
"Jadi setelah ini kau akan keluar begitu? Hufss" tanya Leri seraya menghembuskan asap rokok yang tadi ia hisap.
"Hn kurasa" sahut Akbar pendek dengan pandangan yang masih setia memandang langit malam yang begitu gelap malam ini seraya menumpukan kedua tangannya di pagar balkon rumahnya tersebut.
"Ya, kurasa itu bukan ide yang buruk. Kau tau? Zehran selalu saja mendumel karena pekerjannya yang tak ada habis-habisnya dan kurasa jika kau yang membantunya, itu akan sedikit meringankan bebannya. Ahh atau mungkin itu akan membuat dirinya bisa pulang lebih awal dari biasanya" ucap Leri seraya terkekeh dan kembali menghisap puntung rokoknya.
Akbar menatap Leri dengan senyuman tipisnya. Perasaan hangat tiba-tiba mengalir ke dalam hatinya kala dirinya mengingat jika sudah lama sekali dirinya dan Leri tidak pernah berbicara lagi seperti ini.
Yang terakhir ia ingat jika Leri, kakaknya tersebut berbicara seperti ini dengannya saat usianya menginjak 19 tahun. Dan itu pun sudah lima tahun yang lalu seingatnya.
Yah sudah sangat lama sekali seingatnya. Semenjak Leri pergi ke Amsterdam untuk mengelola perusahaan ayahnya selama lima tahun belakangan ini. Membuat dirinya jarang sekali bertemu dengan kakaknya tersebut.
Hanya jika di waktu waktu penting saja Leri akan pulang ke rumahnya. Dan itu pun juga pasti karena berhubungan dengan suatu pekerjaan bisnisnya.
"Apa kau tidak ingin ini?" tanya Leri seraya menyodorkan satu batang rokok ke hadapan Akbar.
Akbar mengambil satu batang rokok tersebut dari tangan Leri dan menaruhnya kembali ke dalam bungkusannya.
"Tdak, aku tidak merokok lagi sekarang" jawab Akbar dengan jujur yang dapat membuat leri seketika mengeluarkan senyuman tak percayanya.
"Kau bercanda?!" sarkas Leri dan menginjak rokoknya yang sudah abis untuk ia hisap.
"Dulu waktu SMA kau adalah orang yang paling sering merokok dengan Rans. Bagaimana bisa sekarang kau yang paling cepat berhenti merokok diantara kita? Jangan berbohong kau!" decak Leri dengan senyuman gelinya dan menatap Akbar dengan tatapan tak percayanya.
"Aku serius" jawab Akbar dengan wajah seriusnya dan kembali mendongakkan kepalanya untuk melihat langit.
"Jadi kau benar-benar serius?!" tanya Leri dengan wajah kagetnya, kala dirinya menatap wajah Akbar yang tak dapat ia temukan setitik kebohongan pun dari wajah adiknya tersebut.
"Hn" jawab Akbar sekali lagi dengan deheman andalannya.
"Hah gila! Banyak hal yang berubah dari mu setelah lima tahun kita tidak bertemu" decak Leri dengan wajah kagetnya.
"Ck aku menyesal tidak melihat proses langsungnya" ucap Leri dengan nada yang dibuat seolah-olah dirinya tengah menyesal.
Akbar menghembuskan nafas sebalnya setelah mendengar hal tersebut
"Kau pikir aku anak kecil hah?!" dengus Akbar dan menatap Leri dengan sebal.
"Heh kau ini Adikku! Tentu saja kau masih kecil bagiku. Jangan tersinggung Adikku sayang" ucap Leri terkekeh geli seraya merangkul pundak adiknya itu.
"Menyingkirlah! Kau membuatku jijik!" desis Akbar dan menepis lengan panjang Leri.
"Hehehe kau bahkan lebih tinggi dariku sekarang" ucap Leri dengan tawa pelannya.
"Hn" sahut Akbar singkat namun kali ini bibirnya juga ikut bergerak membentuk sebuah kekehan kecil kala dirinya melihat kakaknya itu tertawa dengan begitu senangnya.
Leri menghentikan tawanya setelah rasa geli telah menghilang dari hatinya.
Dengan kedua tangan yang ia masukan kedalam saku celananya, pria tersebut pun mendongakkan wajahnya tuk menatap langit dengan tatapan datarnya yang dapat menciptakan keheningan di antara kedua kakak beradik tersebut.
"Apa kau berhenti untuk Keylin?" tanya Leri setelah beberapa saat keheningan menghampiri mereka berdua.
"Kau pasti sudah tau jawabannya" jawab Akbar singkat tanpa menolehkan wajahnya kepada sang kakak.
Leri mengerutkan keningnya dan menolehkan wajahnya ke samping tuk melihat wajah adiknya itu.
"Bagaimana rasanya menikah? Apakah kau bahagia?" tanya Leri dengan senyuman menggodanya
"Menikahlah! Kau akan merasakannya" ucap Akbar seraya menolehkan wajahnya kepada leri dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.
__ADS_1
"Hei, aku masih muda. Umurku baru 26 tahun. Dan kurasa terlalu dini bukan? Jika aku menikah sekarang" decak Leri pede dan tersenyum miring ke arah Akbar.
"Zehran bilang kau sudah tua" cetus Akbar yang seketika membuat Leri memberengut kesal saat mendengarnya.
"Dasar Adik kampret! Awas saja kau jika kita bertemu. Akan ku abisi kau!" dengus Leri dengan perasaan dendamnya kepada Zehran yang tengah menghinggapi hatinya.
"Tapi kurasa Zehran ada benarnya. Segeralah mencari pasangan karena ku yakin Bunda juga ingin melihat kau segera menikah" ujar Akbar seraya menatap kakaknya tersebut dengan senyuman tipisnya.
Leri menghembuskan nafas gusarnya kala melihat ekspresi adiknya itu. Dirinya kembali meluruskan pandangannya ke arah jalanan yang ada di komplek perumahan adiknya yang tampak begitu sepi malam ini.
Dengan perasaan yang sedikit malas Leri berkata.
"Aku tidak punya calon untuk saat ini. Kurasa aku tidak memiliki orang yang kusuka untuk sekarang. Aku ingin beristirahat sejenak dari proyek besar yang selama ini aku jalankan di Amsterdam. Dan kau tau? Wanita hanya akan membebani pikiranku saja, jika aku memilikinya saat ini" jelas Leri yang membuat Akbar terdiam beberapa saat.
"Lalu bagaimana dengan Sienna? Bukankah dia adalah kekasihmu?" tanya Akbar dengan suara datarnya yang terdengar mau tak mau saat menanyakan hal tersebut.
Leri menggelengkan kepalanya dengan pelan dan mengeluarkan senyuman gelinya saat mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut adiknya tersebut.
"Hahaha kau bercanda! Dia hanya sahabatku!" ucap Leri dengan tawa penuh jenakanya.
Akbar menggedikan bahunya acuh tak acuh saat mendengar jawaban kakaknya itu.
"Hn terserah. Aku ingin turun, kurasa Keylin sedang menungguku" ucap Akbar setelah tawa Leri mereda.
"Hahaha baiklah. Terimakasih kau telah menyetujui yang tadi. Kuharap kau bisa menjadi pemimpin yang hebat nanti" ledek Leri
Akbar mendengus mendengar ucapan kakaknya itu.
"Ck" decaknya dan melangkahkan kakinya
meninggalkan balkon rumahnya.
"Hah kurasa ini akan menjadi kabar gembira untuk Zehran. Hehehe akhirnya aku tidak akan pulang larut malam lagi hanya untuk mengurus dokumen dokumen jelek itu. Ck betapa leganya aku" gumam Leri dengan senyuman yang masih setia mengembang di bibir tebalnya seraya menyusul Akbar yang sudah turun kebawah.
"Terimakasih karena telah mengundangku. Makanannya tadi sangat enak, kurasa aku tak sabar dengan pertemuan kita selanjutnya" Ucap Leri yang membuat Keylin tersenyum saat mendengarnya.
"Kau terlalu berlebihan" ucap Keylin seraya mengibaskan tangannya ke udara.
Andre menyanggah ucapan Keylin.
"Kurasa Leri benar, tadi sungguh lezat" sahut Andre yang seketika membuat Akbar langsung mendelikkan matanya tak suka.
Keylin hanya menyahutinya dengan senyuman canggungnya karena saat ini mata Akbar sedang mengeluarkan aura intimidasi yang sangat kental kepada dirinya dan Andre.
Leri menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Shhh sepertinya aku salah membawa orang" Leri mendesis dalam hati saat aura permusuhan jelas-jelas terpancar dari wajah Akbar.
"Kalau begitu kita pergi dulu. Terimakasih atas makanannya, nanti aku akan salamkan pesanmu pada Bunda" Keylin menganggukkan kepalanya dan tersenyum setelah mendengar ucapan Leri.
"Bar aku pergi dulu, terimakasih"
"Ya" jawab Akbar dengan singkat, lalu Leri dan Andre pun pergi dari kediaman Akbar dan Keylin.
"Ma-Mas biar aku saja" Keylin buru-buru menghampiri Akbar saat suaminya itu tengah merapihkan piring-piring yang ada di atas meja.
Akbar diam tak menjawab namun dirinya membiarkan Keylin untuk membantu dirinya.
"Mas biar aku saja" Keylin ingin mengambil alih saat Akbar ingin mencuci piring.
__ADS_1
Tak
"Tidak usah, biar aku saja" ujar Akbar dengan suara dinginnya.
Beberapa saat Keylin membeku di tempatnya saat dirinya melihat Akbar yang jelas-jelas menolak dirinya barusan.
Keylin pun menatap Akbar dengan tatapan bingungnya. Entah apa ini perasaanya atau bukan, namun dirinya merasa jika suaminya itu tengah menghindar dari dirinya.
Karena jelas-jelas tanpa memperdulikan dirinya, suaminya itu masih meneruskan kegiatannya dengan wajah datar yang terpampang jelas.
Keylin pun lebih memilih mundur dari samping suaminya dan pergi membersihkan meja makannya dari sisa-sisa makanan yang jatuh.
"Ada apa dengan Mas Akbar? Apakah aku melakukan suatu kesalahan?" tanya Keylin dalam hati.
"Mas-"
"Aku sudah membersihkan piringnya, kau duluan saja ke kamar karena aku akan mengerjakan pekerjaanku dulu" potong Akbar saat Keylin ingin berbicara pada dirinya.
"Mas tunggu" Keylin menahan tangan Akbar saat pria tersebut ingin pergi dari hadapannya.
"Ada apa?" tanya Akbar dengan datar.
"Apa Mas marah kepadaku?" tanya Keylin dengan lembut dan menatap kedua mata Akbar dengan dalam.
Beberapa saat Akbar hanya terdiam dan menatap kedua mata Keylin dengan dalam.
"Hahhh, tidak ada. Kurasa ini karena pekerjaanku yang sedang banyak saat ini" ucap Akbar dan memalingkan wajahnya saat Keylin memandang dirinya dengan tatapan tak setujunya.
Keylin menatap tak suka Akbar yang tidak jujur padanya.
"Baiklah!" pungkas Keylin dan dirinya pun melepaskan tangannya dari tangan Akbar.
"Kalau begitu aku ke atas dulu. Ah iya," sebelum Keylin melangkahkan kakinya, Keylin menatap Akbar dengan tatapan yang penuh dengan arti.
"Jangan malam-malam Mas. Nanti Mas akan sakit jika sering begadang. Aku pergi dulu" lanjut Keylin dan setelah itu pun dirinya langsung pergi ke kamar tidurnya tanpa ingin mengetahui reaksi Akbar dari ucapannya.
"Baiklah jika itu mau Mas Akbar. Lihat saja nanti siapa yang akan menang!" batin Keylin.
Akbar mengerutkan keningnya saat dirinya melihat kepergian Keylin.
Apa tadi?
Apakah penglihatannya tidak salah? Karena sesaat sebelum tadi Keylin pergi meninggalkan dirinya, dirinya tidak sengaja melihat jika istrinya itu tengah tersenyum miring setelah berbicara padanya.
Apakah istrinya itu sedang merencanakan sesuatu di belakangnya?
Atau ini hanya perasaannya saja?
Akbar menggeleng-gelengkan kepalanya.
Itu pasti hanya perasaannya. Yah benar.. Itu pasti hanya perasaanya!
Akbar pun tak ambil pusing lalu bergegas mengunci gerbang dan pintu rumahnya.
....
TBC
Terimakasih yang telah membaca cerita ini
__ADS_1
See you
♡´・ᴗ・`♡