
Setelah kepergian Leri yang begitu kikuk, Keylin dan Akbar pun terdiam masing-masing di tempatnya.
"Mas" Akbar menolehkan wajahnya ke arah Keylin.
"Ada apa?" tanya Akbar dengan wajah datarnya.
Keylin menggeleng-gelengkan kepalanya dan mendekati tubuhnya kepada Akbar.
"Hnn ini nyaman" ucap Keylin saat dirinya memeluk tubuh Akbar dengan erat.
Akbar membalas pelukan Keylin dan mengelus kepala Keylin dengan lembut.
Keylin meremas baju Akbar. Tanpa sadar ingatan yang beberapa jam lalu kembali terpintas di dalam benaknya.
Akbar menggenggam tangan Keylin yang sedang meremas bajunya.
"Key ada apa?" cemas Akbar dan memegang wajah Keylin.
Sejenak Keylin tersadar dari lamunannya, lalu dirinya pun menatap Akbar dengan tatapan teduhnya.
"Tidak ada Mas. Tapi bisakah aku memeluk Mas sebentar?" tanya Keylin saat Akbar masih mengelus-ngelus wajahnya.
Akbar membawa Keylin ke dalam dekapannya dan memeluk Keylin dengan erat.
Apa yang terjadi? Apakah ada sesuatu yang tidak ku ketahui?
Akbar bertanya-tanya dalam hati. Karena dirinya bisa merasakan dengan jelas, jika istrinya itu sekarang tengah merasa gelisah dan ketakutan.
"Aku rindu Mas" cicit Keylin yang berusaha menutupi kekalutan yang sedaritadi berusaha ia tutupi.
Akbar menghela nafasnya.
Dirinya yakin pasti ada yang terjadi sebelum istrinya itu datang kesini. Merasakan keresahan hati Keylin, Akbar jadi merasa tak tenang saat ini. Ingin sekali dirinya menanyakan apa yang terjadi sebelum Keylin datang kesini, namun saat dirinya melihat ke-engganan Keylin berkata jujur membuat Akbar jadi tidak ingin menanyakan hal tersebut.
"Hufss" Keylin mendongakkan wajahnya saat mendengar menghembuskan nafas.
"Ada apa Mas?" tanya Keylin.
Akbar menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Key, apa ada yang membuatmu tidak nyaman?" tanya Akbar, karena mungkin siapa tau saja istrinya ingin menceritakan sesuatu.
Deg
Akbar dapat melihat bahwa sesaat Keylin seperti membeku di tempatnya.
Apakah hal itu sangat membuat Keylin terganggu? Kenapa wajah istrinya begitu ketakutan saat dirinya menanyakan hal tersebut.
Akbar mengepalkan tangannya.
Siapa yang telah membuat Keylin menjadi seperti ini?
Batin Akbar.
"Ma-maksud Mas a-ap-" belum sempat Keylin menyelesaikan ucapannya, Akbar langsung membawa Keylin ke dalam dekapannya.
"Bukan apa-apa. Lupakanlah ucapanku"
Ada yang tidak benar.
Keylin hanya terdiam. Sentuhan Akbar benar-benar membuat dirinya tenang dalam sekejap.
Se-berusaha apapun dirinya untuk menghilangkan memori tentang kejadian tadi pagi, tetap saja perasaan resah dan takut tak kunjung hilang dari hatinya.
Namun saat dirinya bertemu dengan suaminya, entah kenapa Keylin dapat merasakan jika rasa resah dan takutnya hilang begitu saja tanpa perlu ia susah-susah payah ia usir.
Karena entah bagaimana, saat berada di dekat Akbar, Keylin merasa bahwa dirinya dilindungi oleh suaminya itu.
__ADS_1
Karena saking nyamannya dirinya, membuat Keylin lama-kelaman mulai mengantuk di dalam dekapan Akbar.
Akbar masih terus mengusap-usap punggung Keylin dengan pelan. Dan setelah beberapa saat kemudian dirinya pun merasakan hembusan nafas Keylin yang begitu teratur, yang menandakan bahwa istrinya itu sudah terlelap di alam bawah sadarnya.
Setelah memastikan Keylin terlelap dalam tidurnya, Akbar pun mengangkat tubuh Keylin dan memindahkan istrinya ke suatu ruangan kecil yang ada di dalam ruangan kantornya karena ruangan tersebut memang di desain khusus seperti kamar tidur.
"Enggh" lenguh Keylin saat Akbar meletakkan tubuh istrinya di atas kasur.
Akbar menarik selimut hingga ke batas dada Keylin agar istrinya itu tidak merasa kedinginan.
Akbar terduduk di pinggir ranjang kasur seraya mengamati wajah Keylin yang tampak kelelahan.
Dirinya menggenggam tangan Keylin dengan pelan agar tidak membangunkan istrinya itu. Akbar mengecupnya beberapa kali. Dan dengan pelan nan lembut Akbar mengusap wajah Keylin yang sedikit tembam.
"Kenapa kau sering membuatku khawatir?" meski dirinya tau jika Keylin tidak akan menjawab ucapannya, Akbar tetap mengeluarkan kata-katanya yang sejak tadi ingin ia keluarkan saat istrinya itu tengah terbangun.
Cup.
Akbar mengecup bibir Keylin dengan lembut.
"Tidurlah Key"
...
"Key ini masih jam empat, kenapa kau membeli makanan lagi? Memangnya kau tidak kenyang?" tanya Akbar dengan heran menatap aneh istrinya yang sedang duduk di sampingnya.
"Sepertinya Mas tidak ikhlas sekali mengantarku kesini!" dengus Keylin.
"Aku tuh sebenarnya ingin makan disini udah dari lama. Tapi karena aku gak sempat-sempat mampir, makanya aku minta Mas yang antar. Lagian makanan ini, dimakannya ntar malam kok. Kenapa Mas sepertinya tidak suka sekali jika aku membelinya!" semprot Keylin yang seketika membuat Akbar diam termangu menatap istrinya itu.
Akbar mengusap-usap tengkuknya dengan pelan. Dirinya heran sekali dengan istrinya itu. Entah mengapa akhir-akhir ini, istrinya itu jadi mudah sekali kesal kepada dirinya.
Mood wanita tersebut seolah-olah gampang sekali berubah seperti arus angin yang sedang mengudara.
Terkadang dirinya tidak membuat masalah pun, istrinya itu bisa saja kesal dan ngambek kepada dirinya tanpa ada alasan yang jelas.
"Kau seperti orang hamil saja!" Akbar mengalihkan tatapan matanya dari tatapan sebal istrinya itu.
"Mas jangan membuatku semakin kesal ya. Mas kan tau hari ini aku baru saja selesai dari datang bulan" gumam Keylin berdecak malas dan mengerucutkan bibirnya.
"Pantas saja ngeselinnya sedikit berkurang" gumam Akbar yang masih samar-samar Keylin dengar.
"Apa? Mas ngomong apa?" delik Keylin menatap selidik suaminya itu.
"Apa?" Akbar menaikan satu alisnya, pura-pura tidak mengerti dengan pertanyaan yang Keylin lontarkan kepada dirinya.
"Ish" Keylin mencubit paha Akbar dengan kencang.
"Aww" Akbar terpekik kesakitan saat Keylin melakukan hal tersebut.
"Key ini benar-benar sakit" Akbar mengelus pahanya yang terasa sakit dan menggenggam tangan Keylin di dalam genggamannya, saat lagi-lagi istrinya itu ingin mencubit pahanya.
"Mas lepas" rengek Keylin mengiba kepada suaminya itu.
"Tidak! Kau pasti akan melakukannya lagi" tolak Akbar dengan tegas dan semakin menggenggam tangan istrinya erat-erat.
"Janji deh gak ulangin lagi" Keylin mengerucutkan bibirnya.
Akbar menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak! Aku tidak percaya denganmu. Jangan harap kau bisa mengelabuhiku!" dengan tegas Akbar mengatakan hal tersebut dan menatap sebal istrinya itu.
"Ishh Mas! Kenapa tega sekali denganku"Keylin mencebikan bibirnya dengan kesal dan meronta-ronta, berusaha tuk melepaskan tangannya dari genggaman suaminya itu.
Kenapa rasanya sulit sekali untuk melepaskan tanganku. Apa mas Akbar mempunyai kekuatan semacam tenaga dalam?
Batin Keylin mengeluh kesal dan masih berusaha tuk melepaskan tangannya dari suaminya itu.
__ADS_1
Lama Keylin mencoba tuk melepaskan tangannya dari genggaman tangan Akbar. Namun selama itu dirinya mencoba, selama itu pula usahanya gagal dan berujung sia-sia.
Tak kehabisan ide, Keylin tersenyum manis menatap suaminya itu dan mendekatkan wajahnya kepada suaminya itu.
Cup
Keylin menempelkan bibirnya di pipi Akbar.
Cup
Cup
Cup
Lagi...... Keylin mencium pipi Akbar berkali-kali dan menciumnya hingga hampir ke seleruh permukaan wajah suaminya itu.
Seperti anak kecil, Keylin mengecup pipi suaminya berkali-kali hingga suaminya itu melepaskan tangannya yang tadi pria tersebut genggam erat-erat.
"Yes akhirnya lepas juga. Bleee Mas kalah" Keylin terpekik kegirangan dan meledek suaminya itu yang masih terdiam kaku di tempatnya.
Akbar membuang wajahnya ke samping saat rasa panas tiba-tiba menjajar ke arah pipinya. Dirinya menutup mulutnya dengan punggung tangan kokohnya dan mengalihkan tatapannya dari tatapan istrinya itu.
Seperti anak remaja, sepertinya perlakuan Keylin terhadap dirinya benar-benar berdampak kepada jantung serta hatinya.
Akhhh malu sekali dirinya jika Keylin sampai tau jika dirinya saat ini tengah malu karena aksi kekanak-kanakan istrinya itu.
"Ekhem apa kau sudah puas tertawa?" Akbar menormalkan kembali ekspresi wajahnya kembali dan menatap tajam istrinya itu.
"Se-sejak kapan aku tertawa. Ma-mana berani aku" Keylin menahan tawanya kala dirinya menyadari, jika beberapa detik yang lalu suaminya itu sepertinya tengah menahan malu kepada dirinya.
"Ahh sepertinya kau ingin di hukum ya" dengan sarkas Akbar tersenyum sinis dan menatap tajam istrinya itu. Jika Keylin bisa mengerjainya, tentu saja dirinya pun juga bisa melakukannya.
"Mas mana tega menghukumku. Mas kan Suamiku" Keylin membuat wajah imutnya dan menoel-noel lengan Akbar dengan gaya centilnya.
Tak ingin kalah dari Akbar, Keylin pun masih tetap teguh pada pendiriannya, yaitu berusaha terus menampilkan jiwa pemberaninya di depan suaminya itu.
Dirinya tidak ingin kelihatan lemah sedikit pun di depan suaminya tersebut. Yahh walaupun jujur saja, hatinya pun sebenarnya sudah gemetar-gemetar tak karuan saat dirinya melihat wajah sangar suami garangnya itu.
Akbar menyeringai dan menatap instens istrinya tersebut.
"Kau tau? Jika aku mau, aku bisa saja langsung menghukummu disini, di tempat ini" ucap Akbar dengan suara rendahnya.
Wajah Keylin seketika memucat dibuatnya.
Setelah mendengar ucapan Akbar. Entah kenapa tiba-tiba nyalinya langsung menciut begitu saja bahkan hilang entah kemana.
"Aku....."
"Pak Akbar" ucapan Keylin terpotong begitu saja saat suara wanita yang memanggilkan nama suaminya itu tiba-tiba datang dan menghampiri dirinya dan Akbar.
"Ya kau siapa?" tanya Akbar sopan dan menatap wanita semampai yang tengah berdiri di hadapannya saat ini dengan tatapan datarnya.
"Ahhh aku, perkenalkan nama saya Angel. Apakah Bapak tidak ingat? Jika kita pernah bertemu?" Angel mengulurkan tangannya ke hadapan Akbar dan tanpa segan pun Akbar membalasnya.
"Maaf saya tidak mengingatnya. Mungkin saya lupa" dengan jujurnya Akbar mengatakan hal tersebut. Membuat Angel sedikit mendesah kecewa setelah mendengarnya.
"Ahh tidak apa-apa, saya tau jika pengusaha sukses seperti anda pasti banyak sekali sudah bertemu dengan orang-orang penting. Maaf karena telah mengganggu waktu anda. Saya adalah karyawan biasa, jadi wajar saja anda tidak mengingatnya" ucap Angel dengan nada penuh penyesalan dan menatap Akbar dengan tatapan teduhnya.
"Bukan itu maksud saya" Akbar mengusap tengkuknya dengan pelan.
Keylin menaikan satu alisnya.
"Apa maksud dia berkata seperti itu?" tanya Keylin dalam hati dan menatap aneh wanita yang bernama Angel tersebut.
....
TBC
__ADS_1