
Di hari minggu yang cerah, setelah Keylin memutuskan untuk membuat puding dan kue-kue coklat di rumahnya. Dirinya pun berseru senang setelah semua kue dan pudingnya telah jadi.
Setelah mendinginkan puding serta kuenya, Keylin melangkahkan kakinya seraya membawa kue dan puding bikinannya kepada suaminya yang tengah terduduk manis di sofa ruang tengahnya.
Karena dirinya ingin, agar suami tertampannya itu mencicipi kue dan puding buatannya.
"Mas gimana rasanya?" tanya Keylin dengan wajah penuh harap.
"Hn enak" sahut Akbar singkat dan kembali melahap pudding coklatnya.
"Serius?" tanya Keylin dengan mata yang berbinar-binar.
"Hnn" jawab Akbar dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Yess" pekik Keylin girang dan mencomot puding buatannya yang berada di piring yang sedang suaminya pegang.
"Kenapa kau mengambilnya?" Akbar protes dengan wajah datarnya. Terlihat jelas sekali jika pria tersebut sedang protes kepada istrinya.
"Kenapa? Mas mau marah? Aku hanya ingin memastikan saja kok, bahwa Mas sedang tidak berbohong kepadaku" ujar Keylin dengan wajah tanpa bersalahnya.
"Untuk apa aku berbohong. Kau pikir aku penipu ulung?" sahut Akbar dan menaikan sebelah alisnya.
"Tidak, hanya saja aku takut jika aku sedang di prank oleh Mas" ucap Keylin seraya terkekeh geli dan menatap suaminya tersebut yang sedang mendengus sebal karena dirinya.
Akbar semakin memincingkan matanya saat Keylin lagi-lagi menyomot puding yang ada di atas piringnya
"Kau bilang kau buatkan ini untukku, tapi kenapa kau yang memakan lebih banyak dariku?" sindir Akbar.
Keylin menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan senyuman yang ingin mengembang saat dirinya menatap wajah Akbar yang begitu menggemaskan saat ini.
Sepertinya suaminya itu sedang menunjukan aksi protesnya kepada dirinya. Karena ia merasa jika saat ini suaminya itu sedang tidak ingin berbagi makanannya dengan dirinya.
Seperti anak kecil saja
Gemas Keylin dalam hati.
"Jangan seperti itu. Itu melukai dirimu" ucap Akbar yang masih setia dengan pandangannya yang mengarah ke TV.
Keylin tersentak kaget mendengar hal tersebut. Tiba-tiba rasa panas mulai menjalar ke arah pipinya saat Akbar mengetahui jika diam-diam dirinya sedang menggigit bibirnya.
Membuat wanita berambut panjang tersebut seketika tersipu malu saat ia menyadari bahwa pria kaku yang sedang berstatus menjadi suaminya saat ini, diam-diam kini tengah memperhatikan dirinya tanpa sepengetahuan dirinya.
"Sudah kubilang, hentikan ini. Ini bisa membuatmu terluka" ucap Akbar dengan tatapan tajamnya dan mengusap bibir Keylin dengan lembut agar istrinya itu mau berhenti menggigit bibirnya sendiri.
Keylin melepas gigitannya pada bibirnya sendiri di saat tangan Akbar mendarat di atas bibirnya. Sembruat merah semakin muncul di kedua pipinya tanpa bisa ia tahan.
Keylin mengalihkan tatapan matanya kepada leher suaminya. Ia benar-benar tidak tahan dengan apa yang tengah di lakukan oleh suaminya saat ini.
Rasanya, rasa malu, bahagia dan juga bingung menghampiri dirinya dalam satu waktu. Membuat dirinya bingung ingin bereaksi seperti apa di hadapan suaminya itu saat ini.
"Key" panggil Akbar dan mengusap wajah istrinya yang sedang memerah.
"Hah iy-iya Mas. Kenapa?" tanya Keylin gelagapan.
"Apa yang sedang kau pikirkan? Apa kau sakit?" tanya Akbar saat melihat gelagat aneh istrinya.
"Hah sakit?" beo Keylin.
"Ti-tidak kok. Mana ada aku sakit, aku sedang baik-baik saja kok" ujar Keylin dengan rasa salting yang sedang ia tahan sebisa mungkin.
"Lantas mengapa wajahmu memerah? Apakah ini sakit?" tanya Akbar dengan wajah datarnya dan mengusap-usap wajah Keylin dengan lembut.
__ADS_1
Keylin membulatkan matanya ketika mendengar ucapan Akbar yang terlampau jujur. Jujur saja sebenarnya ia tengah bingung saat ini. Dirinya bingung saat ini, karena dirinya harus bersyukur atau harus merasa kesal dengan suaminya itu.
Bersyukur karena suaminya itu sedang tidak tau jika saat ini dirinya sedang malu kepada pria tersebut. Atau merasa kesal karena suaminya itu sama sekali tidak peka dengan perasaanya.
Cik suami yang sangat tidak peka. Umpat Keylin dalam hati.
"Ah tidak, aku hanya sedang merasa lapar saja kok" Keylin tersenyum menatap Akbar lantas mengalihkan tatapannya dari tatapan suaminya itu
Tch, Akbar menarik pipi Keylin.
"Aw, sakit Mas!" pekik Keylin seraya mengusap-usap pipinya yang barusan di tarik oleh suaminya.
"Kenapa semakin hari, semakin konyol saja ucapanmu. Itu benar-benar tidak nyambung" sungguh Akbar terpukau dengan gaya bicara istrinya yang makin hari, semakin aneh.
Dan lebih anehnya lagi, dirinya sudah terbiasa dengan keanehan tersebut.
"Ak-aku kan hanya mengatakan yang sejujurnya. Kenapa Mas yang jadi marah!" Keylin menekuk wajahnya dan mengambil remot yang ada di tangan Akbar tuk memutar acara TV kesayangannya.
"Hufs" Akbar menghembuskan nafasnya kala Keylin mulai fokus pada siaran TV yang sedang ia tonton.
Ya tentu saja, biar bagaimana pun juga dirinya tetap akan salah. Seharusnya ia sudah memahami itu.
Dan lihatlah.. sekarang istrinya ini sedang memasuki dalam mode on kesalnya.
"Key" panggi Akbar, setelah sekian lamanya istrinya itu mendiami dirinya.
"Kenapa?" Keylin menengokkan wajahnya ke samping dengan mulut yang sudah terisi oleh makanan.
"Kemarin malam katanya kau ingin pergi ke Bali? Kalau gitu ayo kita pergi."
"Uhuk uhuk" Keylin seketika langsung tersedak mendengarnya. Dirinya menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak akibat makanan yang ia telan.
Akbar langsung menyodorkan satu gelas air putih ke arah Keylin saat istrinya itu tidak hentihhentinya menepuk dadanya sendiri.
"Ah leganya" desah Keylin, menyodorkan gelas yang ia pegang ke arah Akbar.
"Sudah mendingan?" Keylin menganggukkan kepalanya dan melemparkan ceringaran kuda khas lima jarinya.
"Jadi gimana? Apakah kau mau?" tanya Akbar sekali lagi.
Keylin mengerutkan keningnya dan menatap Akbar dengan tatapan herannya.
"Bagaimana Mas bisa tau jika aku ingin ke Bali?"
"Tadi malam aku mendengarnya" Keylin membulatkan matanya.
"Ap-apa! Mas mendengarnya!" pekik Keylin memandang horor suaminya tersebut.
"Kenapa memangnya?" Akbar menaikan satu alisnya, menatap datar istrinya itu.
"Ap-apa Mas mendengar semuanya?" tanya Keylin dengan gugup.
"Ya, aku mendengar semuanya" sahut Akbar dengan enteng.
"A-apa?" nganga Keylin.
"Tidak!!!" Akbar terlonjak kaget saat Keylin menjerit dengan kencang.
"Key! Kau ini kenapa?" tegur Akbar menatap Keylin dengan sorot mata tajamnya.
"Ah an-anu apa Mas benar-benar mendengar semua ucapan kita tadi malam?" grogi Keylin.
__ADS_1
"Ya" ujar Akbar singkat padat dan jelas.
"Berarti Mas tau semuanya?" ucap Keylin dengan wajah piasnya, menatap Akbar dengan wajah malunya.
"Hn."
"Termasuk waktu Seraline bilang..."
"Ya. Aku mendengarnya" potong Akbar.
Keylin memejamkan kedua matanya, mencoba menghirup dalam-dalam udara yang ada di sekitarnya, tuk mengumpulkan segenap keberanian yang ia punya.
"Ma-mas jangan dengarkan apa yang Seraline katakan. Sungguh... dia hanya sedang bercanda" Keylin berkata gugup.
"Tapi kurasa tak ada salahnya jika kau mencobanya" Akbar mencomot pudding coklatnya dan memakannya setelah mengucapkan hal tersebut.
"Ak-aku.." wajah Keylin sudah memerah tak karuan saat mendengarnya.
"Ya, termasuk dengan pakaian s*xy selama liburan kita berlangsungkan? Bagaimana? Deal?" Akbar mengeluarkan seringaiannya dan menatap nakal istrinya tersebut.
"Mas.... aku...." Keylin menggigit bibir bawahnya dan membuang wajahnya ke samping.
Akbar seketika langsung terkekeh geli saat melihat hal tersebut. Dirinya benar-benar sudah tidak tahan lagi untuk tidak menahan tawanya lagi yang ingin meledak karena sejak tadi, sudah ia tahan-tahan kala dirinya melihat ekspresi lucu istrinya itu.
"Mas kok ketawa sih!" sewot Keylin.
"Kenapa? Memangnya ada yang salah?" tanya Akbar setelah rasa gelinya telah menghilang.
"Buk-bukan itu maksudku!" dengus Keylin.
"Ah atau jangan-jangan Mas sedang mengerjaiku ya!" Keylin berdecak kesal saat dirinya baru menyadari, jika suaminya itu hanya sedang menjahili dirinya saja.
"Kenapa kau lemot sekali" kekeh Akbar menatap geli istrinya itu.
"Mas ishh, ngomongnya!" protes Keylin tak terima.
"Kenapa? Bukankah aku benar?" Keylin menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kencang, membantahnya dengan keras.
"Baiklah kau menang" ucap Akbar yang seketika membuat Keylin tersenyum senang mendengarnya.
"Aku mengalah, karena aku tidak suka berdebat dengan anak kecil" ucap Akbar yang dapat membuat Keylin seketika memekik kesal kala mendengarnya.
"Mas!" pekik keylin merengek manja seraya mencubit paha Akbar.
Akbar tertawa geli dan membangkitkan tubuhnya dari atas sofa yang ada di ruang tengahnya.
"Oh ya satu lagi, aku rasa aku setuju dengan apa yang Seraline katakan. Persiapkanlah!" ucap Akbar dan mencium bibir Keylin sekilas seraya pergi meninggalkan Keylin, setelah dirinya melakukan hal tersebut.
Blus
Wajah Keylin seketika memerah di buatnya.
Akhhh, betapa malunya dirinya!
Shhh entah bagaimana nasibnya nanti. Yang jelas, kini dirinya tahu, bahwa hidupnya kini sedang tidak baik-baik saja jika dirinya sedang berdekatan dengan suaminya itu.
...
...TBC...
...See you...
__ADS_1
...(**´︶`*)♡Thanks*!...