
Keylin mengetuk-ngetukkan jarinya kepada meja yang saat ini tengah ia tempati.
Dirinya menghembuskan nafas gusarnya, saat rasa bersalah tengah menghampiri dirinya.
Mengingat kejadian tadi pagi, Keylin jadi merasa bersalah pada Akbar. Karena saat suaminya berusaha berbicara kepadanya, namun dengan acuhnya dirinya mengabaikan suaminya itu.
Keylin tau jika perbuatannya itu sungguh lah tidak masuk akal. Karena mengingat suaminya yang tidak mengetahui apa-apa dan mungkin saja suaminya itu merasa bahwa dirinya sendiri tidak melakukan kesalahan apapun, namun saat ini, hatinya tengah bimbang dan rasanya sangat sulit baginya untuk bersikap baik baik saja di depan Akbar.
Karena entah kenapa, hatinya sangat ragu. Saat dirinya belum memastikan siapa wanita yang akhir-akhir ini sering bertemu dengan suaminya.
Hufss
"Ck" decaknya.
"Key"
Keylin tersentak dari lamunannya saat dirinya mendengar seseorang tengah memanggil namanya.
"Ah iya. Ada apa?" Keylin mengalihkan tatapannya dari layar komputernya ke pada seseorang yang telah memanggil namanya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Ragan saat dirinya melihat kegalauan di wajah rekan kerjanya tersebut.
"Ah ya, aku baik baik saja. Ada apa?" dengan cengiran khas lima jarinya Keylin menjawab pertanyaan Ragan.
"Oh itu" Ragan menjentikkan jarinya.
"Ini, bisakah kau berikan ini kepada Suamimu?" Ragan menyodorkan satu map kepada Keylin.
"Buat apa?" Keylin menerima map dari Ragan seraya mengerutkan keningnya dengan bingung.
"Kalo itu, aku sendiri juga tidak terlalu tau isinya apa. Tapi yang jelas, tadi Gara memintaku untuk menitipkan file ini kepadamu. Karena Suamimu sendiri yang bilang untuk menitipkan file ini kepadamu" jelas Ragan.
Keylin berdecak sebal setelah dirinya mendengar penjelasan Ragan.
Mata Keylin membulat "Ini kan file yang akan di bahas jam 12 nanti! Apa aku harus mengirimnya sekarang?" Keylin terkejut bukan main saat dirinya melihat judul file yang saat ini tengah ia genggam.
"Ya kurasa begitu, karena kau tau sendiri bukan? Jika file ini harus di koreksi dulu oleh Suamimu" Ragan menggaruk garukkan kepalanya yang tidak gatal saat rasa tak enak menghampiri hatinya.
Keylin mendesis sebal setelah mendengarnya. Jika ia mengantarkan file ini, kemungkinan besar dirinya akan bertemu dengan Akbar.
"Lagian kenapa harus aku sih yang mengantarnya! Biasanya juga bukan aku! Memangnya pekerjaanku tidak banyak!" dumel Keylin seraya memasukan barang-barang pentingnya ke dalam tasnya.
"Ah mungkin saja Suamimu itu sedang rindu padamu. Makanya dia ingin kau yang mengirim file ini ke kantornya. Bukankah itu sangat romantis?" Ragan terkekeh geli dan mengedipkan sebelah matanya kepada Keylin, berusaha untuk menggoda wanita itu.
Keylin cemberut, mengerutu pelan.
"Aku pergi dulu!" jutek Keylin mengabaikan goodaan yang tadi Ragan lontarkan kepada dirinya.
"Ya hati-hati dijalan. Jangan marah-marah terus, nanti Suamimu bisa takut padamu" cetus Ragan dan terkikik geli, seraya lari meninggalkan Keylin saat wanita bertubuh mungil itu ingin melemparkan pulpen kepada dirinya.
"Ishh" desis Keylin.
..
"Ibu Keylin" sapa ramah Anton saat dirinya melihat istri bosnya itu.
"I-iya" Keylin menjawabnya dengan kikuk, karena masih aneh kala Anton memanggil dirinya seperti itu.
"Ibu sudah ditunggu oleh Pak Akbar silakan masuk Bu" ujar Anton bersiap siap menggiring istri bosnya itu.
"Eh tunggu" tahan Keylin.
"Aku ke sini cuman ingin mengantarkan ini kepada bos mu, kurasa aku tidak perlu masuk ke dalam. Bisakah aku minta bantuanmu untuk memberikan ini kepada Suamiku?" Keylin menyodorkan berkas yang ada di tangannya kepada Anton yang langsung diterima oleh sang empunya dengan ragu-ragu.
"An-anu Bu. Maaf, kata Pak Akbar jika Ibu sudah datang. Pak Akbar hanya ingin berkas ini sampai di tangannya jika Ibu yang mengantarkannya. Maka dari itu saya tidak berani untuk masuk ke dalam. Maaf Bu" Anton tersenyum tak enak dan menundukkan kepalanya ketika Keylin menatapnya dengan kecewa
Kenapa rasanya sangat sulit, untuk menghindar dari suaminya.
Keylin berdesis tak suka.
Keylin tersenyum samar dan mengambil alih dokumen yang yang barusan Anton sodorkan kembali kepada dirinya.
"Kalau begitu terima kasih atas kerjamu, mohon maaf karena aku telah merepotkanmu" Keylin tersenyum ramah dan berlalu pergi dari hadapan Anton setelah sekretaris suaminya itu mengangguk-anggukan kepalanya sendiri.
Setelah sampai di depan pintu ruangan Akbar, Keylin mengetuk ngetuk pintu ruangan suaminya.
Tok tok tok
Keylin mengetuk pintu ruangan Akbar berkali kali, namun tidak ada sahutan dari dalam.
Setelah dirinya mencoba beberapa saat, hasilnya pun tetap sama. Dirinya sama sekali tidak mendapatkan jawaban dari pemilik ruangan tersebut. Sehingga dirinya langsung memutuskan untuk membuka pintu ruangan Akbar tanpa seijin dari yang punya.
Ceklek. Pintu ruangan Akbar Keylin buka dengan pelan.
Dan alangkah terkejutnya ia, saat dirinya menyaksikan Akbar, tengah rangkulan mesra dengan wanita yang telah membuat hatinya kacau beberapa hari ini.
__ADS_1
Hati Keylin serasa di remas.
Tapa sadar dirinya meremas dokumen yang ada di dalam genggamannya, saat rasa cemburu tiba-tiba membakar hatinya. Ingin rasanya Keylin menangis dan memisahkan kedua orang yang saat ini ini tengah bermesraan di depan matanya.
"Key-Keylin" Zehran terkejut bukan main saat dirinya melihat kedatangan Keylin yang begitu tiba-tiba.
Keylin mengabaikan sapaan panik dari adik iparnya dan membalasnya hanya dengan senyuman tipis yang ia tujukan untuk Zehran.
Keylin berusaha mengontrol raut wajahnya saat dirinya menyaksikan hal tersebut. Dengan santainya dirinya berjalan menghampiri Akbar dan menaruh dokumennya ke atas meja suaminya.
Keylin tersenyum manis, menyapa ramah Akbar.
"Selamat pagi Pak, saya dari perusahaan Central Ortions ingin memberikan ini untuk presentasi siang nanti" Keylin menundukkan kepalanya, berusaha senormal mungkin agar dirinya terlihat baik-baik saja di depan suaminya itu.
"Dia siapa? Masuk tanpa permisi! Kau tidak punya sopan santun ya!" hardik seorang wanita yang tengah mengalungkan tangannya di lengan Akbar dengan manjanya.
Keylin mengalihkan tatapannya yang tadinya mengarah ke Akbar kini kepada wanita yang tengah bermanja manjaan ria dengan suaminya.
"Maaf jika aku tidak sopan. Lain kali aku tidak akan mengulanginya lagi" Keylin membungkukkan badannya di hadapan wanita tersebut seraya memberikan senyuman menawannya.
"Ya begitulah seorang bawahan harus bersikap. Harus tau diri!" sinisnya dan memandang rendah Keylin.
"Ya. Terimakasih atas saran Anda, Saya akan mengingatnya" Keylin tersenyum ramah mengabaikan tatapan sinis yang wanita itu lontarkan kepada dirinya.
Di sisis lain, Zehran sangat tercenggang kala dirinya menyaksikan hal tersebut. Sungguh! Kakak iparnya itu sangat luar biasa kala berprilaku seperti itu.
Dirinya terkejut bukan main, ketika reaksi Keylin begitu datar dan biasa-biasa saja saat melihat suaminya tengah berduaan dengan wanita lain.
Rasa kagum dan terpesona tak dapat Zehran tahan saat dirinya melihat Keylin yang seperti itu. Ia kira kakak iparnya itu akan menampar dan mencaci maki wanita yang telah bermanjaan manjaan dengan kakaknya tersebut.
Tapi dugaannya salah besar! Bukannya mencaci atau menganiaya wanita lain, justru kakak iparnya itu malah sangat tenang bahkan terlihat acuh tak acuh saat melihat suaminya itu bersama wanita lain.
Perfact! Batin Zehran bersorak penuh kekaguman.
"Apakah ada yang ingin Anda tanyakan Pak? Kalau tidak ada saya undur diri"
Akbar menatap Keylin dengan tajam.
"Sepertinya Bapak tidak ada pertanyaan. Kalau begitu saya pergi dari sini. Terimakasih Pak, maaf telah mengganggu waktunya" Keylin tersenyum ramah, membungkukkan badannya di depan Akbar seraya mulai melangkahkan kakinya ke arah pintu.
"Tunggu!" tahan Akbar. Akbar menepis pelan tangan seorang wanita yang tengah menggelantunginya dengan manja.
"Ada yang ingin aku bicarakan" Akbar bangkit dari kursi kebangsaannya dan menghampiri Keylin yang sudah berada di depan pintu ruangannya.
"Tentang apa?" Keylin membalikan tubuhnya ke hadapan Akbar dan menatap suaminya itu dengan tatapan ramahnya yang ia buat-buat.
"Jangan menghindar! Aku tidak suka itu" Akbar menatap kedua bola mata keylin dengan teduh. Berharap agar istrinya itu ingin mendengarkannya.
Dan benar saja, seketika Keylin langsung ter-enyuh kala Akbar mengatakan hal tersebut.
Rasa bersalah semakin melubangi hati Keylin, ketika Akbar memohon kepadanya dengan begitu lembut. Tak pernah ia sangka jika suaminya itu, adalah orang yang sangat berkepala dingin dan orang yang memiliki sikap yang lembut terhadap orang lain.
Walau Akbar memiliki sikap yang sangat dingin dan mencekam di depan orang lain. Tapi suaminya itu benar-benar memiliki sisi yang sangat Keylin benci terhadap pria tersebut.
Sisi Akbar yang sangat lembut dan perhatian seperti inilah, yang membuat Keylin sangat benci. Karena dengan begitu, hatinya mudah sekali akan luluh dan menghangat dengan apapun perlakuan yang Akbar buat. Sehingga al hasil sangat sulit baginya untuk marah kepada suaminya itu.
takk
Keylin langsung tersadar dari lamunannya saat tangannya di tepis kencang oleh seseorang, sehingga tangannya dan tangan Akbar seketika terlepas satu sama lain.
Keylin mengalihkan tatapan matanya kepada seseorang yang telah menepis tangannya.
"Apa?! Kau ingin marah?" dengan begitu lantangnya perempuan yang telah mengganggu suaminya itu, membentak dirinya dengan gaya sombongnya, yang seketika membuat Keylin naik darah dan menatap tajam perempuan tersebut.
"Kau itu jangan kegatelan jadi perempuan! Murahan sekali menggoda atasanmu. Kau kurang uang? Sampai-sampai mendekati bosmu?!" sinisnya merendahkan Keylin di setiap kalimatnya.
"Zora! Sudahlah hentikan!" bentak Zehran saat ia mendengar kata-kata Zora yang sudah melewati batas.
"Kenapa?! Ohhh aku tau. Jangan-jangan kau juga sudah tergoda ya dengan dia. Sampai-sampai kau pun ikut membela dirinya" tuduh Zora kepada Zehran seraya tersenyum remeh ke arah Keylin.
"Kau it-"
"Jangan ikut campur kau!" dengan lantaknya Zora memotong ucapan Zehran.
Keylin yang melihat hal tersebut seketika naik pitam karena aksi kurang ajar dari lawan bicaranya ini.
Keylin menghela nafas.
"Dengar ya, kalau aku menggoda atasanku, memangnya kenapa? Ada yang salah? Bahkan aku telah melakukan sesuatu yang lebih dari kau bayangkan!" ujar Keylin dengan suara yang pelan namun menusuk bagi lawan bicaranya.
Sungguh perkataan Zora yang sedari tadi telah menghinanya membuat dirinya tidak bisa lagi menahan rasa amarahnya.
Keylin sungguh tidak mengerti, bisa bisanya ada seorang wanita berbicara dengan begitu kasarnya, terhadap wanita lain. Bukankah itu sangat keterlaluan?
Zora yang mengerti maksud dari ucapan Keylin, seketika langsung naik darah dan menatap jijik Keylin.
__ADS_1
"Kau! Murahan sekali! Bisa bisanya kau tidur dengan Kak Akbar! Sungguh menjijikan!" tunjuknya dengan wajah yang sangat murka pada Keylin.
"Zora! hati-hati dengan ucapanmu!" ucap Akbar dengan pelan nan menusuk seraya menatap tajam wanita tersebut.
"Kenapa Kak Akbar malah membela dirinya! Aku kan tunangan Kakak! Kenapa Kak Akbar tega sekali padaku!" Zora emosi bukan main dan menatap benci Keylin.
What
Tunangan?
Gila! Umpat Keylin dalam hati
"Kau! Kau yang telah membuat tunanganku menjadi sepeti ini kan! Kau apakan dia!" bentak Zora, menunjuk nunjuk Keylin dengan berani, yang seketika membuat Keylin semakin ingin melawan mulut cabe wanita berambut blonde tersebut.
"Ck gimana ya..." Keylin melipatkan kedua tangannya di depan dada dengan gaya angkuhnya.
"Percuma saja jika aku memberitahumu. Karena Tentu saja kau tidak akan mengerti!" Keylin tersenyum remeh, menatap Zora. Jika Zora bisa sangat angkuh kepadanya, tentu saja dirinya pun juga bisa.
"Karena apa? Karena kau belum merasakan apa yang telah aku rasakan. Emm contohnya seperti....." Keylin mengetuk ngetukkan jarinya di dagu seperti tengah berpikir keras.
"Ah ya"! Keylin menjentikkan jarinya "Seperti kau tidur dengannya!" bisik Keylin dengan nada sensualnya sehingga membuat Akbar, Zehran dan Zora seketika melongo setelah mendengarnya.
"Ka-kau!" bentak Zora.
"BRNAR-BENAR WANITA MUR--"
"ZORA!" suara lantang seorang laki laki membuat ucapan Zora seketika terpotong.
"Hentikan! Kau bisa membuatnya salah paham!" tegur pria tersebut dan menarik pelan tangan Zora agar sedikit menjauh dari Keylin.
"Apa maksud Bang Eiko?" Zora menepis tangan Eiko dengan kasar.
"Hentikan! Kau bisa membuat Akbar repot!"
Hah, ada apa lagi ini?
Keylin kebingungan saat dirinya melihat kedatangan Eiko yang begitu tiba tiba.
"Jika Keylin menggoda atau tidur dengan Akbar, memangnya ada yang salah? Jika dia menggoda Suaminya sendiri!" cetus Eiko dan menjitak kepala adiknya itu.
Bluss
Pipi Keylin bersemu merah saat mendengar perkataan Eiko barusan.
Menggoda?
Cihh menggelikan! Batin Keylin.
"Awww sakit! Tega sekali menganiayaku" Zora mengusap usap kepalanya yang terkena jitakan Eiko seraya merengek manja kepada kakaknya tersebut.
"Minta maaf! Kemarin Zehran yang kau buat seperti ini. Sekarang Akbar! Kau sangat nakal ya!" Eiko menatap sebal adiknya itu.
Zora seketika mematung.
"Ja-jadi dia Istrinya Bang Akbar?" Zora melongo menatap Keylin dan menggeleng gelengkan kepalanya tidak percaya.
"Iya kenapa? Kau masih mau marah padanya!" jutek Zehran saat melihat tingkah Zora yang kelewat childisnya.
"Kau benar-benar Istrinya Bang Akbar?" tanya Zora dengan raut wajah seriusnya, mengabaikan ucapan Zehran yang sangat jutek kepadanya.
Dengan ragu-ragu Keylin pun menjawab.
"Y-ya"
"Serius?" tanya Zora ulang. Keylin mengangguk
"Ah luar biasa!" pekik Zora girang dan menggenggam kedua tangan Keylin dengan wajah kagumnya.
"Aaaaa ternyata kau adalah Istri Bang Akbar? Baru saja aku kepikiran untuk mendekatkan kalian berdua!"
Zehran, Eiko, Akbar serta Keylin di buat menganga olehnya. Perlakuan Zora yang berubah 180 derajat, membuat mereka semua bingung bukan main kepada wanita tersebut.
"Kau tau? Tadi kau sungguh terlihat sangat keren menurutku, aku tidak pernah melihat wanita setangguh dan berani dirimu. Kau memang cocok menjadi Istri Bang Akbar. Selamat" dengan celotehan riangnya Zora memeluk Keylin dengan erat, mengabaikan wajah kebingungan dari sang empunya.
Zora melepaskan pelukannya kepada Keylin.
"Maaf tadi aku sungguh kelewat batas. Aku hanya tidak suka jika wanita asing mendekati Akbar ataupun lainnya. Karena kau tau? Wanita sekarang sungguhlah gila! Apalagi jika mereka melihat pria kaya dan tampan seperti Suamimu itu. Jadi maafkan aku ya" Zora mengatupkan kedua tangannya di depan Keylin dan membuat wajahnya se-menyesal mungkin.
"Ahh ti-tidak apa apa. Aku juga minta maaf karena telah berbicara keras padamu" Keylin menggigit bibir bawahnya menatap tak enak pada adik teman suaminya itu.
"Ah kau baik sekali. Mulai hari kau jadi temanku. Titik!" Zora mengalungkan tangannya di lengan Keylin dan menumpukan kepalanya di bahu Keylin.
Ak-aku pusing
Keylin hanya terdiam kaku, mencoba mencorna situasi yang berubah 180 derajat
__ADS_1
..