Leri mendesis tak suka saat dirinya melihat punggung tegap adiknya yang sedang pergi menjauh dari dirinya.


Sumpah demi Tuhan! Kali ini dirinya benar-benar di buat jengkel oleh Akbar karena ulah tak bermanusiawi adiknya itu.


"Hn Key, Dre sepertinya aku harus menyusul Akbar. Maaf untuk sementara kami kalian tinggal dulu. Ada beberapa hal yang harus aku bahas dengan Akbar. Sekali lagi aku minta maaf karena membuat kalian menunggu" jelas Leri dengan senyuman menawannya yang dapat membuat Keylin dan Andre menganggukkan kepalanya untuk merespons laki-laki tersebut.


"Hn baiklah, kalau begitu aku tinggal dulu, permisi".ucap Leri dan pergi bergegas ke tempat dimana adiknya berada.


"Ya" sahut Andre pelan saat menatap kepergian sahabatnya itu.


........


"Jadi bagaimana kabarmu selama ini? Aku sungguh kaget tadi saat mengetahui jika kau sudah menikah. Sudah berapa lama Key?" tanya Andre usai Akbar dan Leri pergi ke atas balkon rumahnya.


"Ah itu terjadi begitu tiba-tiba. Sesungguhnya aku pun tidak menyangka kalau aku akan menikah secepat ini dengan Mas Akbar" ucap Keylin dengan wajah yang sedikit merona saat menjelaskannya.


Andre memiringkan kepalanya saat mendengar penjelasan Keylin.


"Kau tidak pernah berubah. Hnn yah sesungguhnya aku sedikit kecewa saat aku mengetahui kalau kau sudah menikah. Terlebih lagi jika itu dengan Adik dari sahabatku sendiri. Tapi senang rasanya bisa bertemu kembali denganmu"


"Walau tidak dapat ku pungkiri jika sebenarnya aku sedikit, emh tidak! Aku sangat kecewa saat mendengar kabar ini barusan" jelas Andre panjang lebar yang seketika membuat Keylin mematung saat mendengarnya.


Apa? Apa yang barusan ia katakan?


Apa dirinya tidak salah mengira? Jika barusan pria yang tengah duduk di hadapannya saat ini tengah menyatakan cinta kepadanya secara tidak langsung?


"Kak Andre, apa maksud Kakak.."


"Kau benar Key. Sebenarnya aku sedikit kecewa karena sepertinya kau baru saja mengetahui perasaanku saat ini. Dan sering kali aku bertanya-tanya, apakah kau benar-benar tidak mengetahui perasaanku?"


Keylin diam tak bergeming saat mendengarnya.


"Maafkan aku" ucap Keylin karena jujur saja hatinya menjadi tidak enak sekali saat mendengar ucapan Andre yang terdengar sangat kecewa dan lesu di setiap katanya.


Andre menggelengkan kepalanya.


"Bukan itu. Maaf jika aku membuatmu tidak nyaman. Tapi setidaknya kau mengetahui perasaanku walau itu sudah tidak berarti lagi bagimu" ucap Andre dengan wajah sendunya.


"Aku sedikit menyesal karena terlambat mengatakannya"


"Kak Andre aku-"


"Kau jangan khawatir aku tidak akan memintamu untuk menerima cintaku. Yah hanya saja aku ingin kau mengetahuinya. Tenang saja aku masih menyayangi nyawaku ini dari terkaman Suamimu itu" ucap Andre yang di akhiri kekehan kecil yang membuat suasana diantara keduanya sedikit mencair.


"Maafkan aku yang tidak peka" Keylin mengusap kedua lengannya.


"Hnn kalau begitu apakah kita bisa menjadi teman lagi?"


"Ah aku tidak memaksamu, maka dari itu aku bertanya kepadamu" Andre cepat-cepat meralat ucapannya agar Keylin tidak merasa terbebani oleh ucapannya.


"Tentu, kenapa tidak?" Keylin pun menjawabnya tanpa ragu sehingga membuat Andre seketika tersenyum di buatnya.


"Terimakasih" ucap Andre yang membuat keduanya tersenyum.


....


TBC


Terimakasih yang telah membaca cerita ini

__ADS_1


see you


__ADS_2